Home » » Tips Menghafal: No Baper, Stay Focus!

Tips Menghafal: No Baper, Stay Focus!

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 25 November 2016 | 09.53.00

Spanduk penyemangat dan reminder di RQ

Mengasingkan diri / Jauhi keramaian / Slalu Fokus

Itulah 3 frasa kunci yang membuat santri RQ beroleh pengalaman berharga dari kegiatan Tahfidz camp 3 hari 1 juz (11 s.d. 13 November 2016) Baca: 3 hari = 1juz

Beberapa keunikan dari semangat santri saat mengikuti kegiatan tersebut:
  1. Ada santri yang menyengaja tidak membawa HP saat kegiatan. “Biar fokus”, katanya. “Totalitas dalam menghafal!”
  2. Ada santri yang biasa sibuk mengajar di akhir pekan, undur diri cari pengganti. Mengutamakan diri bermesraan dengan Al-Quran.
  3. Tak ada keluhan (kecuali barangkali sulitnya mencantolkan hafalan, ini pun faktor kekurangsabaran). Tak ada yang sakit, tak ada penghalang duniawi, karena kami percaya Allah mudahkan segala urusan, bila kami mau mendekat pada-Nya.
Oleh-oleh yang kami peroleh dalam kegiatan tersebut adalah betapa menghafal itu tidak seperti “tahu bulat”. Tidak secara dadakan selusin “tahu” tergoreng seketika. Nyantol di pikiran seketika. Tidak seperti itu. Nyatanya ia butuh diperjuangkan!

Menghafal membutuhkan perancangan strategi. Nah, nyatanya, sebagian besar peserta tahfidz camp menggunakan metode tikrar (pengulangan). Metode ini seolah tak membiarkan lisan berhenti mengecap. Terusss saja mengulang hafalan, walaupun membaca, walaupun memejamkan mata, walaupun dikeraskan sampai mengganggu yang lain, alias sahut-menyahut menjadi satu. Hm... nyatanya tak ada yang merasa terganggu.

Karena dikejar target 1 juz, maka sehari itu rasanya singkat sekali. Inilah mind-setting otak yang berhasil memperalat tekad. Sehingga waktu-waktu begitu terasa mahalnya. Sehingga semua handphone mati kecuali waktu makan (hanya saat makan saja, sebagian besar peserta membaca HP).

Dengan setting 3 hari 1 juz begitu, maka kunci utamanya ada 2: no baper, stay fokus!
Jangan baper bermakna tidak terbawa perasaan terhadap ayat-ayat yang dihafal. Untuk menghindarinya, kita perlu menghindari interaksi berikut:
  1. Ketika merasa mudah dan berhasil menghafal satu ayat, ia berdecak kagum terhadap dirinya sendiri hingga lalai untuk menghafal ayat selanjutnya. Apalagi sambil membuka-buka halaman selanjutnya, memimpikan ayat-ayat yang akan dihafal.
  2. Ketika berhasil menuntaskan hafalan satu halaman/satu surat, ia merasa puas hingga memilih santai dan istirahat terlebih dahulu. Atau saking senangnya, ia serbu surat selanjutnya dengan terlalu semangat. Surat yang sudah dihafal justru lalai dimurajaah, lalai diulang-ulang.
  3. Ketika merasa sulit dan selalu gagal menghafal satu ayat, ia kemudian merengut dan mengalihkan perhatiannya ke arah lain, seperti nyemil dulu, pegang HP dulu, tidur dulu, atau hal yang tidak terlalu positif lainnya. Bisa jadi ia akan membuka-buka halaman selanjutnya, membayangkan betapa sulit ayat-ayat selanjutnya.
  4. Ketika sudah beralih menghafal halaman selanjutnya, ia merasa kurang mantap di halaman sebelumnya, hingga ia mengulang terus-menerus, lalai pada halaman selanjutnya seolah tanpa target.
  5. Ketika jerih payah sudah maksimal dalam menghafal, ternyata sulit diserap hingga ia pun memilih membodoh-bodohkan dirinya sendiri, menangis, apalagi melampiaskan emosi. Stres bisa jadi melanda karena merasa gagal, akhirnya kita pusing dan merasa butuh tidur (padahal pusing lebih disebabkan oleh tidak efektifnya manajemen stres pikiran kita).
  6. Ketika murajaah pada hari berikutnya, ternyata apa yang sudah ia hafal kemarin gagal dilafalkan secara utuh. Merasa gagal, ia pun kapok dan meninggalkan hafalan.
Cek bold kata "merasa". Hm... Betapa ruginya bila kita baper dalam menghafal. Seolah jalan yang kita lalui belum lurus menuju-Nya. Nah, mari belajar fokus:
  1. Ketika berhasil menghafal satu ayat, stay focus! Lanjutkan strategi berikutnya menghafal ayat selanjutnya. Jauhi kegiatan sekedar melihat-lihat halaman berikutnya, hindari berbangga diri.
  2. Ketika berhasil menuntaskan hafalan satu halaman/satu surat, stay focus! Ulangi berkali-kali, jangan beri celah setan membisiki, trus komat-kamitkan dan suarakan murajaah satu halaman tersebut (bahkan kalau perlu mantapkan 10-20 kali).
  3. Ketika selalu gagal menghafal satu ayat, jaga asa. Stay fokus! Semangati diri! Allah mungkin cinta pada kita melalui ayat tersebut, maka baca terjemahnya. Hayati! Rasakan ayat tersebut merasuki jiwa kita, berdoa kepada Allah agar mudahkan kita menghafalkannya.
  4. Ketika sudah beralih menghafal halaman selanjutnya, mantapkan halaman sebelumnya. Stay focus! Tekadkan besok bertemu lagi dengan ia untuk dimurajaah. Move on! Jangan tergelitik untuk kembali bila sudah mantap.
  5. Ketika stres melanda karena gagal terus-terusan, stay focus! No stress. Alihkan stres dengan membaca, ya membaca! Melihat dan mengeja saja, supaya rileks. Supaya tidak terdorong untuk melampiaskan emosi. Menangis ketika menghafal boleh tapi jangan sampai tersedu-sedu, apalagi lama redanya. Fokus terakhir bila stress mengungkung adalah yang penting lisan melafalkan. Itu saja.
  6. Ketika murajaah pada hari berikutnya, ternyata apa yang sudah dihafal kemarin gagal dilafalkan secara utuh. Haha! Itu mah biasa. Stay focus! Murajaah terstruktur berarti setiap hari harus diulang dan diulang. Anggap saja ia menambah kuantitas tilawah harian kita. Semoga Allah membalas kita dengan ketenangan dunia, kebaikan 10 lipat di tiap hurufnya, dan kehidupan bahagia di akhirat.
carilah lingkungan nyaman untuk menghafal

Baper memang manusiawi, fitrah manusia. Ia otomatis terjadi karena realitas firman Allah dalam Qur'an Surat Al-Ma'arij 19-20: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah."

Baper yang diikuti keluh-kesah membuat penghafal seolah melenceng dari jalan lurus menghafal. Memang kuncinya adalah sadar diri dan bersedia menyadarkan diri, terus menyadarkan diri! Istiqamah meluruskan jalan, dengan kata lain istiqomah fokus menghafal.

Sebagai khatimah, kita perlu menyadari baper yang fatal bila kita tidak hafal-hafal. Yakni meninggalkan hafalan. Alasannya lebih karena kegiatan menghafal tidak diikuti murajaahnya. Padahal murajaah merupakan jalan panjang seumur hidup. 

Penting kita ingat! Menghafal itu mudah, karena cukup sekali dilakukan. Tapi, memurajaahnya perlu alokasi waktu yang banyak, karena perlu berkali-kali dilakukan.
 
Semoga bermanfaat.
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |