Home » » Kajian Muharram 1436H, Back-up Agenda Malam Rumah Quran

Kajian Muharram 1436H, Back-up Agenda Malam Rumah Quran

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 25 November 2014 | 18.00.00


Jumat adalah hari di mana musyrif ikhwan menjalani agenda halaqah dan mutabaah musyrif ke Depok. Khusus Jumat, 31 Oktober 2014, agenda tahsin dan setoran ayat pun dialihtugaskan ke Masjid Baitul Maal, Kampus STAN. Di sana ada kajian Ustad Jumharudin menunggu. Sebongkah kajian tertampil ustad lokal sekaliber TV swasta. Masih unik seperti sebelumnya, U-Jum –begitu beliau terkadang disapa- menggunakan pendekatan inflasi kata-kata, bumbu diksi nan renyah, diimbangi logika berimbang pemantik kepala manggut-manggut. 

Tanpa membahas seluas-luasnya kajian bertemakan TAHUN BARU 1 MUHARRAM 1436 H, berikut sedikit pointer yang semoga memahamkan:
  1. Bahagia dan sukses, mana yang lebih dulu? Tentu bahagia dulu, baru sukses. Bukan sukses dulu, baru kemudian bahagia.
  2. Hasan al Bashri berkata, “Tidak ada terbit fajar melainkan ia bicara kepada manusia.” Maksudnya fajar itu berkata bahwa ia takkan pernah kembali lagi ke hadapan manusia.
  3. Ada 3 hari yang dimiliki manusia: hari lalu yang takkan pernah kembali, hari depan yang masih misteri, dan hari ini yang kita kuasai.
  4. Siapapun orangnya, presiden, orang kaya, orang sukses mana pun hanya bisa menguasai hari ini. Mereka akan kurang bahagia bila menyesali hari lalu atau pun mengangani hari depan.
  5. Itulah kenapa hari ini disebut “present”, ia adalah hadiah dari Allah untuk kita kuasai.
  6. Hasan al Bashri berkata, “Manusia adalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, pasti ada bagian yang hilang dari manusia itu.”
  7. Apakah waktu adalah uang? Atau emas? Bukan. Syaikh Hasan al Banna berkata, “Waktu adalah kehidupan.” Tak ada yang bisa hidup tanpa waktu.
  8. Waktu mengubah segalanya kecuali kita. Adapun kita hanya diubah 1 hal oleh waktu, yakni makin menua.
  9. Tubuh manusia sudah sempurna (tak perlu tambahan). Ia menua oleh waktu. Sedangkan mental dan spiritualitas bisa bertambah bisa berkurang.
  10. Dalam QS Al Ashr, orang beriman dikatakan sudah pasti merugi. Paling minimal fisiknya menua. Karena menua, tentu saja merugi.
  11. QS Al Ashr menjelaskan tentang waktu Ashar yang dikaitkan dengan kerugian. Dahulu di zaman Jahiliyah, orang-orang nongkrong di waktu Ashar sambil mencela hari mereka, “Ah, hari ini aku sial, hari ini bisnisku rugi.” Semoga kita termasuk yang lebih mampu memanfaatkan waktu kita.
  12. Beda pahlawan dan galauwan. Pahlawan meneteskan darah orang lain demi perjuangan. Galauwan meneteskan air mata sendiri karena perasaan.
  13. Sebuah renungan: Lebih galau mana? Saat uang kita sedikit? Atau saat amal baik kita sedikit?
  14. Peristiwa hijrah dipilih menjadi awal kalender Islam karena peristiwa yang fenomenal, bertajuk aqidah, dan punya nilai value tinggi. 
  15. Al hijrah harakatu laa sukun; Hijrah itu bergerak, bukan diam. Lihat matahari yang bermanfaat karena bergerak (sesuai orbit), lihat air yang bersih karena bergerak (mengalir), lihat udara yang sepoi karena bergerak (berhembus). Semuanya membawa manfaat bagi manusia. Sebaliknya, akan menjadi musibah jika semua itu diam.
  16. Al hijrah mengajarkan kita bahwa iman (diam) tanpa amal (gerak) tak ada gunanya.
  17. Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…" (QS Al Maidah:68) >> Dengan amal (implementasi ajaran agama), seseorang dipandang beragama.
  18. Jika iman tanpa amal itu dianggap beragama, maka iblis berarti beragama. Karena ia beriman Allah sebagai pencipta (katanya: Engkau ciptakan aku dari api dan Adam dari tanah), tapi tidak mau beramal (bersujud hormat pada Adam).
  19. Ringkasan rukun iman: iman kepada Allah dan hari akhir (banyak ayat di Quran yang meringkas 2 kriteria ini sebagai iman).
  20. Kalau manusia minta panjang umur, ketahuilah bahwa ini doanya iblis (agar menggoda manusia). Maka, manusia harus menambah doanya; “panjang umur dan penuh kebaikan.” Namun, ada doa yang lebih baik, “jadikan aku apa yang Engkau anggap baik, ya Allah” >> tawakkal ful.
  21. Ringkasan hadits qudsi: “Barangsiapa prioritas pada na’budu (ibadah) daripada berdoa, maka Allah akan beri lebih daripada apa yang ia minta.”
  22. Rizki itu dijamin. Lalu kenapa kita berdoa minta rizki? Kenapa kita tidak minta agar ditaatkan oleh Allah. Karena ini belum dijamin sama Allah.
  23. Kenapa sebelum Nabi diutus, suasana Arab tidak kondusif? Karena kalau kondusif, tidak akan terbedakan sesiapa yang beriman, sesiapa pula yang tidak. Hijrah lebih membedakan lagi hal itu.
  24. Kata ‘hijrah’ banyak diplintir menjadi pindah kantor, dari gaji rendah ke gaji tinggi, tambah sukses. Padahal, Nabi dan sahabat tetap lakukan hijrah walaupun mereka sudah hidup mapan.
  25. Prinsip hijrah: Ucapan Nabi Saw kepada sang paman Abu Thalib, “Andai mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, maka takkan pernah aku meninggalkannya hingga agama ini menang, atau aku binasa bersamanya.” >> prinsip hijrah itu bukan materi, tapi karena agama.
  26. Ketika untuk agama dan aqidah di atas segalanya, maka tersisihkanlah makna bangsa, makna tanah air, partai, materi, apapun yang menyatukan para manusia. Karena aqidah yang benar sebetulnya adalah pelindung bagi tanah air, bangsa, materi, dsb.
  27. QS At Taubah 24 teringkas bahwa: “Jika orang dan benda yang dicintai lebih dikhawatiri dan lebih dicintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah memutuskan – Allah tidak memberi petunjuk kepada orang fasik >>> prioritas cinta itu sangat perlu, karena berimplikasi pada ada tidaknya petunjuk dr Allah.
  28. Kalau hidup bahagia karena harta, kok fir’aun dan qarun tidak bahagia?
  29. Sahabat (para ahli hijrah Nabi) telah membawa dan mencahayai agama buat kita. Sedangkan kita, telah dibawa dan dicahayai oleh agama ini.
  30. Konsep QS Adz Dzariyat: 56 >> “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” >> jauhi penghalang, dekati tujuan, demi ibadah.
  31. QS An Nisa 97: Kisah tentang orang beriman yang tidak ikut hijrah ke Madinah. Mereka dipaksa ikut perang Badar menghadapi Rasulullah, lalu mati. Oh, sungguh merugi. Malaikat sampai bertanya, “Piye kowe iki?” Mereka berkata, “Kami orang tertindas di bumi Makkah.” Malaikat menjawab, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat hijrah?” Di akhir ayat, Allah menjamin orang-orang ini bertempat di Jahannam. Na’udzubillah…
  32. Yang dimaksud mustadh’afin (orang tertindas/lemah) di atas ada 2 makna: 1) Lemah yang kemudian dibantai/dicederai/genosida; 2) Lemah dan tidak berdaya dalam ditampakkannya kemaksiatan (seperti kita di negeri sekuler).
  33. QS An Nisa 100 (jaminan Allah dalam hijrah): “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…”
  34. Epilog: Siapa yg meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah akan ganti sesuatu itu dgn lebih baik.
Demikian ringkasan yang memang tidak bisa diringkas, saking taktis dan fully-pointernya pemaparan sang ustad. Namun, beginilah kajian yang mudah direportase. Tantangan selanjutnya adalah mengamalkan ilmu yang telah tercatat.
Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika – Ya Allah bantulah kami mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan (tentunya) dalam beramal baik ibadah kepada-Mu.
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |