Home » » Antara Harakah dan Sakinah

Antara Harakah dan Sakinah

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 07 Desember 2016 | 17.57.00

harakah dan sakinah
Kita mengenal istilah harakah sebagai per-gerak-an, sedangkan sakinah -lawan katanya- sebagai per-diam-an. Namun, masing-masing memiliki sisi positif atau negatif yang berbeda tergantung konteksnya. Konteks pertama dilihat dari organ paling berpengaruh dalam diri manusia bertajuk hati. Konteks kedua dilihat dari keseluruhan jasad manusia. Dari dua sistem organ ini, makna ‘harakah dan sakinah’ akan jauh berbeda.

Konteks Hati
Dalam konteks hati, harakah berarti pergerakan atau bahasa negatifnya kegoncangan hati. Goncang hati memang tak terlihat, tetapi sesungguhnya hati sedang tersayat-sayat. Ia dapat berupa penyakit kronis seperti dendam, iri, dengki, hasud, takabbur, ujub, dan riya’. Semua pergerakan itu bermula dari citra hati menyikapi kondisi eksternal dan internal. Eksternal contohnya gelagat orang lain membuat iri, internal contohnya merasa jumawa terhadap prestasi diri. Bila disandingkan dengan ikhtiar, hati punya penyakit tersendiri. Kecewa, gelisah, resah, galau, gulana, semua itu merupakan citra diri atas pesimistis baik terhadap diri maupun orang lain. Bagaimana agar hati tak lagi goncang?

Sakinah adalah jawabnya. Hati yang sakinah merupakan sesuatu yang didamba. Ia adalah per-diam-an yang dimaknai tentram, tenang, penuh kedamaian. Kalau ada seorang muslim naik pelaminan, doa yang muncul adalah ‘semoga sakinah’, artinya semoga penuh ketentraman dalam bahtera rumah tangga. Selain itu, sakinah juga ditemui dalam hadits:

“Tidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun sakinah kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Ternyata, ketentraman hati diraih pula dengan membaca Quran, mempelajarinya, berkumpul di rumah Allah. Oleh karenanya, Quran disebut Asy-Syifa/penawar alias obat hati’.

Sakinah juga sejalan dengan tawakkal, wujud ibadah hati. Larangan bertawakkal berlaku bagi tangan, kaki, dan jasad selain hati. Adapun hati, tawakkalnya mewujud sakinah/ketentraman. Ia menghindarkan kita dari kecewa, gelisah, resah, galau, lagi gulana. Teringat pesan Ibnu Athaillah, “Tidak dikatakan bertawakkal bila ia masih gelisah terhadap ikhtiar yang telah dilakukannya.”

Konteks Amal
Berbeda dengan konteks hati, amal manusia lebih diharapkan harakahnya daripada sakinahnya. Harakah adalah bergerak, yang diharapkan tercipta melalui amal/perbuatan selain hati. Di telinga kita, harakah familiar dengan istilah pergerakan jama’ah minal muslimin atau konteks amal jama’i secara luas. Tentunya tetap kita sadari bahwa semua harakah Islam membentuk satu tubuh umat Islam, bukan mencerai-beraikannya. 

Dalam pendekatan mikro, memaknai harakah sesederhana mulut yang berharakah dengan dzikirnya, tangan berharakah melakukan sedekah dan amal lainnya, kaki berharakah melalui berangkatnya diri ke lautan-kajian ilmu, mata-telinga-lisan berharakah dengan menginderai hal-hal positif, dan seluruh tubuh berharakah melalui shalat dan ibadah fisik lainnya.

Sakinahnya organ selain hati lebih banyak madharatnya. Walau sesungguhnya tak bisa dipungkiri, ada kalanya diam merupakan kebaikan. Yakni ketika bergeraknya kita membawa madharat pada diri dan umat.

Sadarkah Kita, Harakah dan Sakinah Ada dalam Ilmu Tajwid
Sesungguhnya pembahasan lebih lanjut tentang harakah dan sakinah bermuara pada pemahaman ilmu tajwid. Dalam kenyataannya, huruf hijaiyah yang diharakahi fathah, kasrah, ataupun dhummah, karakter haqq-nya lebih tampak. Sedangkan, huruf hijaiyah yang disakinahi (disukun), karakter mustahaqq-nya yang lebih kentara.

Haqq merupakan sifat internal huruf hijaiyah, dimana ia fix/tetap tak berubah-ubah bila bertemu huruf hijaiyah lainnya. Sedangkan mustahaqq merupakan sifat eksternal huruf hijaiyah, dimana ia variable/berubah-ubah tergantung bertemu dengan huruf hijaiyah apa sebelum/sesudahnya.

Apa buktinya?

  • Nun berharakah fathah, kasrah, dhummah tak ada ilmu tajwid tambahan kecuali hanya sifat haqq huruf nun sendiri seperti jahr (tidak keluar nafas), tawasuth (pertengahan), istifal (pangkal lidah turun), infitah (pangkal lidah tidak lengket), dan idzlaq (mudah diucapkan). Namun, nun bersakinah berdampak pada tambahan ahkam berupa idgham bighunnah, idgham bilaghunnah, iqlab, ikhfa’ haqiqi, dan idzhar halqi. Artinya nun sukun lebih mudah dipengaruhi daripada nun berharakah.
  • Ra berharakat fathah dan dhummah dikarakteri tafkhim (tebal), sedangkan ra kasrah dikarakteri tarqiq (tipis). Namun, ra sukun memiliki banyak variasi tafkhim dan tarqiq. Ra sukun tafkhim bisa mencapai 9 variasi, sedangkan tarqiq-nya ada 3 variasi, belum lagi huruf ra yang boleh dibaca tafkhim maupun tarqiq (boleh dua-duanya).
Apa hikmah di dalamnya?
Sejatinya ini berlaku untuk konteks amal (selain hati). 

Ketika kita bergerak/berharakah, sebetulnya kita berusaha menjadi pribadi yang haqq, teguh, fix, tetap sebagaimana huruf hijaiyah disemati fathah, kasrah, atau dhummah.  

Ketika kita diam, kita sebetulnya beresiko untuk berubah-ubah/terombang-ambing sebagaimana huruf hijaiyyah disemati sukun.

Simpulan
Bergeraklah! Tapi jangan gerakkan hatimu!
Bergeraklah! Untuk beribadah demi meraih pahala Allah!
Bergeraklah! Untuk menjadi pribadi yang haqq daripada yang mustahaqq!
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |