Home » » Istimewanya Ahlul Quran (Kajian Closing Tahfidz Camp)

Istimewanya Ahlul Quran (Kajian Closing Tahfidz Camp)

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 21 Februari 2017 | 17.22.00

Dalam sesi terakhir tahfidz camp, tertanggal 31 Januari 2017, santri RQ masih berjibaku dengan mushaf masing-masing. Sesi talaqqi ditutup sudah, tepat ketika ustadz Masturi hadir bersiap menyampaikan paparan motivatif, mengakhiri rangkaian kegiatan. 


Alhamdulillah, Allah ekstra memberikan kemudahan. Selasa pagi yang sedianya kegiatan TPA digelar hingga pkl 09.30, entah mengapa tak ada gaungnya. Barangkali inilah inisiatif pengelola masjid yang tanpa diduga menutup sejenak kegiatannya demi tahfidz camp santri Rumah Quran STAN. MasyaAllah, semoga TPA Ar-Ridho selalu Allah mudahkan dan lancarkan dalam menghasilkan generasi Qurani yang shalih shalihah.

Ustadz Masturi pun menyampaikan kajiannya yang begitu mengena, bertemakan Istimewanya para Ahlul Quran… 

***
Berawal dari penjelasan siapa itu ahlul Quran yang slalu bersama Quran; yakni sesibuk-sibuknya mereka yang mengimani, membaca, menghafal, mempelajari, hingga mempraktekkan isi Quran. Begitu banyak kelebihan yang didapatkan sebagai ahlul Quran, di antaranya:

  • Tidak akan terjerumus maksiat
Seseorang yang slalu bersama Quran, maka atas izin Allah, dijauhkan mereka dari maksiat. Karena Quran sebagai energi kebaikan seseorang, Quran sebagai katalis yang memperkokoh keimanan sekaligus amaliyah seseorang. Otomatis pendekat Quran akan jauh dari maksiat, karena kesibukannya diperuntukkan untuk membersamai Quran dan kebaikan-kebaikan yang diakibatkannya.

  • Otak akan slalu berpikir dan berdzikir
Bersama Quran, seseorang akan berusaha terus menghafal, juga mengulang-ulang hafalan. Di saat itulah, otak seperti tak berhenti bekerja. Apalagi untuk mempelajari demi mempraktekkan isi Quran. Pasti ia takkan lolos dari kesibukan memikirkan isi ayat dan mendzikirkannya sebagai ibadah asupan gizi ruhani. Selain aman dari maksiat, ia akan slalu dibersamai kebaikan.
  • Keberanian hati dari Allah karena Quran
Bila kita masih ingat peristiwa ustad Nurul Fahmi didatangi 23 polisi lantaran persoalan bendera merah putih dan syahadat, maka kita akan belajar dari beliau tentang ketenangan dan keberanian. Ke-23 polisi bingung bukan kepalang, ini orang kok santai banget… Jawabnya adalah karena ada Quran di hati sang ustad. Tak ada yang pantas dikhawatirkan.

Begitu pula peristiwa perang Nabi Muhammad Saw tak luput dari keberanian para pahlawan dalam menegakkan kalimat Allah, tentu energinya berasal dari kedekatan dengan Quran. Salim Maula bin Hudzaifah pernah berkata, “Kalau pasukan Islam jatuh karena pasukan saya yang hafal Quran, maka saya adalah sejelek-jeleknya manusia.” 
  • Meninggalnya ahlul Quran adalah musibah sebenarnya umat ini
Tatkala perang demi perang dilalui Rasulullah Saw dan para sahabat, korban demi korban perang berjatuhan. Rasulullah Saw sebagaimana biasa; berduka, menshalatkan, hingga mendoakan para sahabat yang wafat. Namun, lain halnya ketika Rasulullah kirimkan 70 sahabat penghafal Quran, yang kemudian dibunuhi semuanya (riwayat lain menyatakan ada korban selamat) pada peristiwa Bi’r Ma’unah, kecuali Rasulullah Saw kemudian murka hingga disyariatkannya qunut nazilah dalam shalat fardhu yang 5 waktu selama 30 hari berturut-turut. 

MasyaAllah, betapa berharganya penghafal Quran, sampai demikian berdukanya Rasulullah Saw. Dalam qunut nazilah, Rasulullah Saw mendoakan kehancuran bagi suku-suku yang melakukan makar hingga terbunuhnya 70 sahabat penghafal Quran tersebut.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, para penghafal Quran juga makin berkurang. Umar bin Khatab melihat risiko besar, yang kemudian mengusulkan agar Quran ditulis dalam mushaf.

Istimewanya Ahlul Quran bukan hanya soal ayat yang disimpan dalam hati, melainkan lebih karena Quran adalah ilmu yang berkahnya tak pernah lekang oleh jarak dan waktu. Bila seseorang menyanyikan lagu anak-anak, lagu remaja, hingga lagu masa tua, semuanya hanya cocok di zaman dinyanyikannya lagu itu saja. Namun, berbeda dengan Quran. Dilagukan di masa anak-anak, kaum muslim memberikan apresiasi dan menghargai orangtua si anak. Dilagukan di masa remaja, kaum muslim bangga dengan keshalihannnya. Dilagukan di masa tua, Quran tetap saja pantas, tak mengurangi ketidakpantasan seseorang melantunkan Quran. Ilmu Quran tak pernah expired, terpakai terus sepanjang usia, berkah lintas generasi, menjadi pahala bagi siapapun pelantunnya.

Saat ini, umat Islam menunggu-nunggu ahli-ahli Quran, karena di tangan merekalah pondasi kuat untuk kesatuan Islam terpijak. Bila kita melihat umat Islam memiliki lahan berupa lapangan luas untuk mengeksplorasi potensinya di dunia ini, maka ahli-ahli Quran adalah gawang sekaligus batas-batas permainan umat Islam. Ahli-ahli Quran adalah mereka yang paham dimana Islam ini diletakkan dan targetnya untuk dimenangkan. Kita harus slalu merasa bahwa kehadiran ahlul Quran diperlukan di dalam ranah perjuangan umat ini.

Memahami keistimewaan ahlul Quran sesederhana memahami betapa ahlul Quran adalah bagian umat Islam yang banyak-banyak menghafal Quran, sehingga mereka banyak-banyak lupa akan hafalan mereka. Namun, itu menjadikan mereka justru makin banyak mengulang-mengulang-dan-mengulang (makin berkah waktu mereka karena berinteraksi terus dengan Quran), dari situlah makin belepotan mereka dengan pahala yang besar dari Allah. Masya-Allah, beginilah sederhananya keistimewaan ahlul Quran :)

Sebagai penutup, berikut hadits yang semoga memotivasi kita untuk menjadi ahlul Quran (berikut keistimewaannya):

“Akan dikatakan kepada Ahli Qur’an pada hari kiamat: “Bacalah, naiklah (ke atas surga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana kami dulu pernah membacanya di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu di surga terdapat pada akhir ayat yang kamu baca.”

Allahummarhamnaa bil Qur'aan 

 
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |