Home » » Mengerdil Bukan Berarti Kerdil, Menebar Bukan Sekadar Sebar

Mengerdil Bukan Berarti Kerdil, Menebar Bukan Sekadar Sebar

Penulis : Ruqun Stan on Sabtu, 22 Oktober 2016 | 21.52.00

Suasana di pesantren
Tulisan ini bukan promo sponsor, namun sekadar perenungan instan

Saat saya masih kecil, belum ada mall berdiri di kota kecil saya. Model ‘window shopping’ ala mall belum ditularkan orang-orang barat. Jadi, kalau mau ke tempat belanja, ya, pasti berbelanja. Bukan melihat-lihat saja lantaran terjangkit kanker (kantong kering). Nah, ayah ibu terkadang mengajak saya belanja di sebuah lokasi yang sangat luas. Tagline lokasinya: gudang rabat. Bukan hanya gudang, tapi juga banyak rabat alias diskon. Trademark-nya ALFA. Alfa Gudang Rabat…
Kini, Alfa Gudang Rabat sudah bukan zamannya lagi. Kita lebih mengenal ALFA dengan embel-embel Mart. Mart punya banyak makna. Dari mulai pasar, perdagangan, hingga diklaim Bahasa Spanyol sebagai makna dari “memiliki keimanan. tidak mudah terpengaruh, lembut, baik, rajin, dinamis, penuh kesibukan, permata”. Mungkin, dengan mengubahnya menjadi Alfa Mart, gerakan dagangnya diharapkan menjadi lebih dinamis, lebih baik, dan hasil yang dituai bak permata. Tentunya dengan karakternya yang jauh berbeda. Yakni dengan fisik tempat belanja yang jauh lebih kecil dari pendahulunya, bahkan lebih banyak disebar ke pelosok-pelosok dengan target pasar rakyat kecil, bahkan desa-desa sekalipun.

Mengerdil bukan berarti kerdil, akan tetapi mendinamiskan gerakan dagang. Menebar bukan sekadar sebar, melainkan juga sambil meluaskan cakupan pasar.

***

Mari bergeser ke pola pikir lain. Kali ini, agak sedikit sensitif karena menyangkut manhaj dakwah. Sistem taujihat jamaah dengan model tabligh akbar sering menjadi primadona dalam mengelaborasikan nilai-nilai Islam dari da’i kepada mad’u jamaahnya. Apalagi, disandingkan dengan popularitas, keilmuan, dan kefasihan tausiyah sang da’i. Maka, jamaah yang bisa jadi ratusan hingga ribuan, berbondong-bondong datang merelakan ruhiyahnya disiram. Jama’ah minal muslimin sepakat bahwa model seperti ini efektif dalam menggelorakan kebersamaan, ukhuwah, dan banyak sisi positifnya, walau tingkat penerimaan mad’u bisa jadi berbeda-beda.

Sedikit kelemahan yang barangkali ada dari model dakwah tabligh akbar di atas pada manhaj dakwah tertentu dikover, dibackup, ditutupi, dan didikreasikan dengan cara menguatkan sisi kedekatan, pemutabaahan (controlling), dan amal jama’i dari mad’unya. Bentuknya kita kenal dengan istilah halaqah/liqo’.

Halaqah adalah Alfa Mart, sedangkan tabligh akbar adalah Alfa Gudang Rabat. Halaqah berisi seorang da’i dan para mad’u yang dibatasi tak lebih dari 12 orang. Da’i bukan hanya sebagai penyampai tausiyah, melainkan juga bertugas mendekatkan diri lebih dalam kepada mad’u, memutabaahi amal yaumiyah (harian), terkadang mengompori mad’u agar beramal jama’i atau mengaktualisasi diri dalam kerja-kerja tertentu.

Mengerdil bukan berarti kerdil, akan tetapi mendinamiskan dan mengefektifkan gerakan dakwah. Menebar bukan sekedar sebar, melainkan juga sembari meluaskan cakupan semangat beramal.

***

Akhirnya dalam cakupan analogi inilah Rumah Quran diposisikan.

Kita mengenal istilah pesantren dengan lahan yang luas, gedung yang megah, para asatidz/ah yang solid, dan seorang kyai yang disegani. Tapi satu hal yang masih dikesankan dari pesantren adalah, belum adanya jembatan dengan dunia luar, dunia umum, dunia mahasiswa misalnya. Karena itulah, pesantren juga sering dibayangkan lokasi yang jauh dari keumuman, jauh dari keramaian, dari hiruk pikuk ibukota.

Astaghfirullah, bukan berarti tulisan ini mendiskreditkan pesantren, akan tetapi lebih kepada membahas kecenderungan yang ada. Pastilah di antara kecenderungan, ada pesantren-pesantren tertentu yang tidak seperti dibicarakan di atas. Semoga Allah memberkahi pesantren-pesantren Islam tersebut.

Selanjutnya, tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap dunia pesantren, karena ulama telah banyak dicetak dari lingkungan penuh berkah yang telah mereka ciptakan. Pada akhirnya, Rumah Quran, Rumah Tahfidz atau –barangkali- beberapa halaqah Quran lainnya, mencoba untuk berusaha mengurangi rasa ‘jauh’ yang mungkin diciptakan oleh masyarakat terhadap dunia pesantren.

Melalui nama-nama baru tersebut, kami ingin masyarakat tidak ambigu, tidak merasa jauh, tidak merasa asing akan kehadiran pesantren secara umum. Karena toh, pesantren sudah hadir di tengah-tengah mereka. Yakni melalui tetangga mereka (rumah) yang digubah menjadi rumah tahfidz. Yakni melalui masjid kompleks yang tiap pekannya ramai dikunjungi jamaah halaqah Quran yang disebut sebagai santri tahsin/tahfidz. Yakni melalui aktivitas nyantri mahasiswa/i yang kos-kosannya diiringi dengan keseharian ala santri, ustadz pun ditugasi untuk mengampu dalam menguatkan rona keislaman para santri.

Bila pasar punya Gudang rabat dan bentuk kecil-kecilnya berupa Mart-mart yang saling tersebar. Lalu, manhaj dakwah punya tabligh akbar dengan halaqah-halaqah dakwahnya yang juga kecil-kecil namun bertebaran. Maka, dalam berinteraksi dengan Quran dan menggenjot pencapaian fikrah, pesantren menjadi primadona-nya, dengan dibantu mendekatkan ke masayarakat, berupa rumah tahfidz, halaqah tahsin, maupun model pesantren instan lainnya.

Karena mengerdil bukan berarti kerdil, akan tetapi sekadar memaksimalkan lahan yang ada sekaligus mengefektifkan pencapaian. Karena menebar bukan sekedar sebar, melainkan juga membantu yang besar-besar dalam mendekatkan peran.

Selamat hari santri 22 Oktober 2016…

Semoga kita masih ingat akan video resolusi jihad KH Hasyim Asy’ari yang menggelorakan para santri. Semoga Allah menguatkan Islam dan Indonesia melalui peran para santri di seantero negeri.

DiBawahRayuanHujan...
Bintaro, 22 Oktober 2016 (schiz)
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |