Home » » Bersama Ustadz Fadlyl Usman Baharun

Bersama Ustadz Fadlyl Usman Baharun

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 05 Mei 2017 | 21.17.00

Maut menjemput, sementara Quran terus dibacakan. Malakul Maut melawat sejenak, sementara Quran terus dilantunkan. Taqdir Allah ditetapkan, sementara hanya waqaf penjedanya dan ibtida’ pemulainya kembali. Tangis mungkin hanya semunculnya, tapi Quran tetap digenggam tak terlupa.
Entah puisi atau apa, karya di atas tiba-tiba terbersit. Namun, itulah gambaran suasana Rumah Quran Indonesia, tatkala jenazah al-ustadz Fadlyl Usman hadir disemayamkan. Sangat berbeda dengan ketika jenazah-jenazah lain –yang pernah kusaksikan- dibaringkan di rumah duka.

Ratusan santri berhijab lebar terhampar dimana-mana duduk berdesak-desakan. Di ujung bawah tangga, di serambi rumah, di lorong asrama, di pojok-pojok tak tampak, bahkan di loteng-loteng, seperti ninja bersiaga menerkam mangsa di dataran bawah. Persamaan di antara mereka: fokus pandangan tertuju hanya kepada Quran, mulut terkomat-kamit, persneling kecepatannya ‘ngebut’ tartil alias al-hadr, dan yang pasti semuanya menggenggam Quran dengan posisi di antara sisi jemari telunjuk dan ujung ibu jari. 

Sekilas mereka semua seperti membaca Yasin, tapi ... entahlah, tak ada perlunya menduga-duga. Semuanya sedang bermesraan dengan Quran, apapun kondisinya, apapun yang terjadi, walau di seputar mereka ramai berdiri. Ya, kaum pria berdiri, menyaksikan –atau mungkin terheran-heran?- dan juga menunggu, jenazah siap untuk ditunaikan haknya. Masya-Allah.

***

Memang dzikrul-maut menjadi nasehat terbaik kaum muslim. Di kala ada saja nasehat-nasehat yang bumen-tuwo (mlebu kuping tengen, metu kuping kiwo –istilah untuk tidak ada pengaruhnya dalam hati), namun maut merupakan nasehat tanpa perlu dinasehati. Apalagi kalau yang “dipanggil Allah” adalah sosok asatidz yang telah berjuang, berikhtiar, mendermakan jiwa dan harta, bahkan keluarga, demi kejayaan Islam, bermujahadah demi keridhaan Ilahi. Maka, apa yang beliau tinggalkan bisa jadi sangat membekas dalam diri para pelawatnya. Termasuk kami (manajemen RQ STAN).

Saksikanlah! Seorang jenazah nan kaku disemayamkan sementara ratusan santrinya sedang melafadzkan Quran. Ratusan di seputar asrama-nya tetap bermesraan bersama Quran. Belum lagi,  puluhan di antaranya diperjalankan oleh Allah –atas nama cinta- diiringi tangis rindu “otw” hendak memberikan penghormatan terakhir. MasyaAllah.

Malam itu, 25 April 2017, gedung berlantai 4 asrama Rumah Quran Indonesia menjadi saksi bisu. Sementara kami yang pernah mengenal ustadz, yang tak bisu pun, ikut membisu. Bisu di antara kesedihan dan heningnya malam, sementara lintasan-lintasan pikiran kami coba meretas satu-demi-satu kenangan bersama sang ustadz.

Bersama Rumah Quran STAN, Jazakumullah khair atas bimbingan, arahan, izin, perkenan, bantuan, dan tentunya, pengorbanan dari Ustadz Fadlyl Usman yang:

  1. Telah mengizinkan kami sebagai alumni STAN untuk mengurus RQ STAN secara mandiri. Seolah kami sebagai manajemen RQ STAN adalah staf sekaligus santri-santri beliau,
  2. Telah berkenan membuka RQ STAN setiap tahun, hadir sendirian naik mobil dari Depok ke Bintaro. Mungkin lelah dirasa, namun sulit tergambar dari sejuknya wajah beliau.
  3. Telah berkenan mengisi kajian di MBM secara pekanan (selama beberapa pekan) sebelum sakit beliau bertambah parah,
  4. Tahun 2012, RQ rihlah ke Masjid Ta’awun. Kami dari RQ STAN naik bus, beliau naik mobil dari RQ Depok, sendirian. Padahal kalau membawa keluarga, beliau mampu melakukannya. Lalu, kami diajak mentadaburi suasana pegunungan, sarapan bersama, dan bersilaturrahim dengan DKM Masjid Ta’awun. Ya, kami dari RQ STAN saja yang dikhususkan untuk rihlah tersebut, yang hingga kini belum pernah ada lagi rihlah RQ STAN secara khusus setelahnya.
  5. Telah bersabar membimbing kami... Jarang kiranya kami dari RQ STAN mengikutkan santri pada kegiatan-kegiatan besar RQ Indonesia, mengingat jarak yang cukup jauh, agenda dakwah di kampus STAN yang padat, termasuk jadwal liburan STAN yang berbeda dari kampus-kampus lain. Walaupun begitu, kami terus berupaya untuk menguatkan silaturrahim antar-santri RQ dan dengan sang ustadz tentunya.
  6. Telah mengajarkan kami arti perjuangan, ambisi, dan mimpi yang ditujukan semata hanya kepada Allah. Ternyata begitu indah dan... tak tergantikan. Teringat “kekagetan” kami mendengar cerita beliau ingin menjual rumah RQ Indonesia dengan santrinya yang 130-an akhwat, dengan nilai 5 milyar (waktu itu beliau menyebutkan nominalnya), hanya untuk – ya – hanya untuk membeli rumah-rumah di sekitar kampus-kampus besar seperti IPB, STIS, STAN, membangun kembali RQ yang tersebar, diseputaran kawah candradimukanya para pemuda (kampus). Saat itu di lintasan pikiran kami terkelebat, “Sudah besar begini, santri 130, kok mau dijual? Kan sayang?” Namun, itulah ustadz Fadlyl. Bermimpi, bermimpi, dan terus bermimpi... Tak pernah puas untuk bermimpi, lagi, dan lagi. Diniatkan karena Allah, agar Quran dikenal, untuk mencetak para penghafal Quran. Masya-Allah.
  7. Telah menjadi inspirasi kami, membekas dalam semangat juang kami, walau usia pertemuan ustadz dengan kami, manajemen RQ STAN bisa jadi tak lebih dari satu pekan. Hanya sebentar-sebentar, tersebar dalam kajian demi kajian, silaturrahim demi silaturrahim, bahkan kami tak tahu menahu banyak bahwa ternyata ustadz adalah pembina program ODOJ yang terkenal itu. Masya-Allah. Sebentar memang, tapi inspirasi yang sungguh luar biasa besar untuk menjadi penguat dalam diri kami dalam bermujahadah bersama Quran.
Selamat jalan ustadz.
Teriring doa; 

Allahummaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fu’anhuu
Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang banyak, lebih dari karya perjuanganmu di bumi Allah ini, mengukir prestasi-prestasi dan “jariyah” para hammilul Quran, menegakkan syiar agama.

Allahummarhamnaa bil Qur’aan
Allahummaj’alnaa min ahlul Qur’aan
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |