Home » » Secuil Refleksi Idul Adha Bagi Maba Miba PKN STAN

Secuil Refleksi Idul Adha Bagi Maba Miba PKN STAN

Penulis : Ruqun Stan on Kamis, 23 Agustus 2018 | 00.36.00


Menerima tamu hari raya Idul Adha tak kalah istimewa dibanding Idul Fitri. Walau tidak harus digempitakan di kampung halaman, Idul Adha masih semirip Idul Fitri dari sisi puasa yang mengawalinya. Idul Adha masih semirip Idul Fitri karena sama-sama diawali dengan 9 atau 10 hari upaya peningkatan ibadah kita secara optimal. Juga, semangat berbaginya, dan tentu dari sisi gelora takbirnya. Semoga Allah menerima optimalisasi ibadah kita di 10 hari bulan Dzulhijjah ini.


Wal fajr, Walayaalin ‘asyr - Demi fajar, demi malam yang sepuluh (QS Al Fajr 1-2).


Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abbas dan Mujahid, yang dimaksud dengan malam yang sepuluh ialah sejak tanggal 1 hingga 10 bulan Dzulhijjah.


Akan tampak berbeda bila kemudian Idul Adha tahun ini direfleksikan oleh maba miba PKN STAN. Tiba-tiba pengumuman itu mencatut nama-nama mereka. Tiba-tiba harga-harga kos dan kontrakan sekitar kampus melonjak naik. Tiba-tiba pula, mereka harus mengikuti ospek kampus yang berbarengan dengan optimalisasi ibadah, pun melewati idul Adha yang boleh jadi untuk pertama kalinya bagi mereka tidak dirayakan di kampung halaman. Qadarullah. Semoga kitalah insan pengambil ibrah. Tak ada yang sia-sia atas pengorbanan dalam proyek penempaan, agar pribadi mahasiswa lebih kuat di tengah-tengah masyarakat. Asalkan diniati ibadah, semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlimpah di 10 hari mulia yang dinukil surat Al-Fajr di atas.


Idul Adha tentu tak bisa lepas dari kisah Nabi Ibrahim dengan putranya Nabi Isma’il ‘alahimussalaam. Bapak para Nabi tersebut sudah lama mengidam-idamkan seorang buah hati, namun begitu lahir, menjelang dewasa malah harus diqurbankan? Sungguh, ini adalah perintah yang berat, sangat berat. Tapi karena izin Allah dan termasuk pengabulan doa Nabi Ibrahim juga, yakni “Rabbi hablii minash shaalihiin - Ya Allah karuniakanlah aku momongan yang shalih”, maka Ismail ikhlas dan mantap menerima perintah berat tersebut.


Seringkali kisah ini direfleksikan dari sudut pandang pengqurban. Coba kita sudutpandangkan sebagai terqurban. Sebagaimana Nabi Ibrahim sebagai orangtua mengikhlaskan putranya untuk disembelih, maka, kita (maba miba) jadi bertanya-tanya: Apakah jika orangtua saya mengikhlaskan saya untuk melakukan sesuatu, saya kemudian akan ikhlas juga menjalankannya?


Apakah jika orangtua saya ikhlas melepas saya ke kampus asing ini jauh dari mereka, saya kemudian akan ikhlas juga belajar dan memenuhi harapannya untuk lulus, kemudian bekerja?


Karena sejatinya pengorbanan bukan hanya di pihak orangtua dalam menyerahkan sepenuhnya penjagaan anak-anak mereka kepada Allah, melalui doa-doa khusyuk yang mereka sembunyikan di tiap malam mereka. Karena sejatinya pengorbanan juga perlu dilakukan di pihak anak, dalam menjaga amanah yang datang dari orangtua mereka, untuk meraih cita-cita, menancapkan bibit-bibit ikhtiar yang menjadi sebab akan terkabulkannya doa-doa orangtua mereka. Paling tidak membahagiakan mereka dalam satu atau tiga tahun ke depan. Kuliah sukses, ibadah sukses, lulus sesuai waktunya, wisuda di hadapan linangan air mata bangga mereka.


Saya ingin bertanya, “apakah orangtua kita pernah mengaku terus-menerus mendoakan kita dengan: Rabbii hablii minash shaalihiin?"


Semoga kita bisa menemukan jawabannya melalui aksi nyata - pengorbanan kita untuk menyeriusi ikhtiar di kampus PKN STAN yang menjadi impian bagi semua calon maba dan miba.

Allahummarhamnaa bil Qur'aan.
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan.


Rumah Quran STAN
================
👥 Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
📷 IG : stanruqun_
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |