Home » » Al-Quran – Sumber Kemenangan Dakwah (Bagian 2/3 - Alasan Bersama Quran berdasar Dalil Naqli)

Al-Quran – Sumber Kemenangan Dakwah (Bagian 2/3 - Alasan Bersama Quran berdasar Dalil Naqli)

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 23 Mei 2016 | 09.24.00

Inilah... Dalil naqli penguatan diri bersama Quran

QS Asy Syuro 52: “Dan demikian Kami wahyukan kepadamu wahyu (Quran) -à ruuhan min amrina…”

Di dalam ayat tersebut Quran disebut sebagai "ruh", juga sebagai cahaya. Ruh disini mirip dengan ruh dalam QS Al Isra’ 85 yang dimaknai “ruh termasuk urusan Tuhanku, pengetahuan kamu itu sedikit”. 

Padahal ruh menjadi indikator pembeda pada QS Al Mukminun 14 tentang tahapan penciptaan manusia, “Setelah dibungkus dengan daging, Kami jadikan makhluk yang berbentuk lain”, maksudnya adalah berbentuk lain lantaran manusia ditiupkan ruh. Karena ada ruh, jasad manusia menjadi istimewa. Karena disebut ruh, Quran menjadi istimewa. “Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami (QS Asy Syuro 52)."

Selain itu, dalil QS Al A’raf 12 menceritakan tentang keengganan jin bernama iblis yang 'ogah' sujud ke Adam dengan alasan: “ana khairum minha – saya lebih baik daripada dia (dari segi dzat bahan ciptaan)". Imbasnya iblis dikeluarkan dari surga. Apakah Allah mengeluarkannya karena kata-katanya bohong? Atau karena hatinya sombong? Ternyata karena kesombongan… Nah, lalu benarkah api lebih baik daripada tanah (bahan ciptaan jin vs manusia)? Tanpa kita jawab pertanyaan ini, kita sadari bahwa tanah bisa lebih baik dari api sepanjang berpegang teguh pada Quran. Disinilah istimewanya Quran.

Melanjutkan kisah Adam dan iblis, singkat kata Adam diturunkan Allah dari surga ke bumi. Yang nyata terjadi adalah Adam tanpa Quran berhasil digoda syetan untuk makan buah khuldi (maksud Quran disini adalah hadi – petunjuk, yang turun temurun diturunkan Allah kepada para Nabi, yang paling akhir dan paling lengkap adalah yang diturunkan kepada Nabi terakhir, berupa Al-Quran). Artinya: Selengkap apapun fasilitas surga, namun bila tanpa menyertakan Quran (petunjuk), saksikanlah Adam yang gagal mengendalikan diri, sukses digoda syetan.

QS Al Baqarah 30: terjadi diskusi antara Allah dan malaikat tentang manusia sebagai khalifah di bumi? Dan malaikat berkomentar, “mereka suka menumpahkan darah dan berbuat kerusakan, Ya Rabb.” Tentunya argumen malaikat ini didukung dengan dalil-dalil yang banyak tersebar di Quran tentang sindiran Allah; “dzaluman jahula, khuliqan halu’a, dll. tentang hal-hal buruk dari diri manusia” Disinilah hina-dinanya manusia. Walau Allah memberikan statemen kemahatahuannya, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Namun, bil Quran, ada saja manusia yang unggul. Jin sampai bertekuk lutut. Nabi Sulaiman as adalah sosok manusia tersebut. Tak ketinggalan sosok yang tak disebut namanya di Quran: “seorang ahli ilmu dalam al-kitab”. Bila jin Ifrit hanya bisa memindah istana sebelum sang raja bangun dari duduknya, seseorang yang diberi petunjuk (Al-Kitab) itu mampu memindah istana sebelum sang raja mengerdipkan mata (QS An Naml 39-40). Disinilah istimewanya manusia yang hidup bersama Al-Kitab/petunjuk.

Intinya adalah bahwa dalil naqli yang disebutkan di atas membuktikan perlunya manusia menguatkan diri dari nyatanya hina-dina dan keburukan dirinya. Caranya: kuatkan diri dengan Al-Quran. Karena dengan Al-Quran, manusia menjadi lebih istimewa daripada makhluk yang lain. 

Sekali lagi, interaksi dengan Quran secara umum:
baca, pahami, praktekkan, dakwahkan, dan hafalkan...
Allahummarhamnaa bil Qur'aan...
Allahummaj'alnaa min ahlul Qur'aan...

Sumber:
- Catatan peserta mabit
- febrianadila.files.wordpress.com (gambar)
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |