Home » » Ayat-ayat Mudik (Bagian 1)

Ayat-ayat Mudik (Bagian 1)

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 11 Juni 2018 | 18.08.00

Judul ini tidak sedang ingin menandingi film fenomenal Ayat-ayat Cinta. Judul ini sekedar ingin membuat kita memahami betapa banyak hikmah yang bisa dituai selama kita berproses mudik. Ayat kuncinya ada disini:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran: 190-191)

Ayat ini memiliki nilai historical bagi saya. Terlebih kalau masuk bulan Ramadhan. Maklum, generasi 80-an mengenal ayat ini dari sinema Ramadhan di tahun 2000-an berjudul Lorong Waktu. Tiap kali film ini tayang, ayat ini dibacakan sebelum lagu pembukanya. Masya-Allah. Apalagi isi filmnya yang bergenre Science Fiction, film tentang mesin waktu yang mengenalkan kita akan kisah-kisah hikmah dan perjuangan.

Ayat ini juga memiliki kenangan bagi saya saat pertama kali naik pesawat. Melihat awan putih bersih bak kapas-kapas terbang, lalu bumi dengan panorama rerumahan, jejalanan, dan sesawahan yang kian mengecil, aduhai indah nian bila sambil dibacakan ayat ini. Saya mengistilahkannya dengan: ayat kauniah yang berfusion dengan ayat qouliyah. Menjadi sarana perenungan yang powerfull menghenyakkan hati. Apalagi tatkala merenungi doa terakhir ayat ini, “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini semua (gugusan awan, bumi, dan langit) dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” Sungguh, membuat mbrebes mili bila hati sedang dalam posisi defaultnya.

Lalu, Apa Hubungan antara Ayat ini dengan Mudik?

Mudik bisa dilalui via darat laut dan udara. Hm… melalui tadabur hati, ayat ini bisa membuat perenungnya merasa mak jleb. Mak jleb yang dimaksud bisa kita maknai dengan “alaa bidzikrillaahi tathma innal quluub: hanya dengan mengingat Allah, hati kita menjadi tenang (QS Ar Ra'du 28).

Jika hati si perenungnya belum pada posisi default, melainkan: uring-uringan, emosi, tak enak hati, hingga teramalkan: terobos sana terobos sini, kurang beradab selama berkendara mudik, hm… agak sulit membumikan tadabur ayat ini ke dalam hati. Itu kalau kita sebagai pribadi yang aktif mengendalikan kendaraan kita.

Jika hati si perenungnya legowo, baik sebagai pengemudi atau sebagai penumpang yang baik, insyaAllah sambil merem-merem, seperti ada lelehan es ke dalam hati, sejuk segar. Memahami bahwa tak ada yang sia-sia dari penciptaan dan takdir Allah. Semua ada hikmahnya. Alangkah indah dan penuh berkah, bila sedang macet total, ternyata seisi kendaraan malah senyum ceria karena kabar gembira ini. Aneh memang.

Emang, Seberapa Dalam Makna Ayat ini Membersamai Kita Saat Mudik?


Bayangkan kita sedang perjalanan mudik. Tidak bisa dinyana, bahwa tiap mudik pemandangan yang terhampar adalah ciptaan Allah. Yang di udara, memandang langit dan bumi lebih luas. Yang di laut, memandang laut dan langit seperti saling bercermin. Yang di darat, memandang sawah, jalan, mobil berlalu lalang, dan interaksi orang-orang. Semuanya adalah ciptaan Allah. Maka, pas dengan permulaan ayat ini, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi…”. Ibnu Katsir meliputkan makna kalimat ini sebagai: tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ciptaan-Nya yang dapat dijangkau indera, seperti: bintang, darat, laut, pegunungan, pepohonan, dan lain-lain.

“Dan silih bergantinya malam dan siang…” Ada kalanya prosesi mudik melewati masa siang ke malam dan juga sebaliknya. Semua ini adalah ketetapan Allah yang menjadi tanda-tanda (kode-kode) bagi ulul albab, yakni orang-orang yang berakal. Dijelaskan Ibnu Katsir, mereka adalah orang-orang yang bersih dan sempurna akalnya, mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Semoga Allah golongkan para pemudik seperti kita sebagai ulul albab, yang di ayat selanjutnya dijelaskan: mereka punya kebiasaan mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Pada posisi apa saja mereka mengingat Allah. Tidak cukup disitu, mereka juga memikirkan yakni berusaha memahami apa yang terdapat di antara langit dan bumi, sehingga hati mereka mampu menampakkan keagungan Allah berikut kekuasaan-Nya, keluasan ilmu-Nya, hikmah dan rahmat-Nya.

Mari saksamai andai kita menjadi pemudik seperti Syaikh Abu Sulaiman Ad-Darani, “Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, lalu setiap yang aku lihat merupakan nikmat Allah dan ada pelajaran bagi diriku.” Masya-Allah, tak ada yang tersia…

Dari kegiatan dzikr dan fikr selama prosesi mudik inilah, lisan kita memunculkan pemahaman sekaligus doa, yang ditafsirkan Ibnu Katsir berikut ini:

“Ya Rabb, Engkau tidak menciptakan semua ini dengan sia-sia, melainkan dengan penuh kebenaran, agar Engkau berikan balasan kepada orang-orang yang beramal buruk atas apa yang mereka kerjakan, dan Engkau berikan balasan kepada orang-orang yang beramal baik dengan apa yang lebih baik, yaitu surga. Maha Suci Engkau ya Rabb, Tuhan yang jauh dari kekurangan, aib, dan kesia-siaan. Peliharalah kami, selamatkan kami dari siksa neraka.”

MasyaAllah. Indah sekali bila tiap perjalanan mudik, bahkan bila perlu tiap kita berkendara, jauh atau dekat sekalipun - kita bisa mengambil ibrah dari perjalanan kita, mengombinasikan aktivitas dzikr dan fikr untuk bisa menyimpulkan: betapa luas kekuasaan Allah, bahwa sejauh-jauh kita memikirkan hal tersebut, maka kita akan sampai kepada harapan agar kita terbebas dari neraka-Nya, agar Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Semoga kita tidak termasuk dari bagian ayat ini:

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan yang lain)”
(QS Yusuf 105-106).

Allahummarhamnaa bil Qur'aan...
Allahummaa innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu 'anna - Yaa Kariim...

Sumber: Kitab Tafsir Ibnu Katsir
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |