Home » » Ramadhan dan Hukum I Newton

Ramadhan dan Hukum I Newton

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 27 Juni 2017 | 06.34.00

Sumber gambar: disini

Bertubi-tubi dalil naqli bertebaran selama bulan Ramadhan, mulai dari yang paling shahih hingga yang paling lemah sumbernya. Hampir semuanya berkisar tentang pemanfaatan waktu Ramadhan, sedikit di antaranya mengulas tentang bagaimana mempertahankan semangat Ramadhan di bulan-bulan selanjutnya. Nah, kalau kita bergeser ke dalil aqli, maka izinkan ulasan ini mengarah ke pelajaran fisika SMA, berupa Hukum I Newton dalam logika datang dan pulangnya Ramadhan sang tamu istimewa kita.


Hukum I Newton yang bertajuk kelembaman benda memahamkan kita bahwa,”Benda yang diam akan selamanya diam sampai ada gaya F yang menggerakkannya. Sebaliknya, benda yang bergerak akan selamanya bergerak sampai ada gaya f yang mendiamkannya.” Pilihan bahasa ini sudah disederhanakan agar mudah dipahami.

Fenomena hukum I Newton tercermin saat kita berusaha menggerakkan sepeda yang awalnya diam, biasanya membutuhkan gaya dorong berupa kayuhan yang lebih besar daripada ketika kita mengayuh sepeda yang sebelumnya sudah bergerak. Artinya, ada kecenderungan benda ingin terus diam, bila ia dimulai dari diam. Untuk mulai menggerakkannya, perlu gaya dorong F berupa kayuhan kaki kita.

Sebaliknya, hukum kelembaman juga tercermin ketika kita berusaha mengerem laju jalan sepeda, biasanya orang yang membonceng akan sedikit terpelanting ke depan. Artinya, ada kecenderungan benda ingin terus bergerak, kalau ia sudah terlanjur nyaman bergerak. Oleh karena itu, perlu adanya gaya hambat f berupa rem sepeda.

***

Apa kaitannya hukum fisika ini dengan Ramadhan? Sedikitnya, ada dua pelajaran “aqli” dari teori kelembaman ini.

Pertama; Peralihan awal Ramadhan

Ketika kita bertemu di awal bulan Ramadhan,mind-set kita baik, semangat kita baik, niat kita baik, ibadah kita baik, akhlak kita baik, bahkan kita berlomba-lomba untuk menambah beragam macam kebaikan. Namun di balik itu, keburukan belum efektif dapat terkontrol. Kita kadang menyebut fenomena ini dengan dalih, “Katanya syetan dibelenggu saat Ramadhan, kok kriminal tetap merajalela?”

Nah kita akan jawab pertanyaan fantastis ini dengan alasan bahwa , “Allah telah mendorong kebaikan Ramadhan, maka kita bersemangat ibadah. Allah pun membelenggu keburukan selama Ramadhan, namun muncul jeda waktu antara dibelenggunya keburukan oleh Allah hingga manusia itu sendiri betul-betul memberhentikan keburukannya.” 

Analoginya begini, ”Ketika kita mengaduk kopi, lantas melepaskan adukan, gerakan mengaduk masih saja berputar. Masalahnya adalah maukah gaya hambat f kita berusaha memberhentikan adukan, atau justru kitalah yang malah melanjutkan adukan keburukan? Dengan kata lain, keburukan terus saja terjadi walau di bulan Ramadhan? Na’udzubillahi min dzaalik.

Semoga awal Ramadhan lalu, kita berhasil menghentikan adukan keburukan kita atas izin Allah, dan sebaliknya semoga kita berhasil mengayuh sepeda ibadah kita selama Ramadhan.

Kedua; Peralihan akhir Ramadhan

Ketika berjumpa di akhir Ramadhan, niat kita baik, semangat kita baik, ibadah kita diperkencang, begitu pula sedekah dan tukar uang dilakukan untuk bagi-bagi saat lebaran. Namun di balik itu, tahukah kalau kita sedang disasar syetan agar kebaikan selama Ramadhan berhenti? Tahukah kita bahwa kita sedang ditarget syetan agar keburukan seusai Ramadhan nanti bakal dimulai lagi?

Hukum Newton I pun berlaku di sini. Saat Ramadhan pulang keharibaan, logika kita merasa bahwa kita perlu berubah. Sepeda kebaikan pun tak dilanjutkan lagi kayuan gaya dorong F-nya. Hasilnya, aspal-aspal keras kehidupan memunculkan gaya hambat f yang lambat laun memperlambat gerak kebaikan kita, atau parahnya menghentikannya secara total. Sebaliknya untuk masalah keburukan juga demikian. Yang sudah lama maksiat tak dilakukan, lambat laun didorong untuk menggeliat kembali hingga lama-lama makin nyaman lagi. Baik logika melambatnya kebaikan dan melajunya keburukan ini, didukung oleh anggapan bahwa “SAYA KHAN SUDAH TIDAK DI BULAN RAMADHAN YANG PENUH BONUS PAHALA DAN BALASAN AMPUNAN.” Na’udzubillah…

Bagaimana melanjutkan akhir Ramadhan dengan Baik?

Ketika Ramadhan sudah berpulang dan taqwa (tattaqun) menjadi oleh-oleh utama bersanding kesyukuran (tasykurun) sekaligus kebenaran (yarsyudun), sejatinya Allah menghentikan gaya dorong ibadah kita dan melepaskan belenggu syetan pembisik nafsu kita. Maka seharusnyalah menjadi tugas kita bahwa kebaikan-kebaikan yang sudah terlanjur dibiasakan, agar terus kita lanjutkan gaya dorongnya dengan kayuhan keimanan. Seharusnyalah pula bahwa keburukan-keburukan yang sudah terlanjur dihentikan, agar terus kita belenggu dengan rem keimanan.

Bila di dalam bulan Ramadhan, Allah telah mendukung kita melalui ilham kebaikan dan lingkungan yang memudahkan pengaktualisasiannya juga dalam menjauhi keburukan yang ada, maka di luar bulan Ramadhan, semua tergantung kepada kita. Maukah kita lanjutkan gaya dorong kebaikan yang sudah dibiasakan? Maukah kita lanjutkan penghentian keburukan yang sudah terlanjur dihibernasikan?

Benar apa kata pahlawan kita, “Mempertahankan kemerdekaan lebih berat daripada meraihnya – melanjutkan berjalannya kebaikan dan berhentinya keburukan lebih berat daripada memulainya di bulan Ramadhan.”

Semoga Allah memberikan keberkahan atas bulan-bulan selanjutnya, setelah Ramadhan...

Barakallahufiikum
Allahummarhamnaa bil Qur’aan

Allahummaj'alnaa min ahlul Qur'aan

(schiz)
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |