Home » » Management Reframing – TFM Rumah Quran

Management Reframing – TFM Rumah Quran

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 31 Juli 2017 | 08.49.00


Sekilas TFM

Rumah Quran Daarut Tarbiyah binaan Ustadz Fadlyl Usman rahimahullah telah menjelma menjadi pesantren tahfidz yang berbasis kampus maupun takhasus. Berbasis kampus, artinya membersamai kampus seperti UI, STAN, STIS, IPB, LIPIA, dan UIN agar sebagian kecil mahasiswa/i nya tershibghah lingkungan Qurani. Berbasis takhasus artinya memang fokus mencetak penghafal Quran 30 juz sebagaimana Rumah Quran Pusat di Depok.

Dalam mengelola lokasi yang berjauhan, agar aspek standardisasi pengelolaan terjaga, sekaligus sebagai sarana capacity building di level pengelola dan pembina (musyrif) asrama, maka diperlukan adanya TFM (training for musyrif sekaligus training for management).

TFM Rumah Quran Daarut Tarbiyah diselenggarakan pada Sabtu, 29 Juli 2017, tepat pada hari lahir sang ustadz. Dua sesi yang digelar yakni sesi psikologis dalam menghadapi para santri, dan sesi manajerial dalam mengarungi bahtera kedinamikaan Rumah Quran. Sesi pertama digelar pagi sampai Dhuhur, sesi kedua bakda Dhuhur sampai 16.30.

Sharing Knowledge Sesi Manajerial

Menghadirkan Ustadz Demi Dwi Jayanto, aula RQ lantai 4 terdengar riuh oleh semangat menjawab jargon. Dauroh RQ – Kuatkan Iman, Cerdaskan Diri, untuk Mengabdi, Allahu Akbar. Apalagi jargon ditambah dengan muatan garing sang moderator: Ilmu Manajemen – Masuuuk (sambil memegang kepala).

Manajemen itu penting ketika sumber daya kita terbatas. Karena waktu terbatas, diperlukan manajemen waktu. Karena dana terbatas, dibutuhkan manajemen keuangan. Karena SDM terbatas, dibutuhkan manajemen SDM. Karena dakwah Quran ini strategis sementara sumber daya yang dimiliki terbatas, diperlukan manajemen strategis. Karena cakupan pengelolaan RQ sangatlah banyak, dibutuhkan manajemen secara keseluruhan. Coba kalau tidak terbatas: waktu tanpa batas, uang selalu saja ada, SDM melimpah ruah, hm… tidak perlu itu manajemen. Demikian sekilas renungan.

Nah, memasuki sesi Ustadz Demi yang sudah melanglang buana dalam ilmu manajerial berbagai bidang, ilmu SOP (standard operating prosedures), dan ilmu-ilmu yang lain, maka dicantumkanlah judul: Manajemen Framing – Merekonstruksi Ulang Organisasi.

Sudah Banggakah Kita Bersama RQ?

Mengawali paparan, hadirin satu per satu diabsen. Dari mulai RQ lahir tahun 2008, siapa yang sudah hadir, tahun 2009 hingga 2017, satu per satu angkat tangan. Analogi dari absen ini seperti sebuah keluarga. Ketika belum punya anak, abi-umi sedang berproses mengelola organisasinya dengan baik. Ketika anak muncul satu, terjadi perubahan pengelolaan, ada yang perlu diperhatikan. Ketika anak dua, tiga, empat, dan seterusnya pengelolaan keluarga tiap kali punya tambahan anak pasti akan berbeda.

Mengomentari foto dauroh tahfidz di bulan Juli tahun 2012, ustadz Fadlyl terlihat gagah di tengah frame, diikuti para musyrif dan santrinya di kiri-kanan ustadz. Kenapa ustadz di tengah? Jawabnya karena beliau tokoh sentral, pembentuk visi, pemberi semangat kepada kiri-kanannya.

Sang ustadz memiliki kemauan kuat, visi yang jelas, dan mampu mensupport para musyrif dan santri untuk menjadi besar, yakni menjadi keluarga Allah – dengan menghafal Quran 30 juz. Sang ustadz menjadikan Rumah Quran DATA sebagai tancapan tonggak untuk merealisasikan visi besarnya tersebut. Pertanyaannya adalah: apakah orang-orang di dalam RQ (musyrif, santri, atau manajemennya) sadar bahwa RQ itu BESAR?

RQ besar kenapa? Karena santri-santrinya berasal dari seluruh Indonesia, sudah menasional. RQ besar kenapa? Karena visinya besar, mencetak keluarga Allah, mencetak para penghafal dan pejuang Quran. Sehingga layak bahwa RQ ini besar. Begitulah sedikit gambaran pemahaman hadirin dalam menyadari kebesaran RQ.

Mewujudkan kebesaran organisasi sekaliber RQ dapat diwujudkan dengan seragam kebanggaan, postur tubuh dan cara duduk yang tegap (analogi kru trans TV dengan seragam bengkel warna hitamnya, dimana pun berada, mereka bangga). Nah, sudahkah kita yang bergabung dengan RQ ini bangga dengan RQ apa adanya seperti ini? Mimpi besar yang siap diwujudkan ini? Semangat tanpa padam yang siap dikonsistenkan ini?

Kalau bergabung dengan RQ saja sudah minder: “saya gak yakin bisa 5 juz dalam setahun” atau “saya gak yakin bisa membantu RQ dalam banyak hal”, maka belum layak tuk lolos kualifikasi menjadi bagian dari RQ. Nah, mind set inilah yang kudu ditancapkan dalam dada para penggerak RQ, baik manajemen, musyrif, maupun santri-santrinya.

Aset SDM dan Visi yang Kuat

Dalam sesi berikutnya ditampilkan sebuah video cukup inspiratif. Sebuah cerita tentang Umar bin Khatab radhiallahu 'anhu yang mengajak sahabat-sahabat untuk berdoa. Salah seorangnya mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, penuhilah ruangan ini dengan emas dan perak agar aku dapat menyedekahkannya di jalan Allah.” Sahabat lain berdoa, “Ya Allah, penuhi ruangan ini dengan emas sebesar gunung uhud agar aku langsung bisa memberikannya di jalan Allah.” Umar bin Khatab tetap diam, hingga ia pun menceritakan perihal doa nya, “Aku berdoa kepada Allah agar ruangan ini dipenuhi orang-orang seperti Abu Ubaidah ibnu al-Jarrah, Muadz bin Jabal, dan sahabat-sahabat Nabi Saw yang lain agar aku dapat menyebarkan Islam di dunia dan menguasai dunia.”

Kita menyadari akan pentingnya SDM. Bukan SDM yang biasa-biasa saja, bukan. Bahkan Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu menyebut nama-nama sahabat. Artinya untuk menyebarkan Islam, termasuk menyebarkan nilai-nilai untuk berinteraksi dengan Quran, kita tak butuh orang-orang yang tidak serius. Kita butuh orang-orang dengan kualitas tangguh. Nah pertanyaan berikutnya, setelah ustadz Fadlyl Usman meninggalkan kita, apakah kita sekuat visinya ustadz? Apakah para staf, anggota organisasi besar bernama RQ ini memiliki kemauan kuat dan visi yang teguh seperti ustadz Fadlyl miliki?

Kita dapat pahami bahwa organisasi yang kuat adalah ketika kekuatan visi pendirinya mampu diinternalisasi secara kuat oleh para pengikut/penerusnya. Karena sumber daya manusia yang berkualitas jauh lebih penting daripada sumber daya keuangan.

Mengukirkan Visi

Renungan dapat kita arahkan kepada manusia terbaik sepanjang zaman, Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak meninggalkan mushaf Quran, beliau juga tidak meninggalkan harta yang banyak. Namun beliau meninggalkan Al-Quran. Tidak dalam bentuk fisik, atau ucapan-ucapan. Melainkan beliau meninggalkan Quran ke dalam dada para sahabat radhiallahu anhum. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam mengukirkan Quran dalam hati para sahabat sebelum berpulang. Agar apa? Agar pekerjaan Nabi tertransfer dengan baik dan terus berjalan tanpa kehadiran Sang Nabi dan Rasul.

Pekerjaan Rumah Quran (tidak sebesar pekerjaan Nabi memang), akan tetapi tetaplah penting. Bahkan untuk saat ini, bobotnya bisa jadi lebih besar dibandingkan dengan bobot pekerjaan-pekerjaan lainnya. Nah, tantangannya adalah bagaimana kita yang mengemban amanah pekerjaan RQ ini mampu mengukirkan ke dalam hati masing-masing, bahwa pekerjaan ini sangatlah besar nilainya, sehingga layak dialokasikan bahkan diprioritaskan dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Lebih jauh lagi, bila kita menilik langsung proses bisnis RQ, pertanyaannya lebih detail, “Siapkah kita ditempatkan di belahan bumi Indonesia manapun untuk menjalankan tugas Rumah Quran?”

Tantangannya sejauh ini cukup jelas: “bagaimana musyrif merasakan kekuatan visi ustadz yang telah meninggalkannya? Dan bagaimana musyrif mentransformasikan ke dalam santri agar ikut merasakan pula kekuatan visi tersebut, sehingga tergambar jelas: kelak santri akan menjadi musyrif dan akan mengukirkan semangat yang sama kepada santri-santri, begitu seterusnya.”

Salah satu visi yang cukup mengena adalah bagaimana kita merasakan bahwa pekerjaan RQ yang diemban adalah pekerjaan dakwah. Dan dakwah itu, siapapun penggeraknya, siapapun yang mendakwahkan orang lain untuk ikut berdakwah, seolah-olah mereka sedang menyampaikan pesan, “InsyaAllah kita akan bertemu di surga Allah kelak.” Tentunya tugas ini perlu didukung dengan adab/behavior organisasi, pesan terbaik, tanpa menyakiti hati, tanpa membuat jauh, dengan hikmah dan mauidzoh hasanah.

Untuk mendukung semangat transfer visi ini, role play pun digelar. Santri mengucapkan unek-uneknya kepada musyrif. Musyrif memberikan feed back untuk memotivasi santri.




Masuk ke Transformasi Teknis

Secara dalil, kita sadar akan pesan Ar-Ra’du ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Secara teknis pula, dalam menyadari akan betapa mulianya tugas RQ ini, kita tak boleh melalaikan aspek materi. Hal ini berbeda penanganan. Salah satu outputnya adalah bagaimana musyrif dan manajemen tercukupi kebutuhannya.

Bicara studi banding, Rumah Quran sejenis dengan Darul Quran. Dalam penyelenggaraannya, DQ mencanangkan pendaftaran santri masuk 30 juta. Rumah Quran 7 juta. Karena dalam DQ, musyrif adalah pegawai. Nah, selanjutnya, bagaimana RQ melihat posisi musyrif? Disinilah penting adanya perencanaan teknis dalam pengelolaan agar kebutuhan sesuai pada porsinya. Istilah teknisnya: rakor (rapat koordinasi). Rakor sejatinya adalah implementasi pertahanan terbaik agar organisasi selamat, yakni dengan tetap menyerang, artinya tugas-tugas RQ tetap dilangsungkan, organisasi harus terus bergerak ke depan.

Masih dalam rangka memahami transformasi teknis. Ternyata ada kalanya musyrif khawatir, sepeninggal ustadz Fadlyl, RQ menjadi kurang rapi. Sepeninggal ustadz Fadlyl, santri menjadi lebih meremehkan (karena tidak ada sarana mutabaah langsung dari ustadz), ternyata pula dibutuhkan ketegasan dari sosok seperti ustadz Fadlyl.

Kekhawatiran berupa masalah dalam menjalankan asrama RQ dapat disiasati dengan penerapan SOP. Bila santri bermasalah A solusinya X. Masalah B solusinya Y, masalah C solusinya Z, begitu seterusnya, didaftar menjadi satu dan dijadikan panduan para musyrif. Karena untuk membentuk kualitas yang bagus, harus ada standar-standar penerapan solusi tertentu atas masalah yang berbeda-beda. Nah, ini menjadi PR RQ untuk membuat semacam buku manual musyrif.




Tiga Kriteria Pertumbuhan Organisasi Sukses
  • Terus bertambahnya leaders (dalam RQ bisa diejawantahkan dalam sosok musyrif, koordinator, dan mudhir).
  • Infrastruktur semakin berskala tinggi
  • Kemampuan menavigasi/mengarahkan kebijakan organisasi

Closing Statement
  • Kita patut bersyukur. Betapa langkanya ada organisasi seperti RQ, banyak santrinya, banyak penggeraknya, mencetak penghafal Quran tiap tahunnya. Maka, kita patut bersyukur. Semoga lelahnya kita mengurusi ini berbuah manis di dunia dan juga akhirat kelak.
  • Kita kudu ikhlas. Ikhlas akan keterbatasan yang dimiliki individu maupun organisasi RQ. Dan kita harus yakin bahwa Allah akan memudahkan kita, karena kita meniti jalannya untuk menolong agama-Nya.
  • Kehilangan pemimpin bukan alasan untuk berhenti apalagi berjalan mundur. Kehilangan pemimpin justru seharusnya menjadi tonggak bersejarah organisasi ini untuk menyusun organisasi agar lebih solid lagi, lebih terstruktur, professional, dan desentralisasi.
Semoga bermanfaat.
Allahummarhamnaa bil Qur’aan
Allahummaj’alnaa min ahlul Qur’aan.
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |