Home » » 4 Alasan Kenapa Harus Auto Murajaah

4 Alasan Kenapa Harus Auto Murajaah

Penulis : rumah quran stan on Sabtu, 13 Februari 2021 | 16.26.00

Mari kita Start With Why...

Sebelum memulai aktivitas baru, biasanya yang menjadi tanda tanya pertama adalah "WHY?" Jawabannya bukan personalnya siapa, bukan alatnya apa, bukan caranya bagaimana, melainkan: "Kenapa kita merasa PENTING untuk melakukannya? Kenapa kita HARUS melakukannya? Apa MANFAAT kalau kita melakukannya?  
 
Semakin kuat KEPENTINGAN, KEHARUSAN, dan KEBERMANFAATAN dari sesuatu tersebut untuk diri kita, semakin kuat pula alasan kita untuk melakukannya. Bahkan tak peduli bagaimana pun, siapa pun, kapan pun dan kata tanya lain apa pun yang menghalanginya. Inilah dia "Kenapa Kita Harus Auto-Murajaah"... tereteteteeeeettt ...


Sekilas Latar Belakang:
Kisah murajaah yang saya dapatkan termasuk sedikit, namun cukup membelalakkan pikiran saya, mengukir tanda tanya besar: "Kok bisa yaaa...."
  1. Kisah seorang guru/kiyai teman saya, yang katanya ketika sedang ngobrol, beliau bisa lho, bergantian dengan agenda melafalkan Kalamullah di lisan beliau. Wow! Ajib! Advanced Multitasking! Ya, begitulah. Bayangan saya, cerita ini memang saya dapatkan sekali saja, tapi saya yakin banyak kiyai/tokoh ulama/tokoh penghafal Qur'an yang bisa seperti ini. Automatic switched antara agenda duniawi dengan agenda murajaahnya. Barakallah untuk para asatidz dan kiyai keren inspiratif seperti beliau...
  2. Kisah seorang narsum yang pernah kami undang (waktu itu di FHQ Ar Ridho), seorang kiyai/ustadz dari Depok naik motor sebelum Subuh ke Tangsel (maklum, acara kajiannya start jam 05.30 WIB). Beliau berkelakar, "Alhamdulillah ada anak saya yang anter, jadi murajaahnya bisa 4 juz". Saya kaget, dalam hati berujar, "Waduhh... kalau beliau saja Depok-Tangsel dibonceng 4 juz, saya yang biasanya rumah-kantor naik motor, lebih banyak melamun dan misuh nya? Astaghfirullah... Sampai sekarang, logika saya masih belum nyambung: "Kok bisa ya!" Tapi itu really bisa terjadi. Apalagi di waktu berkah pagi, yang mana Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam mendoakan keberkahan umatnya di waktu tersebut. 
Dari dua kisah itu saja, cukuplah bagi saya memviralkan istilah "auto-murajaah" ke segenap sel, jaringan, organ, dan sistem organ dalam diri saya, sehingga mudah-mudahan virus auto-murajaah terus menggerogoti dosa-dosa dan melejitkan kesehatan mental paripurna dalam lobus jasmani ruhani saya.    
Akhirnya, saya temukan WHY tadi setelah mengalaminya sendiri, beberapa waktu terakhir ini:
Kenapa kita Harus Auto-Murajaah?

1. Pembangkit Ruhiyah di Kala Sibuk

Alasan yang pertama ini duniawi banget nih. Seiring dengan terjadinya pandemik --> mengakibatkan kebangkitan logika "apa-saja-online" --> bukan hidup jadi makin mudah, eeh malah makin sibuk. Dikit-dikit onlen, dikit-dikit onlen. Di rumah, lagi enak-enaknya berakhir pekan, diajak nge-zo0m, nge-me3t, atau nge-vic0n. Sisi positifnya adalah ==> bagi orang dengan pemikiran terbuka dan growth mind-set, hidup menjadi lebih tangkas, lebih terampil, lebih lincah. Ke sana sini, pikiran cepat bergerak dan berubah, langsung tune in, fokus dalam sekejap, pikiran switched dengan cepat.

Eits jangan keliru... Agile (ketangkasan) juga kudu adil, tidak cuma urusan duniawi saja, tapi juga urusan akhirat. Termasuk implementasinya dengan menginternalisasi auto-murajaah dalam aktivitas kita. Sambil ngerjain tugas kantor, begitu adzan, langsung move on. Ga cuma berangkat ke mesjid saja, tapi selama perjalanan tersebut (yang notabene bisa disambi), juga sambil berdzikir melafalkan hafalan Quran yang dipunya. Bukan cuma perjalanan ke mesjid, melainkan juga aktivitas semi-fokus lainnya: menyeterika, merapikan baju, mencuci piring, ganti baju, di mana lisan masih bisa bebas bergerak tanpa terganggu fokus yang lain.

Dengan cara menyelip-nyelip-kan agenda murajaah tersebut, ruhani kita selalu ter-charge senantiasa. Lalu kita bertanya lagi: APA MANFAAT ruhani yang ter-charge dengan baik. Berikut yang bisa kita rasakan kalau ruhani kita sehat:


  1. Imun terhadap maksiat makin kuat. Bukan itu saja, bahkan menghindari aktivitas yang minim manfaat pun makin terjaga, semisal menjadi kurang doyan maen game,  ga mudah kebelet nonton pelm, dll. Hal ini imbas dari ruhani yang charge nya kuat.
  2. Daya tahan terhadap amanah menjadi lebih tegar. Kesibukan yang bertumpuk-tumpuk pasti membuat kita stress, tapi dengan ruhani yang ter-charge, jiwa menjadi lebih lapang, hati menjadi lebih tenang, suasana menjadi selalu nyaman. Bila orang lain merasa dalam tekanan, kita justru seperti sedang rebahan santai di pinggir pantai yang tenang, merasakan sepoi angin semilir, dan suara deburan ombak. Amanah-amanah yang datang seolah santai tuk dikerjakan, bahkan kita kuat menerima beban amanah tersebut.
  3. Penyikapan terhadap musibah menjadi lebih kalem. Karakter muslim yang ideal kian mendekati realitas bagi kita, dimana ketika diberi nikmat kita bersyukur, dan ketika diuji musibah kita bersabar. Jadi jangan kaget, bila ada orang kena musibah, tapi kok senyumnya bisa lebar sekali, wajahnya seperti tak menunjukkan kesedihan atau kehilangan yang berat. Bisa jadi ruhaninya memang kuat dan tangguh. Ia mengganggap segala sesuatu hanya titipan. Allah lah tempat segala sesuatu itu kembali.  
  4. Akselerasi naiknya iman menjadi lebih cepat. Membaca 3 poin di atas mungkin membuat kita berpikir, "itu mah bukan manusia, itu mah malaikat", maka poin ke-4 ini memaklumi sifat manusia, yaitu iman yang bisa naik dan turun. Hanya saja, ketika kita menjadi manusia begini, pertanyaannya adalah: naiknya iman apakah harus menunggu Ramadhan? naiknya iman apakah harus dinasehati ustadz kabir? naiknya iman apakah harus menunggu musibah besar terjadi? menunggu tanda-tanda kiamat makin jelas? sehingga membuat kita jadi makin rajin ke mesjid? Tentu tidak. Dengan charge ruhani yang intensif ala auto-murajaah, pagi tadi futur, nanti siang sudah semangat lagi. Atau tadi malam mager, besok pagi sudah qiyamul lail lagi. Maa syaa Allah. Akselerasi yang cepat untuk performa ruhani yang kuat.

2. Membangun Portofolio Akhlak

Lupakanlah akhlak kita yang lalu. Yang mungkin banyak buruknya: pemarah, pendendam, pengiri, pendengki, pengujub, penggosip, penyulut emosi, dan peng-peng yang lain. Mari buat portofolio baru atas nama diri kita, dengan cara menggelar agenda auto-murajaah. Dengan interaksi bersama Qur'an, salah satunya yang lebih intensif dan meng-inject aktivitas rutin kita, kita berharap segala keburukan yang menguntit diri kita (entah sejak kecil sudah menjadi kebiasaan, entah ditanamkan oleh preman teman sejati kita di masa remaja, entah meniru dari siapa pun), itu semua bisa hilang bersamaan dengan Qur'an yang menetralisasi akhlak kita. Karena Quran sumber ketenangan, kasih sayang Allah buat diri kita.

Imam Hasan Al Bashri pernah meralat ucapan seseorang yang mengatakan: "Dia telah menjaga Al-Qur'an (memurajaah sehingga tidak hilang)". Begini ralat beliau, "Bukan ia yang menjaga Quran, justru Al Quran-lah yang menjaga dirinya."

Ya, Al Quran ibarat benteng tak kasat mata yang melindungi kita dari virus-virus jahat kemaksiatan yang mewujud menjadi karakter sekaliber akhlak. Akhlak sejatinya melekat, jadi ibarat kalau kita mengageti seseorang, lalu lisannya bertutur secara spontan, maka seperti itulah akhlaknya. Kalau ia spontan bertutur isi kebun binatang (misuh-misuh), perlulah ia memperbaiki diri. Kalau ia bertutur istighfar, maa syaa Allah, maka spontan pula Allah melindunginya, semoga.


3. Turunan Konsep ala Sahabat Nabi

Dikisahkan: sekelompok orang yang baru saja masuk Islam pernah bertanya kepada para sahabat,

كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟

“Bagaimana metode kalian dalam membagi bacaan Al-Quran?”

Para sahabat lantas menjawab:

كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا نُحَزِّبُهُ ثَلَاثَ سُوَرٍ وَخَمْسَ سُوَرٍ وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ وَإِحْدَى عَشْرَةَ وَثَلَاثَ عَشْرَةَ وَحِزْبُ الْمُفَصَّلِ مِنْ “ق” حَتَّى نَخْتِمَ.

“Kami membaginya menjadi: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, 13 surat serta surat Al-Mufasshol yang dimulai dari surat Qof hingga akhir Al-Quran” (HR Abu Dawud)

Jawaban para sahabat diatas merujuk kepada susunan surat di dalam Al-Quran, rinciannya adalah sebagai berikut:

  • Hari Pertama (3 surat): Al-Baqarah, Ali Imron dan An-Nisa.
  • Hari Kedua (5 surat): Al-Maidah, Al-An-‘am, Al-A’rof, Al-Anfal, At-Taubah.
  • Hari Ketiga (7 surat): dari surat Yunus hingga akhir surat An-Nahl.
  • Hari Keempat (9 surat): dari surat Al-Isro hingga akhir surat Al-Furqon.
  • Hari Kelima (11 surat): dari surat Asy-Syu’aro hingga akhir surat Yasin.
  • Hari Keenam (13 surat): dari surat Ashoffat hingga akhir surat Al-Hujurot.
  • Hari Ketujuh (Al-Mufashol): dari surat Qof sampai An-Nas.

Sebagian ulama lantas ada yang menyusun sebuah rumus untuk memudahkan dalam menghafal susunan diatas, yaitu dengan kalimat:

فَمِي بِشَوقٍ

yang artinya: Lisan yang Dirindukan.

Para sahabat yang biasa membagi 30 juz ke dalam 1 pekan, sebetulnya merujuk pada konsep MURAJAH dengan TARGET YANG JELAS.

Lalu, mengambil kaidah: "Kalau tidak bisa semuanya, jangan lantas ditinggalkan semuanya", maka kita-kita yang belum dapat hafal secara lengkap 30 juz, sewajarnya membuat turunan-turunan agar konsep Murajaah dengan target ini dapat diamalkan.

Maka,
Bila 30 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 4-5 juz,
Bila 20 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 3 juz,
Bila 10 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 1,5 juz,
Bila 5 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 1 juz,
Bila 2 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 0,3 juz atau 6 halaman,
Bila 1 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 0,15 juz atau 3 halaman,

Syukur-syukur murajaah atas hafalan-hafalan kita yang masih sebagian tersebut bisa ditunaikan semua di agenda yang bersifat fokus, seperti membaca surat setelah Al Fatihah di dalam shalat wajib dan sunnah, duduk sambil menyelipkan/mengintip-intip mushaf, atau agenda fokus lainnya.

Kalau kita sibuk? Apalagi hype in online... 
Salah satu solusinya adalah Auto-Murajaah.

Maa syaa Allah dari agenda yang bersumber dari generasi orang-orang terbaik di zaman Nabi, kita bisa menirunya. Semoga berfaedah, berkah, dan menautkan pahala yang besar di akhirat kelak.

4. Menimbun Investasi Tiada Terkira

Bicara tentang Al-Quran, harta dunia in syaa Allah lewat yaa. Karena bukan itu, yang memotivasi kita membersamainya senantiasa. Justru pahala akhirat yang hitungan kalkulasinya jauh melebihi ekspektasi akuntan manapun. Semoga Allah slalu membantu menggembor-gemborkan motivasi ini di hati kita. 

  • Yang pertama hm... betapa masifnya kebaikan dan pahala yang dapat dituai hanya untuk 1 huruf saja. Itulah salah satu motivasi, yang membedakan dengan karakter kebaikan yang lain.

Salah seorang ustadz pernah mencontohkan, "Bandingkan dengan sebungkus nasi yang bernilai 1 kebaikan, bungkusnya dibuat oleh si anu, sendoknya dibeli dari si anu, belum lagi nasi, lalu sayur, lalu lauknya dari si anu yang berbeda-beda, lalu dikumpulkan dalam satu kali pembagian kepada masyarakat yang membutuhkan." Intinya untuk mencetak 1 kebaikan dari sebungkus nasi dibutuhkan sekian banyak orang sampai ia dinikmati oleh sasaran penerima sedekah tersebut.

Berbeda dengan Al Quran yang membaca 1 hurufnya saja, sudah bernilai 1 buah kebaikan yang dilipatgandakan 10x. Artinya kalau kita bicara bobot, pahala bersama Al Quran jauh lebih berbobot, berkah, dan penuh manfaat buat si penimbun pahalanya di akhirat.

  • Di setiap level kehidupan, ada Al Qur'an yang menemani, bila kita sudah berteman sejak awal di dunia.


Ini tercantum dalam doa khotmil Qur'an di atas:

Yaa Allah.. Jadikanlah Al-Quran bagi kami di dunia sebagai teman, di dalam kubur sebagai pendamping, di hari kiamat sebagai penolong, di atas shirat sebagai cahaya, ke surga sebagai pengantar, dan dari neraka sebagai hijab/penghalang.

Sebetulnya masih banyak motivasi-motivasi luar biasa dari interaksi bersama Qur'an. Tapi hanya sedikit ini saja yang bisa dipaparkan. Selebihnya tetesan-tetesan inspirasi dari web ini dirasa sudah mewakili, artinya silakan untuk dapat menjelajahinya sendiri :P

Dan bila untuk memenuhi return dari investasi yang tiada terkira itu, ternyata kita terlalu sibuk di dunia. Maa syaa Allah. Lebih cocok kita install aja deh AUTO-MURAJAAH dalam baluran aktivitas duniawi kita.

Barakallahufiikum

Rumah Quran STAN 

Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |