Home » » ‘Untuk Umat’, Sekarang atau Masa Depan?

‘Untuk Umat’, Sekarang atau Masa Depan?

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 26 Agustus 2013 | 08.50.00

“Kenapa kita harus sehat, mas?” Tanya Bapak itu sambil memparaf semua halaman dokumen di atas meja. “Lari pagi disempatkan walau betapa banyak kesibukan kita... ?”, Demikian Bapak itu memberi contoh.

Penulis saat itu terdiam. Beliau begitu lincah menggoyangkan tangannya memparaf dokumen. “Walau kita punya kewajiban ngantor...”, lanjut Bapak itu. “Walau kita faham akan makna ‘kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi.. bahwa orang terbaik itu adalah yang bergerak di jalur dakwah...

“Kenapa harus menyempatkan diri untuk lari pagi sejak semuda kamu?”, Bapak itu kini menatap penulis.

Bapak itu memungkasi pembicaraan dengan bertutur lembut, “Karena kita bekerja untuk umat, maka kita harus sehat selama mendampingi umat! Kita tak boleh tergerus oleh kesibukan apapun yang membuat kita lalai dari menjaga kesehatan, yang akhirnya pekerjaan kita ‘untuk umat’ jadi terbengkalai karena harus berperang dengan penyakit.”

***

Pembicaraan imajiner di atas diplintir dari pembicaraan yang nyaris nyata dialami penulis. Secuil hikmah dapat kita ambil dan kita kolaborasikan dengan hadits berikut: Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi). Maka, kalau mau panjang umurnya, kita sehatkan saja diri kita. Bukan hanya dengan kepercayaan dan mind-set semata, pun di luar pandangan tentang garis takdir Allah tentang ‘maut’, melainkan juga dengan ikhtiar untuk sehat. Go run... Itu salah satu contoh saja. #Toh, kita tak tahu dimana dan kapan ruh kita dicabut!

Nah, pembicaraan yang nyaris sama terjadi lagi beberapa waktu belakangan. Tak lain imbas dari silaturrahim pasca-lebaran (walau memang silaturrahim tak harus dilakukan pasca-lebaran, melainkan setiap saat). Namun, tak bisa dipaksa kalau inspirasi sudah masuk menggebrak pikiran.

Kenapa harus untuk umat? Semua alasan atas pertanyaan ini bisa dirangkum dalam tetangga dari ayat ‘kuntum khaira ummatin’ tadi (Ali Imran 110), yakni surat Ali Imran 104 berikut: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Hadits sekitar tema ayat ini sangat banyak dan menjelaskan tentang seberapa beruntungnya golongan ini, yakni golongan yang bekerja untuk umat (menyelamatkan mereka dari  lembah kenistaan), berjuang secara langsung atau tidak langsung dalam berdakwah.

Pembicaraan ‘untuk umat’ kali ini boleh dibilang lahir dari kegalauan seorang pemakmur masjid kampus STAN. Bayangkan, yang biasanya setiap tahun ada generasi pembaharu (ruhul jadid) dari penerimaan anak STAN, kini anak STAN terjeda dua generasi, plus satu generasi terakhir yang terkatung-katung hendak hengkang imbas dari kelulusan. Akibatnya dua generasi kosong, kemudian satu generasi mau masuk, pun kalau toh jadi masuk, generasi kakak kelas terakhirnya sudah hengkang. Gampangnya, sang pemakmur masjid berpikir keras, ‘siapa pemakmur utama masjid ini kelak?’

Secara sederhana, pemakmur masjid adalah mereka yang shalat fardhu di masjid itu (Masjid Baitul Maal -sebut merek juga akhirnya). Dalam hal ini, yang dipermasalahkan adalah pemakmur masjid utama, yakni imam rawatib, imam yang setiap hari lima kali mengimami masjid (baik si imam terus, atau bergantian). Siapakah yang akan menjadi imam rawatib di MBM kalau generasi terakhir sudah didepak dari kampus dan ditempatkan nanti? -itu pertanyaan intinya.

“Coba bayangkan! Kalau kemampuan membaca Quran-nya tidak bagus, lalu menjadi imam. Kasihan dunk para jamaah! Makanya, akhi!”, Bapak pemakmur masjid itu mulai memberi saran -lebih kepada menasehati kami para manajemen Rumah Quran.

“Makanya, akhi... Kalau bisa Rumah Quran dipindah ke sini saja deh! Menjadi pengurus masjid ini. Di belakang masjid ini ada 4 kamar masing2 bisa 3 orang. Toh mereka bisa langsung bermanfaat untuk umat. Menjadi imam rawatib di masjid, tentunya sambil menghafal Quran dan memurajaah hafalan.”

Penulis yang juga bagian kecil dari manajemen Rumah Quran STAN langsung menyitir memorinya, “Waduh, lha wong kita manajemen sudah membikin kontrak baru setahun ke depan dengan pemilik rumah yang lama? Waduh, gimana ya?”

Tak dapat dicegah, inspirasi datang, tentunya masih belum logis, “Hm... Bagaimana kalau Rumah Quran tambah satu lagi?”, ujar suara inspirasi itu. “Yakni mereka-mereka yang berani langsung bermanfaat untuk umat. Menjadi pengurus rumah tangga masjid ini, menjadi imam masjid, menghafal Quran, memurajaah hafalan, dan pastinya menjadi mahasiswa STAN yang sholeh. Bagaimana?”

Kemudian muncul permasalahan, “Siapa musyrif/pembimbingnya?”

Suara inspirasi  tak mau kalah, “Mudah saja. Kita ajak saja pemakmur masjid tadi untuk menjadi musyrif, menerima setoran hafalan. Toh, kita bisa membikin jadwal rekonsiliasi alias mutabaah bulanan menyatukan fikrah ketiga Rumah Quran (Ruqun Ikhwan, Ruqun Akhwat, dan Ruqun Masjid Baitul Maal), tentunya selain mutabaah yang dilakukan oleh Ustad Fadhlil Ustman selama ini. Kita bisa lebih intens berjuang untuk Quran. Kita bisa sharing-kan ketiga Rumah Quran. Kalau perlu, kita bisa tukar santri, sehingga yang di Ruqun Ikhwan bisa gantian menjadi imam di Ruqun Masjid Baitul Maal. Ayolah, ini lebih menguntungkan!”

Terakhir, kita dapat pertanyaan pamungkas, “Tiga Rumah Quran? Darimana biaya mengelolanya?”

Suara inspirasi pun terbahak-bahak, lantas bertutur lembut, “Allah Maha Kaya! Cukuplah itu menjadi keyakinan!”

Visi utamanya sudah jelas bahwa Rumah Quran akan menghasilkan generasi Qurani ‘untuk umat’, yakni melalui alumni STAN yang akan disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Namun, dari pembicaraan tadi, secara sederhana, kita temukan dua pilihan visi yang lebih detail. Apakah ‘untuk umat’ ini berarti untuk umat masa depan? Ketika mereka ditempatkan di titik-titik krusial instansi pasca lulus dari STAN? Ataukah untuk umat ini berarti bisa dimulai dari sekarang? Ketika mereka mulai menghafal dan berinteraksi dengan Quran, pun langsung bisa bermanfaat ‘untuk umat’?

Ini PR manajemen. Mohon doa dari pembaca, semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita. Juga langkah-langkah mereka yang berjuang untuk umat, baik untuk sekarang, atau untuk masa depan.

by : Nur Syamsudin
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

27 Agustus 2013 11.33

Sip Mas, lanjutkan...

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |