Home » » Surat Cinta untuk Santri Rumah Quran STAN 2015-2016

Surat Cinta untuk Santri Rumah Quran STAN 2015-2016

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 21 September 2015 | 08.06.00


Masih ingat di benak kami para manajemen, momen di mana ustadz Amir Faishol Fath di Hafidz Indonesia mencium tangan hafidzh kecil bernama Musa. Barangkali tatkala melihat peristiwa ‘unik’ itu, respon kita beraneka ragam. Ada yang mungkin merasa biasa-biasa saja, ada yang merasa aneh, bahkan ada yang tersentuh sampai lelehan matanya cair.
Kami manajemen Rumah Quran STAN dari hati sanubari yang paling dalam; ingin mempraktekkan apa yang ustadz kabir itu lakukan di khalayak umum. Kami ingin lakukan itu kepada santri yang sudah memiliki hafalan Quran mutqin 30 juz. Kami ingin lakukan itu sebagai bentuk pemuliaan terhadap Quran yang mewarnai hati-sanubari santri. Kami ingin lakukan itu sebagai penghormatan ahlullah yang sukses menyempurnakan ikhtiarnya. Walaupun ikhtiar itu perlu untuk terus dijaga.

Tapi, kami tidak muluk-muluk inginkan hal itu dilakukan terhadap semua santri. Karena tiap santri punya kemampuan dan keunikan masing-masing.

Kami hanya ingin santri tahu dan faham, kenapa harus ada Rumah Quran di STAN? Kenapa harus ada wajihah dakwah yang cukup newbie, yang baru berumur 4 tahun ini? Dibandingkan MBM (Masjid Baitul Maal) yang berusia sekian dasawarsa. Dibandingkan dulu, pernah ada wajihah dakwah per wilayah kosan, yang saat ini sudah tidak jalan. Bahkan, yang besarnya sebesar MBM sekarang, kini tak lagi terdengar.

Bahwa kita haruslah tahu dakwah haruslah memperhatikan pasar. Sebagaimana TV yang kian amburadul, yang dikuasai oleh permintaan pelanggan dan iklan, bukan lagi diniatkan mendidik dan mencerahkan. Juga media internet yang mengejar rating dan keterkenalan. Tak lagi aspek manfaat diperhatikan.

Bahwa dakwah butuh penyesuaian. Dari semula target dakwah yang serba memiliki keterbatasan terhadap arus informasi. Menjadi mereka yang serba tahu dan serba mau lantaran keterbukaan yang tampil dalam bermacam sisi. Namun, anehnya, target dakwah justru bukan menjauh dari Quran. Melainkan menjadi lebih butuh Quran. Wallahu a’lam adakah korelasi dan riset ilmiah yang telah dilakukan. Akan tetapi, realitanya demikian.

Kampus STAN 2006. Sebagian kecil manajemen saat itu masih berkuliah. Internet sudah ada, friendster cukup booming, facebook baru hidup, whatsapp path, bbm, dan semacamnya masih di kandung badan. Saat itu, belum ada juga kegiatan intens tahsin dan tahfidz Quran. Ada pun; hidup segan mati tak mau. MBM menjadi lokasi yang diupayakan sekuat tenaga untuk kegiatan tahsin-tahfidz, tapi belum juga booming ke mahasiswa.

Sulit booming di kampus, pengurus tahsin coba ke
masjid An Nashr, berharap ada angin segar lantaran lokasi yang lebih strategis. Lambat laun ia hidup dan terus hidup. 2009, santri cukup banyak. Cabang pun banyak dirilis dan digiatkan di masjid sekitar. 2011, Rumah Quran turut meramaikan lembaga tahsin-tahfidz dengan berbagai keterbatasan. Cukup 2 rumah disewa per tahun, dengan visi: mencetak generasi Qurani, generasi yang menjadikan Quran keseharian, kebutuhan, dan rujukan akan kehidupan. Alhamdulillah, sebagian kecil santri turut membantu gebrakan tahsin di lingkungan sekitar, terutama di masjid An Nashr.

Hingga kini, di tahun 2015, wajihah tahsin-tahfidz kian menggelora. 500-an santri secara bersamaan nebeng belajar Quran di An Nashr (tiap Sabtu dan Ahad), 200-an santri tercabang ke
Halaqah Cinta Quran (HCQ) MBM (khusus akhwat), 80-an santri tercatat di Ar-Ridho Kompleks Pajak, belum yang di Bekasi, Duta Bintaro, dan sebagainya.

Al-Quran, kini
seolah menjadi sarana dakwah yang paling dibutuhkan masyarakat. Tak lain karena semua usia membutuhkan, semua aliran menerima, semua kalangan butuh dakwah ini. Istilah ‘pesantren’ yang dulunya angker hanya diisi oleh calon asatidz/asatidzah dalam dunia keagamaan, kini hadir kian mendekat ke masyarakat. Terutama tergambar di lingkungan ini, di kecamatan Pondok Aren. Lalu…? Bagaimana dengan Rumah Quran? Di mana posisi santri Rumah Quran?

Ternyata Rumah Quran mulai dilirik oleh para dosen agama STAN.
Awal 2015, Asatidz dosen tersebut mengajak kerjasama Rumah Quran untuk membereskan bacaan tahsin mahasiswa/i-nya. Mereka butuh pengajar untuk puluhan kelas, ikhwan-akhwat, lantaran ada penilaian khusus ‘bisa membaca Quran’. Ini menjadi sebuah fenomena menarik, mengikuti trend yang ada. Yang pada akhirnya, booming-lah permintaan mahasiswa/i untuk nyantri di Rumah Quran. Mereka butuh… Ya, mereka butuh! Hati mereka bertaut! Masya Allah...

Pada akhirnya, Rumah Quran harus memosisikan diri. Diawali dari memosisikan visinya untuk para santri. Yang semula mencetak generasi Qurani… Kini visinya diperjelas dan dipanjangkan:

Menjadi pesantren Quran merakyat bagi mahasiswa STAN secara khusus dan masyarakat secara umum, yang mencetak 100 penghafal Quran dan pengaja
r tahsin/tahfidz per tahun, yang siap disebarkan ke seluruh Indonesia, memiliki izzah yang teguh dalam memperjuangkan bangkitnya peradaban Quran.

Panjang memang, tetapi menjadi detail. Dan diharapkan, setiap santri mampu meresapinya.
·         Ada istilah pesantren di sana. Manajemen berharap ‘santri’ bukan lagi istilah angker.
·         Ada istilah ‘merakyat’ di sana, jelmaan kata dari akrab dan dekat.  
·         Ada mahasiswa dan masyarakat di sana, tak menutup kemungkinan bila pun ada non-mahasiswa yang ingin bergabung.
·         Ada angka target tahunan: Seratus… Ini adalah aspek kuantitatif visi, menjadi doa dan harapan.
·         Ada istilah penghafal mendahului pengajar. Harapan utama tetap kepada upaya mencetak hafidz/ah. Harapan yang tak boleh dilalaikan pula, ia juga mengajar Quran. Karena keduanya ibarat dua sisi mata uang. “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar DAN mengajarkan Quran (HR Bukhari)”
·         Disebarkan ke seluruh Indonesia. Tentu saja. Apalagi mahasiswa STAN yang diyakini akan melanglang ke penjuru negeri. Alumninya dibutuhkan di semua lini keuangan negara.
·         Izzah yang teguh? Izzah adalah kekuatan. Izzah adalah barang langka zaman ini. Izzah menandai seseorang yang terasing tetapi benar. Ima’ah menandai banyak orang yang kompak tetapi belum tentu benar. Di sinilah kami ingin santri memiliki izzah, bukan ima’ah.
·         Yang terakhir adalah; bangkitnya peradaban Quran. Ini adalah posisi zaman yang kita jajaki. Akhir zaman. Yakni realita sekarang. Di mana banyak hati ingin bertaut kepada Quran. Peluang, sekaligus tantangan.

Dari situlah, santri diharapkan memahami dan cerdas memosisikan diri.

Kami manajemen Rumah Quran inginkan sosok penghafal yang terus berusaha menghafal. Lantas ia melihat kondisi sekitar banyak sekali wajihah tahsin bertebaran, ia pun menjadi kehausan. Ia merasa butuh untuk mengajar, tanpa meninggalkan penghafalan. Ia kuliah, menghafal, mengajar, berdakwah, lantas lulus dari STAN. Teruslah… teruslah dan tetaplah ia menjaga izzah, walau rekan-rekannya kompak ke sana dan kesini, ia terus menjaga izzah, keteguhan prinsip dakwah Quran. Ia pun ditempatkan. Di suatu tempat yang terpencil (ataupun di mana pun di bumi Indonesia). Di sana ia kembali melihat  lingkungan sekitar. Ia pun terus menghafal, mengajar, berdakwah, dan… menyadari bahwa kian dekat ia kepada akhir zaman. Ia jaga izzahnya, ia hadirkan Rumah Quran atau wajihah tahsin-tahfidz lain
di sekitar kehidupan masa depannya. Ia aktif dalam dakwah Quran… Demikian begitu seterusnya. Itulah yang manajemen harapkan…

Sekiranya santri membaca tulisan ini. Manajemen berharap santri memahami dan menancapkan dalam diri, bahwa kalian butuh dakwah ini, bukan dakwah yang butuh kalian. Sebagaimana manajemen juga berusaha menancapkan dalam hati sanubari, bahwa kami butuh dakwah ini, bukan dakwah yang butuh kami.

Ya Allah, limpahkanlah keberkahan buat santri Rumah Quran. Izinkan nama-nama santri hadir dalam doa-doa kami. Hingga kami tanpa lelah mendoakan mereka semua, untuk menjadi hafidz/ah di masa depan.

Ya Allah, tanpa kehadiran santri, apalah kami ini. Apalah Rumah Quran ini. Tanpa ikhtiar dan perjuangan mereka menapaki dan menikmati tiap kegiatan Rumah Quran
, tak ada ruh dalam Rumah Quran kami. Maka, mudahkanlah urusan-urusan santri ini ya Allah. Lancarkanlah lisan-lisan mereka untuk berinteraksi dengan Kitab-Mu. Bantulah mereka untuk istiqomah di jalan-Mu.

Ya Allah, izinkan kami mencintai mereka karena-Mu. Yang karena cinta itu, mihrab langit menjadi bergetar. Yang karena cinta itu pula, rahmat dan sakinah terhimpun di dada-dada kami.

Ya Allah, kekalkanlah cinta kami.

Uhibbukum fillah… Santri Rumah Quran STAN…


Tangerang Selatan, 21 September 2015
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |