Home » , » Berusahalah, Wahai Kawan

Berusahalah, Wahai Kawan

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 12 Juni 2013 | 17.00.00


Tak semua kehidupan orang lain sama dengan kehidupan kita,tak semua yang kita rasakan juga sama dirasakan oleh orang lain,tak semua kebahagiaan yang kita alami dialami oleh orang lain,walaupun kita berada di planet / bumi yang sama,walaupun kita menjejak tanah yang sama,bahkan walaupun kita berada di rumah yang sama.

Sekali-kali tidak,setiap orang pasti menerima ujian sesuai kadar keimanan,seperti di sebut dalam sebuah hadits:
"seseorang diuji sesuai kadar keimanannya, apabila teguh dalam keimanannya maka ujiannya bertambah berat, apabila lemah dalam keimanannya maka diuji sesuai kadar keimanannya, ujian terus menerus menimpa seorang hamba sampai meninggalkannya berjalan dimuka bumi dalam keadaan bersih dari kesalahan” [HR Imam Turmudzi dan dishahihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Shahihahnya 1/225].

Ini adalah kisahnya,kisah salah seorang yang memberikan warna dalam sebagian kehidupanku beberapa bulan lalu hingga akan datang (INSYA ALLAH),seseorang yang dengan kesabarannya selalu menerima apa yang ada,seseorang yang sengaja ku dampingi dengan cara yang berbeda dari yang lainnya (bukan karna kekuranganmu,tapi kau teramat istimewa bagiku).

Kau yang sangat-sangat tak kubiarkan untuk berleha-leha,karna aku juga ingin membuktikan pada dirimu,bahwa dirimupun mampu untuk menjadi seperti yang kau inginkan.

di sini aku ungkapkan padamu,"MAAFKAN AKU IM,bukan aku tak sayang atau terlalu keras padamu di banding pada yang lain,tapi aku hanya ingin membuka matamu,bahwa kau pun mampu seperti mereka dengan segala yang kau miliki,kaupun bisa mengejar mereka,menjadi seseorang yang bersinar seperti namamu. Inilah caraku untukmu,yang tidak aku berikan pada yang lain."

Untuk kesekian kalinya aku gagal lagi. badan ini sudah lelah, hati ini sudah terluka, mulut ini sudah tak tahu apa yang harus diucapkan.

Lelah rasanya menjadi seorang yang selalu gagal pada hal yang sama. Aku tak tahu apakah kesalahan ini terletak pada diriku atau tidak, atau pada mereka. Tetesan air mata yang keluar dari kedua mataku rasanya tak memiliki arti apa-apa lagi. semua sudah terasa hambar, tak seperti dulu. Warna-warni pelangi di dihidupku kini telah memudar, tergantikan dengan warna kelabu. Dunia rasanya tak memiliki arti bagiku, terkadang aku ingin pergi jauh, sejauh mungkin yang kubisa. Mencari ketenangan di tengah keramaian, sungguh membuatku semakin terpuruk. Hiruk pikuk kehidupan yang semakin hari semakin tak beraturan sulit membuatku menemukan kembali arti kehidupan dalam hidupku. Hampir mustahil seperti mencari jarum dalam jerami. Melakukan kesalahan yang sama, sehingga gagal pada hal yang sama, terkadang membuatku jatuh lebih dalam, ke dalam alam pikiran yang aku sendiri tak mengerti.

Kedua orang tuaku tak pernah marah jika anak-anaknya ada yang gagal, apalagi menghadapi aku yang selalu gagal pada hal yang sama. Mereka selalu berkata, “Ibu dan bapak nggak pernah marah dengan kegagalan kalian, kami berdua bangga, menghargai dengan hasil usaha kalian selama ini.”

Sudah jelas aku nggak akan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, walau bapak dan ibu sudah berusaha sejauh mungkin, tapi karena niat awal bapakku ingin aku supaya menjadi hafidzoh dan memiliki pribadi yang lebih baik. aku sangat menyadari peribadiku sangatlah buruk. Dan ba’da magrib *IM* dan saudara-saudara *IM*, juga ibu mendapatkan nasehat-nasehat dan kata-kata bijak dari bapak. Semua ilmu yang bapak dapatkan selalu diberikan, disampaikan kembali kepada kami.

Dan akhirnya bapak bilang sama *IM*,”Kegagalanmu awal dari kesuksesanmu dan bapak sudah bilang dari awal *IM*, bapak kirim ke Tangerang di Rumah Qur’an STAN Bintaro, belajar Qur’an dan mengahapal Qur’an ya, jadilah wanita yang sholehah dan berkepribadian yang baik ya.
*IM* langsung menjawab,”Iya pak, insya Allah.”

Dan ibu bilang,”IM, udah nggak usah sedih lagi ya, nggak usah mikirin yang aneh-aneh, dengan IM dekat dengan Allah dan Al-Qur’an insya Allah rezeki datang dari mana aja dan apa yang IM inginkan insya Allah akan mengabulkannya.”

Tenanglah hati IM dengan nasehat-nasehat ibu dan bapak. Hari demi hari, waktu demi waktu, IM lalui dengan sabar dan tenang. Manfaatkan waktu sebaik mungkin sampai tanggal dan hari di mana aku berangkat ke Tangerang itu tiba.

Tiba saatnya tanggal 3 Juli 2012, IM harus ke Tangerang diantar oleh bapak untuk jihad di jalan Allah dan untuk pertama kalinya IM jauh dari keluarga, tapi karena kewajiban bukan karena apa pun. Aku selalu ingat sebuah kata dari Imam Syafi’i,”Orang yang pandai dan beradab tak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah di negeri orang.” Memang berat, sangat berat meninggalkan kedua orang tuaku dan kewajiban-kewajibanku di rumah yang biasanya menggembala kambing dan sapi, biasanya masak, cuci piring, cuci baju, bersih-bersih rumah, jualan, ke sawah, kini sudah sepenuhnya kedua orang tuaku yang mengerjakan.

Tanpa persiapan dan modal apa-apa, IM diantar bapak ke Tangerang, alhamdulillah ada rezeki Rp200.000,- hasil penjualan jagung ibu. Ibu berpesan ke aku,”Jangan boros ya, jangan banyak bicara, fokus, jangan menunda-nunda pekerjaan, jangan malas, pekalah terhadap lingkungan sekitar.” Begitu juga bapak berpesan,”Jangan berlebih-lebihan, jangan iri dengan teman-temanmu, hiduplah yang sederhana, rajinlah puasa dan shalat malam,” aku berkata,”Iya, pak insya Allah IM akan selalu melaksanakan nasehat bapak dan ibu,” masih banyak lagi nasehat mereka berdua kepadaku.

Akhirnya, jam 15.00, saatnya aku dan bapak berangkat ke Tangerang. “Ibu, mbak, adik-adiku, semuanya doakan aku ya, maafkan semua salahku ke kalian,” baru kali ini aku bisa mengucapkan kata-kata itu darimulutku. “Iya, anakku sayang, kita selalu mendoakan kamu.”

Berangkatlah aku dan bapak ke Tangerang, 17 jam perjalanansangatlah melelahkan. Alhamdulillah sampailah kami di rumah Om (adik dari bapak) sekitar pukul 10.00, dan waktu berjalan dengan cepat. Jam 19.00, om dan tante pulang dari kantor, IM ditanya panjang lebar. Ternyata, semua keluarga awalanya tidak percaya bahwa IM jauh dari keluarga, tapi pada saat IM mengangkat tas dan menjinjingnya masuk ke dalam mobil, barulah percaya.

Nenek berpesan,”Kamu jangan sering nangis di sana, seringlah kamu ke sini.”

IM menjawab,”Insya Allah,” lalu masuk ke dalam mobil dan meluncur ke Rumah Qur’an STAN Bintaro. Selama perjalanan, bapak selalu menasehati IM dan kedua sepupuku,”Biasakan hidup jauh dari orang tua ya.” Aku menjawab,”Santai, aku bisa.”

Di jalan tol, beberapa kali kami muter-muter nggak berjalan, dan pada akhirnya kita sudah mengelilingi jalan depan STAN selama tiga kali, kita pun bertanya kepada Satpam yang bertugas di STAN,”Jalan jeruk PJMI di mana ya, Pak?”

Pak Satpam itu menjawab,”Belok kanan dan lurus terus, Pak, nanti ada gerbang PJMI dan tanya aja sama satpam di sana lagi.” setelahnya, bapak berterima kasih kepada Pak Satpam dan kami pun menemukan gerbang PJMI lalu bertanya lagi kepada satpam yang ada di sana. “Jalan jeruk mana ya, Pak?”
Bapak satpam menjawab,”Belokan nomor dua dari kiri, Pak.”

“Oh iya, terima kasih, Pak.”

Sejenak berhenti dapat sms dari manajemen yang ikhwan.

Saya tunggu bapak di masjid AN-NUR
Iya, saya sudah di PJMI

Dan muter-muter terus saja mencari. Ternyata sudah beberapa kali kami melewati jalan jeruk dan masjid An-Nur. Hmmm...kami kurang peka, datanglah sms lagi.

Saya tunggu di RQ saja
Iya saya sudah di depan RQ.

Jam 22.00, sampailah aku di “Rumah Qur’an STAN Bintaro”. Aku disambut dengan senyuman yang ramah dari manajemen, beliau begitu ramah. Aku dan bapak dipersilahkan masuk. Aku langsung menuju ruang tengah dan bapak di ruang tamu berbincang-bincang dengan manajemen. Tak lama kemudian bapak pamit pulang. IM menyesali kenapa IM tidak mau menemui bapak disaat beliau pamit pulang. Yaa Allah, ampuni dosa hamba.

Setelah itu, aku dan manajemen, musrifah, dan kakak saling berkenalan. Itupun setelah salah satu akhwat selesai ujian 10 juz. Canda tawa mereka mengingatkanku pada teman-temanku dan keluargaku, tapi saat ini juga mereka semua suda menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih Yaa Rabb, Engkau kirimkan mereka semua untukku dan terima kasih Engkau perkenalkan aku ke jalan-Mu =)

Waktu menunjukkan pukul 02.30, saatnya kami semua istirahat sejenak, melepas kepenatan dan kelelahan hari ini.

Pagi yang cerah, aku sudah ada di RQ STAN. Bukan di rumah. Aktivitasku sudah berbeda, kini sepenuhnya dengan Al-Qur’an. Ba’da subuh, aku dipanggil musrifah dan diutus membaca Surat Maryam, setelah itu musrifah bilang,”Ana mau ke Jawa Timur selama sepekan, anti tilawah 3 jus setiap hari ya, anti pasti bisa.”
Aku jawab,”Insya Allah, Mbak.”

***

Aku melihat keadaan rumah selama dua hari, ternyata memang kakak-kakak di RQ sibuk semua, dan aku selalu ingat pesan kedua orang tuaku. Walaupun bukan tugasmu dalam apa pun itu, selagi kamu bisa, kerjakanlah. Aku kerjakan pekerjaan rumah dengan senang hati.

Hari demi hari, waktu demi waktu, ternyata sudah hampir satu bulan aku di RQ. Tanggal 23 Juli 2012, ada acara wisuda tahfidz Qur’an di Masjid At-Taqwa Pasar Minggu. Pesertanya adalah mereka yang sudah lulus ujian 5 juz, 10 juz, 15 juz dan 30 juz. Salah satunya adalah santri akhwat STAN yang diwisuda 10 juz. Subhanallah...aku pasti bisa seperti beliau-beliau ini.

Air mata ini tiba-tiba mengalir membasahi pipiku, malu. Sangat malu, aku belum bisa apa-apa. tetaplah semangat... tak tahu sudah berjalan berapa puasa Ramdhan tahun ini. setelah acara wisuda juga ada mabit seluruh RQ dan terbuka juga untuk umum, tepatnya tanggal 28 Juli 2012 di Masjid Bea Cukai Rawamangun selama 3 hari 2 malam. Sangatlah menyentuh hati, dalam waktu tiga hari harus sudah khatam Al-Qur’an dan hafal surat Ad-Dukhan dalam dua hari. Subhanallah... salah satu  yang khatam dalam waktu tiga hari dari akhwat STAN dan yang hapal Ad-Dukhan juga dari akhwat STAN. Barokallah....
Dari RQ akhwat STAN ingin sedekah, alhamdulillah terlaksana.

Tanggal 2 Agustus 2012, aku dan kedua kakak akhwat di RQ STAN pulang ke kampung halaman. Alhamdulillah perjalanan 18 jam lancar sampai rumah dan dijemput bapak, jadi deket sama bapak =)
Sebulan di rumah sudah cukup, alhamdulillah bisa berkumpul bersama keluarga dan keliling bersama keluarga.

Tanggal 31 Agustus, akhirnya balik ke Tangerang bersama kakakku dan kakak akhwat dari RQ STAN.
Hari berjalan seperti biasa, mulai setoran dan belajar tahsin dengan teman semuruan aku. Tanggal 11 September 2012 langsung dengan musrifahnya, dikoreksi ternyata banyak kesalahan yang datangnya dari aku karena aku belum tahu, jadi aku harus lebih giat belajarnya. Dan tilawah berjalan 10 juz setiap harinya, banyak kesalahan dalam tilawahku, dengan sabarnya kakak-kakak membimbingku.

Tanggal 15 September 2012, datanglah santri baru akhwat, dua orang seumuran denganku dan duanya lagi lebih muda daripadaku, mereka semua punya hafalan yang cukup bagus, saat berkumpul dengan salah satu manajemen akhwat, di tengah acara tiba-tiba aku menangis, malu, takut dengan semua ini. akhirnya, mereka semua memberiku semangat dan dukungan. Lihatlah senyum kedua orang tuamu di saat kamu hilang kepercayaan dan semangat... Semangat, kamu pasti bisa, terima kasih ya... =)

Hari dan waktu berjalan dengan cepat, belajar tahsinku belum ada kemajuan dibanding teman-teman yang lain. Dan saat setoran surat Al-Mulk juz 29 ayat 7-12, aku benar-benar malu dengan semuanya. Bacaanku salah total, hukum-hukumnya dan Yaa Allah...maafkan hamba-Mu ini yang belu tahu apa-apa dari kitab suci-Mu, aku menangis. Air mata ini mengalir kembali dan setelah selesai setoran di catatan buku mutaba’ahku, musrifah menuliskan,

”Semangat, sungguh memang tidak mudah, anti pasti bisa.”

Terima kasih atas kata-kata yang membuatku semangat dan bangkit kembali.
Ujian tahsin pertama 78, 70, 8 dan yang terakhir 5, astaghfirullah...maafkan hamba belum bisa sempurna....

Pada tanggal 7 Januari 2013, aku setoran Ar-Rahman, tapi menghafal dan alhamdulillah ada kemajuan, setelah itu musrifah memutuskan kami bertiga boleh menghapal asal tilawah kalian diperbaiki. Khusus buat aku, TILAWAH JANGAN DISENTAK-SENTAK, dan dalam seminggu ini khatam Al-Qur’an dua kali, insya Allah bisa =)

14 Januari 2013, setoran hafalan An-Naba’. Alhamdulillah, lancar dan berlanjut ke ayat demi ayat berikutnya...

Ya Allah...

Hafalanku masih awal juz 30 dan itu pun terbata-bata. Tapi aku selalu mensyukuri semuanya, karena aku sudah menghafal, insya Allah ke depannya lancar, amin....

Pekan kemarin, IM ditelepon bapak dan ibu. IM bercerita semuanya. Bapak dan Ibu menasehati,”IM boleh menargetkan sesuatu apa pun itu, tapi lihat IM yang sekarang harus lebih baik dari yang lalu. Berusahalah semampumu, ibu dan bapak tidak menargetkan kamu harus selesai cepat, yang terpenting bacaan IM bagus, dan hafalannya lancar, terjaga, tahsinnya bagus dan benar-benar masuk dalam pikiran dan juga IM memperbaiki diri. jadilah wanita sholehah, yang rendah hati, rendah diri, jangan banyak bicara, wanita sholehah yang punya kepribadian baik. Bapak dan ibu nggak marah atau kecewa jika tahsinmu gak lulus dan hafalan kamu diberhentikan, itu artinya kamu harus lebih sungguh-sungguh. Ibu dan bapak ridha dengan usahamu, insya Allah, Allah pun ridha dengan usaha IM. Fokus dan istiqomah ya anakku, jangan pernah iri dengan teman-temanmu yang akan kuliah, bapak dan ibu lebih bahagia punya anak-anak yang hafidzoh, yang berkepribadian baik, akhirat tercapai, daripada kalian sekolah tinggi-tinggi tapi akhiratnya nol, sama sekali nggak ada. Jika akhirat kamu raih, dunia pun akan mengikutinya.”
Parfum tidak semerbak jika tidak dikocok, kayu tidak akan terbakar sehingga dibakar. Begitu juga derita, semua adalah kebaikan dan kenikmatan bagimu.

Orang sukses tidaklah nafsu dan kelemahannya mengalahkan akal dan kesabarannya. Dan tidak direndahkan oleh hal-hal yang sepele. Orang yang kokoh dan tumbuh, yang tekun dan berhasil, yang menanam akan memanen dan yang bersabar akan menang serta yang kuat akan unggul. Semut mengukung naik ribuan kali, lebah pergi berulang kali, dan serigala demi mangsanya menahan kegembiraannya.
Aku pasti bisa sampai akhir. Dan di sinilah, aku juga belajar dewasa dan tidak egois. “Walaupun bukan kewajibanmu atau tugasmu, kerjakanlah selagi kamu bisa, jika belum ada yang menyentuhnya, kerjakalah dengan begitu kamu memberi contoh pada mereka, jangan pernah capek untuk merubah keadaan yang lebih baik.”

Sukses selalu untukmu IM,kuharap setelah ini kaupun bisa membuka matamu bahwa kau pasti bisa seperti yang kau inginkan,akan akan berlari mengejar mereka semua.

UKHIBBUKIFILLAH ya ukhtayya IM
-Dewi Lestari-


Share this article :

Posting Komentar

 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |