Home » » Panen Raya Auto-Murajaah

Panen Raya Auto-Murajaah

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 10 Juni 2018 | 22.16.00


Dalam tulisan sebelumnya berjudul auto-murajaah, kita bisa sederhanakan ia dengan istilah untuk murajaah hafalan di sembarang waktu, yang penting dalam satu hari itu, terselesaikan murojaah sesuai target: 1 juz misalnya. Contohnya: hafalan juz 30 kita, terbagi menjadi beberapa peletakan murajaah: ada yang dibaca ketika sholat sunnah, ada yang dilafalkan ketika berkendara, ketika naik bus, ketika jalan kaki, ketika menunggu antrean, ketika hadir waktu-waktu yang bisa diperduakan bersama Quran. Yang penting 1x24 jam, khatam terlafalkan 1 juz.

Auto-Murajaah sendiri sejatinya berfungsi untuk mengekspansi keberkahan urusan-urusan kita, menyemai ketentraman dalam hati, dan tentunya menjaga Al-Quran tetap di hati, agar tidak lari-lari. Kalau menggunakan bahasa ternak unta: agar ayat-ayat yang sudah kita hafal naik level dari “unta liar” menjadi “unta jinak”. Kalau sudah jinak, ia akan mudah dilafalkan kapan saja dimana saja. Tanpa perlu intip-intip mushaf.

Nah, ternyata auto-murojaah itu sebentuk proses, bukan hasil. Lho kok? Ya tentu saja. Karena selama kita mengagendakan auto-murojaah, kita boleh saja intip-intip mushaf, boleh saja macet dan nabrak-nabrak (asalkan dibetulkan dengan intip mushaf tadi), boleh saja sedih dan geleng-geleng kepala sendiri karena lompat dari surat satu ke surat yang lain -alias salah nyambung-. Karena toh, kita sambal intip mushaf. Hm… untuk auto-murojaah di sholat sunnah, barangkali bisa dikondisikan agar tidak sering intip mushaf, malah sebaiknya yang mutqin saja.

Bila auto-murojaah itu proses, lalu kapan hasilnya dipanen?

Jika auto-murojaah adalah agenda di bulan Ramadhan, maka panen raya nya ada di 10 hari terakhir. Di hari-hari penuh kenangan itu, kita yang biasanya pindah tidur ke masjid akan berusaha membersamai Al-Quran secara intens. Kalau masjid menggelar agenda Qiyamul Lail berjamaah, maka sesi baca Quran kita tentu saja nebeng ke imam. Nah, kalau sudah pulang kampung dan tak ada imam Qiyamul Lail, hm… tentu saja kita mengimami diri kita sendiri. Kalau QL baca Qul hu kok rasanya kurang marem. Maka, silakan panen raya di saat QL tersebut. Panen raya dengan segenap dan sesedikit hafalan yang kita punya.

Kalau automurajaah biasanya 1 juz dalam sehari dibagi-bagi terinjeksi ke dalam aktivitas-aktivitas kita, maka alangkah indah bila panen raya automurajaah adalah 1 juz sekali Qiyamul lail. Masya-Allah. Ini bukan lagi proses, ini adalah hasil dari pemutqinan hafalan selama automurajaah, dimana kita memaknai agenda ini sebagai memurojaah hafalan bersama Allah.

Sungguh, bagi kita yang rindu dengan Allah dan -Rasul yang menerima wahyu berupa Al-Quran-, memurajaah hafalan ketika Qiyamul lail dapat menguatkan hati. Membayangkan betapa berat ketika wahyu diturunkan kepada Nabi kita. Ketika kemudian kita baca di sepertiga malam terakhir, ada nikmat tiada tara yang menyesap dalam hati. Yakni ketika membaca ayat-ayat rahmat lalu kita meminta rahmat. Juga ketika membaca ayat-ayat adzab lalu kita meminta perlindungan. Ada tangis yang coba dilelehkan, ada sedih yang membekas, ada harap-harap cemas untuk mengiringinya dengan taubat dan perenungan. 

Inilah sebaik-baik panen hafalan. Semoga Allah mampukan kita memurajaah hafalan bersama Allah di dalam shalat-shalat malam kita. Terlebih di 10 hari terakhir Ramadhan ini.

Allahummarhamnaa bil Qur’an - Waj’hu lanaa hujjatan ya Rabb…
Allahumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwaa fa’fu’annaa
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |