Home » » Mereka Semakin Dekat - Kami pun Berusaha Mendekat

Mereka Semakin Dekat - Kami pun Berusaha Mendekat

Penulis : Rumah Quran STAN on Kamis, 14 Februari 2019 | 23.07.00


Mereka adalah gempuran pasar dari pemilik modal besar. Mereka sering disebut pasar swalayan, pasar modern, pasar yang mengumpulkan beraneka produk yang menggunakan skema franchise atau sejenisnya, hingga yang palig modern bisa ditransaksikan secara online. 

Kami disini adalah penggiat pesantren tahfidz Quran yang kian hari kian menjamur di tengah-tengah keawaman masyarakat. Kami kian dekat dan tak jarang menggunakan cara-cara yang tak jauh beda dengan mereka itu. Kalau tidak percaya, saksikanlah analogi-analogi ini...

1. Alfa Gudang Rabat vs Pesantren Tradisional
Fenomena Alfa di era 90 hingga 2000-an sempat merajai blantika pasar modern. Dengan gedungnya yang megah, modal yang besar, hingga rak-rak raksasa yang seolah disebar di tanah seluas lapangan sepakbola, mereka hadir di kota-kota besar. Menjajakan beraneka produk rumah tangga sehari-hari. 

Lalu, kami? Kami hadir berupa pesantren yang juga megah. Seluas lapangan bola atau lebih, dengan gedung satu dua atau tiga lantai, menerima registrasi yang cukup rumit, karena calon santrinya banyak. Belajar pun dengan kurikulum yang rigid dan komprehensif , mendidik secara fokus dan mencetak kader-kader Qurani. Barakallahu fiikum.

Kedua analogi ini mirip. Bedanya kami di lokus pesantren tradisional tidak padam, sementara Alfa Gudang Rabat sudah padam tergantikan oleh skema bisnis lain.

2. Pasar Swalayan vs TPA/FHQ di Masjid
Fenomena Alfa berlanjut digantikan oleh pasar modern yang secara kapasitas relatif lebih kecil, contohnya: Ramayana, Matahari, Giant, Carrefour, dan sejenisnya. Mereka lebih dikenal dengan pasar swalayan, tak lagi sebesar si gudang rabat. Walau menghilang, namun produk-produk yang dulu ditransaksikan si Alfa masih terkonsentrasi ke lokus tersebut. Bahkan, produk-produknya belum juga tenggelam. 

Bila pesantren tahfidz yang besar biasanya terhampar di area luas dan jauh dari perkotaan, kali ini dakwah Quran lebih mendekat lagi. Ia hadir di masjid-masjid. Di masjid yang besar hadir TPA yang besar, sedangkan di masjid yang kecil pengajarnya hanya satu dengan peserta TPA yang lebih sedikit, bahkan pengajar tak digaji, hanya merasa perlu mengajar lantaran sendiko dawuh dengan guru yang mengajar sebelumnya. Istilahnya: masa pengabdian yang tidak mengikat.

Di saat pasar swalayan modern mulai ketar-ketir lantaran pangsa pasar sudah mulai diambil oleh skema bisnis lain, model analogi kedua untuk TPA di masjid bahkan kian kreatif. Tak lagi TPA yang lebih familiar dengan sasaran dakwah anak-anak. Kali ini bertajuk FHQ (forum halaqah Quran) dengan sasaran lebih beragam: anak-anak ada, remaja hingga dewasa ada, dengan kurikulum makin fokus kepada area tajwid, tahsin, dan tahfidz. FHQ seolah peremajaan kurikulum dari TPA. Ia merangkul semua kalangan,. Di beberapa area, FHQ bisa jadi tampil dengan nama lain: HCQ/Haciqu (Halaqah Cinta Quran), BTQ (Blended Tahsin Quran), atau nama lainnya.

3. Lapak Jualan Kaki Lima vs Privat Mengaji
Sebetulnya tatkala pasar swalayan yang mulai terpuruk, lapak jualan kaki lima sudah lama beroperasi di area-area yang dekat dengan keramaian. Skema bisnis ini mencoba merapat ke customer. Tak hanya fix di satu area, tapi berpindah-pindah sesuai kesepakatan kelompok tertentu. Orang sering menyebut kelompok ini dengan "komunitas pasar kaget". Senin malam membuka lapak di kelurahan sana, Selasa malem disini, Rabu malam lebih kesana lagi, dan seterusnya. 

Semenjak ada FHQ, belajar Quran menjadi lebih mudah. Namun, ternyata masih ada bapak-bapak/ibu-ibu yang malu-malu untuk hadir ke rumah Allah. Akhirnya, mereka mengkontak salah satu pengajar FHQ, adakah salah satu guru yang bisa mengajar? Setelah diedarkan akhirnya ada yang bersedia. Inilah skema bisnis yang sama: mendatangi customer. Tidak terpaku pada satu area khusus, entah gudang raksasa, entah pasar swalayan, entah pesantren, entah masjid. Tapi ke rumah...

4. Alfa Mart vs Rumah Quran
Skema kali ini sangat masif dilakukan AlfaMart, Indomaret, juga mart-mart lainnya. Kehadirannya seolah hendak menyaingi toko kelontong kecil. Setelah pasar swalayan pun mulai redup, kehadiran mereka ini bak lumut di sekitar area basah. Bahkan tak jarang saling bersebelahan dengan pesaing demi mematikutukan pergerakan bisnis mereka. 

Setelah skema pesantren dievaluasi membutuhkan modal yang cukup besar, rumah tahfidz atau rumah Quran menjadi pilihan bagi komunitas penggiat dakwah Quran dengan sumber dana kecil. Bermodalkan 25 juta, diseleksinya 12 santri, 1 musyrif yang tinggal atau pulang pergi, serta pengadaan perkakas rumah tangga, jadilah sebuah pesantren mini rumah tahfidz. Kehadirannya menjadi oase bagi penggiat dakwah yang tidak punya modal besar, tapi semangat dakwahnya tinggi, hehe.

5. GO-Mart vs Spot-Q
Yang kelima ini, sangat baru, sangat menjanjikan, sangat memberikan feed-back positif yang besar, akan tetapi sejalan juga dengan risikonya.

Saksikanlah! Mereka kian lebih dekat lagi. Tampil dalam wujud smartphone, dengan sekali dua kali klik di smartphone, tiba-tiba barang-barang sudah datang diantar gojek, grabbike, atau sejenisnya. Persis barang-barang yang dulu kalau kita belanja harus datang ke swalayan yang luasnya seluas lapangan sepakbola itu, kini tinggal klik-klik datang, masyaAllah. Adakah yang sepraktis begini untuk urusan Quran?

Jawabnya ada. Inilah konsep Spot-Q. 
Rumah Quran STAN sudah memulainya di tahun 2018-2019 ini. Tinggal beranikah kami membuka secara luas konsep ini agar diterima rumah sekomplek. Jeng jeng... Nah. Begini kisah awal mulanya:

RQ STAN sudah punya 1 rumah hak milik, 2 rumah pinjam gratis, dan 2 rumah sewa. Tiba-tiba hadir 2 warga komplek menawarkan rumahnya untuk ditinggali santri RQ: gratis katanya. Hm... Kalau kami mau, kami bisa bikin konsep begini agar diperluas lagi. Kami buka dengan tagline: "Agar rumah slalu terdengar bacaan Quran", maka santri diminta tinggal disana, diminta membayar (atau tidak) kepada pemilik, sedangkan pemilik menyetorkan (atau tidak) kepada RQ STAN dengan hitam di atas putih yang jelas (berdasarkan hasil diskusi dan kesepakatan). 

Kelebihannya:
  • Pemilik mendapatkan keuntungan rumahnya tidak seperti rumah hantu.
  • Pemilik mendapatkan keberkahan atas asset rumahnya: menjadi hujjah di akhirat nanti (pahala sedekah dan jariyah).
  • Rumah tahfidz makin membumi, makin dekat (tidak eksklusif), membuka diri ke dunia luar.
  • Rumah tahfidz menjadi dakwah Quran yang fleksibel, menyebarluaskan virus positifnya (tahfidz-holic).
  • Santri termudahkan dari sisi biaya, apalagi kalau gratis dari pemilik. Kalaupun berbayar, akan lebih ringan daripada santri PP, bayar kos, bayar RQ juga, ini lebih ringan karena hanya sekali bayar saja.
  • Santri dapat menjadi agen dakwah rumah tahfidz kepada keluarga si pemilik rumah (misal: menjadi pengajar Quran untuk keluarga tersebut). 
Kekurangannya:
  • Prosedur seleksi santri harus kuat, jangan sampai santri mudah lepas yang kemudian tidak kerasan. Monitor harus jitu melewati sekat kebiasaan dan karakter mendalam si santri.
  • Sumber daya musyrif juga harus kuat (diperbanyak musyrif) agar banyak rumah yg dapat dijajaki. Jangan sampai sudah mencanangkan 20 rumah, ternyata santrinya 20 tapi musyrif yang disiapkan hanya 1, tentu sangat tidak impactful. 
  • Perlu hitam diatas putih dan mempertimbangkan profiling pemilik rumah, jangan sampai menjadi kendala di tengah program. Paling tidak minimal pemilik rumah adalah jamaah masjid aktif.

***

Hm... Dengan banyaknya skema di atas, ada satu pelajaran penting. Ternyata apapun skema bentuk bisnisnya, dari gudang raksasa, swalayan, hingga GO-MART, mereka saling menggantikan dan bersaing. Si gudang raksasa tumbang, diganti si Mart-mart di pinggir jalan. Swalayan mulai ada tanda-tanda mau tumbang lantaran belanja kebutuhan rumah tangga sudah beraih ke online.

Tapi lihatlah bila yang kami bicarakan adalah dakwah Quran. Tidak ada berita negatif tentang mereka. Tidak ada namanya pesantren besar ditutup karena hadir bertebaran rumah tahfidz. Tidak ada namanya FHQ kukut karena pengajarnya lebih memilih ngajar privat. Ternyata tidak ada.

Itu tandanya dakwah Quran lebih besar pangsa pasarnya daripada bisnis gudang, lapak, pasar swalayan, hingga mart-mart yang beraneka ragam itu. Padahal keduanya sama-sama terkait kebutuhan primer. Satu primer keseharian duniawi, satunya lagi primer kedekatan dengan Quran secara ukhrawi. 

Maa syaa Allah, sulit dilogika. Betapa realitas ini membuat kita tercenung. Lalu, kita mau bergerak ke pangsa bisnis atau pangsa dakwah Quran? Bila di satu sisi ada risiko ruginya, dan disisi satunya selalu untung ?


Rumah Quran STAN

================
👥 Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
📷 IG : stanruqun_
💌 gg.gg/infoDonasiRQSTAN
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |