Home » » Teknik-Teknik Auto-Murajaah (1-5)

Teknik-Teknik Auto-Murajaah (1-5)

Penulis : rumah quran stan on Minggu, 14 Februari 2021 | 16.00.00

1. Kunci Kesuksesan: Menetapkan Target + Minta Tolong Sama Allah

Pertama, menetapkan target ini penting sekali. Bahkan bisa menjadi kerangka utama dalam mengejawantahkan konsep Faa mii Bisyauqin sebagaimana artikel sebelumnya. Yakni dengan membagi-bagi target pekanan menjadi target harian. Kenapa 1 pekan? Jawabannya agar mudah saja dan sesuai contoh Sahabat Nabi. Sehingga pembagiannya bisa sebagai berikut:

Bila 30 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 4-5 juz,
Bila 20 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 3 juz,
Bila 10 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 1,5 juz,
Bila 5 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 1 juz,
Bila 2 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 0,3 juz atau 6 halaman,
Bila 1 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 0,15 juz atau 3 halaman,

Misal hafalan kita baru 7 juz nih, berarti target murajaah-nya 1 juz per hari. Maka, target ini harus dibalut dengan doa kepada Allah, minta tolong sama Allah, agar istiqomah. Dari target ini, kita bertekad membagi konteks interaksi bersama Qur'an harian kita terdiri dari:

  • Tilawah min. 1 juz per hari (bin nazhor = sambil lihat mushaf),
  • Murajaah (termasuk auto-murajaah) min. 1 juz per hari (bil ghaib = tidak lihat mushaf), 
  • Nambah hafalan ... (bisa dibuat setiap pekan)
  • Nambah paham tadabbur/tafsir ayat Quran ... (bisa menyesuaikan jadwal) 

Nah, dengan kerangka seperti itu, mari mohon doa kepada Allah agar berjalan 1 pekan, 2 pekan, dst. hingga akhir hayat kita. Aamiin.

Bahkan kalau perlu bertumbuh, artinya setiap nambah hafalan, nanti hafalan tersebut dimasukkan ke jadwal murajaah masuk ke hari yang mana, begitu seterusnya. Maa syaa Allah, ini artinya kita punya inovasi kreasi dan mind set optimis, serta target ikhtiar yang jelas untuk terus menjaga hafalan tersebut. 


2. Membagi Hafalan Quran ke dalam Kategori Kelancaran

Kita bisa membagi hafalan kita berdasarkan kelancarannya, menjadi 4 level berikut, dan juga penanganan interaksinya:

  1. Untuk hafalan Quran yang sangat lancar, masuk dalam kategori murajaah dalam shalat.
  2. Untuk hafalan Quran yang cukup lancar, masuk ke dalam kategori auto-murajaah,
  3. Untuk hafalan Quran yang semi-lancar kadang lupa (maklum masih baru dihafal 1-2 bulan), masuk kategori auto-murajaah dengan tambahan kelengkapan: 
    • Bila sering lupa, back-up nya adalah istighfar dan dzikir-dzikir lainnya.
    • Bila perlu, bila kita sedang jadwalnya auto-murajaah bagian ini, persiapkan mushaf kecil. Atau untuk aktivitas tertentu, nyetrika misalnya, kita bisa berdirikan mushaf sambil ngintip-ngintip kalau lupa.
  4. Untuk hafalan Quran yang tidak lancar, masuk kategori murajaah sambil mengintip mushaf.

Untuk kategori 1, 2, dan 3 = bisa dicampur aduk dalam aktivitas auto-murajaah. Intinya hafalan yang kurang, cukup, dan sudah lancar, bisa dipakai untuk ketiganya. Semoga Allah melancarkan. Adapun untuk  yang kategori 4, dia memang butuh sesi khusus untuk membuat ayat-ayat tersebut lebih lancar lagi.


3. Auto-Murajaah dan Back-Up Dzikir

Dalam kerangka dzikir kepada Allah, dikatakan sama Allah:
“Dan berdzikirlah pada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu'ah: 10).

Nah, kita perlu pahami dari awal bahwa auto-murajaah juga bagian dari dzikir. Sehingga selain tiap hurufnya kita sangat berharap dapat bertubi-tubi kebaikan, kita juga beroleh keberuntungan. Oleh karena itu, apabila terjadi kemacetan. Apalagi macet yang tidak diduga-duga (di hafalan yang terbiasa lancar eeeh malah terjadi macet), maka yang dilakukan adalah: mengalihkannya dengan prioritas dzikrullah yang lain, terutama istighfar. 

Adalah sangat aneh bila sedang asyik-asyiknya naik motor, tiba-tiba hafalan macet, lalu gak ketemu (buntu), lalu kita diam saja sampai tujuan naik motor kita. Seharusnya itu opsi ke Z (rencana terakhir). Justru menimbang skala prioritas, kita perlu mengambil prioritas B, C, dst dahulu.

Jadi, misal macet dan memang buntu, kita bisa alihkan menjadi istighfar sebanyak-banyaknya, atau shalawat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, apalagi kalau hari Jumat dimana kita dianjurkan memperbanyak shalawat. 

Mari terus jaga lisan kita tetap basah oleh dzikir. Dimulai dari kalamullah, istighfar, shalawat, hingga kalimat-kalimat thayyibah lainnya dengan keutamaannya masing-masing.


4. Auto-Murajaah di Dalam Shalat Sunnah

Tidak ada auto-murajaah dalam shalat sunnah. Lho kenapa? 

Dari segi makna auto murajaah khan auto-pilot sembari murajaah. Ketika melaksankan aktivitas apa, kita membalurinya dengan murajaah, dengan skema memecah konsentrasi. Jadi tidak ada namanya membagi konsentrasi ketika shalat. Karena shalat fully to Allah. Yang jelas, prioritas di dalam shalat ketika melafalkan bacaan Quran, kita bisa membaginya dalam 2 konteks kelancaran:

  • Ayat-Ayat Quran yang Mengena Bagi Kita
Ini perlu dipakai di shalat-shalat yang membutuhkan panjang berdiri dan di moment yang sangat berkah, tidak lain adalah Qiyamul Lail. Saat membacanya, kita diperkirakan bisa mentadabburinya, walaupun per hurufnya bisa jadi kita kurang faham. Ketika menyelami ayat yang berisi berita gembira (rahmat), seperti "jannatin tajrii min tahtihal anhaar", kita berdoa mohon dimasukkan/diberi rahmat. Ketika menyelami ayat-ayat yang seram, misal yang berakhiran "adzaabun aliim, adzabun 'adzim, adzabun hariiq, adzabun syadid", kita memohon dijauhkan dari marabahaya itu semua. Doa-doa di dalam QL termasuk doa-doa di waktu mustajabnya doa, jadi semoga Allah mengabulkan itu semua.
  • Ayat-Ayat Quran yang Memang Sudah Jadwal Hariannya Dimurajaah
Jadwal di poin 1 automurajaah perlu dibuat yang auto-murajaah, bila kurang nendang (misalnya target berisiko gagal tercapai), maka salah satu solusi cepatnya, dipakai dalam shalat sunnah, apalagi yang waktu malam, misalnya: bakdiyah magrib, bakdiyah isya', hingga witir. Ini dilakukan supaya besoknya sudah masuk ke target harian berikutnya. Selain itu, guna mendorong amal ibadah yang lebih masif, murajaah fokus bisa digelar juga untuk shalat dhuha dan shalat-shalat sunnah di siang hari.
  • Ayat-Ayat Quran yang Kelancarannya Masih Lemah 

Buat yang kurang lancar, kita perlu membuka mushaf besar taruh di meja kecil/semacam podium, lalu sambil berdiri dan melafalkan surat bakda Al Fatihah, kita bisa melihat/mengintip mushaf tersebut bila sesekali lupa. Hehe, tentunya guna menjaga keutuhan konsentrasi shalat dan meniru ulama', ini khusus buat shalat sunnah saja ya. Buat shalat fardhu, prioritasnya tetap di masjid atau bagi akhwat, khusus surat-surat yang lancar saja. 

Duh jadi ingat pesan ustadz Syarif Baraja dalam kajian 11 Februari lalu di VACATION Rumah Quran STAN, satu hal yang ada pada penghafal Quran tapi tidak ada pada muslim/ah lainnya adalah ia bisa dengan mudah membawa ayat-ayat hafalannya di dalam shalat yang dia kehendaki. Semoga menjadi motivasi bagi kita untuk slalu bermurajaah sembari berkomunikasi dengan Allah di dalam shalat. Maa syaa Allah, berkah berkah berkah.


5. Auto-Murajaah dari Mulai Wudhu s.d. Start Shalat Fardhu

Tahukah bahwa setelah wudhu hingga shalat fardhu biasanya membutuhkan perjalanan yang cukup untuk beberapa ayat? Misal wudhunya di rumah, shalatnya di masjid, sembari langkah-langkah kita menanam kebaikan dan menggugurkan keburukan, alangkah lebih powerful bila lisan kita turut mendukung dan menjembatani kasih sayang Allah. 

Bagi akhwat atau yang barangkali shalat di rumah, mungkin ia hanya bisa ditakar beberapa ayat saja. Misalnya 10 meter, berarti surah al ikhlash. Tapi itu saja sudah sepertiga Al Qur'an bukan?

Bagi ikhwan yang ke masjid, berapapun menit dari tempat wudhu di rumah sampai dengan tempat shalat, setiap tapak kakinya bernilai 1 huruf yang juga dikalikan 10 kebaikan, Maa syaa Allah.

Maka, bagi penjelajah auto-murajaah, kondisinya akan terbalik begini:

  • Bagi yang lokasi masjidnya dekat, bersabarlah, walau kebaikan dan hurufnya lebih sedikit tapi untuk meraih shaff 1 atau posisi awal shalat, in syaa Allah lebih cepat.
  • Bagi yang lokasi masjidnya jauh, bersyukurlah, walau mungkin shaff nya terbelakang atau posisinya kurang bisa di awal shalat, in syaa Allah kebaikan dari langkah sekaligus huruf Quran yang dilafalkan menjadi lebih signifikan. 

Secara teknis, sehabis wudhu pasti lisan kita masih berkutat dengan doa setelah wudhu, nah, begitu kita beralih mempersiapkan: sarung, baju koko, masker, kunci motor (kalau jauh), peci, dan sajadah, ada banyak huruf Quran yang bisa diraih sembari mempersiapkan barang-barang tersebut.

Auto-murajaah memang mengajarkan kita hal-hal teknis sekecil itu, yang apabila ditakar dengan keberkahan 1 huruf Qur'an, in syaa Allah nilainya jadi terus mengembang dan meluas. Sehingga misalnya jarak ke masjid 1 kilo akan ditakar dengan 1-2 halaman murajaah, jarak sepelemparan batu akan ditakar dengan 3-5 baris murajaah.

Bahkan, kalau perlu, bila seandainya ada yang nanya: "Pak dimana lokasi rumah si anu?" Saking ngehit nya auto-murajaah dalam dirinya, jangan-jangan dia akan jawab begini, "Itu pak, 15 ayat dari sini lalu belok ke kanan 5 ayat lagi."


Bersambung ...

6. Auto-Murajaah di Ba'da Shalat Fardhu

7.  Auto-Murajaah di Atas Motor/Kendaraan

8. Auto-Murajaah Ketika Berjalan Kaki

9.  Auto-Murajaah Ketika Browse and Swipe, Lihat Status/Story/Jelajahi e-Commerce

10. Auto-Murajaah ketika Menyeterika/Merapikan Baju/Mencuci/Memasak

11. Melejitkan Auto-Murajaah Bersama Masker

12. Auto-Murajaah Ketika Menyapa Tetangga/Teman


Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |