Home » » Strategi Karantina Qur'an

Strategi Karantina Qur'an

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 19 Februari 2017 | 14.25.00

Rumah Quran
28-31 Januari 2017 lalu, tahfidz camp telah diselenggarakan untuk pertama kalinya di lingkungan Rumah Quran STAN. Sambutan yang muncul begitu menggemparkan. Seluruh santri antusias mengikuti kegiatan, bahkan sampai membuat 1 orang mahasiswa non-RQ dan 1 alumni RQ ngebet ikut. 


Dari kubu ikhwan, 30 santri terdata sebagai peserta (dari total 34). Ke-4 santri yang berhalangan memiliki udzur berupa izin orangtua dan sakit. Sedangkan dari kubu akhwat, 11 santri terdata sebagai peserta (dari total 12). Satu santri akhwat sakit. Belum termasuk 1 mahasiswa non-RQ dan 1 alumni RQ akhwat.

Dalam mengikuti kegiatan karantina Quran, wajib bagi santri memiliki strategi pemanfaatan waktu. Karena karantina Quran ini ibarat mengerdilkan (mikronisasi) jangkauan hidup manusia. Coba bayangkan! Hidup kita dijalani biasa-biasa saja, sejatinya lebih karena kita kurang mengetahui batas akhir hidup kita kapan. Bisa jadi 40-50-60-tahun atau lebih. Target hidup kita pun tertata dengan cukup santai. S1 tahun berapa, S2 tahun berapa, S3, S4, dan seterusnya :) Nah, dengan kehadiran karantina Quran, panitia memberikan batas akhir "hidup" santri tahfidz untuk target menghafal Quran. Cukup 4 hari 3 malam, dengan target ketat 1 juz. Maka, sudah dapat dipastikan setiap orang akan menggenjot waktu-waktunya demi Al-Quran.

Dalam menggenjot sumber daya pribadi melawan waktu yang tak pernah mundur, ada beberapa bekal untuk santri tahfidz camp, meliputi bekal internal (mengenal diri pribadi) dan eksternal (mengenal masjid, rumah, dan lingkungan).

Mengenal Diri Pribadi
Tak jauh dari pemahaman tarbiyyah dalam mengenal komponen insan, yang termasuk dalam kategori mengenal pribadi meliputi 3 aspek: fikriyah, ruhiyah, dan jasadiyah. Berikut sistematika yang perlu mendapat perhatian serius dari ketiga aspek ini:

  • Aspek Fikriyah
a.       Objek: otak (intelligence)
b.      Suplemen: ilmu, pengalaman, kreativitas
c.       Kurang suplemen: kebayang orangtua (homesick), kepikiran hasil UAS, liburan, dll.
d.      Maksimalisasi: kerja cerdas
e.      Output: Rancang strategi manajemen waktu tahfidz camp

  • Aspek Ruhiyah
a.       Objek: hati (emosional and soul)
b.      Suplemen: dzikir, doa, istighfar
c.       Kurang suplemen: hampa, gelisah, khawatir, tidak tenang, kecewa
d.      Maksimalisasi: kerja ikhlas
e.      Output: tenang, positif thinking, semangat

  • Aspek Jasadiyyah
a.       Objek: tubuh (phisical)
b.      Suplemen: makanan bergizi, air, mineral
c.       Kurang suplemen: menghilang, sembunyi, kabur, melarikan diri
d.      Maksimalisasi: kerja keras
e.      Output: Aktivitas Menghafal, Mengulang-ulang, dan Menyetor

Secara ringkas, dapat dimaknai bahwa dalam mengikuti karantina Quran, seluruh potensi insan harus dikelola dengan baik, diawali dengan suplemen yang diasup secara optimal, hingga output dikeluarkan secara maksimal. Memaksimalkan ketiga aspek (fikriyah, ruhiyah, dan jasadiyah) berarti mengawalinya dengan strategi jitu yang cocok dengan diri pribadi, ditambah dengan tenang dan sabar dalam ikhtiar menghafal dan mengulang-ulangnya.

Strategi yang cocok dengan diri pribadi; disitulah PR masing-masing insan. Senada dengan istilah; “metode menghafal Quran sangat banyak, tinggal dipilih mana yang paling cocok.”

Sekilas Metode Menghafal
Metode yang dipilih berasal dari tindak keseriusan mengikuti karantina Quran. Kalau metodenya asal-asalan seperti dipaksakan menghafal walau tidak hafal-hafal, maka itu seperti kurang mengenal diri sendiri. Menyiapkan beberapa metode untuk mengurangi resiko kebosanan metode dapat pula menjadi pilihan jitu untuk karantina Quran, walaupun hanya berlangsung 4 hari.

Contoh metode yang dipilih adalah pendengaran (auditori), yang dilakukan sepekan bahkan sebulan sebelum dilangsungkannya tahfidz camp. Mendengarkan secara berulang-ulang ayat-ayat 1 juz sangat membantu pikiran kita untuk familiar dengan ayat-ayat tersebut, agar hafalan saat tahfidz camp lebih merasuk.

Contoh metode lain adalah tikrar; namun dengan pengurangan pengulangan. Hal ini dilakukan agar kita tidak terlampau sibuk dalam mengulang. Tikrar diakui sebagai metode menghafal jitu dengan kelemahan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Misal pengurangan pengulangan dilakukan dari seharusnya 40 kali dikurangi menjadi 10-20 kali untuk tiap ayat, tiap 3 ayat, hingga tiap setengah halaman mushaf. 

Sekali lagi, memperbanyak metode mengurangi resiko kebosanan, kecuali kita memiliki kekuatan maksimal dalam aspek ruhiyah berupa ketenangan dan kesabaran tingkat tinggi. Sehingga fokus kita hanya menikmati, menikmati, dan meeenikmati sajian Allah melalui ayat-ayat yang kita baca.

Mengenal Lingkungan
Lingkungan sangat perlu untuk dikenal. Di satu sisi, tidak melalaikan aspek adaptasi dengan lingkungan yang baru (karena karantina pasti di suatu lingkungan asing). Di sisi yang lain, ia lebih mengena dari sisi habluminannaas, karena lingkungan yang baru tak hanya difungsikan untuk berinteraksi dengan al-Quran, melainkan untuk berinteraksi pula dengan masyarakat di sana. 

Oleh karena itu, penting bagi peserta karantina untuk menyesuaikan diri dengan keberadaan masyarakat setempat. Contoh tahfidz camp di RQ STAN, bagi ikhwan yang bertempat di lingkungan kompleks Pajak, maka koordinasi perlu dilanggengkan selama 4 hari kegiatan tahfidz camp. Misalnya, pada satu kesempatan jamaah ingin imam shalat yang berbeda, maka panitia segera mendorong salah satu santri untuk maju menjadi imam. Hari Senin ada kegiatan TPA pagi dan sore, maka base-camp TPA segera dikosongkan agar kegiatan tuan rumah dapat tetap berjalan sebagaimana biasa (walaupun pada akhirnya TPA ikut mengalah selama kegiatan tahfidz camp).

Dari mengenal lingkungan ini pula, muncul daftar apa saja yang boleh dilakukan dan apa pula yang tidak boleh dilakukan di lokasi yang asing. Karena hal ini menyangkut habluminannas, seolah seperti meminimalisasi sebab tidak diridhai-nya kegiatan tahfidz camp oleh Allah karena ketidakridhaan tuan rumah. 



Beraksi dan Berdoa
Strategi terakhir yang dapat mukmin lakukan, selain beraksi mengeksekusi semua potensi diri yang dimiliki, tak lupa berdoa untuk diri dan rekan sesama karantina Quran. Jangan pernah menganggap remeh doa. Kita bisa menggapai cita sejatinya bukan karena usaha dan doa kita semata, melainkan juga tak kalah penting doa orangtua kita.

Begitu pula dengan karantina Quran, jangan pernah lalai meminta restu dan doa orangtua, juga doa rekan-rekan sesama peserta, atau doa orang papa melalui perantara sedekah kita. Termasuk dari lisan kita yang turut mendoakan sesama peserta juga, atau untuk orang lain, karena disitulah energi doa kita yang sesungguhnya. Dari lisan kita, lahir celoteh malaikat yang tak pernah kita sadari, “Aamiin, dan semoga pula untuk dirimu”, seuntai doa tulus yang sekalipun kita tak pernah mendengarnya. Namun, kita percaya ada doa tersebut lantaran kita rajin mendoakan orang lain. 

Hm… Siapa tau doa itu diungkapkan demi meraih cita-cita kecil kita dalam meraih 1 juz hafalan Quran selama 3-4 hari.

Allahummarhamnaa bil Qur’aan
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |