Home » » Renungan Quran Camp (Program Pra-RQ)

Renungan Quran Camp (Program Pra-RQ)

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 11 September 2017 | 17.08.00

Quran Camp dan Olahraga Lari

Saat kita olahraga lari, beberapa menit awal merupakan masa yang berat. Nafas terengah, kaki mungkin agak sakit, jantung berdebar. Namun 15 menit berikutnya (masih keadaan lari), biasanya seluruh tubuh merasa santai, terbiasa. Perlahan nafas teratur, kaki mulai terbiasa nyeri, jantung menemukan pola detaknya. Kita bahkan mulai menikmati pemandangan sekeliling, indah, hijau, lupa akan kondisi tubuh yang sudah beradaptasi dengan kondisi lari.

Saudaraku sekalian, ana juga merasakan demikian dalam hari hari awal Quran Camp. Pertama, kita akan merasakan lelah, ngantuk, godaan berat, tapi jangan coba kita berhenti. Mungkin rehat sejenak tak mengapa, namun tetaplah dalam visi. Berapa menit kita mulai tilawah, rehat, tilawah lagi, rehat lagi, tilawah dan seterusnya. Lakukan dengan konstan.

Bila tubuh sudah mulai beradaptasi, ngantuk tiba tiba hilang, kita bisa mulai menghayati sedikit demi sedikit ayat yang terbaca. Ada kata "adzaabun aliim", kita pun berdoa mohon perlindungan, ada kata "ghafurur rahiim", kita pun berdoa mohon diberikan rahmat.

Lama lama ngantuk hilang, keteraturan yang berapa menit tilawah berapa menit rehat, tiba-tiba mulai tak teratur lagi. Yang ada tinggalah rasa penasaran menapaki ayat demi ayat quran. Terus tilawah, nyamaan tilawah, barangkali mungkin ada yang baper, sambil menitikkan air mata kita tilawah.

Saudaraku, proses dari bosan dan ngantuk tilawah sampai dengan teradaptasi nyaman begitu, masing masing dari kita berbeda beda. Ada yang cepat ada yang lama.

Pada intinya Allah sedang menguji kita. Apakah kita serius membersamai Quran? Atau tidak? Bila tidak serius, kita bisa jadi mengeluh dan berhenti stag. Namun bila kita serius, selama apapun waktu pembiasaan tilawah ini sampai nyaman, InsyaAllah yang kita lihat hanyalah pahala bertaburan, malaikat menaungi kita, ketentraman menyesapi hati kita, seluruhnya adalah janji pahala Allah buat kita. Apalagi di hari hari awal Dzulhijjah yang penuh keberkahan seperti ini.

Mari kita ikuti Quran Camp ini, walau kita dalam rasa lelah, capek, dan penuh ujian keimanan. Mari kita bersama mengikutinya, walau kita saling jauh.


Yang sedang dimabuk Quran,



***


Quran Camp dan Cita-cita Besar

Seorang pelari memiliki cita-cita besar menjadi juara di olimpiade internasional. Untuk meraih cita-cita itu, ia bagi dalam turunan target-target kecil, seperti 100 meter harus dicapai dalam berapa detik, 200 meter harus dicapai dalam sekian detik, begitu seterusnya. Ia kemudian naikkan standar, membiasakan diri lagi, begitu seterusnya. Sampai ia dapatkan cita-cita besar itu.

Saudaraku, hal ini tak berbeda dengan project Quran Camp. Selama 5 hari, kita ditarget bisa khatam Quran. Kita pun turunkan target khatam itu menjadi sehari 6 juz.

Kunci utama berupa optimisme, niat kuat, dan mujahadah karena Allah kudu ditancapkan. Target 6 juz per hari diturunkan lagi lebih detail dalam wujud target-target instan. Misalnya: pagi ini terniatkan bisa 2 juz. Ternyata Allah membuat urusan kita makin mudah, akhirnya kita malah bisa 3 juz. Misalnya lagi, malam ini terniatkan 2 juz. Ternyata lelah, kita pun paksa diri, mujahadah diri. Hingga kadang kita tertidur bersama Quran. MasyaAllah.

Saudaraku, sesungguhnya kita sedang diarahkan untuk mengatur hidup kita lebih detail. Cita-cita khatam 5 hari seolah tampak di depan mata, kapan saja, dimana saja. Mau tidak mau semuanya menjadi teratur. Kita akan merasa betapa berharganya waktu-waktu kita. Di antara kita, boleh jadi terasa dalam relung jiwa, Allah sedang memudahkan urusan-urusan kita yang lain. Itulah iman.

Saudaraku, alangkah hebatnya bila kita slalu bisa melihat cita-cita kita seperti kita bersama Quran selama Quran Camp ini. Begitu pula ketika kita memiliki cita-cita duniawi, akan menjadi kuat diri kita bila kita slalu bisa melihat agungnya cita-cita itu.

Setiap kita memiliki cita-cita besar. Tapi, satu yang perlu kita yakini, bahwa Quran tidak mengganggu kita dalam mengejar cita-cita besar kita. Justru Quran menjadi penguat agar cita-cita kian tercapai. Karena bersama Quran, ada cita-cita yang jauh lebih besar. Yang hanya orang-orang yang beriman saja yang bisa melihatnya. Ridho Ilahi, jannah-Nya, melihat wajah-Nya.

Semoga Allah memudahkan setiap cita-cita kita, dari target-target kecil tiap harinya, cita-cita duniawi kita di masa depan, hingga cita-cita terbesar meraih ridho Nya.

Aamiin

***

Quran Camp dan Manajemen Prasangka

Ketika pertama kali mendapatkan telepon untuk menjalankan misi menyelamatkan dunia, Tom Cruise dalam Mission Impossible tak lantas murung, sedih, atau galau gulana. Tak ada waktu untuk itu. Tokoh protagonis tersebut justru makin semangat menyambut tugas mulianya, mengumpulkan bekal, antusias menjalankan misinya. Sejatinya, begitu pulalah seharusnya santri RQ ketika pertama kali menerima titah komitmen untuk bertilawah 6 juz sehari alias 30 juz 5 hari.

Tom Cruise adalah orang pilihan, satu-satunya agen yang ditugaskan untuk misi mulia tersebut. Santri RQ juga orang-orang pilihan, merekalah segelintir mahasiswa PKN STAN yang ditugaskan untuk menyelesaikan 30 juz 5 hari sebelum perhelatan sebenarnya di Rumah Quran STAN. Karena Quran Camp adalah program pra-Rumah Quran STAN.

Dalam menerima tugas dimana kita sudah berkomitmen akan menjalankan sebaik-baiknya, seharusnya pikiran kita langsung memositif, bukan menegatif. Memositif berarti melihat segala kebaikan yang timbul di dalamnya, seperti: pahala, ketenangan, keberkahan, kebaikan, syafaat yang menjanjikan, popularitas di langit, dan lain sebagainya. Memositif dalam ibadah memang berat, karena hanya orang-orang berpandangan tinggi yang bisa menyaksikan kelezatannya. Ibarat orang sholat di awal waktu, mereka mampu mengindrai pahala besar dibalik kesulitan dan kerepotan ketika menjalankannya. Sedangkan menegatif itu sangat mudah dan banyak yang tertipu dengannya, seperti menonton bola ketika terdengar adzan, begitu mudah diam memandang keasyikan daripada memenuhi repotnya sholat di awal waktu.

Memositif dalam menerima titah tugas menjadi paket pembelajaran permulaan di Rumah Quran STAN. Pikiran kita yang jernih menerima tugas, melihat kebaikan, dan menyaksikan segala efek positif yang akan terjadi insya-Allah akan dibalas Allah dengan keridhaan-Nya. Apa wujud keridhaan-Nya? Tak lain ialah kemudahan dari Allah dalam menjalankan tugas berat bernilai pahala tinggi tersebut.

Prasangka permulaan ini semoga menjadi sarana muayasah/adaptasi untuk tugas-tugas berikutnya di RQ STAN. Diawali dengan memositif, menjauhkan dari dari menegatif, dan optimis dalam proses selama menjalankannya. Bila hati ikhlas, Allah akan ridho dengan menelurkan berbagai macam kemudahan. Radhiyallahu 'anhum waradhuu 'anhu - Allah ridha dan kita ridha...

Bisa jadi seharusnya kita tersibukkan ini itu, karena namun fokus jalankan tugas 6 juz per hari, Allah justru menyibakkan waktu-waktu kita begitu luas. Logika langit lints dimensi waktu semacam inilah yang seharusnya menjadi salah satu kepercayaan kita terhadap Allah sebagai penguasa semesta (bukan kita sebagai penguasa logika duniawi kita masing-masing). 

Ya Allah, bukakanlah keberkahan waktu-waktu kami. Bukakanlah pikiran kami untuk menapaki jalan kebaikan sesulit apapun. Karuniakanlah kepada kami pundak yang kuat, agar kami mampu menopang amanah yang berat. 

Allahummaa laa sahlaa illaa maa ja'altahuu sahlaa, wa anta taj'alul haznaa idzaa syi'ta sahlaa. Ya Allah tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Alhamdulillah
Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |