Home » » Output Ramadhan = Wishlist (???)

Output Ramadhan = Wishlist (???)

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 10 Juni 2018 | 21.50.00

Ramadhan kan bulan berdoa, so seharusnya disinilah kita banyak-banyak berdoa, banyak-banyak menuliskan wishlist secara sistematis, kemudian dimintakan ke Allah di waktu-waktu maqbul doa, seperti waktu sahur, sebelum berbuka, dan sebagainya di bulan Ramadhan. Lho, tapi kok dari judul ini, wishlist jadi output Ramadhan ya? Bukankah malah jadi melewatkan momen maqbul doa di sayyidus syuhur Ramadhan?

Eits, wishlist yang dimaksud disini bukan daftar doa yang hendak dipanjatkan. Untuk memahaminya, coba kita mampir sejenak ke toko-toko online. Nah, disana biasanya ada satu tombol di pojokan berjudul wishlist, berisi tentang produk-produk yang kita ingini. Untuk menaruh suatu produk ke daftar wishlist ini, kita hanya perlu pilih produknya, lalu klik tanda hati, tanda like, atau tanda apapun yang menunjukkan kesukaan kita pada produk ini. Apa fungsinya? Sederhana saja: saat kita klik tanda hati, sejatinya kita belum butuh, atau bisa jadi masih bokek, atau belum mampu membeli produk tersebut. Nah, harapannya: saat kita butuh, sudah punya uang, atau ketika sudah mampu nanti, kita hanya perlu melihat daftar ini saja untuk membelinya, tidak perlu menjelajahi tombol searching. Nah, mudah dan praktis bukan. (kok malah jadi tutorial begini yak, wkwkwk).

Lalu, apa yang di Ramadhan mirip dengan istilah Wishlist ini?

Mari kita awali dengan renungan: berapa khataman telah kita lakukan selama Ramadhan ini. Dari sejumlah khataman itu, apakah kita bertemu dengan ayat-ayat yang menggembirakan, ayat-ayat yang menyedihkan, ayat-ayat yang inspiratif, ayat-ayat yang memukau hati? Ibarat memasuki toko online, apakah ada produk surat atau ayat yang ingin kita betikkan ke dalam hati? Ingin kita hafal dan murajaah bersamanya? Adakah tanda cinta kita berupa harapan untuk menghafalnya suatu saat nanti?

Masya-Allah…

Wishlist merupakan upaya kita yang belum mampu menghafal suatu surat/ayat sekarang di bulan Ramadhan (karena sibuk dengan kejar tilawah, kejar iktikaf, kejar lebaran, eh…), dengan cara memasukkannya ke dalam daftar keinginan agar bisa kita agendakan untuk menghafalnya di waktu-waktu kemudian, alias pasca-Ramadhan.

Karena sejatinya cinta terhadap Al-Quran muncul dan bergelora di bulan Ramadhan. Cinta itu membuat kita berkali-kali khatam. Cinta itu membuat waktu kita terprioritaskan untuk Al-Quran, bahkan kalau ada sisa-sisa waktu, pengennya bersama Al-Quran. Adakah cinta itu bisa diprospek di luar Ramadhan nanti? Adakah cinta itu mewujud menjadi tekad nyata untuk mempersatukannya ke dalam hati? Adakah ayat-ayat itu kita rindukan untuk menyemayaminya ke dalam hati? Lalu kita tunaikan cinta kita dengan memurajaahnya senantiasa? Oh, kalau sudah bicara murajaah, tak ada kata rugi. Ia adalah agenda abadi, sepanjang nafas, sepanjang jantung kita berdetak, sepanjang Allah kasih kita usia.

Maka…

Kalau kita bertemu surat terpanjang di Quran dengan keutamaan membuat lari syetan di rumah yang dibacakannya, masukkan ke dalam wishlist. Kalau kita bertemu surat yang mampu membawa cahaya di dua Jumat, masukkan ke dalam wishlist. Kalau kita bertemu surat yang berpotensi menyelamatkan kubur kita, masukkan ke dalam wishlist. Ada surat yang membuat Raja Najasy masuk Islam, indah nian surat itu, daftarkan ke dalam wishlist. Umar bin Khattab sampai masuk Islam mendengar surat ini, daftarkan ke dalam wishlist. Dan masih banyak lagi... Banyak sekali surat-surat hingga satuan ayat dalam Quran yang menginspirasi kita, memiliki nilai historical yang kuat dan keutamaan yang tinggi berdasarkan dalil syariat, tentu agar kita termotivasi untuk menghafalnya.

Maka…

Bila atas izin Allah nanti, ternyata kita menapaki Syawal dan bulan-bulan berikutnya, perhatikan wishlist tersebut, manakah yang kita prioritaskan dari Ramadhan ini ke Ramadhan berikutnya untuk kita hafal? Sehingga, tatkala kita masuk ke Ramadhan tahun depan (atas izin Allah), hafalan kita sudah bertambah 1, 2, 3 surat yang siap dimutqinkan secara optimal di bulan Ramadhan depan.
Oh, indahnya bila tiap Ramadhan yang kita masuki tiap tahunnya, ada hafalan yang bertambah. Ada sekumpulan juz dan surat yang dimurajaah, yang siap dibacakan dalam shalat-shalat malam kita (tanpa memegang mushaf). Itu adalah kenikmatan tiada tara bagi orang-orang yang mampu merengkuhnya. Semoga termasuk kita di antaranya.

Allahummarhamnaa bil Qur’an - Waj’hu lanaa hujjatan ya Rabb…
Allahumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwaa fa’fu’annaa - Yaa Kariim
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |