Home » » Al-Qur'an Pelejit Amal Pemuda Kekinian - Kajian Akhirussanah 2018

Al-Qur'an Pelejit Amal Pemuda Kekinian - Kajian Akhirussanah 2018

Penulis : Ruqun Stan on Sabtu, 18 Agustus 2018 | 00.23.00


Satu setengah jam bersama ustadz Muhammad al Faraby memberikan kesan sangat berarti. Beliau muda, enerjik, kaya analogi penyampaian, kaya canda tawa, dan tentunya kaya ilmu (berjumlah total 14 sanad qiraat beliau kuasai). Semoga Allah berikan keberkahan ilmu untuk beliau dan keluarga. Berikut sedikit intisari kajian beliau di agenda AKHIRUSSANAH Rumah Quran STAN 2017-2018, bertempat di Masjid An-Nur, PJMI pada 4 Agustus 2018.

* * *

Mari awali dengan kontemplasi dunia Islam di abad 9-13, dimana Islam (Timur Tengah) sangat maju pengetahuan dan peradabannya, sementara Eropa sangat mundur dengan kegelapannya, sehingga orang Eropa banyak mengirimkan pelajar ke zona Islam. Sebut saja: Ibnu Sina (dokter), Ibnu Firnas (pembuat pesawat pertama), Al-Khawarizmi (perintis algoritma dan aljabar), dan lain-lain. Para tokoh tersebut selain pakar di bidangnya, juga dekat dengan Allah, menghimpun ilmu dunia dengan akhirat, sehingga kemajuannya sangat berkah. Istilahnya: najma' bani usain = menghimpun 2 poin besar dunia dan akhirat.

Berbeda dengan kini: sukses perekonomian, jauh dari agama. Tidak tahu baca Qur'an, buta hadits, atau malah sebaliknya; yang hafal Qur'an tidak tahu ilmu dunia semacam akuntansi, fisika, kedokteran. Saat ini terjadi dikotomi edukasi keilmuan, yakni agama dengan dunia.

Umat Islam hari ini, memiliki konsep terbaik namun tidak bisa menginstall. Banyak yang berkoar, "Kembalilah ke Al-Quran, kembali ke As-Sunnah." Namun, esensi belum berhasil dipraktekkan. Analoginya: biasa pake komputer gede di warnet, dikasih Apple tidak bisa pakai. Biasa pesan Go-Car, dikasih fortuner dibiarin di rumah saja.

Banyak yang mencari konsep di luar Quran. Mengapa? Karena tidak bisa menginstall konsep Quran. Padahal ada 2 konsep besar Al-Quran: tekstual dan kontekstual.

Konsep tekstual = menghafal kalam Ilahi, kitab suci, yang tidak akan pernah bisa terdistorsikan. Bila Quran dibakar, kita boleh jadi marah, tapi ketahuilah ia takkan hilang, bahkan semua mushaf di dunia dilenyapkan sekalipun, Qur'an takkan lenyap.

Konsep kontekstual/sekunder = mushaf yang dipdfkan, disoftcopykan, ditulis di mushaf, sekunder. Tidak berkurang kesakralannya bila didelete/dihapus/dibakar.

Karena sejatinya Quran adalah suara yang ditransfer dalam bentuk hafalan (bukan tulisan).

Dalam konsteks membaca, ada konsep tilawah dan qiraah. Tilawah = membaca secara spesifik dan serius, qiraah = membaca secara umum (membaca keadaan, perasaan, dll.). "Utslumaa: bacalah apa yang diturunkan kepada kamu..."

Konsep tulisan merupakan sekunder. Karena setelah Qur'an turun, Nabi Saw membacakan, sahabat yang level pendidikannya bagus kemudian menulis. Setelah itu, sejatinya Hanya Al Quran kitab yang bisa dihafal secara masif. Bahkan pada kitab terdahulu, hampir tidak ada kitab yang dihafal. Sekalinya berhasil dihafal, langsung dianggap ANAK TUHAN, siapa dia? UZAIR pada komunitas Yahudi.

Mahzab Fiqih yang eksis hari ini ada 4. Quran punya 14 mahzab, salah satunya Hafs (yang sangat masyur dan dipakai di Indonesia). Surat ke 18 namanya Al Kahf (bukan al Kahfi; ini terkait bahasa Arab, setiap harakat di suku kata terahir diwakafkan; AL KAHF). Ibarat bilang: you are is the best (mubadzir kata). Contoh lain: surat ABAS (bukan ABASA). 

Kenapa Alloh, bukan Allah (dibaca aa)? Alasan logisnya: karena kita lahir dalam tradisi riwayat Hafs. Kalau kita lahir dalam riwayat lain, pasti beda. Ta marbutoh diwakafkan berubah menjadi HA (besar). Beda dengan di Indonesia; nikmah nikmat, rohmah rohmat, barakah berkat, hehe. Lawan ta marbutoh/terikat yaitu ta maftuhah/berdikari, washal maupun waqaf berbunyi ta (bukan HA besar). Dalam mazhab lain, ada yang ta maftuhah dibaca HA BESAR juga.  

Nama 3 dewa terbesar di kaum Quraisy: Allata, AlUzza, Manat. Dalam mazhab qiraat Quran yang lain disebutnya Allah (aa bukan oo), Manah. Untuk membedakan antara dewa tersebut, maka kita sebut Alloh. 

Uzair bisa menghafal langsung dianggap anak TUHAN. Hari ini kehidupan kaum muslim diobral. Dunia diobral sama Allah, silakan yang menghafal Quran, Allah permudah. Sebagaimana Surat Al Qomar di 4 ayat yang sama. "Walaqod yassarnal Qur'aana lidzdzikri fahal mimmuddakir" Ditanya Allah, bukan adakah yang mampu? Karena Allah sudah lisensikan bisa menghafal. Tapi Allah tanya, ADAKAH YANG MAU (MENGHAFAL)?

Kini, tidak hanya penceramah, ustadz, ulama bisa menghafal Qur'an. Tapi semua orang, kaum muslimin di semua bidang. Why? Karena dunia mau tutup (akhir zaman), sehingga Allah obral. Bila mereka semangat, Allah beri jalan untuk BISA menghafal Qur'an. Adakah yang MAU?

"Innaa nahnu nazzalnadzdzikr wa innaa lahuu lahaafidzuun", Sungguh Kami yang telah menurunkan dzikr (ALQURAN) dan Kami jugalah yang menjaganya. Dalam bentuk apa? Dalam bentuk penghafal Quran.

Daerah mana yang pertama kali mengeksemplarkan AlQuran begitu banyak? VICENZA ITALIA. Ternyata orang orientalis. Kitab tervalid ttg hadits (Bukhari Muslim Tirmidzi Ibnu Majah Nasa'i) ditulis dari Jerman. Mereka yang tidak berhijab dan bersunat semangat belajar agama.

Siap Islam berjaya? Kita harus kembali ke konsep Islam di abad 13. Mereka relijius, hafal Qur'an, tapi juga kuat ilmu dunianya. Tidak ada konsep pemisahan ilmu. 

Ilmu agama diemban oleh satu ustadz? Padahal banyak cabang keilmuannya. Mirip fakultas kedokteran punya banyak spesifikasi. Kiper tidak bisa jadi striker dan sebaliknya. Agama juga demikian: fikih, ushul fikih, fikih jeneral, perbandingan fikih, dll. quran dibagi lagi: tafsir, qiraat, dsb. Jangan sampai satu ustadz bisa banyak cabang agama, karena kelangkaan ulama. Mahasiswa Indonesia di Mesir ada 5000 = SEDIKIT. Beda dengan Malaysia = 13.000 mahasiswa di Mesir.

Pastikan kita punya dedikasi untuk beragama. Tak hanya ilmu di STAN saja, tapi juga ekonomi syariah, aqidah, hafal Quran, dll. bisa dipilih. 

Al Quran perlu dihafal, jangan dilupakan. Kalau sudah dihafal, wajib ain diingat terus. Sama juga dengan: masuk STAN itu wajib kifayah, tapi kalau sudah terlanjur masuk STAN harus wajib ain menjaga keuangan negara. Kalau bukan anak STAN siapa lagi?

Sesi Tanya Jawab:

Ilmu qiraat kok ada 14, dasarnya apa?
Ibarat orang negro hitam-hitam, orang cina sipit-sipit, indonesia pesek-pesek, dll. Masing-masing entitas punya ciri khas tersendiri, termasuk bahasanya.
Contoh: 
  • americaano (logat Espanol) ada mad/bacaan panjang-nya ...caaaano...
  • dek reeemmatayye (logat Madura): ada mad di awalnya
  • makassar: pecinta tasydid (cth: paloppo, panakkukang).


Quran berasal dari Arab, tapi etnis mana? suku mana? Karena Arab banyak. Ada Dubai (kaya buanget), ada Mesir, dll. Gaya bicara mereka banyak. Contoh: apa? ape? opo? apo? epe? naon?

Ada 14 qiraat, krn Islam sudah menyebar ke Arab dan sekitarnya. Ke Indonesia belum, sehingga tidak ada qiraat Tegal, qiraat Jowo, dll. Baru makro saja, belum sampai yang mikro-mikro sebagaimana ilmu qiraat belum sampai. 14 qiraat perlu dauroh. Dont try at home, jangan ikut-ikutan, karena ada kaidahnya, perlu talaqqi.

Suara bagus keren itu sekunder. Bacaan baik sesuai tajwid itu primer.

Video stop before end

* * *

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |