Home » , , » Cerita Mukhoyam Quran dari Perwakilan RQ STAN

Cerita Mukhoyam Quran dari Perwakilan RQ STAN

Penulis : rumah quran stan on Sabtu, 22 Februari 2020 | 23.42.00

sumber foto: disini
Bismillahirrahmanirrahim

Horison, Ciledug, 2020 - Mukhoyyam Qur’an, sebuah sarana/wadah yang memfasilitasi kita untuk membina keakraban dengan al-Qur’an, merevitalisasi pola pikir kita terhadap al-Qur’an, serta memupuk kembali resolusi-resolusi kita terhadap kitab ilahi yang barang kali resolusi itu antara ada dan tiada, namun masih memiliki keutuhan harapan di dalam menjemput kesuksesan membersamai al-Qur’an kini dan nanti. Bisa dibilang, kegiatan semacam ini dirancang dengan serangkaian acara yang kesemuanya itu ditujukan dengan visi dan misi yang erat kaitannya dengan kehidupan Qur’ani. 


Singkat cerita, saya merupakan satu dari ratusan peserta yang sama-sama mengisi draft registrasi untuk mengikuti dan patuh terhadap arahan ketua pelaksana mukhoyyam saat itu. Seperti biasa acara demi acara dilaksanakan dengan penuh hikmat, mulai dari acara setoran, sholat berjama’ah, kajian, makan-makan, dan ditutup dengan istirahat di malam harinya. Semuanya berjalan lancar. 

Ukhuwah yang terbina sangat terasa, betapa tidak? Di sela-sela makanpun, ketika ada satu temannya melafalkan ayat yang dihafal dan terdapat kesalahan, seketika itu juga ibu-ibu yang merupakan salah satu peserta langsung mengoreksi, meskipun dalam keadaan tengah memilih coffe break yang disajikan oleh pihak hotel, ada pula yang ketika salah satu temannya melafalkan kalimat dari surat tertentu, lalu dengan ringan lisan, peserta yang lain pun ikut meneruskan kalimat dalam surat tersebut, begitulah harmoni yang tercipta meskipun sedang tidak di agenda murojaah ataupun ziyadah (menambah hafalan). 

Sehingga wajar jika mayoritas peserta sangat menikmati acara tersebut, karena atmosfer Qur’annya begitu terasa, kemana-mana selalu membawa mushaf, dan tidak pernah bosan tilawah, menyapa satu sama lain, menyemangati satu sama lain, bahkan sharing satu sama lain. di mana hal inilah yang selalu mereka sebut dengan kesan yang menyenangkan pasca acara penutupan.

Setiap kita punya kesan yang berbeda, hal itu wajar.
  • ada yang kesan terbesarnya adalah tentang ukhuwah yang dipersatukan melalui al-Qur’an, 
  • ada yang kesannya ialah tentang acara yang disetting begitu bermakna baginya, sehingga selama kurang lebih tiga hari ia bisa menikmati kedekatannya dengan al-Qur’an, 
  • ada pula yang kesannya ialah menganggap semua ini adalah liburan bagi ibu-ibu rumah tangga dari seabrek rutinitas rumah yang selalu ada di setiap harinya, dan ketika event ini hadir, “horeee” begitu kata mereka, liburan telah datang, dengan berbekal izin dari qowam rumah tangganya dan semangat yang tinggi, akhirnya merekapun ikut, hehe, beragam memang.

Kalau kesan bagi saya pribadi ialah tentang mindset yang diajarkan oleh ustadz Abdul Aziz Abdurra’uf, Lc. Al-Hafidz (semoga Allah jaga setiap detik menitnya dengan keberkahan al-Qur’an). Jujur saya tidak pernah memilih kesan mana yang mau saya utarakan di sini, tapi memang rutinitas yang disajikan dalam mukhoyyam pada umumnya adalah rutinitas yang sudah saya dapati di event mukhoyyam-mukhoyyam yang sudah-sudah, hanya saja pengemasannya yang sedikit berbeda. 

Kalau yang dulu-dulu pernah saya ikuti adalah tentang betapa urgent nya peran wanita, karena wanita adalah pangkal, maka harus didekatkan dengan al-Qur’an sedekat-dekatnya (Teladan dari para ummahaat Ghaza Palestina) merekalah pangkal peradaban, ada juga tentang membina sifat-sifat mulia yang seharusnya menghiasi pribadi para huffadz. Begitulah kira-kira moment-moment mukhoyyam yang dulu diadakan oleh pondok tercinta (semoga Allah senantiasa menaungi dengan ridhoNya dan rahmatNya).

Nah menurut saya, hal yang paling berkesan sekaligus penting buat saya adalah rekontruksi mindset shohibul qur’an itu sendiri

Yup saat itu beliau bilang, “coba pola pikirnya yang dirubah” bahwasanya menghafal al-Qur’an adalah bentuk dari keimanan kita kepadaNya, maka sudah seharusnya al-Qur’an inilah yang membuat kita lebih mengenal Allah, lebih dekat kepada-Nya, dan lebih bergantung di setiap keadaan. Makanya do’a yang diajarkan ialah “Allahumma ij’alna minman yaqro’ul qur’ana fayarqo, wala taj’alna minman yaqro’ul qur’ana fa yasyqo.” Ya Allah jadikan kami diantara orang yang membaca al-Qur’an yang ditinggikan derajatnya, dan jangan jadikan kami diantara orang yang membaca al-Qur’an kemudian sengsara. 

Mindset inilah yang perlu dibangun, karena membersamai al-Qur’an bukan soal memenuhi target, ataupun prestasi di mata manusia, akan tetapi memandang al-Qur’an ini adalah salah satu jalan dari pentarqiyah iman (Tarqiyah: meningkatkan). 

sumber foto: disini

Dengan demikian, ketika focus kita arahnya adalah membenahi iman kita kepada Allah, maka saat itu juga, diri kita akan terlatih untuk meningkatkan kualitas hati kita. Hal ini sesuai yang disabdakan Rosulullah Muhammad, bahwasanya ketika segumpal daging (hati) jika baik, maka baiklah semuanya. 

Pola pikir ini memang jarang digaungkan oleh berbagai pihak, karena selama ini yang masih menjadi fokus adalah bagaimana meningkatkan hafalan, melancarkan hafalan, dan memutqinkan hafalan, tapi lupa dengan bagaimana memaknai hidup dengan al-Qur’an, lupa dengan esensi al-Qur’an sebagai kalamullah, sehingga tak jarang kita jumpai, ada penghafal al-Qur’an yang mohon maaf, sholatnya masih jarang-jarang, hafalan lancar tapi zinanya juga tidak kalah lancar, kasus-kasus seperti inilah yang barang kali muncul karena ketidaksiapan kita dalam menghadirkan hati saat kita memulai komitmen untuk terus menjaga interaksi kita dengan al-Qur’an, bahkan kita kadang tidak pernah muhasabah, “mengapa ya, saya ini penghafal al-Qur’an tapi merasa tidak tenang, kenapa ya kok saya ini menghafal al-Qur’an seperti tidak ada efeknya sama sekali, rasanya hambar, tidak memiliki rasa, katanya interaksi dengan al-Qur’an itu manis, tapi kok saya belum merasakan”. Na'udzubillaah...

Berbicara soal rasa memang tidak pernah bisa dibohongi, setiap dari kita, tidak akan bisa menafikan hal tersebut atau malah mengada-ngada akan hal tersebut, maka ketika kita masih merasakan hambarnya tilawah al-Qur’an, barang kali hal ini merupakan tanda betapa kita masih susah menghadirkan hati saat interaksi dengan al-Qur’an, oleh karenanya beliau dengan tegas mengatakan “illa man ataa Allaha bi qolbin saliim” siapa saja yang senantiasa mentazkiyah hatinya, ia akan dibangkitkan dalam keadaan hati yang bersih. Kira-kira inilah muhasabah yang pertama yang disampaikan beliau, yakni tentang bagaimana kita mengahadirkan hati untuk hal-hal yang kita cintai agar lebih hidup (Al-Qur’an). 

Barangkali urusan kita dengan al-Qur’an adalah urusan kita dalam mengelola hati kita, mengkondisikan hati agar menjadi hati yang bersih, yang lembut dan berharap agar hati kita selalu dijaga dari sifat kerasnya hati atau buruknya hati, karena sebagaimana yang kita tahu, sabda Rosulullah ialah “bahwasanya Allah tidak melihat rupa kita, akan tetapi lebih melihat hati kita” inilah mengapa kedekatan kita dengan al-Qur’an ada korelasinya dengan keadaan hati kita. 

Beliau menuturkan bahwasanya mu’amalah dengan al-qur’an itu terdiri dari 3 aspek, yaitu
  • mu’amalah lisan, 
  • mu’amalah ‘uquul (akal), dan 
  • mu’amalah quluub (hati). 

mu’amalah lisan berarti gerak lisan kita dalam mentajwidkan al-qur’an ketika sedang mentilawahinya, 

sedangkan akal digunakan ketika kita tadabbur terhadap ayat-ayat yang kita yakini ia adalah adalah sebagai pedoman dalam hidup, 

dan yang tidak kalah penting ialah mu’amalah qulub, yakni menghadirkan hati, karena saat hati itu benar-benar hadir, maka ayat-ayat yang didawamkan akan memberi makna. Dengan demikian hati kita siap dibersihkan, siap dilembutkan melalui wasilah al-Qur’an. Inilah yang sesungguhnya paling kita butuhkan, hati yang bersih, hati yang suci, yang sensitive karena ketakutannya terhadap Allah, dan ketika ketakutan itu semakin hari semakin meningkat, ia mudah merindukan kehidupan akhirat, merindukan yang paling berhak dirindukan. 

Jujur, mungkin hingga saat ini, kematian itu masih menjadi momok bagi saya pribadi atau mungkin ada di antara kita yang masih sama sepemikiran, belum siap, takut, nanti kalau disana sama siapa, bakal disiksa atau enggak, atau bayangan-bayangan yang menakutkan lainnya. Namun saya suka takjub, dengan orang yang begitu ringan lisannya “nanti kita akan ketemu sama Allah, maka kita harus persiapkan dari sekarang segalanya, nanti kita akan pulang, kita nggak akan capek-capek lagi di dunia ini, kita nanti akan bertemu dan diiring oleh panji rosulullah, kita reuni di surga.” 

Dua pikiran yang sangat bertentangan, satu masih takut mati, yang satunya begitu merindukan kepulangan. Inilah gambaran kondisi hati, tingkatan hati yang sering beliau sebut saat menyampaikan kajian untuk kami ialah, semakin tinggi tingkat kesucian hati maka akan semakin merindukan kehidupan akhirat yang penuh kedamaian. 

Hal ini digambarkan oleh perjuangan para sahabat awal-awal islam, dimana mereka merelakan dirinya sebagai jaminan untuk membela Allah dan Rosulnya sebagai bukti kerinduan yang dijanjikan oleh sabda Rosulullah, sehingga mereka tidak gentar sedikitpun terhadap ragam tekanan.

Digambarkan juga mereka tilawah minimal 10 juz sehari, ada juga yang dalam seharinya 30 juz khatam, mereka selalu mengevaluasi amalan-amalan, selalu menemukan hal yang beda di setiap amal satu dengan amal yang lain, amalan hari ini beda dengan amalan yang kemarin, amalan hari ini harus lebih baik dari hari esok, sehingga mereka tak pernah merasakan hambarnya beribadah, mereka tak pernah merasakan hambarnya tilawah, mereka selalu menikmati tilawah, karena mereka yakin tilawah adalah urusan keimanan dengan Allah, sebagaimana yang Allah sudah firmankan, “ alladzina aatainahumul kitaaba, yatsluunahu haqqo tilawatih” bagi mereka dan bagi setiap orang yang beriman tilawah adalah kewajiban yang harus ditunaikan. 

Kondisi inilah yang mengantarkan hati seseorang pada tingkatan “Dzaaqo” yakni hati yang sensitive ketika mendengar peringatan peringatan Allah. Namun beliau juga menegaskan kembali, jika hatinya biasa-biasa saja dia juga akan biasa-biasa saja ketika mendengar peringatan Allah. Oleh karenanya Al-Qur’an seharusnya memberi sesuatu yang baru, sehingga tidak ada terbersit kebosanan ketika membersamainya. 

namun bagaimana jika belum sampai di tingkatan ini ?, kata beliau “ selama masih ada niat dan azzam, maka sudah sepatutnya kita harus optimis meskipun kita memiliki banyak keterbatasan”.

Maka ketika ada yang mempertanyakan tujuan kita kenapa dengan al-Qur’an, mulailah jawab dengan alasan “li tazkiyatinnafs” untuk mensucikan hati dan sebagai upaya membenahi keimanan, dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwasanya fitnah yang beredar di kalangan para penghafal al-Qur’an bukanlah karena hafalannya, bukan karena Qur’annya, tapi karena pola pikirnya yang salah terhadap al-Qur’an, sehingga akibatnya adalah interaksi yang salah terhadap al-Qur’an, alias tidak memberi manfaat barang sedikitpun.

Kata Allah kita boleh bucin (cinta berat) terhadap hal-hal yang di ridhoi Allah, sedangkan selainnya tidak, kenapa? Karena akibat dari fitnah itulah yang sering kali bukan malah mendekatkan kita terhadap kebaikan namun malah penyelewengan, hingga akhirnya orang dengan mudah melabeli “kok hafidz gitu sih, atau "kok hafidzhoh begitu sih kelakuannya” maka dengan ini barometernya adalah kedekatan kita dengan Allah, ketika kita memperbaiki hati kita, maka lahirlah pemahaman yang sehat, bahwasanya interaksi al-Qur’an tidak hanya dilafadzkan saja, akan tetapi juga diamalkan nilai-nilainya. Apapun yang al-Qur’an perintah maka itulah kebaikan, dan yang al-Qur’an larang wajib kita usahakan untuk menghindari sebisa mungkin.  

Wallahu a’lam bishowaab. 
Al-faqiir ila rohmati robbiha, Bintu Rosyid
24 Januari 2020
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |