Home » » Taujih Berseri untuk Strategi Muwajjih FHQ (1-5)

Taujih Berseri untuk Strategi Muwajjih FHQ (1-5)

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 23 November 2018 | 08.34.00

Talaqqi adalah strategi klasik terpopuler dalam belajar mengajar Quran
Dalam rangka memeriahkan masa awal mulainya FHQ MBM di akhir November ini, beberapa taujih ditransmisikan secara tulisan dan dilakukan bertahap (berseri) terkait dengan strategi (bukan materi) dalam mengelola halaqah tahsin. Strategi lebih kepada cara jitu tersampaikannya materi dan terpraktekannya bacaan Quran dengan sempurna.

Adapun materi sudah dibahas tuntas dari mulai warisannya Syaikh Muhammad al-Jazari sampai dengan buku modul yang dipakai FHQ, yakni Utsmani.

Berikut 5 seri pertama taujih strategi mengelola halaqah tahsin:

***

1) Talaqqi Fardhi Surah dan Mitsali

Beberapa calon pengajar menyampaikan SAP dgn waktu Talaqqi Fardhi (TF) yang berbeda-beda. Namun dr pengalaman, biasanya TF terdurasikan 45 menit. Tentu hal ini bukan patokan standar. Hal ini dikarenakan belum ditentukan jumlah santri per halaqah. Apalagi riil saat pertemuan berbeda-beda berapa yang hadir.

Untuk mensiasati hal ini, sekaligus melihat kenyataan bahwa santri akhwat membludak pake banget. Maka, perlu adanya kesepakatan. Kurikulum materi sudah ditentukan, tinggal kurikulum TF yang perlu disesuaikan.

Bisa jadi TF yang 45 menit itu, diisi dengan TF surat yang hanya comot satu surat juz 30 sekaligus mitsali materi. Contohnya pertemuan pertama: al fatihah (TF surah) + praktek taawudz basmalah (TF mistali). Pertemuan kedua: AnNas + praktek tadribat sebagian hurf (TF mitsali). Dan seterusnya. Sekali lagi strategi ini dibuat bila sehalaqah jumlah santrinya pake banget. Makin dikit peserta halaqah tahsin, makin ditambah kuantitas TF surat dan mitsali nya. Pengajar yang menakar waktu segini cukup nya utk berapa macam bacaan TF hingga akhir jam halaqah.

Hal ini kembali kepada kesepakatan panitia FHQ karena strategi itu manhaj. Manhaj itu kreativitas, bukan persoal bid'ah. Kita niatkan ini ibadah krn Allah. Semoga Allah memudahkan (pake banget). Wallahu a'lam.

Daftar istilah:
1. Talaqqi fardhi: santri membacakan di hadapan pengajar. Pengajar mengoreksi dan menuliskan hasil koreksi di buku mutabaah santri sbg sarana mereka memperbaiki dlm sepekan ke depan. Pekan depannya, pengajar mengecek apakah kesalahan berulang? Atau muncul kesalahan baru? Tulis lagi dst setiap pekan.
2. TF surat: Yang dibacakan santri ke pengajar adalah surat yg disepakati setiap pekannya.
3. TF mistali: Yang dibacakan santri ke pengajar adalah contoh bacaan dr materi tiap pekannya.

***

2) Talaqqi Fardhi dan Kasih Sayang Kita

Bila di halaqah mentoring ada qadhaya wa rawa'i (curhat kabar baik dan buruk) maka di halaqah tahsin ada talaqqi fardhi (TF). Keduanya mirip. Karena sama-sama mempresentasikan masing2 santri. Kalau mentoring yaa curhat nya. Kalau tahsin yaa bacaan Quran dan mitsali nya.

Porsi TF ini bisa mengambil 30-40% dari satuan acara tahsin itu sendiri. Why? Karena ia yang mampu scr optimal membongkar kesalahan2  santri per orang, memberitahu cara membaca yang benar, dan mempraktekkan yang benar tsb agar dicek pengajar. Lalu, bagaimana pas mempraktekkan yang benar itu belum juga bisa benar? Ini kadang yang pengajar bingung kan. Belajar dr asatidz yang membimbing kami, biasanya siasat pamungkasnya bisa dicontohkan seperti ini, "baik akhi/ukhti, karena bacaan Ain nya belum pas juga, silakan latihan di rumah ya. Pekan depan saya tagih lagi ya."

Yaa, begitulah pengajar tahsin. Lagaknya kayak preman gitu. Suka nagih, suka minta setoran, kalau salah dibetulkan, kalau betul minta dijaga, dititeni (diawasi) kalau pekan depan masih aja salah, kalau belum benar juga diminta latihan di rumah. Dan itu semua interaksi khusus dalam satu sesi bernama talaqqi fardhi.

Ikhwah fillah, jadikan talaqqi fardhi ini wujud kasih sayang kita kepada santri. Kita membetulkan mereka karena kita sayang sama mereka. Kita tidak ingin setiap salah mereka mewujud dosa. Maka, kita ajarkan dengan kasih sayang, kita jaga hubungan dan interaksi, kita persalahkan mereka karena tiap huruf yang mereka baca berhak utk mewujud jadi 10 kebaikan yang berlapis-lapis.

Karena wujud kasih sayang, maka sebaiknya lah qt niatkan hal ini sehingga memotivasi kita utk hadir Sebisa mungkin dalam tiap halaqah. Kalau saya bisa kenapa harus digantikan. Kita dai sob, dai yang dijanjikan Allah tuk dapat hadiah yg lebih keren drpd unta merah, sekaliber mercedes di zaman Nabi.

***

3) Injury Time Talaqqi Fardhi

Pernah kah antum denger pembicara nyampe in 50 slide, tapi lima menit sebelum selesai, baru 25 slide yang dibahas? Jeng jeng, pasti antum sebagai panitia keringetan dingin. Ini pembicara hobi banget nerocos tapi merem liat jam bicara nya sendiri 😅

Jangan khawatir. Antum nanti bisa jadi akan begitu ketika bahas tahsin di hadapan santri. 😆 maklum, anak milenial kekinian kadang terlalu bersemangat menambah jam dakwah nya. Belum lagi diskusi tahsin yang merembet kemana mana.

Dan yang sering jadi korban atas keasyikan ngobrol tahsin ini adalah Talaqqi fardhi alias TF. Padahal TF ujung tombaknya tahsin. Gimana tuh.

Alhamdulillah kini sdh ada metode belajar Quran yang mengakomodasi kealpaan tsb. Nama metode nya adalah Tilawati, metode kekinian hasil penelitian sekumpulan asatidz setelah mix metode2 klasik seperti qiroati, iqro, dan baghdadiyah. Kita tdk mengambil full sih tapi ada satu yg bs kita adopsi dr metode ini yaitu talaqqi bergantian (TB).

TB ini muncul bila waktu menunjukkan 15 menit lagi mau habis, padahal kita belum TF sementara santri kita bejibun belasan jumlahnya.

Begini praktek nya, santri bergantian membacakan ayat. Misal ayat 1 santri A, langsung geser: ayat 2 santri B. Dst. Lalu, bila mitsali. Mitsali 1 santri A,  mitsali 2 santri B, Dst. Nah, kelebihan nya praktek bacaan menjadi interaktif, semua santri terlibat. Tdk seperti talaqqi fardhi yang sangat privat. Waktu juga bisa disesuaikan sampai jam berapa, bisa langsung dihentikan. Tidak seperti talaqqi fardhi yang harus adil untuk memberikan porsi santri demi santrinya.

Namun kelemahannya: tentu tidak privat. Kesalahan 1 santri menjadi pelajaran jg buat santri lain. Selain itu, pencatatan buku mutabaah menjadi sangat minimal krn saking dinamisnya pergerakan talaqqi.

Nah begitu lah kalau kelewatan waktu, slalu ada solusi. Tapi Eits, jangan sering-sering begini ya😒

***

4) Grup Khusus Pengajar dan Santri FHQ

Setiap mentor/murobbi biasanya wajib membuat grup dengan masing-masing menti/mutarobbinya. Hal ini utk memudahkan dalam diskusi dan kesepakatan lainnya. Nah, bagi muwajjih/pengajar Qur'an, hal ini tak jauh beda, bahkan bisa jadi lebih intens pembahasan dalam grup, imbas dari wajibat tilawah fardhi santri setengah/satu juz per hari nya. 

Fungsi grup yang dibentuk oleh pengajar ini, yang pertama adalah mengakrabkan. 11-12 dgn grup mentoring lah ya😊 Namun yang lebih akan mendekatkan adalah ketika santri rutin tilawah fardhi nanti, mereka bisa jadi akan bertemu dengan ayat-ayat yang sukar dibaca. Zaman now biasanya, santri akan memfoto mushaf, atau mendengarkan murottal lalu bertanya, "kok baca-nya begini ya?" Disitulah kemudian muwajjih/pengajar perlu bermanuver untuk menjawab dengan sebaik yang ia bisa. 

Dalam skala diskusi di dalam halaqah maupun via grup , pertanyaan bisa ditangguhkan sampai sang muwajjih memperoleh jawaban yang memuaskan. Bila perlu, setiap diskusi santri dengan muwajjih bisa diforward ke grup para muwajjih sebagai pembelajaran bersama. 

Apalagi fungsi grup muwajjih dan santri nya ini? 

Hm... Belum pernah saya coba tapi bisa dijadikan sarana, mengingat teknologi terus berputar memudahkan segala hajat manusia. Bisa jadi talaqqi dilewatkan voice note, atau video call. Tapi jangan sering-sering ya. Karena hal ini bisa diremehkan menjadi anggapan setara antara talaqqi online dengan tatap muka. Tentu yang terakhir disebut lebih berhak untuk diprioritaskan. 

Namun, bila ketidakhadiran terpaksa dilakukan, mungkin kita bisa sepakati prosedur yang lebih cocok dan sesuai tujuan nya. Misalnya yg jadwal halaqah nya sabtu bisa lah sesekali pindah ke ahad bila suatu saat berhalangan (monggo panitia, apakah boleh yang begini?). Ssstt... Tapi jangan disebarkan ya, hanya kesepakatan antar pengajar saja. Agar panitia tdk terbebani dan tidak menjadi kebiasaan santri. 

Barulah bila tdk bisa hadir sabtu dan Ahad sore, bolehlah kirim video call ke muwajjih. Koreksi bisa dicatatkan di whatsapp/line untuk dijadikan bekal pembetulan di tiap tilawah fardhi santri tersebut. Video call diutamakan karena lebih memperhatikan wujud lisan dan syafatain ketimbang via voice note. 

Kira2 ada lagikah fungsi grup online antara muwajjih dengan santrinya ini?

***

5) Sekilas Ta'liful Qulub

Pernahkah antum ngobrol dengan seseorang, padahal baru kenal. Namun, walau bermula dari rasa curiga, eh kok 2-3 menit lamat-lamat kita merasa nyaman dan terbawa perasaan, entah terbawa sedih, senang, atau respek: lantaran pembicaraan dengan orang tersebut. Nah, kita perlu belajar dari situ.

Beberapa praktisi motivasi menyebut bahwa untuk menarik minat hati, kita perlu mencari persamaan. Maka, awal-awal obrolan sembari kenalan sangat berpengaruh (keyword: first impression). Hingga dipertemukanlah persamaan antara antum dengan teman ngobrol itu, misalnya asal daerah sama: "Oh, orang Jawa juga ya?", atau cara belajar Quran yang sama, "Oh dulu belajar Iqro juga ya?", atau apapun lah yang sama, "Oh, makhluk Allah juga ya?" -mekso.

Ungkapan seperti ini bisa juga mengakrabkan, "Saya juga pernah begitu lho". Nanti yang baru kenal itu akan bilang, "Ohyaa... Truz gimana?" Dan seterusnya, hingga pembicaraan makin lancar dan tak terasa terus terbawa perasaan.

Mengikat hati bertajuk ta'liful qulub merupakan ranah pentahapan. Antum yang semula gak mau belajar Quran, kok mau belajar Quran, itu tahapan fantastis di awal-awal. Berlanjut hingga bersedia dibebani amanah sekaliber muwajjih/pengajar Quran, itu tahapan superfantastis. Maka, mari kita flashback bagaimana kok dulu kita bisa tertarik belajar Quran di awal-awal? Dengan itulah kita bisa sentuh hati peserta tahsin kita agar mereka juga mampu untuk slalu dan slalu tertarik untuk belajar Qur'an.

Bicara ta'liful qulub tak bisa lepas dari bahasan ukhuwah Islamiyyah. Maka, pol-polannya adalah bagaimana si peserta tahsin ini kelak akan berjuang mengorbankan jiwa dan harta untuk dakwah Quran karena merasa ikatan hatinya telah paten dan akan terus menggelora. Yup, karena level tertinggi ukhuwah adalah itsar: "berkorban" jauh melebihi kemampuan.

Namun, tolong jangan bervisi setinggi itu, karena toh kita masih meraba-raba di tahap awal. Saat ini, kita lebih fokus ke: bagaimana peserta tahsin bisa rajin hadir setiap pekan plus rajin tilawah. Itu saja sudah sangat josss. Maka, rawatlah baik-baik interaksi dengan peserta. Bingkaikan senyum terbaik setiap di dalam halaqah. Buat hati mereka senyaman mungkin mengikuti halaqah. Buat mereka selalu rindu akan kehadiran di halaqah. Sampaikan motivasi-motivasi duniawi dan ukhrawi betapa kedekatan dengan Quran akan memiliki nilai-nilai positif yang suaaangat banyak sekali.

Semoga Allah selalu me-lurus-istiqomah-kan hati kita, sehingga mampu mengajak hati-hati lain untuk lurus dan mencintai Allah. Karena tak ada kata lelah untuk mencintai-Nya sebagaimana tak pernah berhenti nikmat-nikmat-Nya untuk kita.

***

Bersambung
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |