Home » » Tahu Susur, Tahu Petis, dan Tahu Isi Mozarella

Tahu Susur, Tahu Petis, dan Tahu Isi Mozarella

Penulis : rumah quran stan on Minggu, 16 Juni 2019 | 00.34.00


Shalat Sunnah yang diisi dengan ayat-Quran hafalan kita ibarat tahu yang ada isinya. Maka, kami perkenalkan analogi tahu susur, tahu petis, dan tahu isi mozzarella berikut ini:

***

Tahu Susur
Tahu susur itu tahu dibelah dikit lalu diisi campuran kol, taoge, dan wortel. Tak lupa permukaan luar tahunya dilapisin tepung, lantas digoreng. Warga Ceger (Tangerang Selatan) menamakannya tahu isi tetapi tidak detail isinya apa. Best practice tahu susur di area Ceger ada di penjaja gorengan gerbang komplek PJMI. Kadang jelang buka puasa Ramadhan, antriannya mengular hingga 5-10 penunggu.
Kalau pecinta gorengan ditanya mana yang lebih nikmat, tahu susur lebih unggul daripada tahu kosongan. Selain karena ada isinya, paling tidak secuil sayuran di dalamnya menjadi penetralisir micin yang terlanjur berkuasa. Dan kolesterol yang melapisinya.

Hakikat tahu kosongan dan tahu susur ini ibarat sholat sunnah yang diisi dengan bacaan Qulhu, dibanding dengan yang diisi dengan hafalan Quran update kita.

Kalau bacaan Qulhunya sambil diniatkan mendapatkan keutamaan tautan ini (https://rumaysho.com/1093-9-waktu-dianjurkan-membaca-surat-al-ikhlas.html)  tentu tak mengapa. Tapi kalau setiap sholat sunnah qulhu melulu, sepertinya kok kurang adil bagi para penghafal Quran seperti kita yang memiliki tuntutan untuk menjaga hafalan sepanjang usia.

Sejatinya, santri Quran itu beroleh kenikmatan bersama Qur'an salah satunya tatkala mengamalkan sholat sunnahnya. Di sanalah, seolah mereka sedang menghampiri hafalan-hafalan Qurannya. Yang punya hafalan juz 30 misalnya, bisa membagi An-Naba menjadi 4 lalu menghampirinya di sholat Dhuha. Lalu siangnya ada sholat qabliyah dan bakdiyah zuhur dengan An-Naziat begitu seterusnya sampai hari itu kelar sepersekian juz. Besoknya lanjut lagi hafalan juz 30 dengan surat yang lain lagi, hingga beberapa hari kemudian mereka bertemu An-Naba kembali tuk yang kedua kali, hingga kesekian kalinya, diulang-ulang tanpa bosan.

Bila dioperasikan demikian, juz 30 tentu akan setia menemani kita dan teringat slalu melalui murajaah ala tahu susur ini. Selain hafalan juz 30 kita terjaga, tentunya setiap huruf nya dapat terucap lebih banyak daripada qulhu. Harapan nya 10 kali kebaikan per huruf nya juga tercatat di rekening pahala kita lebih banyak.

So... Kuy kita isi dengan susur, tahu-tahu yang siap kita santap setiap harinya.

***

Tahu Petis

Kalau Shalat Sunnah sekenanya, sekedarnya, yang penting dua rakaat, sehingga setelah salam shalat tersebut, kita callback: "tadi setelah al fatihah, baca surat apa ya" dan jawabannya adalah LUPAAA. Maka, perlu diupgrade shalat sunnah kita, perlu diisi tahu kosongan yang toppingnya pun masih kosongan, agar nikmatnya tahu lebih berasa dan jauh dari rasa hambar.
Nah, salah satu isi tahu yang cuup popular di daerah Jawa adalah petis. Petis itu salah satu olahan isi tahu selain susur yang tampak sederhana. Ia merupakan olahan kuahnya ikan atau udang yang kandungan airnya diminimalisir menjadi sewujud pasta. Maka tinggal dulit saja ke dalam irisan tahu, sudah dinamai tahu petis. Dan tahu yang loyo itu pun tidak perlu digoreng lagi setelah dipetisi. Sederhana...

Petis itu cerminan hafalan Quran kita yang kadarnya sudah mutqin mumtaz atau paling mentok mutqin jayyid jiddan alias hafal di luar kepala. Para aktivis dakwah seharusnya memasukkan surat adh dhuha sd annas dalam kategori ini. Aneh bila surat-surat seperti ini masih perlu murajaah setiap kali hendak diperformkan menjadi imam shalat jahr.

Kalau santri Quran mah, seharusnya standar nya juz 30 masuk kategori mutqin mumtaz ini. Nah tantangan adalah bagaimana menambah cakupan mutqin mumtaz ini ke juz-juz lain selain 30.

Yaaa, begitu lah petis. Nikmat, sedap, sederhana, tidak perlu digoreng (di murajaah), dan yang jelas terjadwal agar seluruh surat yg kita hafal secara mutqin mumtaz tadi dpt secara adil dilafalkan di dalam shalat-shalat sunnah sebagai bentuk murajaah sekaligus makin menambah tabungan hurf yang dikonversikan menjadi 10x wujud kebaikan. Aamiin...

***

Tahu Isi Mozarella

Masuk ke pasar tradisional Jawa, seharusnya lebih mudah mencari petis daripada mozzarella. Berkeliling kuliner di jejalanan Semarang misalnya, jauh lebih mudah mencari penjaja tahu petis daripada tahu mozzarella. Karena petis sudah biasa, sedangkan mozzarella terdengar asing dan spesial. Biasanya kalau mozzarella jadi toppingnya ayam geprek atau martabak, harga produknya langsung melejit, jauh daripada apabila toppingnya hanya saus atau wijen. Hm... Spesial...

Maka, ibarat Mozarella ini, Shalat Sunnah menggunakan hafalan yang baru beberapa bulan dihafal, jatuhnya lebih spesial daripada hafalan mutqin mumtaz ala petis tapi itu-itu saja. Why? Karena effort untuk meraih Mozarellanya jauh lebih berat. Kadang perlu screening Mushaf terlebih dahulu sebelum shalat, kadang pas shalat hafalannya macet dan perlu berpikir keras untuk menemukan sambungan ayat. Kadang intip-intip buka Mushaf yang dikantongi di baju koko. Kadang macet total dan stop di tengah ayat kayak anak hilang, lalu tiba-tiba pindah ke Qulhu (ini tipe penghafal yang mudah menyerah dan cari aman).

Maka, demi menyempurnakan marketing tahu isi mozzarella ini, lokasi gerainya perlu dicari yang sesuai. Di sekitaran komplek elite, sewa gerai di mall atau food court, itu biasanya lebih pas daripada gerai di pinggir kali, area padat penduduk, atau malah bawah jembatan. Hm...  Seolah-olah hal ini seperti pemuliaan terhadap mozzarella. Haha.

Sama... Kita pun akan perlu menghindari lokasi shalat sunnah dengan hafalan baru ini di mesjid dan lebih memilih di rumah atau area yang jauh dari jama'ah lain. Ini semua demi kenyamanan dan keberlangsungan niat optimal, demi keutamaan shalat sunnah secara syariat (di rumah bukan di masjid), dan demi konsentrasi hafalan baru kita.

Mozarella memang spesial. Tantangan nya adalah bagaimana Mozarella ini cepat atau lambat turun kasta menjadi selevel petis, yakni ketika bacaan surat update hafalan kemarin yang tanpa screening di muka tadi, ketika shalat sunnah justru dilakukan tanpa beban, tanpa macet, tanpa kawatir loncat ke ayat lain, dan yang jelas tanpa kawatir disahutin jama'ah (yang biasanya langsung bikin keder). Itu artinya, kita perlu membuat Mozarella-mozarella baru (alias hafalan-hafalan baru lagi).

Karena sejati nya kita penghafal Quran itu pengennya adil sama ayat-ayat Qur'an, bersemangat meraih keutamaan menjadi keluarga Allah, bertekad slalu murajaah sampai maut menjemput. Maka, perlu juga kita bikin level dalam Shalat Sunnah. Ada yang sekaliber petis, ada yang serumit Mozarella. Ada pula yang dulunya mozzarella, lalu berubah level menjadi petis. Ada pula mozzarella yang baru lagi. Hehe...

🔥 Semoga bermanfaat
🔥 Allahummarhmanaa bil Qur'aan

🔥 Allahummaj'alnaa wa ahlinaa min ahlil Qur'aan

📖 Rumah Quran STAN 📖
======================
👥 Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
📷 IG : stanruqun_
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |