Home » » Kilauan Manfaat dalam Keluangan Menunggu

Kilauan Manfaat dalam Keluangan Menunggu

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 13 Desember 2017 | 14.58.00


Menunggu adalah hal yang acapkali kita temui, setiap hari. Menunggu inspirasi datang tatkala menulis, Menunggu kelas dimulai, menunggu suami menjemput, menunggu KRL datang, menunggu antrian swalayan, menunggu antrian dokter, menunggu janjian kawan, hingga menunggu-menunggu lain yang durasinya belum dapat dipastikan, dan ada keluangan yang dapat dioptimalkan.

Menunggu sejatinya bukan hal yang kita tunggu-tunggu. Bukan hal yang kita harapkan, bahkan seringkali kita bosan, ogah, tidak ridho, kalau ternyata kita harus menunggu. Bila sudah begitu, hati bisa nggrundel, kadang HP dibuka untuk isi waktu: baca-baca chat, browsing macam-macam, hingga main game.

Menunggu dalam sistematika harian ibarat kerikil yang mengisi bejana 24 jam. Bejana itu mulanya kita isi dengan kuliah, cari nafkah, dan tidur malam bervisualisasikan batu-batu besar. Lalu batu yang lebih kecil turut mengisi; meliputi sholat, ibadah, makan-minum, dan buang air. Kemudian kerikil-kerikil yang memenuhi sisa isi bejana yang di antaranya adalah “menunggu”. Sistematika seperti ini membuat kita sadar bahwa menunggu tetaplah mengisi waktu 24 jam kita, yang kelak akan kita pertanggung-jawabkan di hari akhir dengan pertanyaan, “dan waktumu… untuk apa kau habiskan?”

Menunggu adalah takdir –dari sudut pandang Ilahiyah-. Sewajarnya takdir itu pasti datang dari Allah, maka makhluk seharusnya ridho. Kalau tidak ridho, ia galau kepada siapa? Marah kepada siapa? Jengkel kepada siapa? Ujung-ujungnya ke Allah juga bukan? Karena toh, menunggu seringnya lepas dari rencana manusia. Namun, takdir Allah sudah terketik dalam lauhul mahfudz.

Dari beberapa sudut pandang pemikiran di atas, maka menunggu perlu penyikapan yang gentle. Jangan mudah marah, jengkel, yang berujung pada dosa lantaran menafikan takdir-Nya. Minimal hati tenang dan netral, tak terkontaminasi oleh situasi menunggu, baik sebentar ataukah lama. Normalnya hati kita menggelisah. Karena ada saja bisikan syetan yang menelisik pembuluh darah, seperti, “Apaan sih, kok begini saja lama sekali… Ah, ngabisin waktu aja… Ih, payah nih antriannya…”

Serangan syetan pertama wajar bila kita rasakan. Selanjutnya, apa upaya kita memberangus bisikan syetan itu? Yuk, telisik sisi manfaat yang berpotensi memberlimpahkan pahala!

1. Membaca Quran
Prioritas pertama dipilih karena kegiatan ini cukup memberi pengaruh agar hati menenang. Agenda ini tidak terlalu memberatkan fikiran, sehingga hati mudah ternetralisir. Ada dua pertimbangan mengapa kita perlu memprioritaskan “membaca Quran”:

a.    Satu huruf sepuluh kebaikan.
Secara kuantitas, jauh lebih berlimpah daripada kegiatan lain dengan durasi waktu yang setara. Dalilnya: Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

b.    Lebih prioritas daripada dzikir dan doa.
Dalilnya: Dari Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Allah yang maha suci dan maha tinggi berfirman : "Barang siapa yang disibukkan oleh Al Quran dari berdzikir kepada Ku dan meminta kepada Ku, maka aku akan memberikan kepadanya pemberian yang lebih utama yang pernah diberikan kepada orang orang yang meminta sesuatu kepada Allah ta’ala. Allah berfirman, “Dan keutamaan perkataan Allah (Al Quran) terhadap segala perkataan, adalah seperti keutamaan Allah melebihi seluruh makhluknya. (HR Tiirmidzi). Menyambung dari hadits tersebut, Syaikh (Ibn Utsaimin) –rahimahullah- ditanya: Manakah yang lebih utama, dzikir atau membaca al-Qur’an? Beliau menjawab: Perbandingan keutamaan antara dzikir dengan al-Quran: Al-Qur’an secara mutlak (secara umum) lebih utama dari dzikir. Tapi dzikir ketika ada penyebab-penyebabnya lebih utama dibandingkan membaca (al-Quran). Contohnya: dzikir (yang sesuai sunnah) setelah selesai sholat, lebih utama di waktunya dibandingkan membaca al-Quran. Demikian juga menjawab seruan muadzin lebih utama pada waktunya dibandingkan membaca al-Quran. Demikian (seterusnya). Adapun jika pada dzikir itu tidak ada penyebabnya, maka membaca al-Quran adalah lebih utama (Majmu’ Fataawa wa Rosaail Ibn Utsamin (14/242)).

Hal-hal terkait membaca Quran tatkala menunggu:
  • Pakai smartphone lebih mengurangi rasa minder kita. Bila tidak minder, pakai mushaf kertas tidak mengapa.
  • Perhatikan suara agar tidak mengganggu sesama. Suara pelan atau sekadar komat-kamit cukup menenangi jiwa dan sekitar, apalagi di ruang publik.
  • Bila menunggu tiba-tiba selesai, kita perlu memperhatikan waqof agar tidak memotong arti. Lebih nyaman bila kita punya target-target kecil sampai ayat sekian kemudian dicukupkan, lalu dilanjutkan dengan dzikir mutlak.

2.    Memurajaah/Mengulang-ulang Hafalan
Level ke-2 ini butuh ketenangan yang lebih memang, sehingga bisa fokus melafalkan hafalan yang disambi dengan menunggu. Boleh juga sambil intip-intip mushaf berwujud smartphone. Jangan ragu bila hafalan macet sehingga berkali-kali diulangi. Doa kita, semoga Allah menghitung pengulangan huruf kita sebagai 10 kebaikan dikali jumlah huruf yang dilipatgandakan. Stay-murajaah!

3.    Berdzikir Mutlak
Lawan kata muqayyad (tertentu dan terikat) adalah mutlaq (boleh kapan dan dimana saja, kecuali tempat bernajis). Dzikir ini sangat ringan diucapkan, namun sangat berat timbangan kebaikannya dan sesuatu yang amat dicintai oleh Allah. Dzikir ini meliputi bacaan tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan istighfar, dan zikir-zikir lain  yang dianjurkan dilafadzkan dalam setiap waktu dan kesempatan.

4.    Membaca Channel atau Menonton Video Ustadz yang Membawa Manfaat
Nah, bagi yang kuota (internet)-nya berlimpah dan masih belum nyaman dengan 3 pilihan di atas, teknologi telah menyediakan aplikasi yang dilengkapi channel para asatidz tentang kajian Islam. Dengan Telegram misalnya, kita bisa memperoleh kajian tertulis dari ustadz-ustadz yang kita subscribe. Atau banyak sekali website yang berisi tulisan-tulisan mengenai ilmu syariah. Atau bila smartphone kita dilengkapi headset, bisa pula kita menonton channel youtube tentang kajian Islam. Untuk merasakan pentingnya aktivitas ini, mari kita setrum pemahaman kita dengan hadits ini: “Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim). Hm... Banyak sekali jalan kebaikan bukan? Alhamdulillah.

Demikianlah strategi-strategi untuk memanfaatkan aktivitas kerikil bejana 24 jam berupa menunggu. Agar jangan sampai menunggu kita diisi dengan omelan hati, atau aktivitas lain yang nir-manfaat. Alangkah besar keutamaan manusia yang selalu mengejar kebaikan walau dalam tiap detik masa tunggunya.

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)

Sejatinya, menunggu yang diluangkan untuk kebermanfaatan butuh pembiasaan. Sekali-dua kali tak menyadari kesia-siaan waktu tunggu, perlulah kita berdoa agar Allah sensitifkan hati. Agar Allah membukakan hati. Agar kita bisa konsisten memanfaatkan waktu yang sedikit tersebut untuk hal-hal yang kaya bermanfaat. Karena tanya Allah sudah pasti tatkala kiamat kelak, “Dan waktumu... Untuk apa kau habiskan?” (potongan HR Tirmidzi 2340)

Sumber-sumber:
1.    http://ilwansupriyadi.blogspot.co.id/2014/01/zikir-mutlaq.html
2.    https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html
3.    http://salafy.or.id/blog/2015/09/22/dzikir-atau-bacaan-al-quran-yang-lebih-utama/
4.    https://muslimah.or.id/7545-keutamaan-menuntut-ilmu.html
5.    https://rumaysho.com/2322-meninggalkan-hal-yang-tidak-bermanfaat.html
6.    https://blogosd.wordpress.com/2012/02/01/engkau-habiskan-dengan-apa-masa-mudamu/

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |