Home » » Ramadhan dan Dragon Ballz vol. 33

Ramadhan dan Dragon Ballz vol. 33

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 28 Juni 2017 | 21.22.00

Sumber gambar: disini
Ada yang menarik di komik Dragon Ball volume 33. Dalam komik Akira Toriyama yang sudah dikartunkan bahkan difilmkan tersebut, ada dua scene menarik yang dapat kita tarik ibrahnya.


Scene pertama, berkisah tentang pertempuran Trunk dengan Cell (sang antagon).

Trunk (protagon) yang sebelumnya sudah berlatih di ruangan 1 tahun = 1 hari melakukan kesalahan fatal saat duel melawan Cell (antagon). Ia memang berhasil memaksimalkan kekuatan super saiya-nya, menghasilkan kekuatan yang menanjak naik, terus naik, makin naik, bahkan angka kekuatannya jauh melebihi Cell. Membuat semua yg di lokasi pertempuran terkaget-kaget. Namun, yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Dengan kekuatan yang berlipat-lipat dan badan yang super kekar itu, pukulan demi pukulan yang dilesakkan Trunk justru gagal menemui sasaran, kalah cepat dengan Cell yang terus menerus menghindar. Sebaliknya Cell berkali-kali sukses melancarkan pukulan demi pukulan ke tubuh Trunk, perlahan tapi pasti. Dalam kegagalannya, Trunk berpikir, apa yang salah?

Scene kedua, berkisah tentang SonGoku dan SonGohan yang sedang berlatih dalam ruang 1 tahun = 1 hari.

SonGoku mengajarkan SonGohan untuk tidak menaikkan kekuatan semaksimal mungkin yang dapat berefek pada kecepatan gerak yang berkurang (seperti dialami Trunk). Sebaliknya, mereka memilih berlatih bagaimana membiasakan diri dalam wujud super saiya. Level kekuatan yang sejatinya dicapai dalam kondisi amarah itu pun berhasil dibiasakan dalam kondisi normal. Keluar dari ruang 1 tahun = 1 hari, penampilan SonGoku dan SonGohan tampak berbeda. Walau dalam wujud super saiya, namun mereka kelihatan lebih segar, lebih santai, telah siap melawan Cell.

Apa ibrah dari dua scene tersebut?

Ada sebuah mesin bernama ruang 1 tahun = 1 hari sebagai tempat berlatih di komik tersebut, dimana 1 hari di dunia setara dengan 1 tahun di mesin tersebut. Terlepas dari nyata tidaknya, kita bisa mengais ibrah bahwa inilah sejatinya umpama dari ramadhan 1438 H yang telah kita lalui.

Ramadhan ibarat tempat latihan, ayyamam ma'dudat - beberapa hari tertentu yang sedikit amal di dalamnya senilai kucuran pahala di bulan lain, apalagi ada lailatul qadr yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Hm tak beda jauh dengan konsep 1 tahun = 1 hari bukan?

Nah, dalam komik tersebut, apa yang dilakukan Trunk dan SonGoku merupakan dua hal yang bertolak belakang. Trunk memang lebih dulu berlatih di ruang (Ramadhan), namun ia gunakan hasil latihannya tersebut untuk menunjukkan kekuatan maksimal yang dapat dicapainya. Ia gagal memukul mundur musuh karena kecepatannya justru menurun tajam. Ia pun kewalahan. 

Sama seperti bila kita hadir di Ramadhan demi untuk memaksimalkan kekuatan, lantas di luar ramadhan kita praktekkan ibadah-ibadah kita hanya pada momen-momen tertentu saja, sembari memaksimalkan kekuatan. Hasilnya: kita kuat pada satu indikator (high power) tapi lemah pada indikator yang lain (speed and agility). Belum lagi kita ditekan oleh situasi. Tidak nyaman dan tidak santai bergerak karena mudah dipatahkan oleh syetan (anggaplah Cell dalam komik ini sebagai perwujudan syetan pembisik keburukan dalam kehidupan kita).

Sebaliknya, Son Goku sudah menyiapkan strategi sejak di ruang (Ramadhan). Ia berlatih untuk membiasakan, setidaknya kondisi kekuatan yang stabil dalam wujud super saiya. Super saiya yang dilakukan menjadi lebih santai dan nyaman. 

Sama seperti bila kita hadir di ramadhan dengan memaksimalkan kekuatan, tapi kita juga sembari berlatih menbiasakan, bertekad untuk mengistiqomahkan segala potensi kita di bulan-bulan selanjutnya (yakni ketika sudah keluar dari ruang ramadhan). Alhasil kita pun nyaman beribadah, santai dan tidak cepat lelah, waktu-waktu terisi dengan kebaikan yang merata.

Nah, mau menjadi seperti Trunk atau Son Goku kah diri kita pasca keluar dari ruang Ramadhan?

***

Setidaknya ada 2 ayat yang sudah Allah turunkan terkait hal ini, jauh sebelum Dragon Ballz diterbitkan.

1) Fushilat 30
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

2) Al Ahqaf 13
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

Dua ayat tersebut ditafsirkan nyaris sepembahasan dalam kitab tafsir ibnu katsir, dimana ada 3 kata yang perlu digarisbawahi: istiqomah, tidak takut, tidak bersedih hati.

Ibnu Katsir menjelaskan makna rabbunallahu tsummas taqaamu dengan kalimat, "memurnikan amal untuk Allah dan beramal karena taat kepada Allah atas apa yang disyariatkan kepada mereka."

Lebih lanjut, alla takhaafuu (jangan takut) dikaitkan dengan perkara akhirat yang akan dihadapi. Kemudian wa laa tahzanu (dan jangan sedih) dikaitkan dengan perkara dunia yang dikorbankan karena ketaatan tersebut.

Seiya-sekata dengan ibrah Son Goku yang mengistiqomahkan (supersaiya) ketaatan yang memunculkan santai, nyaman, dan bahagia dalam beraktivitas mencapai ridho-Nya, begitu pula dengan keistiqomahan yang dijanjikan Allah, sejatinya ia takkan meninggalkan jejak kesedihan dalam pernak pernik kehidupan dunia.

Semoga kita menjadi pribadi yang makin istiqomah setelah meninggalkan ramadhan, yang tidak sedih dalam meninggalkan perkara dunia demi ketaatan kepada Allah, dan tidak takut saat menghadapi perkara akhirat nanti.

Allahummarhamnaa bil Qur'aan.
Allahummaj'alnaa min ahlul Qur'aan.

schiz:)
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |