Home » » Penghafal Qur’an itu Traveller

Penghafal Qur’an itu Traveller

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 23 Juli 2018 | 21.39.00


Bayangkan kita seorang traveller. Ingin hadir memandangi panorama penuh ketakjuban dengan mata kepala sendiri, ingin menghampiri sajian kuliner khas daerah tertentu walau sekedar mencicipi, ingin berswafoto di area yang unik dan menarik lantas diposting menjadi status dan story, ingin mendapat pengalaman fantastis baik di dalam maupun luar negeri. Semua agenda itu khas bagi para traveller sejati.

Hm… Traveling (aktivitasnya para traveller) selalu diawali dari berburu tiket, tak jarang yang promo. Karena itu, biasanya gadget mereka banyak diinstal dengan aplikasi “pesan tiket instan” yang juga seringkali bagi-bagi promo. Bagai gayung bersambut bukan?

Walau ada titik awalnya, travelling belum tentu ada titik akhirnya. Mereka yang selesai travelling biasanya haus lagi dengan destinasi baru. Maka, tak jarang ada alokasi dana khusus travelling bagi maniak traveller. Alhasil, tujuan-tujuan baru seolah tak pernah habis. Kalau habis di dalam negeri, promo menggiurkan terbuka lebar dari destinasi ala luar negeri. Dunia mereka diisi petualangan, hidup mereka tak jauh dari kata jalan-jalan, media sosial mereka penuh latar-latar foto yang selalu baru. Hm… kira-kira begitulah dunia para traveller. Apakah bagi kita menarik?

Alhamdulillah, kita tak perlu ungkap sisi negatifnya di sini, karena hidup bersama Qur’an seharusnya diisi dengan pikiran-pikiran positif. Toh ternyata banyak ayat-ayat tentang travelling di Al-Qur’an. Salah satu di antaranya:

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS Al Mulk: 15).

Kalimat terakhir dari ayat tersebut-lah (yang digarisbawahi), yang menandai adanya agenda khusus bagi traveller sekaligus pecinta Qur’an, yakni dengan: mensyukuri panorama kauniyah Ilahi, mengambil pelajaran atas histori destinasi, atau mencaplok hikmah atas perjalanan penuh tantangan dan misteri, lantas bila perlu: menyingkap kebermanfaatannya bagi pembaca dan pemerhati. Tentunya agenda khusus ini biasa dilakukan oleh mereka yang mampu mengimani dan menelisiki tanda-tanda Ilahi.

Penghafal Qur’an itu Suka Jalan-jalan


Kalau ditarik dari serba-serbi aktivitas travelling di atas, mungkin subjudul ini jadi terbaca kontroversial. Apalagi kalau dikaitkan dengan surat Al-Mulk 15 di atas. Namun, sejatinya: lain kata, lain makna yang dimaksudkan. Mari kita awali begini:

Awalnya, penghafal Qur’an faham betapa membersamai Qur’an itu afdholudzikr (dzikr terbaik), tiap hurufnya bersemaikan 1 pahala yang melipatkan diri menjadi 10 kali kebaikan, tiap kedekatannya dengan Qur’an diharapkan menjadi pemberi hujjah bagi hari pengadilannya kelak, pemberi syafaat bagi hari pembalasannya kelak, penghadiah mahkota bagi orangtua yang dicintainya di dunia, pembalas surga yang kedudukannya pada akhir ayat yang dibaca/hafal.

Kebaikan-kebaikan ini jauh lebih visioner daripada sekedar promo travelling ke Korea atau Macau, untuk sekedar wisata kuliner atau berfoto ria dengan pakaian adat di sana. Kefahaman untuk memulai perjalanan bersama Qur’an jauh lebih kuat mengaliri tekad daripada memulai travelling ke penjuru bumi manapun. Ini baru titik awal traveling atau jalan-jalan bersama Al-Qur’an. Lalu bagaimana kita bisa travelling bersama Qur’an? Begini caranya:

Penghafal Qur’an itu suka jalan-jalan. Mereka akan bosan kalau tidak jalan-jalan, sama bosannya dengan maniak traveller. Untuk itu, jalan-jalan mereka adalah dengan cara memurajaahi ayat-ayat yang sudah mereka baca dan setorkan. Setoran hafalan kepada musyrif berfungsi untuk mentera ayat demi ayat, huruf demi huruf benarkah ia sesuai tajwid dan maknanya? Setelah setoran, maka tak ada selesai seorang penghafal Qur’an untuk berjalan-jalan di antara ayat-ayat yang telah disetorkan. Jalan-jalan berupa murajaah Qur’an adalah agenda abadi sampai mati.

Penghafal Qur’an itu suka jalan-jalan. Mereka suka tantangan, oleh karena itu mereka tertantang untuk berpikir bagaimana cara agar jalan-jalan ini tidak bosan. Maka, kalau yang ia jalan-jalani hanya juz 30 saja, dari pagi, sore, esoknya, lalu esoknya lagi, sudah selesai jalan-jalannya kalau hanya juz 30. Maka, mereka akan tertantang untuk merambah ke juz 29, ia buat siklus lagi jalan-jalan murajaah untuk juz 29 dan 30, kemudian tertantang lagi, lagi, dan lagi. Hingga siklus itu berakhir di total 30 juz, atau siklus itu berjalan terus dan terus tanpa menambah destinasi (juz)? Tak masalah. Yang penting siklus jalan-jalan itu terus saja berjalan.



Penghafal Qur’an itu suka jalan-jalan. Mereka tidak suka ayat-ayat yang sudah disetorkan, lama tak terjamah, sehingga destinasi ayat-ayat itu terlupakan. Maka, mereka akan mencari cara bagaimana agar bisa selalu mensilaturrahimi ayat yang sudah pernah dihafal namun terlupakan. Mereka berpikir bagaimana merancang strategi agar jalan-jalan mereka menyeluruh dan berputar terus menerus di ayat-ayat yang sudah pernah dihafal, sampai-sampai mereka tidak sadar, ternyata ada hal-hal yang mencengangkan gara-gara jalan-jalan ini. Apa itu?

Ternyata perjalanan itulah yang menghidupkan amal-amal ibadah lainnya. Gara-gara jalan-jalan itu, sholat-sholat sunnah jadi terhidupkan. Mereka posting ayat-ayat yang diperjalankan tersebut untuk menjadi pendamping surat Al-Fatihah di tiap rakaatnya. Gara-gara jalan-jalan itu, dzikir mutlak mereka terjalankan dimana pun mereka jalan-jalan secara zhahir. Mereka menjadi asyik-masyuk bersama gadgetnya di sela-sela aktivitas, hanya untuk fokus memurajaahi hafalan. Gara-gara jalan-jalan itu, maksiat menjadi teralihkan, keburukan tersisihkan, semua potensi dosa menjadi tak lagi teragendakan.

Penghafal Qur’an itu suka jalan-jalan. Mereka jalan-jalan sambil memaknai pemandangan sekitar. Pemandangan apa? Pemandangan ayat-ayat yang ia temui. Bila mereka menjumpai kata: “adzaabun aliim, adzaabun hariiq, adzaabunsy syadiid, adzaabis sa’iir, adzaabin ghaliidz, …”, mereka akan bersedih karena seolah membayangkan kalau adzab itu menghampiri mereka. Lantas mereka berdoa meminta perlindungan. Apabila pemandangan mereka sampai pada kata-kata: “Jannatu adnin tajrii…, jannatun na’iim, firdausa hum khaaliduun…”, mereka akan menjadi takut. Takut kalau Allah tidak sediakan surga-surga itu untuk mereka. Lantas mereka berdoa meminta dimasukkan ke surga. Banyak sekali perjumpaan-perjumpaan dengan makna ayat yang dapat dipahami, sehingga menjadi taujih Rabbani, penguat hati, sekaligus pelipur lara bagi mereka. Jalan-jalan yang indah bila semuanya adalah sajian kalamullah yang mengilhami diri, merasuk senantiasa dalam sendi kehidupan mereka.

Lalu, sukakah kita jalan-jalan sebagaimana jalan-jalannya penghafal Qur’an?
  • Ya Allah jadikanlah kami suka jalan-jalan.
  • Jalan-jalan mengelilingi ayat-ayat-Mu yang penuh dengan hikmah dan pelajaran.
  • Dalam tilawah kami, sehingga kami mampu menyeluruhi ayat-ayat-Mu 30 juz secara rutin.
  • Dalam murajaah kami, sehingga kami mampu menyeluruhi ayat-ayat yang telah kami hafal, juga secara rutin.
  • Dalam hafalan baru kami, sehingga kami mampu menambah perbendaharaan jalan-jalan murajaah kami untuk menjaga ayat-ayat-Mu, menambah pahala-pahala, meng-empower-i amal-amal kami yang lain.
Ya Allah, luruskanlah niat kami
Jadikan semua ini tersebab oleh-Mu saja, tak ada niat lain yang mendomplengi

Allahummarhamnaa bil Qur’aan
Allahummaj’alnaa min ahlil Qur’aan

Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |