Home » , » Keistimewaan Penghafal Menangani Waktu Sulit

Keistimewaan Penghafal Menangani Waktu Sulit

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 30 Agustus 2013 | 08.06.00

Sudah banyak keuntungan yang bisa diperoleh jika kita menjadi penghafal Quran, mulai dari Quran sebagai pemberi syafaat di hari akhir (HR Muslim) bagi siapa yang membaca, memahami, dan mengamalkan isinya, menjadi hujjah/pembela serta pelindung dari siksa neraka (HR Muslim), bahkan termasuk dalam kategori Ahlullah/keluarga Allah (HR Ahmad). Mungkin, secara logika dunia, keuntungan-keuntungan tersebut tak mampu dijangkau mata. Namun, jika kita bicara logika akhirat, maka sungguh cukuplah Allah sebagai Pembalas segala amal kebaikan kita.

Kalau secuil keuntungan di atas dapat selalu kita korelasikan dalam konteks zaman dahulu dan sekarang (universal), maka jika kita merunut pada zaman sekarang saja, maka sungguh yang kita dapatkan dari aktivitas penghafal Quran tak lain adalah keistimewaan. Apa maksudnya ini?

Tak bisa dipungkiri, zaman sekarang teknologi terus maju, jarak seolah kian menyempit, waktu seolah dapat dihemat, salah satu imbasnya persoalan makin meluas. Yang harusnya tak ada ‘satu’ masalah, karena saking banyak dan multidimensinya urusan manusia (pun saking banyaknya manusianya), maka masalah jadi ada. Muncul berbagai persoalan yang menimbulkan kesedihan, kesulitan, kemacetan, tunggu-tungguan yang secara otomatis mengganggu waktu prioritas kita. 

Jika para pebisnis merasa bahwa waktu adalah uang, maka seorang Ibnu Abi Hamzah menjelaskan dalam Bahjatun Nufus-nya bahwa waktu ibarat pedang yang maknanya; kita dianjurkan untuk memotong waktu dengan amal perbuatan (baik) agar tidak terpenggal oleh kebiasaan menunda-nunda amalan. Kenapa menunda? Boleh jadi karena masalah, kesedihan, kegalauan, kesulitan, kemacetan, dan sebagainya.

Hal ini memunculkan 2 pertanyaan: bagaimana mengatasi berbagai persoalan kekinian itu? Lalu, bagaimana mengalihkan persoalan justru menjadi amal perbuatan (baik)? Jawaban singkatnya, yakni mendekat kepada Al Quran. 

Kita bisa jawab pertanyaan pertama dengan memahami makna ‘zaadat hum iimaanaa’ (QS Al Anfal:2) bahwa ayat-ayat-Nya menguatkan iman kita, pun Al Quran sebagai penawar dan rahmat (Al Isra:82), dan juga hati kita bisa menjadi tentram karena mengingat Allah (Ar Ra’du:28). Maka, untuk mengatasi pertanyaan kedua adalah solusi teknis dari jawaban pertama. Bagaimana mengalihkan persoalan menjadi amal perbuatan baik? Kita sempatkan saja menghafal atau memurajaah Quran.

Singkatnya, kita perlu mendekat kepada Quran. Dengan solusi terperinci terbagi menjadi dua titik poin. Pertama, Jika yang kita dapati adalah sebuah masalah yang perlu fokus utama diri kita mengatasinya, maka kita bisa fokus pula dalam mendekat kepada Quran. Baik itu kembali membaca Quran (menyempatkan diri dari kesibukan kita), mengingat ayat-ayat penuh motivasi, mentadaburi, memahami tafsir, merenungi ayat-ayatnya, hingga mendengar kajian yang menukil ayat-ayat Quran. 

Nah untuk yang kedua, disinilah letak keistimewaan para penghafal Quran dari mereka-mereka yang sekedar mendekat kepada AlQuran. Jika kita dapati sebuah masalah yang sulit menemukan fokus, seperti menunggu (tak bisa dipungkiri hal ini sulit bagi sebagian orang), macet di tengah jalan, stres, pokoknya tak tersedia Quran dalam sekejap, maka para penghafal Quran bisa langsung mengambil memorinya untuk mengingatkan diri sendiri, merenungi, mengisi waktu luang (selagi macet di jalan misalnya). Dan disinilah (salah satu) keistimewaan dan letak perbedaan kemampuan ‘mengatasi masalah’ oleh sosok penghafal Quran dibanding dengan bukan penghafal Quran.


by : Nur Syamsudin
Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |