Home » » Biker Berkah: Ketika Hafalan Menjadi Kebutuhan

Biker Berkah: Ketika Hafalan Menjadi Kebutuhan

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 08 Juli 2016 | 00.27.00


Sebuah kisah dari pengalaman nyata...
Andai isi kepala semua pengendara motor ibukota dikumpulkan, mungkin hasilnya akan muncul kata sepakat; “ketidakbermanfaatan” alias “kesia-siaan”. Ya, begitulah. Mengendara banyak dianggap sebagai kegiatan masa bodoh sia-sia belaka, yang penting sampai tujuan.

Buktinya nyata, banyak motor salip-menyalip tanpa etika, kebut-mengebut menerobos rerambu bila tiada polisi yang jaga, asal belok tanpa perhatikan perasaan pengendara di dekatnya. Belum lagi suara gas keras-keras dibisingkan, knalpot tinggi-tinggi semprot muka pengemudi belakang, manuver kanan kiri membuat was-was semua pengguna jalan.

Pergerakan yang gesit dan ukuran tubuh yang relatif langsing membuat sepeda motor sering dikambinghitamkan bila ada kejadian di jalan. Sempurna sudah! Lalu lintas ibarat arena kedzaliman instan dimana para pengendara sepeda motor-nya berpikir praktis, “Kalau saya bisa sebentar di jalan dengan mengebut, kenapa harus berlama-lama dengan pelan-pelan?”

Pemikiran duniawi para pengendara sepeda motor memang perlu diluruskan. Paling tidak, sudut pandang ketuhanan perlu lebih dulu di-shibghah-kan. Inilah pengalamanku sebagai mantan-biker bengal jalanan yang suka berangkat ke kantor dengan durasi mepet waktu, berakibat pada kedzaliman instan tak tertahankan.

Pada prinsipnya, sebanyak dua jam tiap hari perlu kualokasikan untuk perjalanan berangkat dan pulang kantor. Berangkat dari Bintaro ke Jakarta, pulang pergi dengan rincian 14 km dikali 2. Awalnya diriku merasa nyaman, namun lama-lama ada yang mengganjal. Lamat-lamat aku sadar betapa mudahnya kedzaliman instan tertuai selama berkendara. Hanya dengan mengegas, mengerem, atau meliukkan motor saja, rasa-rasanya malaikat dengan mudahnya meliuk-liukkan pena, mencatat segala amal. Galau hati ini rasanya.

Muhasabah itu memaksaku berpikir keras, apa yang harus kulakukan agar beroleh perjalanan yang berkah dan berpahala? Tinggal kos dekat kantor bukan solusi cerdas, lingkungan penuh keakraban di Bintaro sudah harga mati. Naik bus dan KRL juga bukan solusi jitu. Perlunya berulang kali pindah angkutan dengan resiko terlambat, jelas menjadi hambatan. Ternyata solusinya justru kutemukan di dalam Al-Quran.

“(yaitu) orang-orang yan beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS Ar Ra’du: 28).”

“Hai orang-orang yang beriman! Ingatah kepada Allah, dengan mengingat nama-Nya, sebanyak-banyaknya (QS Al Ahzab: 41).”

Dari dua ayat ini, solusi praktisnya adalah mengingat Allah sebanyak-banyaknya sepanjang jalan. Indikasinya adalah hati menjadi tenteram, harapannya adalah kedzaliman instan menjadi berkurang, kalau perlu jauh-jauhlah ia pergi menghilang. Tanpa perlu syetan rajin melakukan bisikan.

Awal mula memperoleh ide dzikir, praktiknya sulit minta ampun. Dengan menjadwal dzikir tiap harinya (entah shalawat, tasbih, tahlil, atau istighfar pada hari-hari tertentu), ternyata lebih sering lisan ini teralihkan oleh fokus macet di jalan. Mungkin karena lafadznya berulang terus dan tak membiasakan otak untuk berpikir keras. Apalagi, evaluasi jumlahnya sulit terkontrol.

Setelah memutar otak lagi, aku temukan lafadz yang masih tercakup dalam dzikir, mudah dievaluasi, namun sanggup memaksa otak untuk aktif berpikir. Dialah yang selama tahun-tahun selanjutnya kugencarkan terus menerus. Dia yang makin memutqinkan hafalan, menemaniku sepanjang perjalanan. Dialah teman tiada sedih dan gusar. Dialah murajaah Quran.

Pada awalnya ia sulit dilakukan. Hafalan lama kurang mutqin, oleh karena itu perlu sering-sering membaca dahulu agar mutqinnya kembali. Dan ternyata, makin ke depan makin ringan. Kendala kian berkurang, diri ini makin tertantang. Tidak lain karena standar evaluasinya jelas. Bintaro sampai kantorku di Jakarta berjarak rerata 1/2  juz, itu sudah dikurangi estimasi macet di jalan dan juga macet hafalan. Otomatis, kalau punya hafalan hanya 3 juz, tiga hari saja sudah kembali dimurajaah lagi. Masya-Allah. Tentu hafalan tiga juz diulang terus-menerus akan cukup membosankan bukan? Solusinya adalah menambah hafalan. Akhirnya tergerak untuk menghafal. Disinilah aku merasa butuh sekali yang namanya; menambah hafalan. Disinilah menambah hafalan menjadi kebutuhan…

Lalu, bagaimana implikasi di jalan? Masya-Allah, mengendara menjadi ringan. Bila semua orang berpikir bahwa naik motor kurang bermanfaat sehingga harus cepat-cepat, maka pemurajaah kendaraan akan berpikir, “Inilah kegiatanku yang bermanfaat, jadi untuk apa cepat-cepat? Nikmati saja!” Atau pas juga dengan logika, “Quran membawa ketenangan bagi pembacanya. Dengan lingkungan yang mudah mendzalimi orang, hati yang tenang akan sulit melakukan kedzaliman.”

Beruntunglah para pengendara motor yang punya hafalan, yang terus menerus menambah hafalan, dan juga senantiasa rajin memurajaahi hafalannya sepanjang jalan. Siapa tahu perjalanan itu dianjut sampai ke surga-Nya kelak. Aamiin… 

(sekelumit pengalaman nyata pencari nafkah Jakarta)…

Sumber:
narasi kisah: salah satu donatur RQ STAN
gambar: bersamadakwah.net
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |