Home » » Taujih Berseri untuk Strategi Muwajjih FHQ (6-10)

Taujih Berseri untuk Strategi Muwajjih FHQ (6-10)

Penulis : Ruqun Stan on Sabtu, 01 Desember 2018 | 13.57.00



Dalam rangka memeriahkan masa awal mulainya FHQ MBM di akhir November ini, beberapa taujih ditransmisikan secara tulisan dan dilakukan bertahap (berseri) terkait dengan strategi (bukan materi) dalam mengelola halaqah tahsin. Strategi lebih kepada cara jitu tersampaikannya materi dan terpraktekannya bacaan Quran dengan sempurna. Berikut 5 seri kedua  -taujih strategi mengelola halaqah tahsin:

***


6) Bekal Talaqqi Fardhi


Anak akun cocok menjalankan aksi Talaqqi Fardhi (TF). Mereka sdh diajarkan konservatif sejak awal. Beban langsung diakui begitu muncul, pendapatan ntar2 dlu nunggu kepastian baru diakuin. Ini namanya konservatif, berhati-hati. Belum kalau pelajaran auditing, ada mindset skeptisme profesional. Sebentuk suudzon tapi bukan suudzon. Nah, bingung kan.

Berbekal dari situ, pengajar Quran dr kalangan anak akun atau jurusan lain yang pernah belajar akun, InsyaAllah cocok menerima talaqqi fardhi dari para peserta tahsin. 😄

Biasanya hal ini terbaca dari kebiasaan mengucapkan instruksi, "ulangi!" Kata ini begitu fenomenal. Sebetulnya dr sisi pengajar, makna ulangi adalah: "coba diulangi deh saya tadi kurang mendengar saksama", tapi kadang oleh peserta kata ini dimaknai, "nah kamu salah, salah, pokoknya salah." Sehingga kadang peserta talaqqi mengalami "salah baca tidak material" lantaran mendengar kata ulangi ini alias grogi dan unpede. 

Nah, solusinya yaa tidak ada solusi. Mau bagaimana lagi. Mungkin sekedar diluruskan saja, bahwa ulangi bukan berarti salah. Ulangi hanya sebentuk upaya pengajar ingin mendengar lebih dalam.

Ulangi ini bisa diminimalisir bila pengajar sering latihan utk talaqqi fardhi. Bagaimana caranya? Anak RQ bisa lah di sela-sela santai di rumah, saling mengajak talaqqi. "Bro atau sis, yuk kita latihan talaqqi" Atau utk yang belum punya komunitas, bisa juga membacakan ayat di hadapan video HP, lalu melihatnya kembali guna membetulkan bacaan kita. Latihan2 begini sangat diperlukan untuk mengupgrade kemampuan skeptisme professional di bidang tahsin. Juga dalam rangka meningkatkan sensitivitas membetulkan bacaan quran. Hanya saja, kita harus tahu sikon. Jangan kemudian di dalam menjadi makmum, kita batin juga kesalahan imam yang membacakan Quran di depan. Keep khusyuk dan semoga Allah memudahkan kita utk membiasakan diri mentalaqqi fardhi.

***

7) Jangan Remehkan Doa


Pernah dalam sebuah evaluasi kegiatan mentoring, sang pengisi taujih bertanya, "siapa yang sudah mendoakan mutarabbi nya hari ini?" Ternyata yang acung tangan sedikit sekali.

Ya, memang begitu adab nya. Dai sangat perlu utk berdoa agar kata2nya membekas di hati mad'u. Agar dirinya istiqomah memegang amanah. Agar mad'u terpaut hatinya utk lapang menerima dakwah Islam, agar Allah meridhai aktivitas kita semua, karena kitalah yang butuh dakwah Qur'an ini, bukan dakwah yang butuh kita. 

"Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana (QS Al Anfal 63)"

Kita tadabburi ayat ini bahwa sekeren apapun silat lidah kita mengajak mereka utk baca Quran dengan tajwid yang benar, hal tersebut takkan mampu membuat hati mereka terpaut pada Quran, kecuali atas izin Allah. 

So, bagi qt yang tetiba dipaksa tuk terbebani amanah mengajar Quran, kuy ikhlaskan diri kita tuk berdoa. Selipkan doa-doa untuk santri tahsin kita di waktu2 mustajab. Selipkan di waktu tahajud, waktu dhuha, antara adzan dan iqomat, dll. Semoga doa terbaik kita tatkala santri kita tidak tahu, diamini malaikat, "Semoga kamu juga mendapat apa yang kamu doakan utk kebaikan mereka."

Ada doa yang tak perlu digemborkan (apalagi diselfiekan), ada pula doa yang diaminkan bersama sebagai wujud kasih sayang dan menunjukkan misi kita dalam halaqah tahsin ini. Maka, setiap sebelum mulai atau sebelum halaqah tahsin kita bubaran, mari sama2 berdoa. Semoga Allah istiqomahkan kita, dalam berinteraksi dgn Quran. 


Hm...  Bolehlah kita visioner sedikit dalam doa. Semoga kita jg istiqomah dlm menjadi kader2 dakwah Qur'an dan dakwah Islam scr umum di lokasi penempatan kita kelak, lebih jauh sepanjang usia biologis kita 😁

***

8) Mengelola Diskusi

Dari slide yang tidak tercakup, yang kemudian disusulkan melalui penugasan SAP sebelumnya, salah satunya adalah sesi diskusi atau tanya jawab. Hm... Biasanya sesi ini melekat pada materi manakala pengajar memantik halaqah dengan ungkapan, "sampai disini ada pertanyaan?" 

Ia merupakan sesi yang fleksibel karena kemunculannya tergantung sense of kepo atau seberapa kritisnya peserta halaqah. Beberapa narasumber kadang menghindari sesi ini, terutama yang tidak menguasai sangat tentang materi yang disampaikan. 

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (AnNahl 43)"

Tadabur ayat ini, walau redaksinya utk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, namun bisa kita petik ibrah bahwa kalau di sesi diskusi kita kemudian krik krik krik alias merasa kurang berkapasitas dalam menjawab, maka berikan ia jawaban terbaik dr yang pernah ada: Wallahu A'lam. Tentu sambil kita legakan hati si penanya bahwa kita akan coba carikan jawabannya di lain kesempatan. 

Memberi spare waktu, lalu kita diskusikan pertanyaan peserta tersebut di grup pengajar FHQ MBM atau japri ke musyrif/ah yang sudah kapasitasnya mumpuni, sehingga hadir jawaban yang melegakan, yang kemudian kita share di grup santri kita, maupun di pertemuan tahsin berikutnya, InsyaAllah hal tersebut lebih fair dan beradab daripada kita buru2 menjawab sekenanya yang berimbas pada kekhilafan kita dan ketersesatan peserta. 

Atau dapat juga kita sampaikan, "sependek pengetahuan saya dst...", Lalu diberikan spare waktu untuk kita cari tahu selengkapnya, itu juga tak masalah. Yang penting kita ingat bahwa kita punya PR untuk menjawab pertanyaan super santri kita di lain waktu.

Remember...  Bahwa jawaban "tidak tahu" bukanlah khilaf, hanya saja bedanya satu diamanahi pengajar, satunya lebih fokus untuk menjadi peserta yang belajar. Toh kita sama-sama pembelajar. Adab diskusi begini ini, bukan hanya di halaqah tahsin saja, namun juga di halaqah mentoring, forum seminar, dan forum belajar lainnya. 

Semoga kita bisa mengelola sesi diskusi ini dengan baik sebagaimana Allah ridhai.

***

9) Tilawah Fardhi dan Bukti Cinta Quran

Mirip dengan istilah talaqqi fardhi, namun jauh bedanya. Tilawah fardhi (TiF) inilah yang seharusnya menjadi keseharian kita, juga keseharian santri. 

Tilawah fardhi itu tilawah pribadi, yang dilakukan pengajar dan juga santri di rumah masing2, di waktu masing2, di luar halaqah tahsin. Ideal nya pengajar wajib TiF 1 juz per hari. Karena kita akan mewajibkan santri tahsin 2 juga sama: 1 juz per hari. Tahsin 1 wajib nya 1/2 juz per hari (sumber: FHQ AnNashr). 

Analoginya begini. Kita sedang melatih calon pemain bola professional. Sebagai pelatih, kita tidak hanya memberikan porsi latihan di lapangan saja. Tapi juga di luar lapangan. Kita wajibkan siswa sekolah bola kita untuk mengolah bola satu jam di luar lapangan setiap harinya. Entah mau sambil jalan ke sekolah giring bola, atau main dengan anak2 komplek atau latihan nendang ke tembok, dsb. Pokok nya kalau ditotal harus satu jam. 

Apa maksud hati kita sebagai pelatih bola mewajibkan demikian? Agar timbul rasa cinta terhadap bola. Konon main bola karena cinta, tanpa tekanan, dengan riang gembira, akan menciptakan chemistry dengan bola, dan lebih mampu membawa kebahagiaan selama pertandingan, lebih kuat daripada sekedar menang kalah. Nah... 

Kita juga berharap demikian. Kita ingin diri kita sebagai pengajar: cinta terhadap Quran. Maka, kebiasaan membaca 1 juz per hari bisa kita jadikan sarana mencintai Quran, mencintai Allah RasulNya, dan dakwah Islam. 

Nah, kalau pengajar sudah rutin dan optimal one day one juz, barulah kemudian kita on-the-track untuk mengingatkan santri kita untuk 1/2 juz atau 1 juz per harinya. 

Keep istiqomah duhai pengajar Quran. Keep remembering your santri to talk Allah with Tilawah Fardhi, every week and every day in your WA/line group. 

Out of Topic: Bagi pengajar dari kalangan santri RQ STAN, mohon tidak mengurangi takaran cinta nya terhadap Qur'an karena sdh dikomitmenkan di awal untuk 2-3 juz perhari 😊

***

10) Tilawah Fardhi dan Idealnya Santri FHQ

Practice makes Perfect, saya kutip ungkapan terkenal ini dari status salah satu pengajar di grup ini, hehe. Menjelaskan makna bahwa sering-sering latihan bisa menyempurnakan tiap bacaan Qur'an kita. Bukan hanya pengajar melalui latihan talaqqi bergantian dengan pengajar lain, melainkan juga: tak kalah penting utk santri FHQ yang menjaga tilawah fardhi nya setiap hari. 

Sejatinya gambaran santri ideal FHQ itu seperti ini: Hadir di halaqah tahsin pekanan, menyetorkan bacaan untuk dikoreksi, menerima catatan koreksi di buku mutabaah, lalu hari-harinya diisi tilawah fardhi di waktu yang ia sepakati sendiri. Ada yang memilih sekali duduk, di jeda antara magrib-isya utk tilawah fardhi. Ada yang sekali duduk bakda subuh sampai mandi dan berangkat kuliah. Selain sekali duduk, ada juga strategi membagi waktu. Ada yang dibagi per waktu sholat. Misal habis sholat fardhu 4 halaman, maka sehari selimawaktu akan mentotalkan 20 halaman alias 1 juz Qur'an. Atau ada tipe campuran. Sebakda subuh setengah juz, sehabis sholat fardhu lainnya 2-3 halaman. Ini juga bisa. Tinggal yang nyaman dan cocok waktunya yang mana (permisalan ini utk tahsin 2 dgn wajibat 1 juz perhari, wajibat tahsin 1 dll tinggal disesuaikan saja). 

Kalau sudah begitu, apakah sudah ideal? Eits belum juga. Hadir tiap pekan tahsin + tilawah 1 juz per hari fhq pekanan saja, belum dianggap sbg seideal-idealnya santri,  apalagi ada santri FHQ yang rajin hadir saja tanpa tilawah fardhi. Atau malah tilawah rajin tapi tidak hadir FHQ. Bacaan menjadi abai terkoreksi. 

Lalu bagaimana yang ideal? Nah, seideal-idealnya santri Fhq itu yang mengoneksikan, membentuk node/jembatan/sinaps antara koreksi di buku mutabaah nya dengan tilawah fardhi harian nya. 

Secara teknis begini: setiap ia pulang dari FHQ, ia berkomitmen bahwa koreksi yang muncul di buku mutabaah nya hari ini tak boleh muncul lagi di pertemuan pekan depannya. Maka, saat ia jalani 7 hari tilawah fardhinya, ia lakukan sambil meliput buku mutabaah nya, ia latih-latih hasil koreksi pengajar nya. Sampai apa? Sampai lisan nya terbiasa, hingga pekan depan ketika bertemu kembali dengan pengajar nya, koreksi itu tidak muncul lagi. Namun, jika pekan itu ia terkoreksi dari sisi kesalahan lainnya, maka ia berkomitmen lagi agar di pekan depannya kesalahan itu tak muncul lagi, begitu seterusnya hingga materi tahsin usai, dan ia menjadi seideal-idealnya pembelajar tahsin Quran. MasyaAllah. 

***

Bersambung
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |