Home » , » Taujih Seri 4 untuk Strategi Muwajjih FHQ (16-19)

Taujih Seri 4 untuk Strategi Muwajjih FHQ (16-19)

Penulis : rumah quran stan on Senin, 28 Oktober 2019 | 23.50.00



πŸ”° Alhamdulillah FHQ MBM dimulai kembali jelang akhir tahun 2019 ini.
πŸ”° Agenda FHQ telah dimulai 12 Oktober 2019 lalu dan dijadwalkan selesai 26 April 2020.
πŸ”° Registrasi santri menghasilkan peserta: 67 putra + 137 putri (total 204 peserta).
πŸ”° Seluruh peserta adalah dari kalangan mahasiswa/i PKN STAN.
Maa syaa Allah...
πŸ”°Semoga Allah mudahkan FHQ menghasilkan santri-santri yang istiqomah dalam berinteraksi bersama Qur'an serta mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat. 
πŸ”° Semoga Allah berkahi dan istiqomahkan pula para pengajarnya yang sebagian besar dari kalangan santri RQ STAN. 
Aamiin.
πŸ”° Kembali kami persembahkan taujih-taujih instan bagi para pengajar Quran, melajutkan serial yang sudah dimulai sejak akhir 2018 lalu πŸ˜€

Taujih seri 1
Taujih seri 2
Taujih seri 3
Taujih seri 4 (berikut dalam artikel ini)

πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Bagaimana Jika Ada Santri Telat Ikut Halaqah Quran

Ini best practice di Fhq annashr. Tapi dikhususkan untuk halaqah yang efektif (artinya yg telat cuma dikit/kurang dr 50%) dan pengajar sudah teruji dedikasinya😎

Begini teknis contohnya: Dari 10 peserta: yang 6 hadir tepat waktu, yang 2 tdk hadir, yang 2 hadir telat. Maka, urutkan talaqqi fardhi di akhir sesi nanti sesuai yang pertama hadir sampai yang ke 6, selanjutnya halaqah ditutup. Lho? Yang 2 telat dikacangin donk. Enggak. Sepasang itu akan di talaqqi di luar halaqah. AdilπŸ˜€

Nah, kan, pengajar dpt pahala lebih gede karena jam halaqahnya plus extra time (itulah mengapa butuh dedikasi tinggi). Selain itu, mengurangi risiko menggerutunya santri2 yang hadir tepat waktu sekaligus menghindari rasa tdk enak bagi yang telat. Yang telat, maka pekan depan akan berusaha hadir tepat waktu, bukan malah ga mau hadir lantaran merasa jadi beban halaqah.

Hal ini efektif bisa dilakukan jika dan hanya jika, satu halaqah sepakat kapan jam telat itu diberlakukan. Misal 15 menit dr jam start semua sepakat, maka yang telat akan talaqqi fardhi di luar halaqah. Jadi butuh kesepakatan pengajar dan santri yaπŸ€ͺ

Kasus lain: bagaimana jika peserta tahsin rame-rame telat. Kalau cara di atas tadi diberlakukan, kasihan pengajar nya, juga santri2nya. Extra time semua nanti. Nah, disini butuh kesepakatan juga. Kalau rame-rame ya, yang hadir tepat waktu bersyukur sangat. Karena selesainya lebih awal dan yg rame-rame tadi ditalaqqikan sesuai waktu proporsi hingga jam halaqah selesai. Aman.

Kasus lain: Bagaimana mengawali yg jumlah santrinya dikit? Materi direm dulu ya. Fokus ke talaqqi jama'i saja dlu atau talaqqi mitsali dulu, maksimalkan yang bisa dilakukan hanya dengan 1-2 orang. Nanti kalo sekiranya waktu sdh yakin kayaknya gak bakal dateng deh yang lainnya, maka barulah starting materi.

Kasus lain: Bukan masalah dedikasi pengajar, tapi lebih ke pengajar itu supersibuk sehingga habis halaqah yang pengennya teng go. Khan ada syuro ini itu, banyak sekali. Semua2 dapat disolusikan 🐼 Cobalah untuk berkreasi pake gadget. Yang telat tadi, talaqqi via video call... Jeng jeng, lho kuota nya. Ini konsekuensi karena telat dan pengajar kurang bisa extra time. Atau boleh juga selesainya diawalkan sehingga yang telat tadi bisa talaqqi di luar halaqah, tapi masih di jam nya halaqah.

Kembali ke fokus nyamannya santri di halaqah. Karena inti dari solusi masalah2 telat ini adalah bagaimana agar semua santri merasa nyaman. Bukan 1-2 saja. Tapi semua. Hm...  Terkadang memang perlu pengorbanan pengajar.

Semoga Allah membalas pengorbanan kita dalam mengajar Quran ini dengan kebaikan yang banyak. Krn kita sedang menapak di jalurnya sebaik baik kita: yaitu belajar dan juga mengajar Quran.
😊

πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Bagaimana Bila Santri Kita Sedikit? 
Sementara Halaqah lain Banyak?

Ini perasaan wajar. Ketika halaqah lain berjubel santrinya, halaqah kita sepi, bahkan belum ada yang hadir.

Eit... Ini masalah bukan cuma halaqah tahsin aje, ini masalah utama di halaqah mentoring juga, dari jaman bahula sampai sekarang. Maka, hal ini scr pasti sedang menguji mental kita, mind set kita.

Motivasi superklasik kita adakah Kisah Nabi Nuh yang berdakwah 950 tahun, yang hadir menyambut hanya sejumlah itungan jari tangan.

Atau motivasi modern: yang penting niat. Kalau ga ada amal, pahala nya  sudah ditetapkan. Sama dengan pengajar lain yang sudah mengamalkan pengajarannya. Lagi pula, waktu antum sudah dibeli sama Allah utk mengajar Quran di sabtu atau ahad sore. Maka, sepanjang waktu tsb, tetap hadir adalah sesuai awal akad jual beli kita sama Allah (termaktub dalam surat komitmen dengan panitia fhq mbm). Jadi kalau sudah sore dan bahkan gak ada peserta pun, seharusnyalah waktu itu untuk Allah yakni dengan stay in masjid, tilawah, murojaah, sampai ada santri hadir. Adil bukan?

Lalu bagaimana kalau face to face. Satu halaqah satu santri. Alhamdulillah ini kesempatan emas untuk memberi peluang santri tsb utk menerima pengajaran kita lebih optimal. Materi, talaqqi, semua bisa all out. Kalau terlalu penuh, yaa yang begini ini boleh lah ya selesai lebih awalπŸ˜… tapi waktu jam halaqah tetap dipake pengajar untuk Qur'an. Tetap teralokasi sesuai tempatnya.

Kita perlu slalu mengingat bahwa setiap aktivitas menunggu itu bermanfaat sepanjang niat nya ikhlas. Mending santrinya dikit tapi ikhlas mengajar, daripada santrinya banyak tapi jumawa sekaliber ujub(takjub diri dalam hati). Ini adalah bahaya level tinggi.

Maka, jaddidun niat menjadi slalu perlu untuk dilakukan. Slalu memperbarui niat. Karena selipan2 setan dalam hati kadang hadir tanpa kita sadari.

Semoga Allah menolong kita, utamanya dalam menjaga niat-niat ibadah karena Allah. Yang santrinya sedikit atau banyak sama saja. Sama-sama menuju kebaikan yang sama, sama-sama berarti vital mengajar, yang beda justru kalau yang sedikit dibarengi sabar, maka ada plusnya malahan: kemuliaan karena Allah. 😊

πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Mengatasi Merasa Di-PHP-in Santri

Yang santrinya banyak, digoda dengan ujub. Hati-hati karena penyakit hati ini sulit disadari. Tahu-tahu merasa bahwa "wah santriku banyak, santri situ dikit, wkwkwk". Merasa saja sudah bahaya. Lalu gimana kita mencegahnya? Santai saja, ada doanya: Allahummaa innaa nauudzubika min annusyrika bika syaian na'lamuhu wa nastaghfiruka limaa laa na'lamuhu (keyword: doa atas apa yang tidak diketahui). Karena yang muncul di hati seringnya ngeloyor begitu saja, sulit ditahan.

Yang santrinya dikit, hm... Godaannya terasa lebih berat. Maka, sabar nya akan berbuah kemuliaan karena Allah InsyaAllah. Bagaimana godaan itu muncul? Mulai dari rasa minder, merasa diphpin, hingga perasaan: pekan depan mau kabur aja lah, ga usah ngajar, digantiin atau digabungin aja lah. Niat-niat buruk keluar juga via hati (belum tereksekusi).

Ikhwah fillah, merasa Di-PHP-in adalah sebuah perasaan yang sangat berbahaya. Mungkin pengelola mentoring bisa ditanya, atau disurvey? Berapa mentor yang gak jadi mentor lagi karena ditinggal mentinya? Sebetulnya menurut saya, mereka merasa bukan ditinggal menti, tapi karena baru pertama kali jadi mentor(atau sudah berkali-kali) kemudian merasa gagal, sehingga tidak melanjutkan membina/menjadi mentor/malas mengingatkan mentinya untuk mentoring. Mungkin juga terkover kesibukan sehingga urung utk menyempatkan diri menyapa menti, "yuk mentoring pekan ini"

Saya mohon maaf bila ada di antara pembaca yang menjadi pengurus mentoring, semoga hal ini sdh ditangani dengan kejelian dan kreativitas pengelola nya. Tapi begini lah di zaman saya ketika saya jadi mentor dulu. Yaa, selama 5 tahun lebih dalam membina, selama itu pula setan menggoda agar kita merasa Di-PHP-inπŸ˜… Biar kita kabur dari jalan dakwah ini.

Nah, halaqah tahsin sebetulnya punya kelebihan, yakni waktu dan tempat sudah ditetapkan, gak perlu nyari kesepakatan waktu lagi. Tinggal bagaimana kita berusaha untuk menyapa mereka, membuat mereka nyaman, menghadirkan diri kita buat membantu mereka belajar Quran.

Pertama-tama: buang jauh-jauh perasaan merasa di-PHP-in. Kedua: sapa di grup atau lebih pas nya japri santri yang tdk hadir tanpa keterangan tersebut. Ingatkan akan komitmen kehadiran, sehingga ia dapat kembali rajin hadir dan rajin tilawah. Yaa, tentu perlu seni mengingatkan agar santri tersebut merasa nyaman dalam diingatkan.

Kalau ia rajin hadir tapi tdk mencatat tilawah hariannya, paling tidak dituliskan kira-kira saja di buku mutabaah. Kita memudahkan, bukan mempersulit.

Akhirnya, kita perlu menginternalisasi mind set bahwa kita lah yang butuh dakwah quran ini, bukan dakwah yang butuh kita. Karena kita lemah, maka kita bergabung. Karena kita khawatir banyak godaan setan, kita ingin memurnikan niat dan memperbesar peluang meraih pahala besar. Jadi tdk ada alasan bukan? Untuk menyerah dan beralih ke jalan lain yang hingar bingar duniawinya lebih terlihat?

Yang bisa membuang perasaan diphpin adalah mereka yang visi nya jauh ke depan. Allah sebagai tujuan, akhirat sebagai orientasi maksimal.
😊

πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Dalam Talaqqi, Ada Cinta

Siapa bilang cinta hanya mengalir diantara rerimbunan musim semi, atau bergemuruhnya dialog dua hati atas teruntainya bersaf-saf doa berkah sakinah mawaddah wa rahmah?

Ternyata cinta juga bergelora di antara dua hati yang saling mentalaqqi. Yang satu mentasmik Quran, yang satu menyimak bacaan.

Yang mentasmik (memperdengarkan bacaan) harap2 cemas, moga bacaannya lancar tanpa lahn. Hendak membuktikan cinta kepada Rabbnya. Perlahan gunakan tahqiq velocity, mentera dalam harap 10 kebaikan per huruf nya. Berharap tiap lahn yang terucap, terkoreksi dengan jelas, tervalidasi oleh penyimak secara menyeluruh. Agar tilawah-tilawah berikutnya membetikkan 10 kebaikan per huruf yang kian menyempurna.

Yang menyimak bacaan pun (musyrif) harap2 cemas. Melihat dengan awas, lisan yang terkomat-kamit itu, gerakan demi gerakan. Dalam hati teruntai doa "Ya Rabb, tolonglah saudaraku ini,  agar lisan nya mampu mengucap kalimatMu secara sempurna." Namun, bila pun ada lahn, ia koreksi dengan jelas demi kebaikan saudaranya itu, demi kesempurnaan makhraj dan shifat. Demi sempurna nya 10 kebaikan per huruf untuk Saudara tercinta nya itu.

Hingga berakhir nya talaqqi, kesalahan2 pun diungkap, diingatkan, dan dimotivasikan. Sebetulnya yang menyimak itu sedang bercermin. Sedang memotivasi dirinya sendiri, agar semangat tilawah Quran. Hanya saja, dia harap ada Saudara yang juga turut diajak. "Yuk kita membetikkan cinta lebih sempurna lagi, agar Allah limpahkan kebaikan untuk kita."

Semoga kebersamaan dengan Quran ini mampu menemani qt dalam perjalanan meniti onak dan duri duniawi, tak hanya itu, juga rintangan gelapnya alam qubur, teman tatkala di mahsyar, ngerinya shirathal mustaqim, dan berakhir pada derajat surga yang moga kelak qt raih. Aamiin ya Rabb.

Sungguh cinta yang tak berbatas.

***
Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |