Home » » Sepuluh Menit Terakhir

Sepuluh Menit Terakhir

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 10 Juni 2018 | 21.35.00

Kalau sudah masuk 10 menit terakhir, pertandingan sepak bola pasti menjadi lebih seru. Tim yang unggul berusaha mati-matian mempertahankan kemenangan. Sebaliknya, tim yang tertinggal berusaha mati-matian menjebol gawang lawan. Bahkan, dari pinggir lapangan, kedua pelatih jauh lebih emosional. Yang sedang unggul, paling suka marah-marahin defendernya. Yang sedang tertinggal, mengumbar bonus tinggi buat para penyerangnya agar segera mencetak gol.

Lalu bagaimana dengan kita? Kalau Ramadhan sudah masuk 10 hari terakhir?

🥅⚽🥅

Bayangkan diri kita satu dari 11 pemain yang sedang berjuang demi sekeping gol. Sekeping untuk mengungguli lawan. Sekeping yang dihargai oleh executive director tim bahwa ia setara dengan bonus jaminan hidup selama 83 tahun bagi satu tim. Demi meraih itu, seorang defender bisa jadi akan berani overlap ke depan. Demi sekeping itu, seorang penjaga gawang bisa jadi lupa pada gawangnya. Sekeping itu -atas doa-doa yang mereka lantunkan- diyakini akan terjadi di 10 menit terakhir. Sekeping itu diperjuangkan oleh satu tim sampai titik keringat penghabisan.

Keyakinan mereka akan terjadinya gol di salah satu menit di antara 10 menit terakhir itu sangat tinggi, sama seperti keyakinan bahwa lailatul qadar pasti akan terjadi di salah satu hari di antara 10 hari terakhir Ramadhan. Saking yakinnya, di awal 10 menit terakhir itu, sabuk dikencangkan, kemewahan disisihkan. Ibarat kacamata kuda, mereka lihat hanya gawang di depan dan berharap kerjasama apik di antara rekan seperjuangan.

Mereka tak lagi silau dengan jepretan fotografer untuk mengambil gaya keren mereka, tak silap dengan kue-kue lebaran dan kuliner kampung halaman di pinggir lapangan, tak peduli lagi dengan diskon, voucher, dan bonus-bonus yang mengalir lincah di sekitaran stadion, dimulai dari mall yang tampak nyata hingga toko online yang tak kasat mata. Semua aspek DUNIAWI itu telah tergadaikan nyata dengan aspek UKHRAWI, aspek ghaib yang visioner ke depan. Apakah itu? Iya, bonus jaminan hidup 83 tahun berpahalakan ampunan dan surga. Tak tampak di ujung mata memang, tapi menggetarkan hati untuk segera dicapai dengan gol-gol indah di 10 menit terakhir itu.

🥅⚽🥅

Maka, 10 menit itu pun dimulai dengan semangat juang total. Di menit 81, mereka hampir mengungguli lawan, namun gawang berhasil ditepis takdir Allah. Di menit 82, asa mereka berkurang. Namun area pertahananan tak boleh lengah sedikitpun. Pelatih tak lelah berteriak-teriak, tak sabar inginkan agar bola terkuasai optimal. Akhirnya di menit 83, penyerang lawan lengah mengamankan bola, lantas disabet secara kilat oleh bek kanan. Sang kapten berteriak lantang, Janji Allah ada di menit ke 83, janji dimana Ia telah kumpulkan hari Jumat, hari raya nya umat Islam - bertepatan  dengan menit ganjil ini. Mari kita sambut!

Semangat itu mengalir teroper ke seluruh pembuluh darah para pemain. Mereka bermain dengan liar, ganas, dan totalitas. Hingga gol pun terjadi di menit tersebut atas izin Allah. Lahir dari crossing indah pemain sayap. Tandukan kapten memasukkan bola ke gawang lawan, dengan doa andalannya, “ Allahummaa innaka afuwwun, tuhibbul afwaa fa’fu ‘annaa ” Selebrasi dilakukan dengan berdoa, “ Ya Allah maafkan kami, musnahkanlah catatan dosa kami! ” Bahkan, di saat selebrasi, ada pemain belakang yang ikut bertutur, “MasyaAllah, berkah ada di menit ke 23. Lihat tanda-tanda alam yang tampak ini.”

🥅⚽🥅

Sudah Cukupkah di Menit ke-23?

Tim yang unggul kini balik bertahan. Bola dicocor pemain lawan, zig-zag, tiki-taka, oper lambung, semua dicoba agar perlahan-lahan bola mencium gawang. Pertahanan tim pun dikuatkan. Namun, ada yang aneh. Pemain belakang kurang fokus. Merasa sudah menemukan menit keberkahan alias “Lailatul qodarnya” barusan, mereka tersilap oleh jepretan foto yang semakin sering. Mereka sedikit teralihkan. Kue lebaran menghiasi pandangan, begitu pula diskon besar-besaran, voucher jor-joran, bonus buka-bukaan. Hati mereka berujar, “Alangkah nikmatnya bila itu semua bisa kita nikmati seusai pertandingan”. Namun, petaka terjadi begitu cepat. Lawan mudah memanfaatkan kelengahan. Gawang terbobol oleh aksi kerjasama operan terobosan. Defender terlambat pulang, kiper tak sanggup mengamankan. Golll untuk tim lawan.

Apapun yang sudah terjadi, tim harus segera berbenah. Mereka terlalu lengah karena merasa sudah menemukan lailatul qadar di menit ke-23. Menit-menit selanjutnya malah berhasil dikuasai lawan. Apapun yang sudah terjadi, semangat tak boleh padam. Sang kapten mulai paham keadaan. Ia tak boleh membiarkan timnya kalah mental. Ia pun berteriak sembari mengobarkan api perjuangan,
“Duhai timku, Lailatul Qadar itu misteri. Daripada kita sibuk menerka-nerka dimenit sekian dan sekian. Lebih baik kita berjuang sampai penghabisan. Kita jadikan momen pertandingan ini bermakna. Kalian tahu apa yang dimaksud dengan “BERMAKNA”?

Para pemain lain kebingungan, sambal bersiap meneruskan pertandingan. Sang kapten melanjutkan, “RAIH MAKNA ITU. ANGGAP INI KEBERSAMAAN TERAKHIR KITA. ANGGAP INI PERTANDINGAN TERAKHIR KITA. ANGGAP INI PERJUANGAN TERAKHIR KITA. KARENA TAK ADA JAMINAN KITA BISA IKUT PERTANDINGAN BERIKUTNYA. TAK ADA JAMINAN KITA DATANG DI RAMADHAN BERIKUTNYA. MARI KITA KEJAR SEMUA MALAM DI MENIT-MENIT AKHIR INI. BAYANGKAN SEMUANYA ADALAH LAILATUL MUBARAKAH. BAYANGKAN SEMUANYA ADALAH LAILATUL QADAR. KARENA INI TERAKHIR, MAKA WAJIB BAGI KITA UNTUK MENANG! WAJIB!”

🥅⚽🥅

Menit-menit berikutnya adalah menit-menit penuh makna. Tak ada celah kosong, tak ada peluang untuk lawan, tak ada maklum untuk membiarkan lawan menguasai lapangan. Setiap menit, bahkan setiap detik diisi dengan perlawanan total. Hingga dalam lima menit terakhir, ikhtiar itu akhirnya berakhir dengan 3 gol tambahan. Benar-benar tak ada kelonggaran buat lawan. Tanpa ampun. Ini adalah jalan bagaimana memaknai pertandingan di menit-menit akhirnya. Memaknai Ramadhan di hari-hari terakhirnya. Tak ada celah untuk kesia-siaan.

Ini bukan reka-ulang kejadian akan pertandingan sepakbola biasa. Ini adalah analogi tentang 10 hari terakhir Ramadhan berikut harapan kita untuk memaknainya dengan optimal. Bila kita mampu menaruh lailatul qadar-lailatul qadar versi kita, kita akan mampu menyabet seluruh malam dengan amal terbaik yang bisa dilakukan. Walau ada di antara kita coba menerka-nerka, “kayaknya kemarin deh, kayaknya semalam tanda-tandanya jelas deh…” , nah daripada sibuk mencari-cari tetanda alam, lebih baik kita cari dan temukan jawaban akan pertanyaan berikut ini, “siapa yang jamin kita akan hadir di Ramadhan tahun depan?” Yakinlah … yakinlah bahwa jawaban akan pertanyaan ini ada pada aksi nyata kita untuk memanfaatkan seluruh hari-hari tersisa bulan Ramadhan.

Semoga Allah izinkah kita beramal di malam kemuliaan, semoga Allah hiasi sisa-sisa Ramadhan kita dengan amal terbaik, dan semoga Allah izinkan kita bersua di Ramadhan berikutnya.

Allahummaa innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu’annaa… Yaa kariim…
Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |