Home » » Ayat Arus Balik

Ayat Arus Balik

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 02 Juli 2018 | 09.08.00


Arus Balik memberikan banyak pelajaran bagi kita. Salah satunya: kenyataan bahwa kita pasti “balik” kepada aktivitas semula, setelah: mencari ridha, memuliakan, menyenangkan hati, dan memberi kebanggaan bagi orangtua di kampung halaman, dengan segenap gegap gempitanya Lebaran.

Telah lewat kita bersuka-cita atas nikmatnya hari raya. Sembari itu, kita berharap-doa lantaran belum pastinya amal dan ampunan diterima, bercemas-rindu tersebab Ramadhan yang belum tentu kembali bertemu, lalu bercemas-kuadrat apakah amal tersebut beranak-pinak hingga ke masa depan kelak? Akankah label “muttaqiin” layak disematkan pada diri pasca-tempaan Ramadhan terlewat? 

Sungguh, jangan kemudian kita ambil pelajaran bahwa arus balik berarti semuanya akan “balik”. Seolah secara digital, sebelum Ramadhan, saat, hingga setelahnya bernilai: 0 1 0. Ramadhan ibarat angin lalu, lepas darinya kembali mengosong dari kebaikan. Sungguh rugi. Sungguh merugi. 

Maka, bayangkan kita baru saja melalui masa-masa menawan bersama seabrek amal ibadah Ramadhan, lantas kita ter-arusbalik-kan dari Ramadhan sambil membatin, “Akhirnya, makan kembali tak dibatasi, lisan tak lagi tersedikiti, malam tak lagi tersibuki berdiri dan bertakbir dalam ramai atau pun sepi. Aah, leganyaaa…. Kebebasan itu hadir menghampiri (sambil melepaskan jahit demi jahit libasutaqwa yang telah dicapai). Nah, bayangkan sehabis pikiran kita menceracau demikian, Allah langsung turunkan seutas tanya melalui ayatnya:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allâh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. [al-Hadîd/57:16]

MasyaAllah. Betul-betul ayat “Arus Balik” yang layak kita jadikan sarana me-makjleb-i hati. “Seolah tak ada tenggang waktu sejak keislaman kami…” , kenang Ibnu Mas’ud, “… eh kok sudah diingatkan dengan teguran yang sangat mengena, berupa ayat ini.”
Maklum, tafsir ayat ini menurut Ibnu Katsir sejatinya menjelaskan tentang “masa panjang” kaum Yahudi dan Nasrani, yang bukannya terprioritasi untuk amal ibadah dan menambah kebaikan, justru malah untuk mengubah ayat-ayat al-Kitab, menjualnya secara tidak layak, melemparkannya secara hina. Mereka bertaqlid, menciptakan variasi beragama, menyandarkan pendapat yang membingungkan, bahkan menjadikan pemuka-pemuka mereka ilah selain Allah. Karena keburukan itulah, hati mereka mengeras, enggan dinaungi nasihat, merusak. Keburukan bertumpuk-tumpuk yang menghijabi kebaikan. 

Asal tafsir tersebut selayaknya kita internalisasi dalam diri. Persis seperti tokoh tabiin terkenal, Fudhail bin Iyadh, yang awal mulanya bermata-pencaharian merampok. Lantaran mendengar teguran ayat ini, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman… ?” , lantas beliau tekadkan, “Sudah waktunya”. Dan beliaupun beralih menjadi tokoh ulama terkemuka. Lalu bagaimana dengan kita?

Semoga selepas mendengarnya, Allah ilhamkan begini dalam hati, “Ya Allah, sudah waktunya bagiku. Untuk tetap berada pada pembiasaanku di Ramadhan. Seoptimal upayaku, seharapku tuk istiqomah pada-Mu. Puasaku, terimalah ya Allah. Tandanya: aku jalankan Syawal-an dan puasa sunnah lainnya. Qiyamul Lailku, terimalah ya Allah. Tandanya: aku tetap bangun malam dan menyisir sunyi di atas sajadah cinta. Baca Quranku: terimalah ya Allah. Tandanya: aku tetap membuka mushaf, membacanya, menghafalnya, mengamalkannya. Kebaikan-kebaikanku: terimalah semua ya Allah. Sesungguhnya, aku sangat cemas Engkau tidak menerimanya…”

Karena sesudah itu, akan hadir masa yang panjang, dari Ramadhan ke Ramadhan. Semoga kita dapat mengisi jeda itu dengan bertumpuk-tumpuk kebaikan, sehingga hati kita jauh dari keras, terus melunak dan tetap mengkhusyuk, lalu Allah jauhkan tanda kefasikan dalam diri kita. Sebaliknya, kita pun termasuk orang-orang yang lurus. Semoga...

Semoga memang yang kembali kepada kita betul-betul kemenangan yang dipertahankan. Harap kita: pasca mengepompong Ramadhan, kita ibarat kupu-kupu yang hinggap pada bebungaan nan mewangi, tak lagi terbatasi merayapi daun. Bukan seperti ular yang sebelum atau setelah kulitnya terkelupas, ia sama saja tetaplah ular. Tinggal pilih. Mau seperti kupu-kupu atau ular?

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaa taqabbal minnaa jami'a ibadaatanaa 
Walau sudah terlewat, semoga belum terlambat:

Ja'alanallahu wa iyyaakum minal 'aaidin wal faa'izin 
(Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang kembali dan beruntung)
Mohon maaf lahir dan batin

***

Catatan: Judul ini seharusnya lahir setelah artikel berjudul Ayat-Ayat Mudik 2, namun Qadarullah niatan itu pudar lantaran moment yang telah lewat. Bila Allah izinkan berumur panjang, InsyaAllah Ayat-Ayat Mudik 2 akan tersebar di akhir Ramadhan tahun depan. Semoga memompa kondisi iman menjadi lebih baik.
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |