Kabar Terbaru »
Bagikan kepada teman!

Tahfidz Camp: Untaian Doa Pamungkas

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 12 Februari 2018 | 16.48.00

Senin, 12 Februari 2018



Inilah doa terakhir Tahfidz Camp, 30 Januari 2018; 
yang semoga menyentuh hati:

Atas berbagai nikmat Allah yang jumlahnya melebihi taubat kita atas dosa-dosa kita, mari kita istighfar sebanyak-banyaknya terlebih dahulu.

Nastaghfirullahal ‘adziim, Nastaghfirullahal ‘adziim, Nastaghfirullahal ‘adziim

***

Alhamdulillahirabbil aalamiin. Hamdasysyaakirin hamdannaa’imin hamdan yuwafi ni’amahu wa yukafi’u maziidah ya rabbanaa lakal hamdu kama yambaghili waj hikal kariimi wa adziimi sulthoonik. Allahummaa shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

Ya Allah yang Maha Karim. Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini berkumpul di masjid-Mu dalam rangka ketaatan kepada-Mu. Engkau yang Maha Baik, telah mengizinkan kami mengikuti rangkaian acara ini, maka jadikanlah kami baik, jadikan kami orang-orang sebagaimana Engkau janjikan dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, masukkan kami ke dalam golongan yg kelak akan mendapatkan naungan di hari akhir dimana tidak ada naungan selain naungan-Mu. Golongkanlah kami sebagai orang2 yang hatinya senantiasa terpaut dgn masjid-Mu ya Allah. Sedalam usia kami di dunia ini.

Ya Allah yang Maha Kasih sayang. Engkau pulalah  yang membawa kami, menggerakkan hati ini utk bermesraan dgn Al Quran sepanjang kegiatan ini. Berupa membaca tilawah dan menghafalkannya. Engkau telah izinkan kami terus baca, baca dan berulang-ulang, hingga kadang kami bingung. Kami bingung Ya Allah, kenapa tdk masuk masuk ya Allah? Kenapa? Apakah dikarenakan dosa-dosa kami yang mementahkan hafalan ini ya Allah? Maka dari itu, dari huruf-huruf yang terulang terus menerus di tengah kebingungan kami tdk hafal-hafal, limpahilah kami 10 kali kebaikan tiap huruf nya ya Allah, sebagaimana motivasi kami menghafal. Taburi kami dgn kebaikan-kebaikan tersebut, sehingga kelak kami dpt menghafalnya secara maksimal, pertemukanlah kami dengan metode menghafal yang mampu memutqinkan hafalan kami kelak, Dan kuatkanlah kami agar dpt melanjutkan interaksi kami bersama Quran selanjutnya, yakni: memahaminya, mempraktekannya, hingga mendakwahkannya.

Ya Allah, atas ayat ayat yang terulang-ulang dlm lisan kami, jadikanlah cinta-Mu membersamai kami dalam hari-hari kami selanjutnya. Bantulah kami agar kebiasaan-kebiasaan baik yg terlanjur kami lakukan selama kegiatan di masjid ini, qiyamul lail kami, shalat dhuha kami, bercengkerama kami dalam ukhuwah nan indah, agar Engkau mudahkan utk kami melakukannya pula di masa liburan nanti, di masa PKL, di masa kuliah, di mana pun Engkau akan tempatkan kami, ittaqullaha haitsu maa kunt. Izinkan kami Dimanapun bertakwa kepada-Mu.

Ya Allah yang Maha Bijaksana, sungguh kami telah mengorbankan waktu libur kami utk mengikuti agenda ini. Kami minta izin orangtua utk sejenak jauh dr mereka. Dalam kecintaan kami kpd Engkau, kecintaan kpd Quran. Maka dr itu, kami turut kirimkan doa utk ayah ibu kami ya Allah. Kami turut kirimkan doa terbaik utk mereka ya Allah, kasih sayangi lah mereka ya Allah, sbmna mereka tak henti hentinya mengasihi kami dr kecil hingga sekarang. Izinkan lah kami untuk bisa mempersembahkan mahkota kemuliaan kpd kedua ortu kami ya Allah...  Dengan kasih sayangmu memampukan kami dlm menghafal Quran. Menjadi keluargamu Ahlullah, Ahlul Quran, Ahlul khair... Di dunia dan di akhirat.

Ya Allah bariskanlah kami di barisan umat Islam yang penuh dengan mahkota permata kebermanfaatan dimana pun kami berada. Waktu 2 yg Engkau amanahkan utk kami, bantulah kami dlm memanfaatkan nya. Jadikan pula kami sebagai pembela agama Mu, yg tdk ragu berada di jalan kebenaran.

Allahumma aizzal islaama wal muslimun. Wan shur ikhwanana Fii filistiin, wa fii syam, wa fii suriah, wa fii mishr, wa fii rohingya, wa fii Indonesia, wa fii kulli makaan.

Allahummarhamnaa bil Qur'an, Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an
Allahummarhamnaa bil Qur'an, Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an
Allahummarhamnaa bil Qur'an, Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an

Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa adzaabannaar.
Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'ammaa yasifuun wa salaamun 'ala mursaliin.
Walhamdulillaahirabbil 'aalamiin
komentar | | Baca...

Tahfidz Camp: Shaolin Soccer, Mission Impossible, dan Dzikrul Maut

Alhamdulillah, Tahfidz Camp Rumah Quran STAN telah diadakan pada 27-30 Januari 2018 lalu, dengan skema lokasi dan jumlah santri sebagai berikut:
1. Ikhwan di Masjid Ar-Ridho Komplek Pajak, dengan jumlah peserta = 
2. Akhwat di Masjid An-Nur PJMI, dengan jumlah peserta = 

Tahfidz Camp memang unik. Ia ibarat mabit terprogram.
komentar | | Baca...

Apakah RQ STAN Sebuah Organisasi Bisnis?

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 13 Desember 2017 | 17.00.00

Rabu, 13 Desember 2017


Manajemen RQ STAN perlu mengulas pertanyaan ini walaupun belum ada sekalipun pihak ekternal yang mempertanyakannya. Adapun hati kecil kami, tetap saja ingin berusaha menjelaskan agar informasi ini dapat dipahami, baik oleh santri, donatur, partner kerjasama, bahkan teruntuk calon donatur yang masih menimbang-nimbang sebelum berdonasi di RQ STAN. Kejelasan memunculkan rasa tenang, tentram, dan menunjukkan bagaimana amanah ini harus kami pikul untuk kebaikan bersama.
komentar | | Baca...

Kilauan Manfaat dalam Keluangan Menunggu


Menunggu adalah hal yang acapkali kita temui, setiap hari. Menunggu inspirasi datang tatkala menulis, Menunggu kelas dimulai, menunggu suami menjemput, menunggu KRL datang, menunggu antrian swalayan, menunggu antrian dokter, menunggu janjian kawan, hingga menunggu-menunggu lain yang durasinya belum dapat dipastikan, dan ada keluangan yang dapat dioptimalkan.

Menunggu sejatinya bukan hal yang kita tunggu-tunggu. Bukan hal yang kita harapkan, bahkan seringkali kita bosan, ogah, tidak ridho, kalau ternyata kita harus menunggu. Bila sudah begitu, hati bisa nggrundel, kadang HP dibuka untuk isi waktu: baca-baca chat, browsing macam-macam, hingga main game.

Menunggu dalam sistematika harian ibarat kerikil yang mengisi bejana 24 jam. Bejana itu mulanya kita isi dengan kuliah, cari nafkah, dan tidur malam bervisualisasikan batu-batu besar. Lalu batu yang lebih kecil turut mengisi; meliputi sholat, ibadah, makan-minum, dan buang air. Kemudian kerikil-kerikil yang memenuhi sisa isi bejana yang di antaranya adalah “menunggu”. Sistematika seperti ini membuat kita sadar bahwa menunggu tetaplah mengisi waktu 24 jam kita, yang kelak akan kita pertanggung-jawabkan di hari akhir dengan pertanyaan, “dan waktumu… untuk apa kau habiskan?”

Menunggu adalah takdir –dari sudut pandang Ilahiyah-. Sewajarnya takdir itu pasti datang dari Allah, maka makhluk seharusnya ridho. Kalau tidak ridho, ia galau kepada siapa? Marah kepada siapa? Jengkel kepada siapa? Ujung-ujungnya ke Allah juga bukan? Karena toh, menunggu seringnya lepas dari rencana manusia. Namun, takdir Allah sudah terketik dalam lauhul mahfudz.

Dari beberapa sudut pandang pemikiran di atas, maka menunggu perlu penyikapan yang gentle. Jangan mudah marah, jengkel, yang berujung pada dosa lantaran menafikan takdir-Nya. Minimal hati tenang dan netral, tak terkontaminasi oleh situasi menunggu, baik sebentar ataukah lama. Normalnya hati kita menggelisah. Karena ada saja bisikan syetan yang menelisik pembuluh darah, seperti, “Apaan sih, kok begini saja lama sekali… Ah, ngabisin waktu aja… Ih, payah nih antriannya…”

Serangan syetan pertama wajar bila kita rasakan. Selanjutnya, apa upaya kita memberangus bisikan syetan itu? Yuk, telisik sisi manfaat yang berpotensi memberlimpahkan pahala!

1. Membaca Quran
Prioritas pertama dipilih karena kegiatan ini cukup memberi pengaruh agar hati menenang. Agenda ini tidak terlalu memberatkan fikiran, sehingga hati mudah ternetralisir. Ada dua pertimbangan mengapa kita perlu memprioritaskan “membaca Quran”:

a.    Satu huruf sepuluh kebaikan.
Secara kuantitas, jauh lebih berlimpah daripada kegiatan lain dengan durasi waktu yang setara. Dalilnya: Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

b.    Lebih prioritas daripada dzikir dan doa.
Dalilnya: Dari Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Allah yang maha suci dan maha tinggi berfirman : "Barang siapa yang disibukkan oleh Al Quran dari berdzikir kepada Ku dan meminta kepada Ku, maka aku akan memberikan kepadanya pemberian yang lebih utama yang pernah diberikan kepada orang orang yang meminta sesuatu kepada Allah ta’ala. Allah berfirman, “Dan keutamaan perkataan Allah (Al Quran) terhadap segala perkataan, adalah seperti keutamaan Allah melebihi seluruh makhluknya. (HR Tiirmidzi). Menyambung dari hadits tersebut, Syaikh (Ibn Utsaimin) –rahimahullah- ditanya: Manakah yang lebih utama, dzikir atau membaca al-Qur’an? Beliau menjawab: Perbandingan keutamaan antara dzikir dengan al-Quran: Al-Qur’an secara mutlak (secara umum) lebih utama dari dzikir. Tapi dzikir ketika ada penyebab-penyebabnya lebih utama dibandingkan membaca (al-Quran). Contohnya: dzikir (yang sesuai sunnah) setelah selesai sholat, lebih utama di waktunya dibandingkan membaca al-Quran. Demikian juga menjawab seruan muadzin lebih utama pada waktunya dibandingkan membaca al-Quran. Demikian (seterusnya). Adapun jika pada dzikir itu tidak ada penyebabnya, maka membaca al-Quran adalah lebih utama (Majmu’ Fataawa wa Rosaail Ibn Utsamin (14/242)).

Hal-hal terkait membaca Quran tatkala menunggu:
  • Pakai smartphone lebih mengurangi rasa minder kita. Bila tidak minder, pakai mushaf kertas tidak mengapa.
  • Perhatikan suara agar tidak mengganggu sesama. Suara pelan atau sekadar komat-kamit cukup menenangi jiwa dan sekitar, apalagi di ruang publik.
  • Bila menunggu tiba-tiba selesai, kita perlu memperhatikan waqof agar tidak memotong arti. Lebih nyaman bila kita punya target-target kecil sampai ayat sekian kemudian dicukupkan, lalu dilanjutkan dengan dzikir mutlak.

2.    Memurajaah/Mengulang-ulang Hafalan
Level ke-2 ini butuh ketenangan yang lebih memang, sehingga bisa fokus melafalkan hafalan yang disambi dengan menunggu. Boleh juga sambil intip-intip mushaf berwujud smartphone. Jangan ragu bila hafalan macet sehingga berkali-kali diulangi. Doa kita, semoga Allah menghitung pengulangan huruf kita sebagai 10 kebaikan dikali jumlah huruf yang dilipatgandakan. Stay-murajaah!

3.    Berdzikir Mutlak
Lawan kata muqayyad (tertentu dan terikat) adalah mutlaq (boleh kapan dan dimana saja, kecuali tempat bernajis). Dzikir ini sangat ringan diucapkan, namun sangat berat timbangan kebaikannya dan sesuatu yang amat dicintai oleh Allah. Dzikir ini meliputi bacaan tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan istighfar, dan zikir-zikir lain  yang dianjurkan dilafadzkan dalam setiap waktu dan kesempatan.

4.    Membaca Channel atau Menonton Video Ustadz yang Membawa Manfaat
Nah, bagi yang kuota (internet)-nya berlimpah dan masih belum nyaman dengan 3 pilihan di atas, teknologi telah menyediakan aplikasi yang dilengkapi channel para asatidz tentang kajian Islam. Dengan Telegram misalnya, kita bisa memperoleh kajian tertulis dari ustadz-ustadz yang kita subscribe. Atau banyak sekali website yang berisi tulisan-tulisan mengenai ilmu syariah. Atau bila smartphone kita dilengkapi headset, bisa pula kita menonton channel youtube tentang kajian Islam. Untuk merasakan pentingnya aktivitas ini, mari kita setrum pemahaman kita dengan hadits ini: “Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim). Hm... Banyak sekali jalan kebaikan bukan? Alhamdulillah.

Demikianlah strategi-strategi untuk memanfaatkan aktivitas kerikil bejana 24 jam berupa menunggu. Agar jangan sampai menunggu kita diisi dengan omelan hati, atau aktivitas lain yang nir-manfaat. Alangkah besar keutamaan manusia yang selalu mengejar kebaikan walau dalam tiap detik masa tunggunya.

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)

Sejatinya, menunggu yang diluangkan untuk kebermanfaatan butuh pembiasaan. Sekali-dua kali tak menyadari kesia-siaan waktu tunggu, perlulah kita berdoa agar Allah sensitifkan hati. Agar Allah membukakan hati. Agar kita bisa konsisten memanfaatkan waktu yang sedikit tersebut untuk hal-hal yang kaya bermanfaat. Karena tanya Allah sudah pasti tatkala kiamat kelak, “Dan waktumu... Untuk apa kau habiskan?” (potongan HR Tirmidzi 2340)

Sumber-sumber:
1.    http://ilwansupriyadi.blogspot.co.id/2014/01/zikir-mutlaq.html
2.    https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html
3.    http://salafy.or.id/blog/2015/09/22/dzikir-atau-bacaan-al-quran-yang-lebih-utama/
4.    https://muslimah.or.id/7545-keutamaan-menuntut-ilmu.html
5.    https://rumaysho.com/2322-meninggalkan-hal-yang-tidak-bermanfaat.html
6.    https://blogosd.wordpress.com/2012/02/01/engkau-habiskan-dengan-apa-masa-mudamu/

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan
komentar | | Baca...

RQ HM NAIMIN – Asrama Takhasus Pertama di Kampus STAN

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 08 Desember 2017 | 19.20.00

Jumat, 08 Desember 2017


Walau baru rencana, permintaan RQ STAN dianggap serius oleh RQ Daarut Tarbiyah beberapa pekan yang lalu. Pada 7 Desember 2017, informasi itu datang. “Kami mau mulai perekrutan untuk santri beasiswa STAN”, ujar salah seorang penggerak RQ Pusat. Alhamdulillah. Sebentar lagi, RQ STAN akan memiliki asrama takhasus pertama, yang didiami oleh non-mahasiswa STAN, dengan kurikulum yang sangat berbeda. Insya-Allah.

RQ HM NAIMIN – Sebuah Rumah yang Kelak Dimiliki
Sejarah RQ HM NAIMIN dimulai tahun 2016. Berawal dari sarana belajar Quran yang makin menjamur di Bintaro, Ustadz Hasan selaku musyrif RQ STAN turut mengajar di FHQ An-Nashr –salah satu LTQ di Bintaro yang memfasilitasi warga sekitar untuk belajar Quran di akhir pekan (Sabtu/Ahad). Ustadz Hasan mengajar tahfidz, salah satu santrinya adalah seorang guru Islam di sekolah Al-Azhar. Inilah efek positif bila kita suka bercerita hal yang berpotensi menginspirasi orang lain. Usut-punya-usut, santri ustadz itu sedang mencari rumah yang bisa diwakafkan untuk rumah tahfidz. Bagai gayung bersambut, ustadz Hasan pun tanpa ragu membantu mencarikan rumah, supaya kelak rumah tersebut dapat dimanfaatkan untuk rumah tahfidz-nya RQ STAN.

Bersama manajemen, Bapak yang suka berkelakar itu sempat mensurvey tanah yang potensial untuk RQ. Hingga akhirnya pilihan jatuh ke rumah yang terletak di gang depan Harmoni supermarket, Ceger. Proses pembayaran pun diolah. Sebagaimana kesepakatan awal, rumah nantinya akan dinamai keluarga besar dari ayahanda istrinya si Bapak, yakni H Muhammad Naimin. Maka, dinamakanlah RQ HM NAIMIN. Adapun dari sisi penanaman modal: RQ STAN kebagian menutup kekurangan harga beli rumah, dengan 250 juta dana segar diberikan oleh pewakaf H. Muhammad Naimin.

Alhamdulillah, awal 2017 RQ STAN telah mengedarkan proposal khusus wakaf sehingga total sampai dengan tulisan ini ditulis, status pendanaan wakaf RQ HM NAIMIN menjadi:
  • HM NAIMIN: Rp 250.000.000
  • Operasional RQ STAN: Rp 20.000.000
  • Hasil edaran proposal wakaf: Rp 50.621.093 
  • Masih dicari siapa pewakafnya: Rp 34.378.907

Adapun untuk status kepemilikian, saat ini rumah baru sekedar AJB (akta jual beli) dengan atas nama pewakaf dominan. Ada wacana, RQ STAN bila sudah legal-formal nanti akan membalik-nama AJB sekaligus meng-SHM-kan rumah. Alhamdulillah dukungan pemilik rumah sebelumnya cukup kooperatif.

Mengapa RQ HM NAIMIN yang dipilih?
Membuka kesempatan bagi RQ HM NAIMIN untuk dikelola RQ STAN merupakan sebuah amanah berat sekaligus belum terpikirkan saat dilakukannya transaksi. Waktu peralihan kurikulum PKN STAN dari 2016-2017 menuju 2017-2018, manajemen RQ STAN hanya berpikir bagaimana agar RQ HM NAIMIN bisa bermanfaat, walaupun belum besar kebermanfaatannya. Nyatanya, dari September 2017 hingga kini, ia masih hanya sebagai asrama RQ bayangan. Tugasnya: menampung alumni RQ STAN yang lulus dari PKN STAN sebelum penempatan kerja. Tentu mereka dibebani tugas juga untuk tetap menjaga tilawah dan setoran hafalan Quran.

Dengan status bukan rumah sewa atau bukan rumah titipan (yang masih kepemilikan si empunya), melainkan rumah WAKAF, manajemen RQ STAN memiliki tuntutan moral untuk melejitkan kebermanfaatan RQ HM NAIMIN. Ada puluhan pewakaf yang duduk di belakang manajemen, menunggu hasil pemanfaatan tanah wakaf. Ada hari yang tiada hari selain naungan-Nya, dimana hari itu bisa saja menjadi pertanggungan jawab atas keloyalan atau bahkan ketidakloyalan amanah ini. Ada pahala yang disiapkan Allah, ada juga ancaman bila kita tak mampu mengembannya.

Maka, sudah barang tentu. RQ HM NAIMIN harus menjadi pabriknya penghafal Quran tulen di Bintaro. Bukan sekedar RQ kampus yang kurikulumnya terombang-ambing oleh kurikulum kampus. Yang santrinya dibatasi hanya 1 atau 3 tahun untuk menghafal Quran –sembari nyambi kuliah di kampus. Karena tiap yang dikemas dalam balutan sarana pembelajaran Quran, insyaAllah memiliki potensinya masing-masing.

Untuk itulah kami memilih: RQ HM NAIMIN.

Program RQ Takhasus
Programnya sederhana: satu tahun hafal 30 juz, tidak ada aktivitas lain selain menghafal. Masa pengabdian pasca-hafizh, satu tahun menjadi musyrif/guru Al-Quran.

Sederhana tapi sangat potensial karena pengelolaannya akan dilakukan profesional oleh RQ Daarut Tarbiyah. RQ STAN akan membantu mempromosikan, mengelola rumah, memantau progres, dan ikut menuai hasilnya.

Mohon doa agar RQ STAN dapat mengelola RQ takhasus dengan baik.

... yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
QS. Al-Fath (kemenangan) ayat 29

Allahummarhamnaa bil Qur’aan
Allahummaj’alnaa min ahlul Qur’aan
komentar | | Baca...

With Great Responsibility Comes Great Power (???)

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 31 Oktober 2017 | 17.28.00

Selasa, 31 Oktober 2017

Dalam film Spiderman dimana Tobey Maguire memerankan Peter Parker, ia mendapatkan tausiyah singkat dari pamannya (Uncle Ben), "With Great Power Comes Great Responsibility." 

Ternyata ungkapan tersebut berasal dari tokoh filsuf Prancis bernama Voltaire, dengan teks aslinya: grande responsabilité est la suite inséparable d’un grand pouvoir dan terjemah bebasnya: “besarnya tanggung jawab mengikuti dan tak terpisahkan dari besarnya kekuatan”. Tafsir bebasnya adalah: semakin besar kekuatan yang kita miliki (harta, kekuasaan, kemampuan), maka seharusnyalah kita merasa semakin besar tanggung jawab kita (untuk membantu sesama, untuk bermanfaat bagi yg lain). 

Ujaran ini juga sempat dilayangkan manajemen RQ STAN kepada santri alumni yang notabene sudah lulus dan sukses diwisuda. Bahwa sesungguhnya, makin mereka memiliki title lulusan STAN (great power), makin besar tanggung jawab (Great Responsibility) untuk bermanfaat bagi negara dan juga keluarga.

Akan tetapi...  Bicara tentang Power dan Responsibility,  ada hal unik sekaligus inspiratif bila kita menilik surat Al Muzzammil. Ungkapan tersebut ternyata bernada terbalik, menjadi:

With Great Responsibility Comes Great Power...

Dalam surat Al-Muzzammil, surat yang diturunkan kepada seorang laki-laki bernama Muhammad (Shalallahu a'alaihi wasallam) yang baru saja disematkan title sebagai Nabi dan Rasul (turunnya nubuwah), Allah memberikan bekal agar Sang Nabi kuat menghadapi cobaan. Tatkala tanggung jawab itu datang dari sesosok makhluk bernama Jibril melalui pertanyaan fenomenalnya “Iqro’”, maka setelah itu Nabi Muhammad yang ketakutan dan menyelimuti dirinya, dicolek kembali dengan wahyu berupa surat Al-Muzzammil.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sebahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah a-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (supaya khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. 73: 1-6)

 

Dengan tanggung jawab yang demikian besar (risalah Kenabian), Allah memberikan bekal kepada Nabi Muhammad Saw untuk mendawamkan sholat di malam hari (qiyamul lail) dan membaca Qur’an perlahan-lahan (tartil). Karena Qiyamul Lail dapat menguatkan tekad dan mengkhusyuk-kan fokus. Sementara tartil-Quran membuat hati dapat menghayati Kitabullah lebih jelas, lebih berkesan, dan sarat renungan. Tadaburnya, bahwa dengan tanggung jawab yang Allah berikan, Allah mengajak Nabi Muhammad Saw untuk memiliki great power berupa qiyamul lail dan tartil-Qur’an.



Kenapa harus memiliki great power? Jawabannya ada di ayat selanjutnya:  "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)”. (QS.73: 6-7).
 
Bila sebelum risalah Kenabian turun, Nabi Muhammad Saw hanya bertanggung jawab atas diri dan keluarganya saja, maka setelah risalah itu turun, Nabi Muhammad Saw bakal memiliki urusan yang lebih banyak, yakni bertanggung jawab untuk mengajak masyarakat kepada tauhid.
 
Bayangkan dan renungi seolah ayat-ayat indah ini untuk kita!
Bila amanah datang kepada kita, walau tidak sebesar amanah Nabi Saw dalam mengemban risalah Kenabian. Misal: Kita menjadi lebih populer, menjadi lebih tenar, mengemban jabatan yang lebih tinggi, memiliki kekuasaan baru yang lebih luas, dengan segenap resikonya yang membesar dan lebih berat. Maka pertanyaannya, sudahkah kita mendekat kepada Allah? Sudahkah kita lebih rajin sholat lima waktu, kemudian mengikatnya lebih ketat dengan sholat malam, alunan baca Qur’an yang lebih perlahan?

Karena bila tanggung jawab yang besar itu datang, kita harus mengikatnya dengan kekuatan besar yang kita tujukan hanya kepada Allah. Supaya Allah bantu urusan-urusan kita, supaya Allah ikat agar kita tidak lalai karenanya.

Betapa rugi bila kita sudah diberikan tanggung jawab yang besar, kemudian kita terlena dan terbuai, lantas meninggalkan segala ketaatan kita selama ini kepada Allah azza wa jalla. Na'udzubillahi min dzaalik.

Alhamdulillah, artikel tentang Rumah Quran STAN dimuat di majalah Media Keuangan edisi Nopember 2017

komentar | | Baca...

Dua Mutiara itu Sukses Ziyadah 30 Juz

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 30 Oktober 2017 | 17.22.00

Senin, 30 Oktober 2017


Ini kisah nyata di Rumah Quran STAN

Awalnya: RQ STAN hanyalah wahana yang mendekatkan, bukan pesantren takhasus yang menggembleng pencapaian 30 juz. Ia hanyalah wadah dan komunitas tinggal, bukan gedung megah dengan kurikulum rumitnya yang ketat. Ia hanyalah lembaga non-resmi yang dikelola oleh tangan-tangan para alumni, bukan oleh asatidz dengan serentengan gelar dan kuantitas SDM mumpuni. Akankah ia lebih maju di masa depan? Akankah ia kemudian terekspansi menjadi lebih strategis, integral, dan komprehensif? Bismillaahi tawakkalnaa ‘alallah.

Akan tetapi, di luar itu semua, inputnya sungguh menjanjikan. Santri-santrinya lulus dari SMA-SMA ternama di seluruh Indonesia. Teruji oleh serangkaian seleksi yang ketat dan berat dari segi kecerdasan dan fisik ketika masuk PKN STAN. Teruji lagi, dengan seikat kontrak Rumah Quran yang juga ketat, untuk berinteraksi secara masif dan konsisten bersama Quran. Teruji untuk kesekian kalinya dalam ujian-ujian kampus dengan risiko drop-outnya yang bisa jadi memerindingkan badan. Yang pada akhirnya, outputnya siap lulus ditempatkan ke seluruh Indonesia dengan potensi yang kembali menjanjikan. Bersiap menebarkan ke lintas masyarakat betapa semerbak wanginya dakwah Quran - mengajak umat muslim untuk mendekat kepada kitabnya yang penuh keberkahan.

Baru-baru ini, di luar kesederhanaan pengelolaan dan pengembangannya, Alhamdulillah Rumah Quran STAN berhasil menelurkan dua mutiara alumninya, pasca-tergembleng oleh lingkungan Qurani.

Yang pertama, seorang alumni PKN STAN penempatan Dirjen Perbendaharaan (DJPB), Kementerian Keuangan. Selama kuliah, beliau bergabung selama 2 tahun di Rumah Quran, dari 2014-2016. Tercatat dalam perkembangan santri, hafalan saat masuk masih sedikit. Agustus 2015, ziyadah hafalan 7 juz. Juli 2016, ziyadah melonjak menjadi 15 juz. Setelah lulus, waktu yang cukup banyak menjelang penempatan membuat ia berhasil mencapai 20 juz pada Februari 2017 (termasuk mengikuti kegiatan tahfidz camp di salah satu LTQ di Pondok Aren). Oktober 2017 ini, sukses 30 juz tambahan hafalan ia dapatkan. Total selama 2 tahun kuliah di STAN dan 1 tahun OJT (on the job training) DJPB, mayoritas ziyadah ia dapatkan di Rumah Quran STAN. Masya-Allah wa Barakallahu-fiikum.

Masya-Allah, tidak ada logika dunia untuk menyelesaikan proses menghafal secara cepat, bila tekad sudah sangat kuat dan kenikmatan menghafal sudah terengkuh secara maksimal. Semoga Allah memberikan kepada kita kenikmatan tersebut.

Yang kedua, seorang alumni PKN STAN penempatan Dirjen Pajak (DJP) yang dalam perjalanannya bersama Quran, sedikit berbeda dan tak kalah luar biasa . Masuk bulan Maret 2017 dalam keadaan bacaan Quran belum ditahsin (belum baik), hanya mengikuti crash-program TAHSIN CAMP selama 1-2 bulan di Rumah Quran yang kebetulan baru saja selesai pembangunan salah satu asramanya (pinjaman donatur). Oktober 2017 ini, ia sudah ziyadah 30 juz. Masya-Allah wa Barakallahu-fiikum.

Waktu-waktunya begitu termanfaatkan dengan maksimal setelah ia mengenal komunitas Rumah Quran STAN. Selama hampir 9 bulan itu, ia melalui progres skripsi, PKL, hingga pemberkasan calon pegawai baru. Hanya 1-2 bulan di RQ, kemudian setoran di sebuah pesantren di daerah Serpong. Jeda antara lulus, wisuda, dan penempatan ini, ia manfaatkan betul-betul untuk ziyadah 30 juz. Masya-Allah wa Barakallahu-fiikum.

Dua buah kisah pelajaran yang sangat berharga, bahwa bersama Qur'an dan selalu optimis/husnudzan kepada Allah, akan dapat menjadikan kemudahan dalam menghafalkan Qur'an.

***
 
Ya Allah, berkahilah hidup kami, waktu kami, aktivitas-aktivitas kami di bawah interaksi intens bersama Al-Quran. Bantulah kami dalam menjalankan dakwah Quran dan hadirkanlah bagi kami para penjaga-penjaga Qur'an yang kelak akan meneruskan langkah-langkah kami.
 
Allahummarhamnaa bil Qur’aan
Allahummaj’alnaa min ahlil Qur’aan.

NB: ziyadah adalah penambahan hafalan Qur'an, namun belum termasuk ujian semua hafalan yang dimiliki (untuk disahkan sebagai hafizh/hafizhah).
komentar | | Baca...

Al-Quran Pembuka Ilmu-ilmu Dunia

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 29 Oktober 2017 | 21.02.00

Minggu, 29 Oktober 2017

tasmik pra-kajian mabit
Ketika seorang mahasiswa jatuh hati pada Qur'an: ingin mempelajarinya, ingin bisa lancar membacanya, ingin efektif menghafalnya, maka ia pun mencari komunitas untuk memudahkan ia mencintai Qur'an. Akan tetapi, orangtua melarangnya dengan dalih: "Nanti kamu terlalu sibuk. Nanti kamu tidak fokus belajar di kampus. Nanti, IP-mu turun. Nanti cita-citamu tidak tercapai." Inilah sebuah realitas yang terjadi beberapa kali di RQ STAN. Tatkala orangtua tidak setuju, putranya yang sedang merantau untuk masuk ke Rumah Quran STAN. Lalu apakah benar? Kesibukan untuk mencintai Qur'an mengalihkan kita dari kesibukan mencari ilmu dunia? Ataukah malah justru sebaliknya? Bersama Qur'an, ilmu-ilmu kita justru menjadi kuat?

Sepenggal pengantar itu meluncur dari lisan moderator yang juga pengurus Rumah Quran STAN, pada agenda mabit RQ Sejabodetabek 7-8 Oktober 2017 di Masjid Balaikota Depok. Di luar masjid, hujan menderas, derau rerintikannya renyah, diharapkannya rahmat Allah turun, ketenangan indah menyelimuti, dan malaikat hadir menaungi.

Sang moderator melanjutkan, "Sejatinya kesibukan bersama Qur'an memiliki korelasi dan hubungan yang positif bila dibandingkan dengan kesibukan mencari ilmu dunia. Insya-Allah, kita bahas pada malam hari ini tema yang akan menjelaskan korelasi tersebut: Al-Quran Pembuka Ilmu-ilmu Dunia."

Agenda kajian dimulai sejak bakda Isya' dan berakhir hingga 22.45, saking banyaknya ilmu yang ditorehkan para asatidz - sulit untuk menstopnya. Istirahat malam hingga pukul 03.00, lalu diselenggarakanlah Qiyamul Lail dan berakhir pada waktu Subuh berjamaah. Agenda dihadiri mayoritas akhwat mengingat Rumah Quran Indonesia kebanyakan dari santri akhwat, baik RQ SMP/SMA, RQ UI, RQ IPB, RQ Pasar Minggu, RQ Pekayon, RQ Al-Hikmah, RQ STIS, RQ Bekasi, RQ UIN, RQ Takhasus Depok, hingga RQ STAN. Kalangan ikhwan datang dari RQ SMP/SMA, RQ Takhasus, dan RQ STAN.

peserta dari akhwat di bawah dan di atas masjid

Pentingnya Ilmu Dunia Bersanding dengan Ilmu Akhirat
Ustadz Anwar Nasihin hadir sebagai pembicara pertama. Beliau adalah ustadz ber-background syariah, yang menjadi dosen di STAI dan UNIAT Islam Thahiriyah Jakarta. Motto beliau: Jadikan hidup lebih indah bersama Islam dan Dakwah. Beberapa poin materi yang beliau sampaikan:
  • Cinta terbesar harus ditujukan kepada Allah Swt.
  • Di surat At-Taubah 105, Allah berfirman, "Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
  • Ayat tersebut memberikan pemahaman agar kita beramal, bekerja, berupaya, baik di dunia maupun di akhirat, dimana keduanya sama-sama penting.
  • Di surat Al-Mulk 20, Allah berfirman, "Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya ilmu itu hanya ada pada Allah." Ada yang menafsirkan ilmu tentang hari kiamat dalam ayat ini. Namun, secara umum, ilmu itu datang hanya dari Allah.
  • Jangan membenturkan ilmu dunia dengan ilmu akhirat. Karena akhirat penting, dunia pun juga penting. Kenapa ilmu dunia penting? Karena dunia adalah tempat mencari bekal untuk memperoleh akhirat yang baik.
  • Di surat An-Nur ayat 55, Allah berfirman, "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."
  • Dalam ayat tersebut dijelaskan mengenai janji Allah untuk orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, yaitu: 1) kekuasaan/ilmu; 2) agama menjadi kokoh; 3) mengganti rasa cemas dengan rasa aman/tentram.
  • Mari kita mencari ilmu, baik ilmu akhirat maupun ilmu dunia, dan jangan memisahkannya agar Allah memberikan kita kekokohan dalam kekuasaan, kekokohan dalam agama, dan Allah lesakkan ketentraman dalam diri kita dan kekuasaan kita. 
peserta ikhwan, 2 baris terdepan


Kehadiran Ustadz ini Bukti Benarnya Al-Qur'an Pembuka Ilmu-ilmu Dunia
Bergelar Doktor sekaligus dokter, belum lagi: S. Hi, M.A., M.Pd., MSi., dan tak ketinggalan yang paling penting dari gelar beliau: Al-hafizh. Ustadz ini hobinya sekolah, tutur salah seorang musyrif RQ. Dengan kesibukan menjadi imam besar Mahad Al-Hikmah dan mengurusi rumah tahfidz El-Fawwaz, pendidikan beliau: Fakultas Kedokteran S3 UIN Jakarta dan S3 Univ. Ibnu Khaldun Jakarta, dan saat ini sedang mengambil program spesialis Pulmonologi FKUI. Masya-Allah. 

Motto ustadz bernama lengkap Abul A'la Al-Maududi ini sangat inspiratif: Hidup di bawah naungan Al-Quran sebuah kenikmatan. Beliau inilah role-model utama dari tema mabit: Al-Quran Pembuka Ilmu Dunia, karena pasca meraih Al-Hafizh di usia remaja, sekolah demi sekolah beliau jejali hingga banyak rentetan gelar yang dipunyai. "Saya mendapat IP: 3,88" , tuturnya. Masya-Allah.

Beberapa poin materi yang beliau sampaikan:
  • Syaikh Dr. Ali Basfar, Ketua Bidang Tahfizh Internasional pernah bercerita, "Saat Jepang mau menjadi bangsa maju, mereka memajukan jam masuk kerja dan memundurkan jam pulang kerja." Orang Jepang menjadi role-model pribadi tangguh, malam hari masih saja rapat membahas pekerjaan. 
  • Adapun orang Islam, tertutup dengan orang-orang muslimin itu sendiri. Al-Islam menganjurkan sedikit tidur dalam surat Adz-Dzariyat 17: "Di dunia, mereka sedikit sekali tidur di waktu malam." Namun, orang Islam sendiri: sedikit-sedikit tidur.
  • Dalam agenda ceramah syaikh-syaikh kabir di Arab, seperti syaikh Sudays dan syaikh Ali Basfar, beliau menjadwalkan agenda ceramah pada pukul 02.30 (waktu sepertiga malam terakhir). Masya-Allah.
  • Dalam tiap ceramah, materi yang sampai kepada pendengar sedikit sekali persentasenya. Materi/lecture (kata-kata/tulisan bernilai ilmu) yang sampai: 5% saja. Bila ada tayangan/slide, yang sampai menjadi 10%. Bila ada suara dan gambar (video), yang sampai menjadi 30%. Bila ada diskusi, yang sampai menjadi 50% (bila fokus kepada diskusi/terutama untuk yang ikut berdiskusi tersebut). Bukti bahwa kita adalah sosok pelupa adalah: coba ingat apa materi Jumatan pada hari Jumat terakhir lalu?
  • Jurnal internasional di dunia ini, tiap detik muncul, tiap detik terbit. Renungan bagi kita: "Sudahkah kita menyadari waktu hidup ini untuk belajar? Meneliti? Menelurkan publikasi?
  • Bila orang Islam tertinggal, maka seharusnyalah mereka yang ahlu-Qur'an harus hebat. Harus mampu mengambil ilmu-ilmu dunia dan beramal dengan lebih baik lagi.
  • Role model manajemen waktu dan figur cerdas dunia-akhirat: Imam Syafi'i, hidup dari 150-204 H (usia 54 tahun).
  • Coba hitung bila Imam Syafi'i masuk Ramadhan: khatamin Qur'an 60 x dalam satu bulan. Artinya: 2x khatam sehari. Artinya 2 x 20 menit x 30 juz (asumsi tilawah 1 juz = 20 menit). Artinya 1200 menit atau 20 jam sehari dipakai untuk 2 kali khatam. Artinya: 4 jam hanya untuk sahur, buka, istirahat, dan aktivitas lainnya. Betapa berkahnya waktu 4 jam tersebut.
  • Dari 4 level kecepatan baca Qur'an: At-Tahqiq, At-Tartil, At-Tadwir, dan Al-Hadr, maka tentu saja Imam Syafi'i menggunakan kecepatan Al-Hadr (ekstracepat), namun dengan tetap memenuhi tajwid Qur'an. Karena Imam Al-Jazari berkata bahwa: Tajwid wajib, tanpa tajwid dosa.
  • Zaman now: Murattal 20 qori' internasional bisa dikumpulkan dalam 1 gadget.
  • Bila kita merasa sulit menghafal Qur'an, sejatinya mind-set kita ini bertentangan dengan ayat Qur'an itu sendiri, yakni, "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?", surat Al Qomar 17 (diulang 4 kali).
  • Bila surat dari calon membuat dada kita bergetar hebat, seharusnyalah surat dari Allah melalui Al-Quran ini membuat hati kita bergolak dan menjadi tentram karenanya.
  • Perkembangan teknologi bisa menjadi penyakit bagi ahlul-Qur'an, yakni bila gadget dan segala derivatifnya justru membuat kita lalai dari membersamai Qur'an.
  • Maksiat dapat menghilangkan hafalan (kata Imam Syafi'i), karena Al-Quran menuntut kita untuk menahan syahwat (zuyyina linnas).
  • Senantiasa dekat dengan Al-Quran membuat Allah memudahkan urusan kita.
  • Dari sisi biologi: girus/lekukan otak muncul sebagai tanda kecerdasan. Semakin banyak girus semakin cerdas, dan semakin otak diasah maka ia semakin tajam, karena memori otak unlimited, berbeda dengan flashdisk/harddisk komputer. Dan Al-Quran adalah salah satu pembiasaan berpikir dalam menambah hafalan dan menjaga hafalan Qur'an, agar otak terasah dan terus terasah.
  • Bila masa remaja hingga tua, kita jarang mengasah otak maka kemungkinan besar terjangkit alzeimer/pikun.
  • "Kewajiban lebih banyak daripada waktu yang tersedia", tukas Imam Hasan Al-Banna. Habiburrahman el-Shirazy bertutur, "Seandainya saya bisa membeli waktu orang-orang yang menganggur, saya beli waktu mereka." 
  • Pernah suatu ketika, saya ceramah di hadapan para penghafal Qur'an. Di antara mereka tidak ada yang hafal surat Fathir. Lalu saya tantang untuk menghafal surat Fathir. Prestasi terbaik mereka adalah 17 menit sukses menghafal surat tersebut. Karena Ahlul-Qur'an adalah sosok yang sangat menghargai waktu, sekaligus cerdas dalam menjawab tantangan-tantangan zaman.
  • Betapa benarlah: Al-Quran sebagai pembuka ilmu-ilmu dunia.
Semoga sedikit ilmu ini dapat bermanfaat.
Paling tidak ini semua menunjuki kita betapa singkatnya waktu yang Allah amanahkan dan betapa banyaknya samudera ilmu yang perlu kita jelajahi.
Semoga ilmu ini berkah, yakni yang diresapi kemudian diamalkan.

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan
komentar | | Baca...
 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |