Kabar Terbaru »
Bagikan kepada teman!

Foto-foto Rihlah RQ STAN

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 18 Juli 2018 | 11.52.00

Rabu, 18 Juli 2018

Selagi rihlah, tak lupa ada tausiyah 
Rihlah berarti petualangan. Maka, rihlah RQ STAN 8 Juli 2018 diawali dengan ajang mencari jejak margasatwa yang dikaitkan dengan hikmah dari Al-Quran. Ragunan yang seluas itu, dihinggapi sudut demi sudut oleh mereka -santri-santri RQ-,  yang berharap hikmah akan aktivitas tadabbur alam. Berwujud perhelatan, hasil jepretan dan story Instagram para pemenang lomba ditampilkan di halaman terakhir artikel ini.

Yuk, lihat petualangan kebersamaan RQ STAN di Ragunan:

Game pemererat ukhuwah RQ ikhwan

Game pemererat ukhuwah RQ akhwat




Suasana kumpul jelang makan siang, ada tausyiah sejenak

Selain tausiyah, ada penjelasan manajemen dan sharing selama di RQ

Foto bersama spanduk

Suasana game di masing-masing spot: ikhwan agak jauh di kiri, akhwat lebih dekat di kanan

Putra-putri sholehah calon penghafal Qur'an dari tim manajemen RQ STAN


Hasil lomba capture and story Instagram - Rihlah RQ STAN

Juara 1: akun Instagram Chadzkh



Juara 2:  akun Instagram Wildanaththooriq


Juara 3:  akun Instagram Salmasvr



komentar | | Baca...

Rihlah atau Makrab RQ STAN?

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 17 Juli 2018 | 14.25.00

Selasa, 17 Juli 2018

Rihlah RQ STAN - 8 Juli 2018 di Ragunan


Pernahkah kita merasa capek, pusing, stress, jenuh dan hal-hal lainnya yang meresahkan jiwa dan raga? Tentu kita semua pernah? Lantas bagaimana solusi mengatasi hal tersebut?

Rekreasi!! Ya benar sekali, rekreasi adalah pilihan yang tepat untuk mengatasi capek, jenuh, dan gonjang-ganjing hati yang meresahkan jiwa dan raga. Dewasa ini, terutama fenomena di kampus PKN STAN, ada dua media sebagai sarana berekreasi, diantaranya adalah rihlah dan makrab.

Rihlah
Diambil dari kata bahasa Arab yang berarti perjalanan. Perjalanan mentadabburi alam dengan maksud dan tujuan yang baik, dengan didasarkan niat kepada Allah SWT. Perjalanan yang dimaksud adalah perjalanan yang dianggap sebagai rekreasi, agar jiwa dan raga kita segar kembali.

Kalau kita pernah ikut halaqah (mentoring), kajian ilmiyyah, dauroh (training), mabit (malam bina iman taqwa), tatsqif (kajian tematis), mukhoyam (camping), juga rihlah (perjalanan/petualangan). Kesemuanya itu merupakan perangkat pembinaan dan penempaan muslim untuk menjadi insan yang lebih baik. Hm... Ternyata gak cuman ngaji di masjid saja ternyata ya. Tapi, tentunya hal tersebut butuh porsi yang proporsional. Jangan sampai kajian sebulan sekali, rihlah malah sepekan sekali. Idealnya; ngaji sering-sering, mabit dua pekan sekali, dauroh beberapa bulan sekali, rihlah setahun sekali, dan seterusnya.

Nah, apa sih tujuan rihlah?
Islam selalu menyerukan agar manusia dalam berpergian dan bergerak menghasilkan kebaikan dunia dan akhirat. Jadi bukan hanya kesenangan saja yang di dapat dari rihlah, tetapi pahala atau ganjaran dari Allah SWT juga akan diraih. Semua kegiatan tersebut akan bernilai ibadah jika tujuan berpergian dalam rangka mencari ridho Allah SWT. Rihlah untuk rekreasi dalam rangka tafakur alam dicontohlan oleh Zulqarnain dalam QS Al Kahfi: 83-98.

Lalu apa manfaat dari mengikuti rihlah?

Rihlah dapat menjaga kesehatan jasmani dan rohani, menguatkan rasa solidaritas, mengukuhkan ukhuwah, membangun kebersamaan atau rasa peduli terhadap lingkungan.

Makrab,
Ia memiliki kepanjangan malam keakraban. Tujuan makrab biasanya untuk lebih mengenal antara masing-masing individu, bertujuan agar jarak kesenjangan antara individu yang satu dengan yang lain menjadi berkurang bahkan terhapuskan. Makrab ini tidak ada batasan atau yang membatasi berkumpulnya laki-laki dan perempuan (campur baur) dan biasanya makrab dilakukan hingga dini hari (menjelang pagi). Ada yang berkata “Kalau makrab tapi tidur jam 22.00, namanya bukan makrab”.

Apa sih tujuan makrab?
Makrab biasanya dilakukan ketika ingin mengawali atau ingin berakhirnya suatu organisasi, bisa juga ketika suatu angkatan ingin lulus sekolah atau lulus kuliah, sebelum atau sesudah ujian. Tujuannya adalah untuk kesenangan, rekreasi, membuat antara individu yang satu dengan yang lain bisa menjadi lebih akrab atau lebih dekat.

Lalu apa manfaat dari makrab?

Mendapat pengalaman baru, bisa berbaur antara individu yang satu dengan individu yang lain tanpa adanya rasa canggung dan segan.

Dari dua fenomena tersebut, RQ memilih: Rihlah
Setelah Maret 2012, Rumah Qur’an STAN akhirnya mengadakan rihlah lagi. Masya-Allah, berikut foto rihlah 2012 yang sangat membekas di hati manajemen RQ, karena saat itu, ustadz Fadlil Usman yang masih sehat bugar, memimpin langsung rihlah khusus RQ STAN ke masjid At Taawun, Puncak, Bogor; dalam rangka merekreasikan pikiran dari aktivitas-aktivitas selama di RQ.

Foto kenangan rihlah RQ STAN 2012 bersama Ustadz Fadlil Usman rahimahullah

Setelah 6 tahun berlalu, RQ STAN akhirnya mengadakan rihlah lagi. Masya-Allah, bukan bermaksud sebagai agenda enam tahunan, namun memang baru fokus terlaksana pada momen tersebut. Jazakumullah khairan kepada alumni RQ STAN 2017 yang menjadi motor penggerak dan panitia sehingga terlaksana juga rihlah ini.

Hari itu, Ahad, 8 Juli 2018 bertempat di Ragunan. Bertepatan dengan selesainya KTTA tingkat 3 dan momen persiapan UAS. Rihlah bertujuan untuk rekreasi sekaligus mengingatkan kita akan ciptaan Allah yang begitu indah berupa margasatwa khas Ragunan. Terbukti dengan adanya lomba mencari hewan yang dibahas di Quran, sekaligus membuat story di Instagram pribadi santri RQ mengenai tadabur ayat yang membicarakan hewan tersebut. Tentu inilah foku


s utamanya: petualangan, plus jalan-jalan :)

Selain tadabur alam, rihlah kali ini sekaligus mempererat ukhuwah antar-santri. Dengan format ikhwan akhwat dipisah, masing-masing alumni memainkan game-game pemupuk ukhuwah agar santri makin saling kenal, jauh dari permusuhan. Mereka pun antusias. Tak ketinggalan, rihlah juga butuh energi. Konsumsi pun disiapkan dari pagi hingga siang. Alhamdulillah. Adzan Ashar berkumandang dan para peserta rihlah sudah kembali beraktivitas di area kampus PKN STAN. Singkat memang, tapi insyaAllah quality time optimal.

Sampai jumpa di Rihlah RQ STAN berikutnya :)
komentar | | Baca...

Pengumuman Registrasi Gel I - RQ STAN 2018-2019


Bismillahirrahmaanirrahiim

Quran Surat Al-Qomar 17, 22, 32, 40 diulang 4 kali dengan arti:
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"


Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang belajar, mengambil pelajaran, dan kelak mengajarkan Qur'an sedapat kami, demi meraih ridha-Mu. Karena:
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajar Quran (HR Bukhari)" 

Berikut adalah hasil registrasi santri tetap dan pulang pergi gelombang I - Rumah Quran STAN Periode 2018-2019 yang InsyaAllah akan dimulai pada awal September 2018 mengikuti kurikulum awal perkuliahan PKN STAN.

SANTRI PUTRA

RQ MBM:
  1. Muhammad Syarif Hidayah
  2. Nawwaf Shobri
  3. Galang Rizki Persada
  4. Tio Ramanda
  5. Muhammad Fikri Ali
  6. Hamzah Abdulloh



RQ PJMI:

  1. Dearest Zainul Hamid
  2. Muhammad Yoga Pratama
  3. Hasan
  4. M. Aji Ma'ruf Saputro
  5. Helmi Rizqiyanto
  6. Barkah Kolista Moedy
  7. Muhammad Althof Rafsanjani
  8. M. Keen Fikri Aly
  9. Brilian Praptawijaya
  10. Difa Syamaidzar Dzamir
  11. Faqih Pambudi

SANTRI PUTRI

RQ CEGER:
  1. Qurrata A'yun
  2. Dinda Rahma Sari Harahap
  3. Fitri Ayu Ningtiyas
  4. Matsna Ulya Farihati
  5. Elsa Kholifatunnisa


RQ GRANADA:
  1. Titik Nur Fatik'ah
  2. Fitri Wahyu Novitasari
  3. Trisnaning Tyias Arum
  4. Queenton Lita Karina Piscesa
  5. Aulia Ines Paramita
  6. Siti Mudrikah
  7. Nindya Silviana W

RQ PP-NAIMIN:
  1. Hasna Rosyida
  2. Rizki Fadlina Harahap
  3. Tasya Fitri Sakira
  4. Fadilla Fanni
  5. Erika Astuti
  6. Nadhira Bunga jelita
  7. Nur Sifa Septiani
  8. Annisa Fathiarti
  9. Elisa Dwi Nugraheni
  10. Nusaibah Tsabitah
  11. Alifah Nur Rohmah
  12. Olivia Rizki Dwi Putri

Catatan:
  1. Nama-nama santri berwarna hitam merupakan santri tetap, warna biru merupakan santri PP;
  2. Penempatan santri di atas belum termasuk santri lama yang melanjutkan kembali di RQ STAN (baik tetap maupun PP);
  3. Penempatan santri di atas akan dikombinasi lagi dengan registrasi gelombang ke-2 yang akan dibuka pada saat momen Daftar Ulang Mahasiswa Baru - PKN STAN;
  4. Bagi pendaftar santri beasiswa sosial, status tersebut bersifat privat dan tidak disampaikan dalam pengumuman hasil registrasi ini. Prosedur pengukuhan masih berlangsung termasuk dengan dilengkapinya dokumen-dokumen yang diperlukan;
  5. Lokasi RQ belum ada kepastian sampai dengan dimulainya kurikulum baru, awal September 2018. Hal ini disebabkan oleh masih perlunya manajemen mengevaluasi lokasi RQ STAN yang saat ini digunakan;
  6. Sampai dengan dipastikannya lokasi RQ, para calon santri tetap sebagaimana tercantum namanya, diizinkan untuk berpindah tempat tinggal ke lokasi RQ di atas. Namun demikian, calon santri memiliki konsekuensi apabila ternyata rumah berpindah lokasi, maka harus mengikuti perpindahan ke lokasi yang baru.
  7. RQ STAN akan memulai kurikulum 2018-2019 pada awal September. Sebelum kurikulum berjalan, RQ STAN akan menyelenggarakan pra-kurikulum berupa Soft-Opening, Taujih Quran, dan Quran Camp yang akan diinformasikan setelah registrasi gelombang ke-2.
  8. Fiksasi jadwal akan diumumkan di grup resmi santri RQ STAN.


Alhamdulillah
Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlul Qur'aan
komentar | | Baca...

Ayat Arus Balik

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 02 Juli 2018 | 09.08.00

Senin, 02 Juli 2018


Arus Balik memberikan banyak pelajaran bagi kita. Salah satunya: kenyataan bahwa kita pasti “balik” kepada aktivitas semula, setelah: mencari ridha, memuliakan, menyenangkan hati, dan memberi kebanggaan bagi orangtua di kampung halaman, dengan segenap gegap gempitanya Lebaran.

Telah lewat kita bersuka-cita atas nikmatnya hari raya. Sembari itu, kita berharap-doa lantaran belum pastinya amal dan ampunan diterima, bercemas-rindu tersebab Ramadhan yang belum tentu kembali bertemu, lalu bercemas-kuadrat apakah amal tersebut beranak-pinak hingga ke masa depan kelak? Akankah label “muttaqiin” layak disematkan pada diri pasca-tempaan Ramadhan terlewat? 

Sungguh, jangan kemudian kita ambil pelajaran bahwa arus balik berarti semuanya akan “balik”. Seolah secara digital, sebelum Ramadhan, saat, hingga setelahnya bernilai: 0 1 0. Ramadhan ibarat angin lalu, lepas darinya kembali mengosong dari kebaikan. Sungguh rugi. Sungguh merugi. 

Maka, bayangkan kita baru saja melalui masa-masa menawan bersama seabrek amal ibadah Ramadhan, lantas kita ter-arusbalik-kan dari Ramadhan sambil membatin, “Akhirnya, makan kembali tak dibatasi, lisan tak lagi tersedikiti, malam tak lagi tersibuki berdiri dan bertakbir dalam ramai atau pun sepi. Aah, leganyaaa…. Kebebasan itu hadir menghampiri (sambil melepaskan jahit demi jahit libasutaqwa yang telah dicapai). Nah, bayangkan sehabis pikiran kita menceracau demikian, Allah langsung turunkan seutas tanya melalui ayatnya:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allâh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. [al-Hadîd/57:16]

MasyaAllah. Betul-betul ayat “Arus Balik” yang layak kita jadikan sarana me-makjleb-i hati. “Seolah tak ada tenggang waktu sejak keislaman kami…” , kenang Ibnu Mas’ud, “… eh kok sudah diingatkan dengan teguran yang sangat mengena, berupa ayat ini.”
Maklum, tafsir ayat ini menurut Ibnu Katsir sejatinya menjelaskan tentang “masa panjang” kaum Yahudi dan Nasrani, yang bukannya terprioritasi untuk amal ibadah dan menambah kebaikan, justru malah untuk mengubah ayat-ayat al-Kitab, menjualnya secara tidak layak, melemparkannya secara hina. Mereka bertaqlid, menciptakan variasi beragama, menyandarkan pendapat yang membingungkan, bahkan menjadikan pemuka-pemuka mereka ilah selain Allah. Karena keburukan itulah, hati mereka mengeras, enggan dinaungi nasihat, merusak. Keburukan bertumpuk-tumpuk yang menghijabi kebaikan. 

Asal tafsir tersebut selayaknya kita internalisasi dalam diri. Persis seperti tokoh tabiin terkenal, Fudhail bin Iyadh, yang awal mulanya bermata-pencaharian merampok. Lantaran mendengar teguran ayat ini, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman… ?” , lantas beliau tekadkan, “Sudah waktunya”. Dan beliaupun beralih menjadi tokoh ulama terkemuka. Lalu bagaimana dengan kita?

Semoga selepas mendengarnya, Allah ilhamkan begini dalam hati, “Ya Allah, sudah waktunya bagiku. Untuk tetap berada pada pembiasaanku di Ramadhan. Seoptimal upayaku, seharapku tuk istiqomah pada-Mu. Puasaku, terimalah ya Allah. Tandanya: aku jalankan Syawal-an dan puasa sunnah lainnya. Qiyamul Lailku, terimalah ya Allah. Tandanya: aku tetap bangun malam dan menyisir sunyi di atas sajadah cinta. Baca Quranku: terimalah ya Allah. Tandanya: aku tetap membuka mushaf, membacanya, menghafalnya, mengamalkannya. Kebaikan-kebaikanku: terimalah semua ya Allah. Sesungguhnya, aku sangat cemas Engkau tidak menerimanya…”

Karena sesudah itu, akan hadir masa yang panjang, dari Ramadhan ke Ramadhan. Semoga kita dapat mengisi jeda itu dengan bertumpuk-tumpuk kebaikan, sehingga hati kita jauh dari keras, terus melunak dan tetap mengkhusyuk, lalu Allah jauhkan tanda kefasikan dalam diri kita. Sebaliknya, kita pun termasuk orang-orang yang lurus. Semoga...

Semoga memang yang kembali kepada kita betul-betul kemenangan yang dipertahankan. Harap kita: pasca mengepompong Ramadhan, kita ibarat kupu-kupu yang hinggap pada bebungaan nan mewangi, tak lagi terbatasi merayapi daun. Bukan seperti ular yang sebelum atau setelah kulitnya terkelupas, ia sama saja tetaplah ular. Tinggal pilih. Mau seperti kupu-kupu atau ular?

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaa taqabbal minnaa jami'a ibadaatanaa 
Walau sudah terlewat, semoga belum terlambat:

Ja'alanallahu wa iyyaakum minal 'aaidin wal faa'izin 
(Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang kembali dan beruntung)
Mohon maaf lahir dan batin

***

Catatan: Judul ini seharusnya lahir setelah artikel berjudul Ayat-Ayat Mudik 2, namun Qadarullah niatan itu pudar lantaran moment yang telah lewat. Bila Allah izinkan berumur panjang, InsyaAllah Ayat-Ayat Mudik 2 akan tersebar di akhir Ramadhan tahun depan. Semoga memompa kondisi iman menjadi lebih baik.
komentar | | Baca...

🤜 Optimalkan Hari Terakhir 🤛

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 13 Juni 2018 | 14.19.00

Rabu, 13 Juni 2018


✅Telah terkibar spanduk-spanduk Selamat idul fitri
✅Telah terobral diskon besar lebaran di mal-mal dan toko-toko online
✅Telah tersiap ucapan-ucapan Selamat lebaran mulai dari kartu kiriman hingga post-chat ke media sosial
✅Telah tertukar uang pecahan baru sebagai tanda cinta tuk anak-anak kerabat berikut amplop lucu-lucunya
✅Telah terbelanjakan Baju-baju baru, juga nastar dan putri salju, yang tersedia di meja tamu

😔 Tapi... 😔
😯 Sadarilah... 😯


🤜Ramadhan masih menyisakan satu hari,
🤜Jangan sampai kita ramaikan iktikaf di 8 hari terakhir, tapi lalai di hari ke-9 nya
🤜Jangan sampai kita penuhi tilawah berjuz juz di 8 hari terakhir, tapi penuhi hari ke-9 dengan berjus-jus alpokat sirsak mangga dan sebagainya
🤜Jangan sampai lantaran sudah merasa menangkap lailatul qadr, kemudian kita kesampingkan ikhtiar di malam terakhir,
🤜Jangan sampai bola yang sudah nyata di depan gawang, tiba-tiba kita salah tendang malah keluar lapangan - jangan sampai ampunan yang sudah nyata akan Allah berikan, ditarik kembali karena jomplang di hari terakhirnya
🤜Jangan sampai kalah cerdas daripada kuda pacu, yang slalu memacu kecepatan maksimal dan menghabiskan energinya tepat menjelang garis finish (nasehat Ibnul Jauzi)
🤜Jangan sampai tolok ukur Ramadhan kita justru di awalnya, padahal seharusnya lebih tepat di akhirnya walaupun berkekurangan di awalnya (nasehat Ibnu Taimiyah)
🤜Tanda diterima nya amal kebaikan adalah berlanjutnya amal kebaikan di waktu berikutnya (nasehat Imam Hasan Al Bashri) -  Tanda diterima nya amal Ramadhan bisa jadi adalah mengalirnya amal amal kita di bulan syawal dzulqodah begitu seterusnya

🤫 Tidak Ada Jaminan 🤫

😰Tak ada jaminan, bahwa kita sudah mendapatkan ampunan lantaran telah melewati 28 hari Ramadhan,
😰Tak ada jaminan, bahwa sudah diangkat amal-amal Ramadhan kita hingga terbayarkan zakat fithri kita,
😰Tak ada jaminan, bahwa Ramadhan ini akan berlanjut hingga Ramadhan depan -  bisa jadi akan ada kiamat kecil berupa kematian kita, atau kiamat besar sebelum Ramadhan tahun depan?

👉 Maka,

👉 Jangan kasih kendor di hari terakhir
👉 Tetap penuhi hak seluruh hari terakhir dengan ibadah seoptimal mungkin
👉 Tetap iktikaf, tilawah, memohon ampunan dan maaf dari Allah,
👉 Tetap memohon agar Usia kita disampaikan di ramadhan berikutnya,

😭Ya Allah kabulkan doa-doa baik kami. Aamiin

Allahummarhamnaa bil Qur'aan...
Allahummaa innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu 'anna - Yaa Kariim...
komentar | | Baca...

Ayat-ayat Mudik (Bagian 1)

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 11 Juni 2018 | 18.08.00

Senin, 11 Juni 2018

Judul ini tidak sedang ingin menandingi film fenomenal Ayat-ayat Cinta. Judul ini sekedar ingin membuat kita memahami betapa banyak hikmah yang bisa dituai selama kita berproses mudik. Ayat kuncinya ada disini:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran: 190-191)

Ayat ini memiliki nilai historical bagi saya. Terlebih kalau masuk bulan Ramadhan. Maklum, generasi 80-an mengenal ayat ini dari sinema Ramadhan di tahun 2000-an berjudul Lorong Waktu. Tiap kali film ini tayang, ayat ini dibacakan sebelum lagu pembukanya. Masya-Allah. Apalagi isi filmnya yang bergenre Science Fiction, film tentang mesin waktu yang mengenalkan kita akan kisah-kisah hikmah dan perjuangan.

Ayat ini juga memiliki kenangan bagi saya saat pertama kali naik pesawat. Melihat awan putih bersih bak kapas-kapas terbang, lalu bumi dengan panorama rerumahan, jejalanan, dan sesawahan yang kian mengecil, aduhai indah nian bila sambil dibacakan ayat ini. Saya mengistilahkannya dengan: ayat kauniah yang berfusion dengan ayat qouliyah. Menjadi sarana perenungan yang powerfull menghenyakkan hati. Apalagi tatkala merenungi doa terakhir ayat ini, “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini semua (gugusan awan, bumi, dan langit) dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” Sungguh, membuat mbrebes mili bila hati sedang dalam posisi defaultnya.

Lalu, Apa Hubungan antara Ayat ini dengan Mudik?

Mudik bisa dilalui via darat laut dan udara. Hm… melalui tadabur hati, ayat ini bisa membuat perenungnya merasa mak jleb. Mak jleb yang dimaksud bisa kita maknai dengan “alaa bidzikrillaahi tathma innal quluub: hanya dengan mengingat Allah, hati kita menjadi tenang (QS Ar Ra'du 28).

Jika hati si perenungnya belum pada posisi default, melainkan: uring-uringan, emosi, tak enak hati, hingga teramalkan: terobos sana terobos sini, kurang beradab selama berkendara mudik, hm… agak sulit membumikan tadabur ayat ini ke dalam hati. Itu kalau kita sebagai pribadi yang aktif mengendalikan kendaraan kita.

Jika hati si perenungnya legowo, baik sebagai pengemudi atau sebagai penumpang yang baik, insyaAllah sambil merem-merem, seperti ada lelehan es ke dalam hati, sejuk segar. Memahami bahwa tak ada yang sia-sia dari penciptaan dan takdir Allah. Semua ada hikmahnya. Alangkah indah dan penuh berkah, bila sedang macet total, ternyata seisi kendaraan malah senyum ceria karena kabar gembira ini. Aneh memang.

Emang, Seberapa Dalam Makna Ayat ini Membersamai Kita Saat Mudik?


Bayangkan kita sedang perjalanan mudik. Tidak bisa dinyana, bahwa tiap mudik pemandangan yang terhampar adalah ciptaan Allah. Yang di udara, memandang langit dan bumi lebih luas. Yang di laut, memandang laut dan langit seperti saling bercermin. Yang di darat, memandang sawah, jalan, mobil berlalu lalang, dan interaksi orang-orang. Semuanya adalah ciptaan Allah. Maka, pas dengan permulaan ayat ini, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi…”. Ibnu Katsir meliputkan makna kalimat ini sebagai: tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ciptaan-Nya yang dapat dijangkau indera, seperti: bintang, darat, laut, pegunungan, pepohonan, dan lain-lain.

“Dan silih bergantinya malam dan siang…” Ada kalanya prosesi mudik melewati masa siang ke malam dan juga sebaliknya. Semua ini adalah ketetapan Allah yang menjadi tanda-tanda (kode-kode) bagi ulul albab, yakni orang-orang yang berakal. Dijelaskan Ibnu Katsir, mereka adalah orang-orang yang bersih dan sempurna akalnya, mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Semoga Allah golongkan para pemudik seperti kita sebagai ulul albab, yang di ayat selanjutnya dijelaskan: mereka punya kebiasaan mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Pada posisi apa saja mereka mengingat Allah. Tidak cukup disitu, mereka juga memikirkan yakni berusaha memahami apa yang terdapat di antara langit dan bumi, sehingga hati mereka mampu menampakkan keagungan Allah berikut kekuasaan-Nya, keluasan ilmu-Nya, hikmah dan rahmat-Nya.

Mari saksamai andai kita menjadi pemudik seperti Syaikh Abu Sulaiman Ad-Darani, “Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, lalu setiap yang aku lihat merupakan nikmat Allah dan ada pelajaran bagi diriku.” Masya-Allah, tak ada yang tersia…

Dari kegiatan dzikr dan fikr selama prosesi mudik inilah, lisan kita memunculkan pemahaman sekaligus doa, yang ditafsirkan Ibnu Katsir berikut ini:

“Ya Rabb, Engkau tidak menciptakan semua ini dengan sia-sia, melainkan dengan penuh kebenaran, agar Engkau berikan balasan kepada orang-orang yang beramal buruk atas apa yang mereka kerjakan, dan Engkau berikan balasan kepada orang-orang yang beramal baik dengan apa yang lebih baik, yaitu surga. Maha Suci Engkau ya Rabb, Tuhan yang jauh dari kekurangan, aib, dan kesia-siaan. Peliharalah kami, selamatkan kami dari siksa neraka.”

MasyaAllah. Indah sekali bila tiap perjalanan mudik, bahkan bila perlu tiap kita berkendara, jauh atau dekat sekalipun - kita bisa mengambil ibrah dari perjalanan kita, mengombinasikan aktivitas dzikr dan fikr untuk bisa menyimpulkan: betapa luas kekuasaan Allah, bahwa sejauh-jauh kita memikirkan hal tersebut, maka kita akan sampai kepada harapan agar kita terbebas dari neraka-Nya, agar Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Semoga kita tidak termasuk dari bagian ayat ini:

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan yang lain)”
(QS Yusuf 105-106).

Allahummarhamnaa bil Qur'aan...
Allahummaa innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu 'anna - Yaa Kariim...

Sumber: Kitab Tafsir Ibnu Katsir
komentar | | Baca...

Panen Raya Auto-Murajaah

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 10 Juni 2018 | 22.16.00

Minggu, 10 Juni 2018


Dalam tulisan sebelumnya berjudul auto-murajaah, kita bisa sederhanakan ia dengan istilah untuk murajaah hafalan di sembarang waktu, yang penting dalam satu hari itu, terselesaikan murojaah sesuai target: 1 juz misalnya. Contohnya: hafalan juz 30 kita, terbagi menjadi beberapa peletakan murajaah: ada yang dibaca ketika sholat sunnah, ada yang dilafalkan ketika berkendara, ketika naik bus, ketika jalan kaki, ketika menunggu antrean, ketika hadir waktu-waktu yang bisa diperduakan bersama Quran. Yang penting 1x24 jam, khatam terlafalkan 1 juz.

Auto-Murajaah sendiri sejatinya berfungsi untuk mengekspansi keberkahan urusan-urusan kita, menyemai ketentraman dalam hati, dan tentunya menjaga Al-Quran tetap di hati, agar tidak lari-lari. Kalau menggunakan bahasa ternak unta: agar ayat-ayat yang sudah kita hafal naik level dari “unta liar” menjadi “unta jinak”. Kalau sudah jinak, ia akan mudah dilafalkan kapan saja dimana saja. Tanpa perlu intip-intip mushaf.

Nah, ternyata auto-murojaah itu sebentuk proses, bukan hasil. Lho kok? Ya tentu saja. Karena selama kita mengagendakan auto-murojaah, kita boleh saja intip-intip mushaf, boleh saja macet dan nabrak-nabrak (asalkan dibetulkan dengan intip mushaf tadi), boleh saja sedih dan geleng-geleng kepala sendiri karena lompat dari surat satu ke surat yang lain -alias salah nyambung-. Karena toh, kita sambal intip mushaf. Hm… untuk auto-murojaah di sholat sunnah, barangkali bisa dikondisikan agar tidak sering intip mushaf, malah sebaiknya yang mutqin saja.

Bila auto-murojaah itu proses, lalu kapan hasilnya dipanen?

Jika auto-murojaah adalah agenda di bulan Ramadhan, maka panen raya nya ada di 10 hari terakhir. Di hari-hari penuh kenangan itu, kita yang biasanya pindah tidur ke masjid akan berusaha membersamai Al-Quran secara intens. Kalau masjid menggelar agenda Qiyamul Lail berjamaah, maka sesi baca Quran kita tentu saja nebeng ke imam. Nah, kalau sudah pulang kampung dan tak ada imam Qiyamul Lail, hm… tentu saja kita mengimami diri kita sendiri. Kalau QL baca Qul hu kok rasanya kurang marem. Maka, silakan panen raya di saat QL tersebut. Panen raya dengan segenap dan sesedikit hafalan yang kita punya.

Kalau automurajaah biasanya 1 juz dalam sehari dibagi-bagi terinjeksi ke dalam aktivitas-aktivitas kita, maka alangkah indah bila panen raya automurajaah adalah 1 juz sekali Qiyamul lail. Masya-Allah. Ini bukan lagi proses, ini adalah hasil dari pemutqinan hafalan selama automurajaah, dimana kita memaknai agenda ini sebagai memurojaah hafalan bersama Allah.

Sungguh, bagi kita yang rindu dengan Allah dan -Rasul yang menerima wahyu berupa Al-Quran-, memurajaah hafalan ketika Qiyamul lail dapat menguatkan hati. Membayangkan betapa berat ketika wahyu diturunkan kepada Nabi kita. Ketika kemudian kita baca di sepertiga malam terakhir, ada nikmat tiada tara yang menyesap dalam hati. Yakni ketika membaca ayat-ayat rahmat lalu kita meminta rahmat. Juga ketika membaca ayat-ayat adzab lalu kita meminta perlindungan. Ada tangis yang coba dilelehkan, ada sedih yang membekas, ada harap-harap cemas untuk mengiringinya dengan taubat dan perenungan. 

Inilah sebaik-baik panen hafalan. Semoga Allah mampukan kita memurajaah hafalan bersama Allah di dalam shalat-shalat malam kita. Terlebih di 10 hari terakhir Ramadhan ini.

Allahummarhamnaa bil Qur’an - Waj’hu lanaa hujjatan ya Rabb…
Allahumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwaa fa’fu’annaa
komentar | | Baca...

Output Ramadhan = Wishlist (???)

Ramadhan kan bulan berdoa, so seharusnya disinilah kita banyak-banyak berdoa, banyak-banyak menuliskan wishlist secara sistematis, kemudian dimintakan ke Allah di waktu-waktu maqbul doa, seperti waktu sahur, sebelum berbuka, dan sebagainya di bulan Ramadhan. Lho, tapi kok dari judul ini, wishlist jadi output Ramadhan ya? Bukankah malah jadi melewatkan momen maqbul doa di sayyidus syuhur Ramadhan?

Eits, wishlist yang dimaksud disini bukan daftar doa yang hendak dipanjatkan. Untuk memahaminya, coba kita mampir sejenak ke toko-toko online. Nah, disana biasanya ada satu tombol di pojokan berjudul wishlist, berisi tentang produk-produk yang kita ingini. Untuk menaruh suatu produk ke daftar wishlist ini, kita hanya perlu pilih produknya, lalu klik tanda hati, tanda like, atau tanda apapun yang menunjukkan kesukaan kita pada produk ini. Apa fungsinya? Sederhana saja: saat kita klik tanda hati, sejatinya kita belum butuh, atau bisa jadi masih bokek, atau belum mampu membeli produk tersebut. Nah, harapannya: saat kita butuh, sudah punya uang, atau ketika sudah mampu nanti, kita hanya perlu melihat daftar ini saja untuk membelinya, tidak perlu menjelajahi tombol searching. Nah, mudah dan praktis bukan. (kok malah jadi tutorial begini yak, wkwkwk).

Lalu, apa yang di Ramadhan mirip dengan istilah Wishlist ini?

Mari kita awali dengan renungan: berapa khataman telah kita lakukan selama Ramadhan ini. Dari sejumlah khataman itu, apakah kita bertemu dengan ayat-ayat yang menggembirakan, ayat-ayat yang menyedihkan, ayat-ayat yang inspiratif, ayat-ayat yang memukau hati? Ibarat memasuki toko online, apakah ada produk surat atau ayat yang ingin kita betikkan ke dalam hati? Ingin kita hafal dan murajaah bersamanya? Adakah tanda cinta kita berupa harapan untuk menghafalnya suatu saat nanti?

Masya-Allah…

Wishlist merupakan upaya kita yang belum mampu menghafal suatu surat/ayat sekarang di bulan Ramadhan (karena sibuk dengan kejar tilawah, kejar iktikaf, kejar lebaran, eh…), dengan cara memasukkannya ke dalam daftar keinginan agar bisa kita agendakan untuk menghafalnya di waktu-waktu kemudian, alias pasca-Ramadhan.

Karena sejatinya cinta terhadap Al-Quran muncul dan bergelora di bulan Ramadhan. Cinta itu membuat kita berkali-kali khatam. Cinta itu membuat waktu kita terprioritaskan untuk Al-Quran, bahkan kalau ada sisa-sisa waktu, pengennya bersama Al-Quran. Adakah cinta itu bisa diprospek di luar Ramadhan nanti? Adakah cinta itu mewujud menjadi tekad nyata untuk mempersatukannya ke dalam hati? Adakah ayat-ayat itu kita rindukan untuk menyemayaminya ke dalam hati? Lalu kita tunaikan cinta kita dengan memurajaahnya senantiasa? Oh, kalau sudah bicara murajaah, tak ada kata rugi. Ia adalah agenda abadi, sepanjang nafas, sepanjang jantung kita berdetak, sepanjang Allah kasih kita usia.

Maka…

Kalau kita bertemu surat terpanjang di Quran dengan keutamaan membuat lari syetan di rumah yang dibacakannya, masukkan ke dalam wishlist. Kalau kita bertemu surat yang mampu membawa cahaya di dua Jumat, masukkan ke dalam wishlist. Kalau kita bertemu surat yang berpotensi menyelamatkan kubur kita, masukkan ke dalam wishlist. Ada surat yang membuat Raja Najasy masuk Islam, indah nian surat itu, daftarkan ke dalam wishlist. Umar bin Khattab sampai masuk Islam mendengar surat ini, daftarkan ke dalam wishlist. Dan masih banyak lagi... Banyak sekali surat-surat hingga satuan ayat dalam Quran yang menginspirasi kita, memiliki nilai historical yang kuat dan keutamaan yang tinggi berdasarkan dalil syariat, tentu agar kita termotivasi untuk menghafalnya.

Maka…

Bila atas izin Allah nanti, ternyata kita menapaki Syawal dan bulan-bulan berikutnya, perhatikan wishlist tersebut, manakah yang kita prioritaskan dari Ramadhan ini ke Ramadhan berikutnya untuk kita hafal? Sehingga, tatkala kita masuk ke Ramadhan tahun depan (atas izin Allah), hafalan kita sudah bertambah 1, 2, 3 surat yang siap dimutqinkan secara optimal di bulan Ramadhan depan.
Oh, indahnya bila tiap Ramadhan yang kita masuki tiap tahunnya, ada hafalan yang bertambah. Ada sekumpulan juz dan surat yang dimurajaah, yang siap dibacakan dalam shalat-shalat malam kita (tanpa memegang mushaf). Itu adalah kenikmatan tiada tara bagi orang-orang yang mampu merengkuhnya. Semoga termasuk kita di antaranya.

Allahummarhamnaa bil Qur’an - Waj’hu lanaa hujjatan ya Rabb…
Allahumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwaa fa’fu’annaa - Yaa Kariim
komentar | | Baca...
 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |