Home » » Taujih Berseri untuk Strategi Muwajjih FHQ (11-15)

Taujih Berseri untuk Strategi Muwajjih FHQ (11-15)

Penulis : Rumah Quran STAN on Minggu, 17 Februari 2019 | 02.49.00


Alhamdulillah, 16-17 Februari, FHQ MBM hadir lagi. Kita lanjutkan kembali beberapa taujih bertahap (berseri) terkait dengan strategi (bukan materi) dalam mengelola halaqah tahsin. Strategi lebih kepada cara jitu tersampaikannya materi dan terpraktekannya bacaan Quran dengan sempurna. Berikut 5 seri ketiga taujih strategi mengelola halaqah tahsin:

***


11) Murajaah Materi



Salah satu fungsi penugasan SAP adalah memberanjang inovasi baru dr calon pengajar Quran. Salah satu yang terberanjang adalah muncul nya strategi murajaah materi (MM). Salut buat yang memunculkan ide iniπŸ‘



Murajaah berarti review. Materi sendiri teralokasi maksimal 30 menit tiap kali halaqah. Maka review materi bisa menjadi jembatan memori materi pekan sebelumnya agar terpatri di dalam memori para santri. Nah, yang terpenting dr MM ini adalah review jangan banyak2. Yaa, maksimal 5 menit lah, bisa pake quiz online,  pake mind mapping, pake tebak2an beriqobkan push up (hehe bcanda). Atau talaqqi jamai.

Yup, talaqqi jamai mitsali materi bisa juga lho jadi saran MM. Sekalian menagih pembetulan akan kesalahan2 umum yang muncul pekan sebelumnya (ingat kita ini preman taubat yang suka nagih setoran santri tahsin).

Tapi kalau santri suka nelat di awal halaqah, mending diawali tilawah jamai plus talaqqi jamai dlu baru kemudian MM ini. Menjadi penghubung dengan materi asli pertemuan terkini.
Eit selain santri, pengajar juga kudu rajin2 melakukan MM, terlebih sebelum halaqah tahsin dimulai. Sebelum perhelatan dimulai, amunisi kudu siap dlu.

Barakallahu fiikum jami'an para pecinta Qur'an sekalian


***

12) Mengatasi Menyerah di Talaqqi Fardhi

"Kok susah sih - kok gitu aja dikoreksi sih - kok berat banget ya, dikit-dikit salah?" Mungkin bila kita pengajar yang sensitivitasnya tinggi sehingga banyak salah yang terkoreksi, kita akan mendengar suara-suara hati seperti itu. Suara hati itu bisa jadi muncul dalam gestur seperti: mengernyitkan dahi, menghela nafas, atau menunduk malu: yang dilakukan oleh peserta tahsin. Cobalah lamat-lamat kita amati satu per satu santri kita di sesi talaqqi fardhi.

Nah, kombinasi ta'liful qulub dan sentuhan motivasi bisa membuat mereka kembali nyaman. Karena fokus kita selaku pengajar adalah pada kenyamanan peserta tahsin. 

Begini contohnya: "Gapapa, insyaAllah sambil terus berdoa, pasti bisa - Ah gapapa, sambil dibawa rajin baca Quran tiap hari InsyaAllah lama-lama bisa kok - Kalo kita salah baca, tapi kita masih berproses belajar insyaAllah gak ada dosa - Yang dosa kalau kita berhenti belajar lalu sengaja baca Qurannya disalah-salahin - Ya Allah, terbata-bata itu dua pahala lho, betapa sayangnya Allah sama kita - Gak slalu langsung bisa kok, yang penting banyak baca Quran aja, sebagai latihan pengucapan huruf - dan lain-lain."

Ingat, kita sedang berhadapan dengan peserta awam yang bisa jadi tidak pernah hidup dalam tekanan tinggi pesantren yang level komitmen dan targetnya tinggi. Jadi, bagaimanapun kitalah yang akan menyesuaikan kenyamanan mereka, bukan mereka yang menyesuaikan ketatnya aturan kita. Rule dijalankan sesuai batasan kurikulum dan kehadiran. Sudah... Selebihnya, kita kelola yang kita bisa.

Sapaan-sapaan secara intensif di grup WA/line pengajar dan santri -bisa jadi akan meringankan beban mereka bila harus setiap pekan disalah-salahin di talaqqi fardhi. Mari kita fokus dalam membuat mereka senang hadir di halaqah, membuat mereka cinta kepada pengajar Qurannya. Membuat mereka rindu pertemuan bersama Quran dan belajar tahsin Quran.

Semoga Allah memudahkan kita...

***

13) Menulis Arab

Pernah suatu ketika aktivis dakwah bercerita tentang halaqah mentoring-nya. Tiba-tiba mentornya menugasi menulis alfatihah tanpa nyontek: jeng jeng. Yang bisa cuma si doi. Menti lainnya kebingungan. Eh mereka aktivis dakwah lho. MasyaAllah ini PR Besar, kata beliau.

Kapan terakhir kali antum menulis Arab? Nah... Silakan dijawab sendiri. Ada satu pengajar FHQ yang mengusulkan ada sesi ini di SAP-nya. Akhirnya kami review pada kesempatan kali ini. Eits, bicara tentang menulis Arab. Ternyata trik ini sangat jitu lho, bila halaqahnya adalah halaqah tahsin anak TK. Sambil antri membacakan kitab iqro ke pengajar, santri lain ditugasin menyalin surat al humazah, misalnya. Tujuannya agar anak-anak tenang tak banyak polah. Duh, anak-anak... (haha, pengalaman saya doeloe waktu ngajar tahsin anak)

Merivew usulan ini, tentu yang pertama dan utama kita targetkan adalah kemampuan peserta tahsin dalam membaca Quran. Jadi, mampu menulis Arab hanya target sampingan saja. Bukan bermaksud mengerdilkan target ya, akan tetapi lebih sekedar memfokuskan target. Agar tujuan kita tercapai secara optimal.

Namun, agenda menulis Arab ini bisa loh dilakukan tatkala menunggu santri antri talaqqi. Beberapa agenda pengalih tatkala talaqqi di antaranya: menulis Arab, tilawah fardhi mengejar ketertinggalan target tilawah harian, latihan talaqqi dengan santri lain, mengerjaan quiz online tahsin, atau banyak-banyak berdzikir. Yang penting untuk menulis Arab ini: apa yang mereka tulis kita review dengan saksama, agar mereka memiliki feed back dari kita atas tulisan mereka. Jangan sampai tugas hanya sekedar tugas tanpa implikasi positif :)

Yap, memang membaca itu perlu menulis juga, agar kita terbiasa dengan warisan Islam yang satu ini. Karena pun yang dipilih para khulafaurrasyidin untuk menulis Quran di zamannya adalah orang-orang berpengetahuan luas dan berhafalan maksimal. Dibentuk tim khusus dengan kualifikasi khusus.

Agar jangan sampai juga, kita tidak bisa membaca apa yang kita tulis. Kalau ini kejadian di huruf latin, apalagi huruf Arab. Duh...

***

14) Talaqqi Mitsali dan Sekilas Modul Utsmani

Mungkin dari kemarin kita bertanya-tanya. Apa sih mitsali itu? Diobrolin mulu tapi ga clear penjelasan nya. Nah, coba deh liat slide strategi halaqah tahsin. Mitsali itu melekat ke materi.

Ada materi ttg idgham misalnya. Semua teori telah tersampaikan. Maka, saatnyalah mentalaqqikan mitsal-mitsal (contoh-contoh) bacaannya kepada peserta. Contohnya ada semua di buku 3. Karena di buku 3 utsmani hampir setiap ada materi selalu diikuti mitsal bacaannya. Atau bila kurang greget, pake buku 2 biar peserta ga mubadzir beli buku. Di sana lebih banyak lagi mitsali nya.

Bagaimana teknis talaqqi mitsali? Hampir sama lah ya, dengan talaqqi surah. Satu demi satu, dicontohkan sekali baca dulu oleh pengajar, baru kemudian dibaca bersama-sama oleh peserta tahsin. Utk tiap-tiap contoh bacaan, secara berulang-ulang.

Ohiya btw, kalau yang dipakai cuman buku 3 baik materi maupun mitsali, buat apa donk beli buku 1 dan 2?

Nah sekilas penjelasan. Bahwa buku 1 akan banyak dipake untuk praktek baca huruf pratahsin. Selain itu, sebaiknya pengajar menggunakan nya pula untuk talaqqi surah karena di bagian belakang nya ada 1/4 terakhir konten juz 30 yang dhabt nya (tanda bacanya) sesuai Mushaf Madinah. Kita sedang belajar modul utsmani, sob. Jadi rasm dan dhabt nya sebaiknya dr sumber Ustmani nya dunk, alias dari Madinah.

Lalu bagaimana bila pake Mushaf Indonesia berstempel Kemenag? Boleh2 saja dunk, namun beberapa materi perlu dilakukan penyesuaian. Jadi, sebaiknya kalau baca surat juz 30 pake nya jilid 1 utsmani.

Ohiya, lalu apa pula fungsi buku 2? Eits, banyak latihan2 contoh bacaan terhampar luas sesuai materinya di buku 2 ini. Jadi, kalau antum kecepetan ngajar, kecepetan talaqqi surat, kok masih ada waktu ya? Mending baca mitsali buku 2 sesuai materinya. InsyaAllah ga habis habis. Dan memperbanyak praktek memang seharusnyalah menjadi kebiasaan halaqah tahsin ke depan.

Eits, tak lupa kembali ke 2 pasal teratas. Satu: Tilawah fardhi wajib oleh peserta setiap harinya (1/2 atau 1 juz per hari). Dua: Buku Mutabaah menjadi control perubahan signifikan cara baca santri agar lebih baik.

Dokumentasi kesalahan baca itu perlu agar mendukung penuh ungkapan: Practice makes perfect...  😊

***

15) Mendengar > Menceramahi

Salah seorang tokoh mengatakan Mengapa kok kita diciptakan dengan 2 telinga dan 1 mulut, tidak lain karena kita diharapkan untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara/menceramahi.

Salah satu efek "talaqqi fardhi yang lebih besar porsi waktunya daripada materi" adalah agar kita jadi lebih banyak mendengar daripada menceramahi. Buktinya seluruh talaqqi baik surah, mitsali, fardhi, semuanya butuh aktivasi telinga lebih jitu. Hanya materi saja yang butuh maksimalisasi mulut kita.

Karena butuh telinga lebih aktif, maka semua koreksi kita adalah berdasarkan telinga, bukan keinginan untuk mengutarakan semata. Bahkan bila ada santri yang bercerita di dalam sesi talaqqi fardhi nya, nyamankan ia untuk bercerita. Lalu, berikan feed back yang pas sebagai wujud kepedulian sekaligus respek kita kepadanya. Jangan hanya mendengar lalu, yasudah, lanjut ke santri berikutnya. Terasa menggantung dan akan keluar perasaan dari si santri, "jadi, saya didengerin gak sih?"

Mendengar kadang butuh pembiasaan. Misalnya ngobrol dengan orang asing yang satu kursi dengan kita di perjalanan. Lebih banyak kah kita bercerita atau kita lah yang banyak mendengar? Coba pilih yang kedua, biasanya ia akan merasa nyaman, apalagi ada feed back-feed back instan seperti, "oh begitu", atau "mungkin begini pak", atau "wah keren ya".

Jika antum menjadi si pencerita pasti merasa pengen cerita terus. Nah, sekarang posisinya dibalik. Kitalah yang sedang butuh banyak mendengar. Maka, bukan masalah dominasi obrolan semata, karena sewajarnyalah dominasi instruksi tetap di kita selaku pengajar, hanya saja kita beri kesempatan untuk mereka mengungkapkan, tentunya dengan proporsional.

Ada kalanya peserta halaqah (lagi-lagi pengalaman mentoring) banyak ngobrolnya, bahkan sering menyela penyampaian materi kita. Nah, disinilah kita harus menunjukkan dominasi tanpa merusak hubungan, caranya dengan melakukan cut pembicaraan di waktu yang tepat. Ambil alih, tapi...  Nyantai.

Selain itu, kita juga perlu latihan menyederhanakan pembahasan. Karena 30 menit materi bagi yang terbiasa ngomong di depan umum, akan sulit direm. Materi banyak yang kita sederhanakan sehingga lebih mampu dipahami lebih keren dan lebih dibutuhkan santri daripada materi sedikit yang kita bumbui macam-macam yang justru membingungkan santri atau malah mereka gagal memperoleh intisari atas materi. Hm...

Mari kita latihan banyak mendengar, lalu menyampaikan sedikit tapi menyeluruh, agar banyak solusi dari kita, agar si pencurhat memperoleh kemudahan dari kita, karena kita mencerahkan bukan menyusahkan, karena kita tahu, kemudahan orang lain karena inisiatif kita akan membuahkan kemudahan bagi kita di hari akhir nanti. MasyaAllah

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan


Rumah Quran STAN

================
πŸ‘₯ Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
πŸ“· IG : stanruqun_
πŸ’Œ gg.gg/infoDonasiRQSTAN

Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |