Home » » Kisah Konspirasi Dalam Al-Qur'an

Kisah Konspirasi Dalam Al-Qur'an

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 18 April 2016 | 09.07.00

Apa itu Konspirasi?
Konspirasi seringkali dikaitkan dengan tipuan, lihaian, kejahatan, kebohongan. Namun, sebetulnya KBBI memaknai konspirasi sebagai persekongkolan. Wikipedia menjelaskan teori konspirasi sebagai penjelasan teoritis atas serangkaian peristiwa, baik politik, sosial, atau sejarah, yang dilakukan atas dasar kerahasiaan, seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. Ada teori konspirasi, ada pula wujud kisah/film yang mengupas tentangnya. Karena rasa penasaran yang tersembul dalam konspirasi cukup menarik animo masyarakat.

Kisah Konspirasi di Dunia Perfilman
Penulis bukan pemerhati film. Penulis hanya pemanfaat TV dan pengambil ibrah. Bukan juga maniak bioskop. Karena kisah indah konspirasi banyak beredar di sana. Film Angels and Demons dari buku karangan Dan Brown contohnya. Skenario tersusun cantik, pelik, rumit, dan sulit ditebak. Hingga ternyata konspirasilah klimaksnya, pendeta shaleh itu ternyata jelmaan freemason. Untungnya ketahuan dan tak jadi dilantik menjadi Paus. 

Di film kedua ada; Dark Knight, salah satu seri Batman, bicara soal pahlawan hukum yang atas dasar konspirasi berubah bejat menjadi penjahat, namun endingnya ia tetap dikenal sebagai pahlawan. Sementara Batman yang semula pahlawan, berubah kesan menjadi penjahat. Ada persekongkolan/konspirasi untuk menskenariokan itu semua, walau di akhir kisahnya, penjahat sesungguhnya yakni Joker tetap tertangkap. 

Yang sedikit tersembunyi; film Avenger. Ada sosok Loki si tokoh antagonis yang boleh jadi terkarakteri dajjal. Yakni mampu mengubah hati seseorang dari baik menjadi buruk. Mampu mensekongkoli orang baik agar menjadi berlaku sesuai kehendaknya. Terbukti sudah, adanya teori persekongkolan alias konspirasi di balik segelintir film-film itu.

Bukan menuduh, bukan juga menghasut. Sekedar ingin sharing bahwa konspirasi itu dapat bersifat internal maupun eksternal. Internal jika persekongkolan terjadi antara tokoh-tokoh antagonis yang diperankan dalam film untuk mengalahkan tokoh protagonisnya dengan kerahasiaan yang tersusun rapi. Eksternal jika persekongkolan justru terjadi di antara para pembuat film yang ingin menampilkan suatu pemikiran atau kelicikan tertentu, agar para penonton tidak hanya suka, melainkan juga terbiasa dengan pemikiran tersebut. Ada upaya meniup cahaya Allah yang terang itu. Seperti film yang disebut terakhir, sosok dajjal ditunjukkan di sana. Na’udzubillahi min dzaalik.

Konspirasi dalam Konstelasi Quran
Quran tidak menyebut konspirasi sebagai persekongkolan. Penulis merasa ada kedekatan makna antara istilah konspirasi dengan “makar”, atau tipu daya, yaitu perbuatan tipu muslihat, atau akal busuk yang dilakukan manusia untuk menjatuhkan atau menyerang seseorang.

“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya (QS Al-Anfal: 30).

Ibnu Katsir menjelaskan asbabun nuzul ayat ini adalah peristiwa musyawarah “makar” kafir Quraisy untuk mengikat, membunuh, atau mengusir Rasulullah, yang tatkala didatangi, ternyata yang tidur di kamar beliau adalah justru Ali bin Abi Thalib ra. Belum puas, mereka pun ke atas bukit dan menemukan gua Tsur. Namun, makar Allah berupa sarang laba-laba yang hadir di luar gua memusnahkan anggapan mereka bahwa ada orang di dalam gua.

Rasulullah Saw dan Abu Bakar ra pun aman dari makar mereka. “Aku terapkan makarku kepada mereka dengan makar yang saaangat kokoh, sehingga Aku menyelamatkan dirimu (Rasulullah) dari mereka”, begitulah riwayat Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Ja’far, dari Urwah bin Zubair. Inilah persekongkolan sekaligus tipu daya sesama kaum Quraisy yang dibalas langsung dengan persekongkolan dan tipu daya dari Allah, Rasul-Nya, Ali bin Abi Thalib, dan sarang laba-laba. Dan semua itu atas kehendak Allah.

Kisah Panjang Konspirasi Pelik dalam Al-Quran
Quran kaya akan kisah untuk diambil ibrahnya. Salah satu yang fenomenal dan bertema makarullah adalah yang terdapat di 10 ayat pertama surat Al-Buruj. Ia adalah bukti akan kebesaran Allah, memakari raja lalim sehingga dalam sekejap mata rakyatnya membelot tajam, tiba-tiba beriman. Hidayah memang hak prerogatif Allah. Berikut ringkasannya:

Tersebutlah seorang raja lalim yang memiliki orang kepercayaan tukang sihir tua. Sang raja tak mau kekuasaannya redup lantaran makin lemah usia tua si tukang sihir. Raja pun minta regenerasi. “Cari pemuda yang bisa gantikan engkau!”


Pemuda yang dipilih sebetulnya sudah ada, tetapi ia justru dekat dan cenderung kepada rahib yang beriman kepada Allah. Dengan wejangan ilmu dari sang rahib, atas izin Allah si pemuda sanggup mengupayakan kesembuhan banyak rakyat negeri, termasuk penyakit buta pembantu raja. Setelah diobati dan dipesani, “Aku tidak menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah”, maka pembantu raja segera beriman kepada Allah sembari didoakan oleh si pemuda. 


Sang raja penasaran pembantunya tak buta lagi. Ketika ditanya siapa penyembuhnya, si pembantu menjawab, “Rabbku. juga Rabbmu, yaitu Allah.” Jawaban yang membuat raja murka dan berimbas pada siksaan bertubi kepada si pembantu.


Dari hasil interogasi kepada pembantunya, si pemuda dibawa ke istana. Pemuda pun meluruskan. “Aku tidak menyembuhkan seorangpun. Allah-lah yang menyembuhkan. Bukan Kau, melainkan Rabbku, juga Rabbmu.”  Jawaban yang membuat raja murka dan berimbas pada siksaan bertubi kepada si pemuda.


Dari hasil interogasi kepada si pemuda, sang rahib diboyong ke istana. Namun naas, ketika disuruh meninggalkan agamanya dan sang rahib ogah, ia pun digergaji. Hal sama dialami pembantu raja. Keduanya tewas di tempat.


Kepada si pemuda, raja mengutus anak buahnya untuk membawanya ke puncak gunung. Bila tetap tak mau mengakui ketuhanan sang raja, ia akan ditinggalkan kedinginan. Namun, doa si pemuda yang meminta pertolongan Allah membuat gunung berguncang dan semua utusan raja terguling. Si pemuda kembali ke istana dan berkata pada sang raja, “Allah telah menyelamatkanku dari mereka.”


Kepada si pemuda, raja mengutus anak buahnya untuk membawanya ke samudra. Bila tetap tak mau mengakui ketuhanan sang raja, ia akan ditenggelamkan. Namun, doa si pemuda yang meminta pertolongan Allah membuat samudra berombak dan semua utusan raja tewas tenggelam. Si pemuda kembali ke istana dan berkata pada sang raja, “Allah telah menyelamatkanku dari mereka.” 


Justru kemudian si pemudalah yang menantang raja, “Engkau tak dapat membunuhku hingga engkau lakukan perintahku. Yakni, salib aku di hadapan rakyatmu di tanah lapang, lalu panah aku sembari membaca ‘Dengan menyebut Nama Allah’. Engkau akan dapat membunuhku.”


Di sinilah letak konspirasi itu menyeruak. Ada persekongkolan antara Allah dengan si pemuda, yang ingin agar semua rakyat negeri itu beriman. Sang raja sudah lupa tujuan awal ambisinya, yakni membuat si pemuda beriman kepadanya, atau mati di tangannya. Ia melupakan satu hal fatal; iman di hati semua rakyatnya. Mirip dengan kisah Dark Knight yang hendak mengubah paradigma pahlawan di hati rakyat (yang benar dianggap penjahat, yang salah justru dipahlawankan), kisah di surat al-Buruj ini menampilkan paradigma Tuhan yang sesungguhnya (bukan si raja yang Maha Tuhan, melainkan pembuktian ucapan si raja yang berhasil menuhankan Allah azza wa jalla). Akhirnya, si pemuda mati di tangan si raja pasca-bismillah terucap dari lisannya. Rakyat negeri itu pun seketika terpapar konspirasi menjadi beriman semua. Ya, semuanya.


Berikutnya, terjadilah peristiwa tragis itu. Ash-habul Ukhdud (penghuni parit). Kisah yang juga menyempil di awal-awal Shirah Nabawiyah, menjadi intro-sebelum Nabi Saw lahir. Para pesuruh raja menyiapkan parit raksasa, tempat api membara menyala-nyala, tempat dilemparkannya rakyat negeri yang tidak mau kembali menuhankan raja. Tidak disebutkan berapa yang kembali ke raja, berapa pula yang tetap beriman kepada Allah. Namun, ibrahnya lebih penting daripada statistikanya. Hingga ada seorang ibu bersama bayinya yang ragu-ragu untuk masuk ke pembakaran, si bayi atas karamah dari Allah dikehendaki-Nya bisa bicara, “Bersabarlah wahai Ibuku. Sesungguhnya Engkau berada di atas kebenaran.”

Ending kisah yang diriwayatkan oleh Muslim ini mengajarkan akan kebenaran. Sesuatu yang akan membakar semua konspirasi dan tipu daya yang ada. Kebenaran yang hanya Allah-lah  pemiliknya. Kebenaran yang langka, yang terkadang meragukan, yang boleh jadi jalannya sangat sulit dan membutuhkan kesabaran ekstra tinggi. 

Ya Allah jangan jadikan kami orang-orang yang mudah diakal-akali atau disekongkoli dengan cara yang buruk. Jangan pula jadikan kami orang yang merugi. Namun jadikanlah kami orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Sesungguhnya makar/konspirasi mereka tak ada apa-apanya dibanding makar/konspirasi dari-Mu yang jauh lebih baik dalam menunjukkan al-haqq. Maka, dari itu kami berdoa:


Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnat tibaa’a wa arinal baathila baathilaa war zuqnaj tinaaba – Ya Allah tunjukkanlah yang kebenaran itu memang benar-benar kebenaran, dan karuniakanlah kami kekuatan untuk mengikutinya (memperjuangkannya). Serta tunjukkanlah yang kebatilan itu memang benar-benar kebatilan  dan karuniakanlah kami kekuatan untuk menjauhinya (menghapuskannya). Aamiin.

ibnuz 

Sumber:
1. Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Buruuj ayat 1-10 (HR Muslim)
2. Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Anfaal ayat 30

3. http://www.dakwatuna.com/2013/03/29/30063/makar/#axzz468WhNgjL
4. KBBI
5. Wikipedia
6. Gambar bersumber dari: http://vahn-saryu1.blogspot.co.id
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |