Home » , » Menghalau Terjalnya Hafalan Perdana - Mutabaah Mudhir RQ STAN

Menghalau Terjalnya Hafalan Perdana - Mutabaah Mudhir RQ STAN

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 25 November 2014 | 08.35.00

Rabu, 8 Oktober 2014 menjadi agenda mutabaah perdana yang diadakan Rumah Quran STAN untuk angkatan ke-4 tahun 2014/2015 ini. 

Diselenggarakan di masjid An Nur yang notabene terletak di antara dua asrama -RuQun ikhwan dan RuQun akhwat, mutabaah pun berlangsung lancar. Ustad Fadlil Usman selaku mudhir (direktur/manajer) Rumah Quran Darut Tarbiyah menyampaikan taujih dari pukul 20.00-21.30. Dalam agenda tersebut, santri hadir hampir lengkap. 

Taujih Ustad Fadlil menyoroti lebih kepada motivasi menghafal, mengingat santri baru berjumlah cukup banyak. Beliau menegaskan standar 5 juz tilawah per hari. Walaupun secara kurikulum, manajemen menggunakan standar 3 juz per hari untuk santri tahsin dan 2 juz per hari untuk santri tahfidz. Hal tersebut tidak menjadi masalah karena ustad memang menggunakan capaian maksimal.

Dalam kesempatan mutabaah itu pula, ustad Fadlil menceritakan sepak terjang seorang doktor bidang manajemen di Mesir yang memiliki 3 putra, hafidz semua. Hebatnya, ketiga putranya itu hafidz di usia 3 tahun. Lalu apa yang sang ayah lakukan di tengah kesibukannya?

Ustad Fadlil tidak menceritakan detail memang, akan tetapi beliau menginterpretasikan ikhtiar yang dilakukan oleh sang doktor dengan apa yang bisa dilakukan oleh santri Rumah Quran di tengah kesibukan mereka, baik tergerus dalam label ‘aktivis’, label ‘ahlu syuro wal jamaah (sering rapat)’ maupun kesibukan perkuliahan. Ustad Fadlil menganalogikannya dengan jalur pendakian. 

Tatkala orang mendaki gunung untuk pertama kalinya, maka ia akan menemui jalur ekstra terjal, rumput belukar bersilang semrawut. Mencapai puncak pun butuh berjam-jam lamanya. Akan tetapi, bila jalur tersebut dilewati pendaki selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya, maka rerumputan pun kolaps, batuan terjal pun mendatar, jalur jalan pun tampak ringan. Inilah filosofi menghafal Quran.

Ketika seseorang menghalau batu terjal dan rumput membelukar dalam pendakian perdana, ikhtiar inilah model pertama kali menghafal sebuah ayat. Besoknya,  jangan harap masih hafal, tapi paling tidak, lebih mudah menghafalnya dari hari pertama. 

Begitu seterusnya hingga berratus-ratus kali dimurajaah, hingga hafalan secuplik ayat tadi pun bisa jadi sehafal al fatihah. “Tak ada imam yang pernah salah membaca Al Fatihah dalam shalat.” Tutur ustad Fadlil. Hal ini disebabkan terlalu seringnya Al Fatihah dibaca tiap hari. Nah, tantangannya, bagaimana menghafal Al Baqarah sehafal Al Fatihah?

Usai mengisi taujih, ustad Fadlil membisiki manajemen Rumah Quran agar mengajak warga sekitar untuk mengikuti taujih beliau setiap hari Rabu malam di An Nur. Paling tidak, mereka melihat gambaran bagaimana para penghafal Quran di STAN ini dimotivasi. Tentunya motivasi yang sifatnya masih dapat mereka terima dan aplikasikan. Allahu a’lam bish shawaab. (ns)
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |