Kabar Terbaru »
Bagikan kepada teman!

Napak Tilas Tahfidz Camp ke VACATION 2020-2021

Penulis : rumah quran stan on Jumat, 05 Maret 2021 | 04.48.00

Jumat, 05 Maret 2021


Tahfidz Camp atau Karantina Qur'an sudah sering diadakan di lembaga-lembaga Qur'an. Untuk di RQ STAN sendiri, sejak awal tahun 2017 selalu ada Tahfidz Camp. Bahkan di momen sebelum pandemik 2020 lalu, diselenggarakan 2 kali sekaligus (Desember 2019 dan Februari 2020). Praktis, sudah 4 tahun terakhir RQ STAN tidak pernah absen menyelenggarakan Tahfidz Camp.

Awal 2017

Awal 2018
Awal 2019
Awal 2020 (Gak kebayang kalau ini tahun Pandemi)
Qadarullah, dari sekian banyak Tahfidz Camp tersebut, musim pandemi memaksa RQ STAN mengubah haluan. Dari semula berkumpul di masjid menjadi ber-Zoom Meetingmaka RQ STAN memegang teguh dalil ini:

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُ
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (At Taghabun 16), maka hadirlah kaidah fiqh: "Kalau tidak bisa dilaksanakan seluruhnya, maka janganlah ditinggalkan semuanya."

Alhasil di musim pandemi ini juga, pantang RQ mengabsenkan karantina Qur'an, yang kemudian dihadirkanlah inovasi bertajuk VACATION: Virtual Camp for Tahfidz Optimization (alias karantina Quran virtual).

Nah, sedikitnya ini beberapa perbedaan pelaksanaan Tahfidz Camp di tahun-tahun sebelumnya dengan VACATIION yang telah terlaksana 2 kali, pada 24-27 Desember 2020 dan 11-14 Februari 2021.



1. Pelaksanaan
Pelaksanaan Tahfidz Camp Virtual masih mengusung 4 hari 1 juz, dengan tetap memegang prinsip syncronous, artinya penerima setoran dan penyetor hafalan tetap dalam 1 waktu yang sama. tentunya dengan konsep tambahan multiplatform (menggunakan beberapa jenis aplikasi), seperti ZOOM, Linktree, google form, google spreadsheet, dan blog RQ STAN ini. Selain itu, di pembukaan ditekankan mengenai online environment: yaitu lingkungan menghafal yang diharapkan mampu tetap memotivasi santri meskipun melakukan karantina secara virtual.


2. Kepesertaan
Peserta Tahfidz Camp offline rata-rata adalah santri RQ STAN dan beberapa mahasiswa yang rela belum pulang kampung. Nah, di VACATION ini, hampir seluruh pesertanya berada di kampung halaman, kecuali beberapa ada yang persiapan PKL dan alumni STAN yang sudah penempatan di daerah kerjanya.

Gambar di atas adalah kepesertaan dan hasil penajaman data untuk VACATION Desember lalu, sedangkan Februari 2021, jumlah pesertanya jauh lebih banyak, yaitu: 66 akhwat dan 33 ikhwan (99 peserta). Secara umum tidak jauh berbeda, karena peserta Tahfidz Camp 2019 adalah sekitar 70-80 peserta.


3. Pembiayaan
Pembiayaan Vacation jauh lebih hemat. Berikut perbandingannya:


Melihat hasil pembiayaan di atas, sisi hematnya adalah:

Dengan jumlah pengeluaran sekali Tahfidz Camp bisa menghabiskan 22 juta Rupiah, maka dengan 2 kali VACATION saja menghabiskan dana sejumlah 24 juta. Jadi nyaris separuhnya.

Namun untuk hasil dan feel, tentunya yang virtual masih kalah maksimal dibandingkan yang offline.



4. Musyrif selaku Penerima Setoran
Musyrif merupakan ujung tombak Tahfidz Camp dan VACATION. Pertama yang harus dikonfirmasi bisa dan mampu adalah musyrifnya. Nah, di VACATION ini pengelolaan Musyrif jauh lebih mudah mengingat musyrif hanya tinggal buka laptop, menerima setoran, dan mengirimkan rekap setoran.

Namun, musyrif adalah sosok yang paling lelah karena harus berjam-jam menerima setoran di depan laptop. Berbeda dengan santri yang akumulasi waktunya terbagi menjadi: bersama Quran beberapa jam, lalu di depan laptop lebih sedikit lagi jamnya.

 
Semoga pelaksanaan VACATION berikutnya lebih baik,
atau lebih tepatnya...

Semoga ke depan akan diadakan TAHFIDZ CAMP kembali, yang berkumpul di masjid, di mana pandemi dan penyakit COVID-19 sudah Allah bersihkan dari muka bumi. Aamiin...

Barakallahufiikum...

📖 Rumah Quran STAN 📖
======================
👥 Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
📷 IG : stanruqun_

komentar | | Baca...

Teknik-Teknik Auto-Murajaah (1-5)

Penulis : rumah quran stan on Minggu, 14 Februari 2021 | 16.00.00

Minggu, 14 Februari 2021

1. Kunci Kesuksesan: Menetapkan Target + Minta Tolong Sama Allah

Pertama, menetapkan target ini penting sekali. Bahkan bisa menjadi kerangka utama dalam mengejawantahkan konsep Faa mii Bisyauqin sebagaimana artikel sebelumnya. Yakni dengan membagi-bagi target pekanan menjadi target harian. Kenapa 1 pekan? Jawabannya agar mudah saja dan sesuai contoh Sahabat Nabi. Sehingga pembagiannya bisa sebagai berikut:

Bila 30 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 4-5 juz,
Bila 20 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 3 juz,
Bila 10 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 1,5 juz,
Bila 5 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 1 juz,
Bila 2 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 0,3 juz atau 6 halaman,
Bila 1 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 0,15 juz atau 3 halaman,

Misal hafalan kita baru 7 juz nih, berarti target murajaah-nya 1 juz per hari. Maka, target ini harus dibalut dengan doa kepada Allah, minta tolong sama Allah, agar istiqomah. Dari target ini, kita bertekad membagi konteks interaksi bersama Qur'an harian kita terdiri dari:

  • Tilawah min. 1 juz per hari (bin nazhor = sambil lihat mushaf),
  • Murajaah (termasuk auto-murajaah) min. 1 juz per hari (bil ghaib = tidak lihat mushaf), 
  • Nambah hafalan ... (bisa dibuat setiap pekan)
  • Nambah paham tadabbur/tafsir ayat Quran ... (bisa menyesuaikan jadwal) 

Nah, dengan kerangka seperti itu, mari mohon doa kepada Allah agar berjalan 1 pekan, 2 pekan, dst. hingga akhir hayat kita. Aamiin.

Bahkan kalau perlu bertumbuh, artinya setiap nambah hafalan, nanti hafalan tersebut dimasukkan ke jadwal murajaah masuk ke hari yang mana, begitu seterusnya. Maa syaa Allah, ini artinya kita punya inovasi kreasi dan mind set optimis, serta target ikhtiar yang jelas untuk terus menjaga hafalan tersebut. 


2. Membagi Hafalan Quran ke dalam Kategori Kelancaran

Kita bisa membagi hafalan kita berdasarkan kelancarannya, menjadi 4 level berikut, dan juga penanganan interaksinya:

  1. Untuk hafalan Quran yang sangat lancar, masuk dalam kategori murajaah dalam shalat.
  2. Untuk hafalan Quran yang cukup lancar, masuk ke dalam kategori auto-murajaah,
  3. Untuk hafalan Quran yang semi-lancar kadang lupa (maklum masih baru dihafal 1-2 bulan), masuk kategori auto-murajaah dengan tambahan kelengkapan: 
    • Bila sering lupa, back-up nya adalah istighfar dan dzikir-dzikir lainnya.
    • Bila perlu, bila kita sedang jadwalnya auto-murajaah bagian ini, persiapkan mushaf kecil. Atau untuk aktivitas tertentu, nyetrika misalnya, kita bisa berdirikan mushaf sambil ngintip-ngintip kalau lupa.
  4. Untuk hafalan Quran yang tidak lancar, masuk kategori murajaah sambil mengintip mushaf.

Untuk kategori 1, 2, dan 3 = bisa dicampur aduk dalam aktivitas auto-murajaah. Intinya hafalan yang kurang, cukup, dan sudah lancar, bisa dipakai untuk ketiganya. Semoga Allah melancarkan. Adapun untuk  yang kategori 4, dia memang butuh sesi khusus untuk membuat ayat-ayat tersebut lebih lancar lagi.


3. Auto-Murajaah dan Back-Up Dzikir

Dalam kerangka dzikir kepada Allah, dikatakan sama Allah:
“Dan berdzikirlah pada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu'ah: 10).

Nah, kita perlu pahami dari awal bahwa auto-murajaah juga bagian dari dzikir. Sehingga selain tiap hurufnya kita sangat berharap dapat bertubi-tubi kebaikan, kita juga beroleh keberuntungan. Oleh karena itu, apabila terjadi kemacetan. Apalagi macet yang tidak diduga-duga (di hafalan yang terbiasa lancar eeeh malah terjadi macet), maka yang dilakukan adalah: mengalihkannya dengan prioritas dzikrullah yang lain, terutama istighfar. 

Adalah sangat aneh bila sedang asyik-asyiknya naik motor, tiba-tiba hafalan macet, lalu gak ketemu (buntu), lalu kita diam saja sampai tujuan naik motor kita. Seharusnya itu opsi ke Z (rencana terakhir). Justru menimbang skala prioritas, kita perlu mengambil prioritas B, C, dst dahulu.

Jadi, misal macet dan memang buntu, kita bisa alihkan menjadi istighfar sebanyak-banyaknya, atau shalawat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, apalagi kalau hari Jumat dimana kita dianjurkan memperbanyak shalawat. 

Mari terus jaga lisan kita tetap basah oleh dzikir. Dimulai dari kalamullah, istighfar, shalawat, hingga kalimat-kalimat thayyibah lainnya dengan keutamaannya masing-masing.


4. Auto-Murajaah di Dalam Shalat Sunnah

Tidak ada auto-murajaah dalam shalat sunnah. Lho kenapa? 

Dari segi makna auto murajaah khan auto-pilot sembari murajaah. Ketika melaksankan aktivitas apa, kita membalurinya dengan murajaah, dengan skema memecah konsentrasi. Jadi tidak ada namanya membagi konsentrasi ketika shalat. Karena shalat fully to Allah. Yang jelas, prioritas di dalam shalat ketika melafalkan bacaan Quran, kita bisa membaginya dalam 2 konteks kelancaran:

  • Ayat-Ayat Quran yang Mengena Bagi Kita
Ini perlu dipakai di shalat-shalat yang membutuhkan panjang berdiri dan di moment yang sangat berkah, tidak lain adalah Qiyamul Lail. Saat membacanya, kita diperkirakan bisa mentadabburinya, walaupun per hurufnya bisa jadi kita kurang faham. Ketika menyelami ayat yang berisi berita gembira (rahmat), seperti "jannatin tajrii min tahtihal anhaar", kita berdoa mohon dimasukkan/diberi rahmat. Ketika menyelami ayat-ayat yang seram, misal yang berakhiran "adzaabun aliim, adzabun 'adzim, adzabun hariiq, adzabun syadid", kita memohon dijauhkan dari marabahaya itu semua. Doa-doa di dalam QL termasuk doa-doa di waktu mustajabnya doa, jadi semoga Allah mengabulkan itu semua.
  • Ayat-Ayat Quran yang Memang Sudah Jadwal Hariannya Dimurajaah
Jadwal di poin 1 automurajaah perlu dibuat yang auto-murajaah, bila kurang nendang (misalnya target berisiko gagal tercapai), maka salah satu solusi cepatnya, dipakai dalam shalat sunnah, apalagi yang waktu malam, misalnya: bakdiyah magrib, bakdiyah isya', hingga witir. Ini dilakukan supaya besoknya sudah masuk ke target harian berikutnya. Selain itu, guna mendorong amal ibadah yang lebih masif, murajaah fokus bisa digelar juga untuk shalat dhuha dan shalat-shalat sunnah di siang hari.
  • Ayat-Ayat Quran yang Kelancarannya Masih Lemah 

Buat yang kurang lancar, kita perlu membuka mushaf besar taruh di meja kecil/semacam podium, lalu sambil berdiri dan melafalkan surat bakda Al Fatihah, kita bisa melihat/mengintip mushaf tersebut bila sesekali lupa. Hehe, tentunya guna menjaga keutuhan konsentrasi shalat dan meniru ulama', ini khusus buat shalat sunnah saja ya. Buat shalat fardhu, prioritasnya tetap di masjid atau bagi akhwat, khusus surat-surat yang lancar saja. 

Duh jadi ingat pesan ustadz Syarif Baraja dalam kajian 11 Februari lalu di VACATION Rumah Quran STAN, satu hal yang ada pada penghafal Quran tapi tidak ada pada muslim/ah lainnya adalah ia bisa dengan mudah membawa ayat-ayat hafalannya di dalam shalat yang dia kehendaki. Semoga menjadi motivasi bagi kita untuk slalu bermurajaah sembari berkomunikasi dengan Allah di dalam shalat. Maa syaa Allah, berkah berkah berkah.


5. Auto-Murajaah dari Mulai Wudhu s.d. Start Shalat Fardhu

Tahukah bahwa setelah wudhu hingga shalat fardhu biasanya membutuhkan perjalanan yang cukup untuk beberapa ayat? Misal wudhunya di rumah, shalatnya di masjid, sembari langkah-langkah kita menanam kebaikan dan menggugurkan keburukan, alangkah lebih powerful bila lisan kita turut mendukung dan menjembatani kasih sayang Allah. 

Bagi akhwat atau yang barangkali shalat di rumah, mungkin ia hanya bisa ditakar beberapa ayat saja. Misalnya 10 meter, berarti surah al ikhlash. Tapi itu saja sudah sepertiga Al Qur'an bukan?

Bagi ikhwan yang ke masjid, berapapun menit dari tempat wudhu di rumah sampai dengan tempat shalat, setiap tapak kakinya bernilai 1 huruf yang juga dikalikan 10 kebaikan, Maa syaa Allah.

Maka, bagi penjelajah auto-murajaah, kondisinya akan terbalik begini:

  • Bagi yang lokasi masjidnya dekat, bersabarlah, walau kebaikan dan hurufnya lebih sedikit tapi untuk meraih shaff 1 atau posisi awal shalat, in syaa Allah lebih cepat.
  • Bagi yang lokasi masjidnya jauh, bersyukurlah, walau mungkin shaff nya terbelakang atau posisinya kurang bisa di awal shalat, in syaa Allah kebaikan dari langkah sekaligus huruf Quran yang dilafalkan menjadi lebih signifikan. 

Secara teknis, sehabis wudhu pasti lisan kita masih berkutat dengan doa setelah wudhu, nah, begitu kita beralih mempersiapkan: sarung, baju koko, masker, kunci motor (kalau jauh), peci, dan sajadah, ada banyak huruf Quran yang bisa diraih sembari mempersiapkan barang-barang tersebut.

Auto-murajaah memang mengajarkan kita hal-hal teknis sekecil itu, yang apabila ditakar dengan keberkahan 1 huruf Qur'an, in syaa Allah nilainya jadi terus mengembang dan meluas. Sehingga misalnya jarak ke masjid 1 kilo akan ditakar dengan 1-2 halaman murajaah, jarak sepelemparan batu akan ditakar dengan 3-5 baris murajaah.

Bahkan, kalau perlu, bila seandainya ada yang nanya: "Pak dimana lokasi rumah si anu?" Saking ngehit nya auto-murajaah dalam dirinya, jangan-jangan dia akan jawab begini, "Itu pak, 15 ayat dari sini lalu belok ke kanan 5 ayat lagi."


Bersambung ...

6. Auto-Murajaah di Ba'da Shalat Fardhu

7.  Auto-Murajaah di Atas Motor/Kendaraan

8. Auto-Murajaah Ketika Berjalan Kaki

9.  Auto-Murajaah Ketika Browse and Swipe, Lihat Status/Story/Jelajahi e-Commerce

10. Auto-Murajaah ketika Menyeterika/Merapikan Baju/Mencuci/Memasak

11. Melejitkan Auto-Murajaah Bersama Masker

12. Auto-Murajaah Ketika Menyapa Tetangga/Teman


komentar | | Baca...

4 Alasan Kenapa Harus Auto Murajaah

Penulis : rumah quran stan on Sabtu, 13 Februari 2021 | 16.26.00

Sabtu, 13 Februari 2021

Mari kita Start With Why...

Sebelum memulai aktivitas baru, biasanya yang menjadi tanda tanya pertama adalah "WHY?" Jawabannya bukan personalnya siapa, bukan alatnya apa, bukan caranya bagaimana, melainkan: "Kenapa kita merasa PENTING untuk melakukannya? Kenapa kita HARUS melakukannya? Apa MANFAAT kalau kita melakukannya?  
 
Semakin kuat KEPENTINGAN, KEHARUSAN, dan KEBERMANFAATAN dari sesuatu tersebut untuk diri kita, semakin kuat pula alasan kita untuk melakukannya. Bahkan tak peduli bagaimana pun, siapa pun, kapan pun dan kata tanya lain apa pun yang menghalanginya. Inilah dia "Kenapa Kita Harus Auto-Murajaah"... tereteteteeeeettt ...


Sekilas Latar Belakang:
Kisah murajaah yang saya dapatkan termasuk sedikit, namun cukup membelalakkan pikiran saya, mengukir tanda tanya besar: "Kok bisa yaaa...."
  1. Kisah seorang guru/kiyai teman saya, yang katanya ketika sedang ngobrol, beliau bisa lho, bergantian dengan agenda melafalkan Kalamullah di lisan beliau. Wow! Ajib! Advanced Multitasking! Ya, begitulah. Bayangan saya, cerita ini memang saya dapatkan sekali saja, tapi saya yakin banyak kiyai/tokoh ulama/tokoh penghafal Qur'an yang bisa seperti ini. Automatic switched antara agenda duniawi dengan agenda murajaahnya. Barakallah untuk para asatidz dan kiyai keren inspiratif seperti beliau...
  2. Kisah seorang narsum yang pernah kami undang (waktu itu di FHQ Ar Ridho), seorang kiyai/ustadz dari Depok naik motor sebelum Subuh ke Tangsel (maklum, acara kajiannya start jam 05.30 WIB). Beliau berkelakar, "Alhamdulillah ada anak saya yang anter, jadi murajaahnya bisa 4 juz". Saya kaget, dalam hati berujar, "Waduhh... kalau beliau saja Depok-Tangsel dibonceng 4 juz, saya yang biasanya rumah-kantor naik motor, lebih banyak melamun dan misuh nya? Astaghfirullah... Sampai sekarang, logika saya masih belum nyambung: "Kok bisa ya!" Tapi itu really bisa terjadi. Apalagi di waktu berkah pagi, yang mana Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam mendoakan keberkahan umatnya di waktu tersebut. 
Dari dua kisah itu saja, cukuplah bagi saya memviralkan istilah "auto-murajaah" ke segenap sel, jaringan, organ, dan sistem organ dalam diri saya, sehingga mudah-mudahan virus auto-murajaah terus menggerogoti dosa-dosa dan melejitkan kesehatan mental paripurna dalam lobus jasmani ruhani saya.    
Akhirnya, saya temukan WHY tadi setelah mengalaminya sendiri, beberapa waktu terakhir ini:
Kenapa kita Harus Auto-Murajaah?

1. Pembangkit Ruhiyah di Kala Sibuk

Alasan yang pertama ini duniawi banget nih. Seiring dengan terjadinya pandemik --> mengakibatkan kebangkitan logika "apa-saja-online" --> bukan hidup jadi makin mudah, eeh malah makin sibuk. Dikit-dikit onlen, dikit-dikit onlen. Di rumah, lagi enak-enaknya berakhir pekan, diajak nge-zo0m, nge-me3t, atau nge-vic0n. Sisi positifnya adalah ==> bagi orang dengan pemikiran terbuka dan growth mind-set, hidup menjadi lebih tangkas, lebih terampil, lebih lincah. Ke sana sini, pikiran cepat bergerak dan berubah, langsung tune in, fokus dalam sekejap, pikiran switched dengan cepat.

Eits jangan keliru... Agile (ketangkasan) juga kudu adil, tidak cuma urusan duniawi saja, tapi juga urusan akhirat. Termasuk implementasinya dengan menginternalisasi auto-murajaah dalam aktivitas kita. Sambil ngerjain tugas kantor, begitu adzan, langsung move on. Ga cuma berangkat ke mesjid saja, tapi selama perjalanan tersebut (yang notabene bisa disambi), juga sambil berdzikir melafalkan hafalan Quran yang dipunya. Bukan cuma perjalanan ke mesjid, melainkan juga aktivitas semi-fokus lainnya: menyeterika, merapikan baju, mencuci piring, ganti baju, di mana lisan masih bisa bebas bergerak tanpa terganggu fokus yang lain.

Dengan cara menyelip-nyelip-kan agenda murajaah tersebut, ruhani kita selalu ter-charge senantiasa. Lalu kita bertanya lagi: APA MANFAAT ruhani yang ter-charge dengan baik. Berikut yang bisa kita rasakan kalau ruhani kita sehat:


  1. Imun terhadap maksiat makin kuat. Bukan itu saja, bahkan menghindari aktivitas yang minim manfaat pun makin terjaga, semisal menjadi kurang doyan maen game,  ga mudah kebelet nonton pelm, dll. Hal ini imbas dari ruhani yang charge nya kuat.
  2. Daya tahan terhadap amanah menjadi lebih tegar. Kesibukan yang bertumpuk-tumpuk pasti membuat kita stress, tapi dengan ruhani yang ter-charge, jiwa menjadi lebih lapang, hati menjadi lebih tenang, suasana menjadi selalu nyaman. Bila orang lain merasa dalam tekanan, kita justru seperti sedang rebahan santai di pinggir pantai yang tenang, merasakan sepoi angin semilir, dan suara deburan ombak. Amanah-amanah yang datang seolah santai tuk dikerjakan, bahkan kita kuat menerima beban amanah tersebut.
  3. Penyikapan terhadap musibah menjadi lebih kalem. Karakter muslim yang ideal kian mendekati realitas bagi kita, dimana ketika diberi nikmat kita bersyukur, dan ketika diuji musibah kita bersabar. Jadi jangan kaget, bila ada orang kena musibah, tapi kok senyumnya bisa lebar sekali, wajahnya seperti tak menunjukkan kesedihan atau kehilangan yang berat. Bisa jadi ruhaninya memang kuat dan tangguh. Ia mengganggap segala sesuatu hanya titipan. Allah lah tempat segala sesuatu itu kembali.  
  4. Akselerasi naiknya iman menjadi lebih cepat. Membaca 3 poin di atas mungkin membuat kita berpikir, "itu mah bukan manusia, itu mah malaikat", maka poin ke-4 ini memaklumi sifat manusia, yaitu iman yang bisa naik dan turun. Hanya saja, ketika kita menjadi manusia begini, pertanyaannya adalah: naiknya iman apakah harus menunggu Ramadhan? naiknya iman apakah harus dinasehati ustadz kabir? naiknya iman apakah harus menunggu musibah besar terjadi? menunggu tanda-tanda kiamat makin jelas? sehingga membuat kita jadi makin rajin ke mesjid? Tentu tidak. Dengan charge ruhani yang intensif ala auto-murajaah, pagi tadi futur, nanti siang sudah semangat lagi. Atau tadi malam mager, besok pagi sudah qiyamul lail lagi. Maa syaa Allah. Akselerasi yang cepat untuk performa ruhani yang kuat.

2. Membangun Portofolio Akhlak

Lupakanlah akhlak kita yang lalu. Yang mungkin banyak buruknya: pemarah, pendendam, pengiri, pendengki, pengujub, penggosip, penyulut emosi, dan peng-peng yang lain. Mari buat portofolio baru atas nama diri kita, dengan cara menggelar agenda auto-murajaah. Dengan interaksi bersama Qur'an, salah satunya yang lebih intensif dan meng-inject aktivitas rutin kita, kita berharap segala keburukan yang menguntit diri kita (entah sejak kecil sudah menjadi kebiasaan, entah ditanamkan oleh preman teman sejati kita di masa remaja, entah meniru dari siapa pun), itu semua bisa hilang bersamaan dengan Qur'an yang menetralisasi akhlak kita. Karena Quran sumber ketenangan, kasih sayang Allah buat diri kita.

Imam Hasan Al Bashri pernah meralat ucapan seseorang yang mengatakan: "Dia telah menjaga Al-Qur'an (memurajaah sehingga tidak hilang)". Begini ralat beliau, "Bukan ia yang menjaga Quran, justru Al Quran-lah yang menjaga dirinya."

Ya, Al Quran ibarat benteng tak kasat mata yang melindungi kita dari virus-virus jahat kemaksiatan yang mewujud menjadi karakter sekaliber akhlak. Akhlak sejatinya melekat, jadi ibarat kalau kita mengageti seseorang, lalu lisannya bertutur secara spontan, maka seperti itulah akhlaknya. Kalau ia spontan bertutur isi kebun binatang (misuh-misuh), perlulah ia memperbaiki diri. Kalau ia bertutur istighfar, maa syaa Allah, maka spontan pula Allah melindunginya, semoga.


3. Turunan Konsep ala Sahabat Nabi

Dikisahkan: sekelompok orang yang baru saja masuk Islam pernah bertanya kepada para sahabat,

كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟

“Bagaimana metode kalian dalam membagi bacaan Al-Quran?”

Para sahabat lantas menjawab:

كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا نُحَزِّبُهُ ثَلَاثَ سُوَرٍ وَخَمْسَ سُوَرٍ وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ وَإِحْدَى عَشْرَةَ وَثَلَاثَ عَشْرَةَ وَحِزْبُ الْمُفَصَّلِ مِنْ “ق” حَتَّى نَخْتِمَ.

“Kami membaginya menjadi: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, 13 surat serta surat Al-Mufasshol yang dimulai dari surat Qof hingga akhir Al-Quran” (HR Abu Dawud)

Jawaban para sahabat diatas merujuk kepada susunan surat di dalam Al-Quran, rinciannya adalah sebagai berikut:

  • Hari Pertama (3 surat): Al-Baqarah, Ali Imron dan An-Nisa.
  • Hari Kedua (5 surat): Al-Maidah, Al-An-‘am, Al-A’rof, Al-Anfal, At-Taubah.
  • Hari Ketiga (7 surat): dari surat Yunus hingga akhir surat An-Nahl.
  • Hari Keempat (9 surat): dari surat Al-Isro hingga akhir surat Al-Furqon.
  • Hari Kelima (11 surat): dari surat Asy-Syu’aro hingga akhir surat Yasin.
  • Hari Keenam (13 surat): dari surat Ashoffat hingga akhir surat Al-Hujurot.
  • Hari Ketujuh (Al-Mufashol): dari surat Qof sampai An-Nas.

Sebagian ulama lantas ada yang menyusun sebuah rumus untuk memudahkan dalam menghafal susunan diatas, yaitu dengan kalimat:

فَمِي بِشَوقٍ

yang artinya: Lisan yang Dirindukan.

Para sahabat yang biasa membagi 30 juz ke dalam 1 pekan, sebetulnya merujuk pada konsep MURAJAH dengan TARGET YANG JELAS.

Lalu, mengambil kaidah: "Kalau tidak bisa semuanya, jangan lantas ditinggalkan semuanya", maka kita-kita yang belum dapat hafal secara lengkap 30 juz, sewajarnya membuat turunan-turunan agar konsep Murajaah dengan target ini dapat diamalkan.

Maka,
Bila 30 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 4-5 juz,
Bila 20 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 3 juz,
Bila 10 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 1,5 juz,
Bila 5 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 1 juz,
Bila 2 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 0,3 juz atau 6 halaman,
Bila 1 juz ==> 1 pekan kurang lebih sehari dapat 0,15 juz atau 3 halaman,

Syukur-syukur murajaah atas hafalan-hafalan kita yang masih sebagian tersebut bisa ditunaikan semua di agenda yang bersifat fokus, seperti membaca surat setelah Al Fatihah di dalam shalat wajib dan sunnah, duduk sambil menyelipkan/mengintip-intip mushaf, atau agenda fokus lainnya.

Kalau kita sibuk? Apalagi hype in online... 
Salah satu solusinya adalah Auto-Murajaah.

Maa syaa Allah dari agenda yang bersumber dari generasi orang-orang terbaik di zaman Nabi, kita bisa menirunya. Semoga berfaedah, berkah, dan menautkan pahala yang besar di akhirat kelak.

4. Menimbun Investasi Tiada Terkira

Bicara tentang Al-Quran, harta dunia in syaa Allah lewat yaa. Karena bukan itu, yang memotivasi kita membersamainya senantiasa. Justru pahala akhirat yang hitungan kalkulasinya jauh melebihi ekspektasi akuntan manapun. Semoga Allah slalu membantu menggembor-gemborkan motivasi ini di hati kita. 

  • Yang pertama hm... betapa masifnya kebaikan dan pahala yang dapat dituai hanya untuk 1 huruf saja. Itulah salah satu motivasi, yang membedakan dengan karakter kebaikan yang lain.

Salah seorang ustadz pernah mencontohkan, "Bandingkan dengan sebungkus nasi yang bernilai 1 kebaikan, bungkusnya dibuat oleh si anu, sendoknya dibeli dari si anu, belum lagi nasi, lalu sayur, lalu lauknya dari si anu yang berbeda-beda, lalu dikumpulkan dalam satu kali pembagian kepada masyarakat yang membutuhkan." Intinya untuk mencetak 1 kebaikan dari sebungkus nasi dibutuhkan sekian banyak orang sampai ia dinikmati oleh sasaran penerima sedekah tersebut.

Berbeda dengan Al Quran yang membaca 1 hurufnya saja, sudah bernilai 1 buah kebaikan yang dilipatgandakan 10x. Artinya kalau kita bicara bobot, pahala bersama Al Quran jauh lebih berbobot, berkah, dan penuh manfaat buat si penimbun pahalanya di akhirat.

  • Di setiap level kehidupan, ada Al Qur'an yang menemani, bila kita sudah berteman sejak awal di dunia.


Ini tercantum dalam doa khotmil Qur'an di atas:

Yaa Allah.. Jadikanlah Al-Quran bagi kami di dunia sebagai teman, di dalam kubur sebagai pendamping, di hari kiamat sebagai penolong, di atas shirat sebagai cahaya, ke surga sebagai pengantar, dan dari neraka sebagai hijab/penghalang.

Sebetulnya masih banyak motivasi-motivasi luar biasa dari interaksi bersama Qur'an. Tapi hanya sedikit ini saja yang bisa dipaparkan. Selebihnya tetesan-tetesan inspirasi dari web ini dirasa sudah mewakili, artinya silakan untuk dapat menjelajahinya sendiri :P

Dan bila untuk memenuhi return dari investasi yang tiada terkira itu, ternyata kita terlalu sibuk di dunia. Maa syaa Allah. Lebih cocok kita install aja deh AUTO-MURAJAAH dalam baluran aktivitas duniawi kita.

Barakallahufiikum

Rumah Quran STAN 

komentar | | Baca...

4 Mind Set Utama - AutoMurajaah

Penulis : rumah quran stan on Rabu, 27 Januari 2021 | 22.23.00

Rabu, 27 Januari 2021


Pasti bingung ya? Apa hubungan antara Murajaah dengan cover gambar Tamiya  


Eh, kebayang gak?
Sudah punya tanggungan 1 juz tilawah (baca Qur'an) per hari, truz ditambah 1 juz murajaah pula tiap hari. Ampun gak tuh! Kelenger gak tuh! Gimana bagi waktunya?? 😵

Hehe, Disini akan dibeberkan mind-set yang harus diinternalisasi dulu sebelum beraksi. Agar dapat diangguki oleh HATI, bukan hanya oleh akal. Karena akal kita bisa saja bilang: Impossiblee!! Tapi relung hati terdalam kita ternyata menggangguk-angguk setia, pada Sang Pencipta, yang telah menempatkan jiwa untuk dapat menghancurkan mental block yang ada.

Inilah dia...
MIND SET UTAMA ==> AUTO-MURAJAAH


1. Pertama Pahami dan Yakini... 

Auto-Murajaah? Eits, ternyata salah satu artikel di blog Rumah Quran STAN ini sudah pernah membahasnya lho, bahkan sebelum istilah auto-ngakak, auto-mager, hingga auto-sultan viral di jagad media sosial sekarang.

Auto-Murajaah menurut artikel sebelumnya tahun 2018, merupakan upaya mengambil waktu-waktu kita yang lebih sudut lagi, yang bisa disambi, yang mungkin di-multitasking-kan, yang mana otak sedang santai, tak perlu fokus, ibarat butir-butir pasir di dalam bejana 24 jam sehari kita, untuk murajaah (mengulang-ulang hafalan Qur'an). Tuh, definisi yang puanjang bukan.

Intinya begini: kita punya waktu untuk kuliah, kerja, keluarga, dan ibadah = 4 waktu yang biasanya paling prioritas dalam hidup kita, umpamakan saja itu semua bongkahan batu besar. Lalu makin tidak prioritas, agenda kita makin selembut pasir. Bukan hanya itu, agenda-agenda pasir tadi syaratnya bisa dimultitaskingkan dengan memurajaah hafalan Quran. 

Misalnya: naik motor, memasak, menyeterika, jalan kaki, sambil liat-liat e-commerce di HP, sambil swipe-swipe status orang, sambil senyum-senyum baca chat orang, mager, dll. Nah itu semua bisa sambil murajaah, disitulah waktu-waktu harian kita bakal mcQueen berkah.

Dan kalau dijumlah dalam sehari ... ck ck ck, bayangkan saja, yakin bisa muat hafalan kita yang dijembreng jadi 1 pekan lamanya, dan diulang-ulang terus.

Contoh: buat laki-laki ke mesjid jalan/naik motor, itunglah perjalanan ke masjid 5 menit, pulang 5 menit, itu ekuivalen dengan 2 halaman murajaah, maka bila dikali 5 waktu, hasilnya sudah 10 halaman = 1/2 juz. Belum lagi kalau murajaahnya ditaruh di shalat sunnah yang lebih prioritas, belum lagi sambil buka swipe-swipe HP, dll...  Pasti bisa banyak tuh murajaahnya...


2. Analogi Tamiya

Kenapa harus Tamiya? Apa salah Tamiya??
Eits... Tamiya tidak salah kok. Hanya saja, tamiya punya analogi yang pas dan unik untuk sesi Auto-Murajaah 1 Juz Per Hari yang diulang-ulang tiap momen tertentu... oh... kalau standar penghafal Quran itu, diulang antara 1-2 pekan sekali. Jadi, yang punya hafalan setengah juz misalnya, sembari menjaga hafalannya, dia buat 1/2 juz itu diulang setiap pekan di momen auto-murajaah yang dia bisa.

Ini ibarat TAMIYA... Iya! Tamiya tidak pernah pusing jika dikebutkan di atas sirkuit yang selalu saja berulang. Dia hanya berhenti dengan 2 kemungkinan. 1. Diambil yang punya, 2. Baterenya habis. Selama tidak dilakukan, Tamiya akan terus berputar tanpa merasa lelah dan pusing.

Itulah!
Itulah kenapa kita dicipta Allah untuk merasakan perulangan setiap hari, dari siang kemudian malam, kemudian siang lagi tanpa pusing. Maka, mari kita buat perulangan sirkuit murajaah kita, agar bacaan Quran itu dibaca bin nadzar (dilihat) setiap hari melalui agenda tilawah (perulangan 30 hari sekali khatam), PLUS agar hafalan Quran kita dibaca bil ghaib (tanpa dilihat) setiap hari sekian halaman melalui agenda murajaah (perulangan 1-2 pekan sekali selesai hafalan).

Sebelum apa?
Tentunya sebelum Allah mengambil kita dari jalur sirkuit yang selama ini kita geluti, atau sebelum batere kita habis, yang akhirnya Allah juga ambil diri kita, agar tidak mengganggu jalur sirkuit yang dipenuhi tamiya-tamiya lainnya. heuheu...



3. Pastikan Syarat Terpenuhi: "PUNYA HAFALAN QUR'AN Berapapun!"

Sederhana kan!! Jadi gak kudu banyak-banyak punya hafalan sebetulnya!! Yang penting ada aja! Coba kita bikin pentahapan begini ==>

  • Bila hafalan cuma 1 halaman, maka misalnya kita tentukan standar 1 pekan diulang di sirkuit hafalan kita tadi, maka 1 hari = 2 baris (asumsi = 1 halaman terdiri dari 14-15 baris). Kalau bosen dengan 2 baris itu-itu aja di setiap hari Senin, misalnya... Yaaa tambahin lah! Gaskeun!!!
  • Maka, hafalan kita naik kelas. Misalnya bertambah jadi 10 halaman hafalan (kalau juz 30, berarti dari Al-Fajr s.d. An-Naas), bila diulang sepekan sekali = 1,5 halaman per hari. Hm... Pasti lama-lama kalau istiqomah, kita bakal berpikir: kok itu-itu aja sih, maka kuy naik kelas lagi!
  • Misalnya bertambah jadi 20 halaman hafalan alias 1 juz per pekan => Per hari jadinya 3 halaman. Bila sudah lancar, istqomah, lalu pengen yang lebih lagi? Ck ck... Manusia memang gak pernah selesai yaa punya nafsu menghafal, ahahay, semoga aja!
  • Tambah lagi!!! jadi 40 halaman hafalan alias 2 juz per pekan => Per hari jadinya 6 halaman.
  • Tambah lagi!!! jadi 80 halaman hafalan alias 4 juz per pekan => Per hari jadinya 12 halaman.
  • begitu seterusnya...
Dengan semakin bertambahnya hafalan, maka semakin kreatif dan inovatif pikiran kita untuk menggelar agenda murajaah. 

Dari semula agendanya cuma setiap naik motor aja, maka kita makin melebar dan memanjang = meluas, hehe. Nambah jadi, setiap nyeterika murajaah. Nanti nambah lagi, setiap nyuci piring murajaah. Nanti nambah lagi, setiap liat antrian di warteg memanjang, ketika yang lain geleng-geleng kepala, si penghafal ini malah girangnya bukan maen. Seneng karena bisa jadi sarana murajaah. Nanti nambah lagi nyerempet sekaligus men-generate ibadah-ibadah mahdhoh juga, shalat sunnahnya jadi rajin, dhuha nya rutin, qiyamul lailnya makin sering. Kenapa?

Karena dia jadikan itu semua agenda Murajaah. Nah begitulah Murajaah yang menjadi trigger bagi amal ibadah kita yang lain.  

Growth Mind Set to Have More "Hafalan Qur'an" with Murajaah ...


4. Jangan Niatkan Murajaah Agar Slalu Lancar, Tapi Murajaah-lah Agar Kita Slalu Bersama Quran 

Coba jawab dulu pertanyaan ini: Kenapa suami slalu bersama istri? Apakah agar keduanya akur? Agar hidupnya lancar dan tidak ada masyalah?  Tentu tidak? Karena manusia sudah difitrahkan akan menjalani ujian demi ujian. Jawabnya lebih visioner dari sekedar lancar: yakni agar hidupnya tenang, alias sakinah. Jadi, kalau ada masalah, bersama istri lebih tenang. Jadi, kalau lihat makhluk lawan jenis lain di luar sana, si suami akan slalu menjawab, "Istriku lebih syantique."

Itu secara duniawi yaa...

Jadi, kalau ada orang yang murajaah agar lancar, yuk kita naik pohon saja, agar pandangan kita lebih visioner tidak sebatas itu saja. 

Murajaah yang berimplikasi pada lancarnya hafalan hanyalah efek samping. Tujuan utama murajaah rutin itu menjadikan hidup kita agar slalu lebih dekat dengan Qur'an, sehingga hati kita jadi lebih tenang menghadapi ujian dan cobaan. Sehingga semua keutamaan melafalkan Quran terunggah lebih masif dan tercatat lebih berlembar-lembar oleh malaikat pencatat amal kebaikan.

Sebentar! Kedua mind set ini akan berbeda dalam pelaksanaannya. Coba bandingkan!

  • Si Fulan A, memurajaah juz 30 selama sepekan, lalu begitu sampai adh-dhuha s.d. annas, dia tak jadi murajaah karena tanpa diulang-ulang pun sudah lancar otomatis, sehingga dari situ ia langsung balik ke An-Nabaa' lagi agar lebih lancar lagi ==> Ini mind set Murajaah agar lancar.
  • Si Fulan B, memurajaah juz 30 selama sepekan, lalu begitu sampai adh-dhuha s.d. annas, dia tak peduli sudah lancar atau tidak, yang penting selama sepekan itu, dia harus tuntas juz 30 nya, maka dia pun selalu menjadikan juz hafalannya itu sebagai sirkuit pekanan dirinya. ===> Ini mind set Murajaah agar slalu bersama Qur'an.    


---------------

Khotimah:

Murajaah bukan tentang agenda yang mood-mood-an.

Justru murajaah lah yang menguatkan mood hidup kita lebih terarah.

Murajaah bukan pula agenda yang memperlancar hafalan.

Justru murajaah lah yang secara tidak langsung memperlancar ketahanbantingan kita atas ujian dan cobaan yang menghadang

Karena manusia takkan bisa lepas dari fitrah ujian dan cobaan


Ya Allah kuatkanlah kami, atas cobaan hidup ini...

Allahummarhamnaa bil Qur'aan

Bersambung .... (Coming Soon: Teknik-Teknik Auto Murajaah)


ditulis oleh:

seseorang yang terinspirasi agenda VACATION Desember 2020 lalu,

semoga auto-murajaah ini terus bertahan hingga maut menjemput,

terima kasih Rumah Quran STAN

Allahummarhamnaa bil Qur'aan

komentar | | Baca...

Vacation Dalam Data + Testimoni

Penulis : rumah quran stan on Jumat, 01 Januari 2021 | 09.57.00

Jumat, 01 Januari 2021

 Karena VIRTUAL, semua DATA terbuka lebar

Itulah tagline yang didengungkan Rumah Quran STAN di masa virtual ini, sehingga ketika ada agenda VACATION (Virtual Camp for Tahfidz Optimization), di satu sisi, santri dan musyrif perlu beradaptasi dengan suasana yang tidak biasa. Hm... disisi lain, manajemen merasakan lebih mudah dalam pengelolaan data, baik dari sisi:
  • pendaftaran peserta (rentang juz yang direncanakan dihafal),
  • proses talaqqi (rekap melalui google form dan spreadsheet), hingga
  • evaluasi (testimoni dan masukan-masukan).

Berikut gambar-gambar yang mewakili aktivitas VACATION dalam DATA:

Dimulai dari pendaftaran, paling banyak santri berkomitmen ziyadah hafalan juz 28 (15 orang), kemudian 1 orang masing-masing juz 26 dan juz 3. Kurva cenderung U di atas menandakan, rentang juz 25 - 30 masih menjadi yang difavoritkan, menyusul juz 1 - 5. Tentunya ada beberapa santri tahsin yang memang ditargetkan dapat mengejar juz 29 dan 30.



Data rekap tersebut menunjukkan bahwa:
  1. Keikutsertaan santri sebanyak 69% merupakan yang terendah dari penyelenggaraan serupa sebelumnya. Hal ini diprediksi karena:
    • Agenda VACATION cukup mendadak, sehingga baru diinfokan 1-2 pekan sebelum masa libur akhir tahun,
    • Santri sudah ada rencana kegiatan lain di masa liburan, meski begitu Vacation sudah dibuat lebih fleksibel, dapatb memilih hari, dengan total minimal 8 set jam setoran (setara 2 hari dari 4 hari pelaksanaan VACATION),
    • Santri banyak tugas kuliah di masa liburan,
    • Santri under-estimated karena model virtual tidak lebih baik daripada Tahfidz Camp Normal di masjid, 
    • Direncanakan santri lebih prefer mengikuti VACATION-2 di bulan Februari 2021, dimana pada momen tersebut sedikit beban yang dilalui mahasiswa, mengingat momen pasca-UAS 1 di Kampus PKN STAN,
  2. Jumlah talaqqi santri dan jumlah halaman yang disetorkan mengalami penurunan dari hari 1 hingga hari 4, seiring dengan hafalan yang disetorkan. Hal ini perlu diantisipasi pada momen Vacation selanjutnya,
  3. Rekor jumlah talaqqi dan jumlah halaman berhasil dilakukan oleh 3 santri tahfidz dan 1 santri tahsin mampu melalui lebih dari itu (juz 30 rerata lebih ringan).

Dari sisi testimoni dan masukan, hm...

Berikut masukan yang berhasil dihimpun dan diringkas:
  1. perlu motivasi dan evaluasi harian lebih mendalam
  2. kendala teknis jaringan untuk masuk Zoom (device/jaringan santri)
  3. Musyrif perlu ditambah ketika waktu-waktu padat setoran
  4. Perlu partner menghafal yang ditentukan oleh panitia, yang target juz nya sama dan waktu menghafalnya juga sama,
  5. Tahfidz Camp agar dibuat yang lebih sederhana dan dirutinkan di akhir pekan (misal sebulan 1-2 kali) untuk mengakomodir waktu menghafal alumni yang sudah bekerja,
  6. Teknis aturan agar diperketat lagi, agar santri lebih disiplin,
  7. Agar interaksi antar santri di main room ditingkatkan, karena butuh motivasi misalnya ketika melihat santri lain menghafal walaupun secara online, atau bila menyedot kuota, bisa juga dengan peran musyrif/ah yang mengupdate capaian santri di grup,
  8. Dilaksanakan lebih lama lagi,
  9. Kalau bisa langsung setelah ujian selesai/pertemuan terakhir kuliah sehingga fokus tidak terlalu terpecah. 
  10. Musyrif/ah agar lebih siap (perlu dirumuskan teknis kesiapan ketika santri masuk ke breakout room, juga minimal jumlah musyrif/ah per sesi), 
  11. Musyrif/ah agar menghubungi santri secara personal untuk menanyakan kabarnya dan memotivasi/mendorong untuk setoran
  12. Setelah setoran barangkali ada sedikit motivasi dan tips dalam menghadapi kesalahan dalam membaca
Berikut all-terstimoni, 
Maa syaa Allah testimoninya bagus-bagus...

  • Luar biasa meski di rumah tetap bisa memaksimalkan waktu liburan dengan vacation (Mar'atus Sholikhah - RQ 'Aisyah - Ustadzah Nisa Huwaina)
  • Walaupun online tetep aja deg2an mau setoran, apalagi liat yang lain setorannya subhanallah cepet2 banget, suaranya ada yang bagus banget 😭👍🤩 (Laela Kumalasari - RQ 'Aisyah - Ustadzah Nisa Huwaina)
  • Alhamdulillah bisa mengikuti vacation ini walaupun tidak full. Ini pengalaman pertama saya mengikuti tahfidz camp dan qadarullah virtual. Vacation kali ini memberikan saya buanyak pelajaran: belajar fokus, tentang lurusnya niat, self control, kesabaran, dan konsistensi. Banyak juga kejadian2 di luar kendali yang kadang mendistraksi. Kembali, lillah menjadi kunci :") (Nikmah - RQ 'Aisyah - Ustadzah Nisa Huwaina)
  • "Alhamdulillah dengan adanya vacation bisa nambah hafalan, dengan frekuensi menghafal yang banyak, memfokuskan diri hanya untuk Al-Qur'an dalam beberapa hari, gak setiap hari bisa kayak gini ('':Sangat banyak godaannya, godaan dari luar terlebih dari dalam diri juga, apalagi kalau setoran malam suka terlewat karena ketiduran ): Biasanya lihat temen baru termotivasi, tapi kali ini dari rekap setornya lumayan memotivasi karena lihat temen2 yang lain pada semangat setoran. Terima kasih RQ, sudah menyediakan fasilitas vacation ini, liburanku jadi sangat bermanfaat 🙏🙏🙏 (Nifa Aulia Masyrifa - RQ 'Aisyah - Ustadzah Nisa Huwaina)"
  • Masyaallah sekali tahfidz camp kali ini, benar benar banyak sekali godaannya. Hari ketiga ini adalah hari yang paling berkesan untuk saya. Dimulai bangun tidur kemudian langsung menghafal, setelah setoran bersih bersih rumah, kemudian menghafal lagi sembari tangan berkutat membungkus brown sugar untuk kepentingan ibu jualan besok, setoran lagi tapi karena modal kuota unlimited yang sudah lelet jadi ditengah tengah setoran zoomnya connecting terus (sampe 5 kali sepertinya😭). Belum lagi dapat godaan ajakan main dari teman. Terus mau menghafal dimintai tolong ibu beli mie ayam, akhirnya hujan hujanan dulu. Terus menghafal lagi diajak main sama ponakan. Terus menghafal lagi dan sampailah pada setoran untuk terakhir kali dihari ini. Ya Allah.. Memang benar tahfidz camp kali ini sangatlah berbeda dengan sebelumnya dimana kita semua hanya fokus untuk menghafal, tapi seperti kata Mbak Windy, bisa jadi inilah tahfidz camp yang paling menempa dan menjanjikan pahala paling besar karena saking berat dan saking mengujinya hal tsb bagi niat dan komitmen kita. InsyaAllah.. (Fitri Wahyu N. - RQ Asy Syakina - Ustadzah Windy Anita Sari)
  • "Alhamdulillah :” Sebelumnya maaf karena sebenarnya saya nyambi-nyambi selama Vacation ini, misalnya seperti gak selalu langsung lanjut hafalan ketika sudah setor. Tapi selama 3 hari ini rasanya masya Allah :’) rasanya seperti terikat tapi suka aja gitu, bukan terikat seperti kewajiban yang memaksa. Semacam, “Oh iya habis ngerjain ini harus lanjut hafalan lagi, ayo hafalan.” Jadi ingat apa yang seharusnya dikerjakan dan jadi lebih terarah, apalagi ini pas liburan kan, suka terlalu terlena :). *Sebenarnya bukan hanya terikat sih rasanya, melainkan juga terhubung :) terhubungnya kayak apa, entahlah, rasanya memang lebih terhubung aja. Trus kalo di room ada yang setoran, itu kan harus menunggu, kan, ya. Nah, itu juga suka aja sih, senang menyimaknya walaupun saya gak hafal/gak tahu akan surat yang disetornya. Selain itu juga, kalau menyimak yang setoran, rasanya jadi tersemangati dan ikut menyemangati dari dalam hati :) Sempat sih ada waktu ketika, “Kok gak hafal2, udah ulang berkali-kali tapi kok segini-segini aja.” Tapi akhirnya ya sudah, gapapa. Jadi inget kata-kata musyrifah yang intinya gapapa kalo lama hafalnya, seenggaknya selama mengulang-ulang itu kan berarti huruf (Alquran)nya tetap terus terbaca :) Selama tiga hari ini juga sempat terbesit malas menghafal tapi ya ingin bisa menambah hafalan, ingin bisa setoran. Jadi, ya harus lawan rasa malasnya ehehe :) bisa keterusan gak menghafal kalo gak dilawan malasnya dan ini salah satu yang terberat :( Jadi, intinya adalah alhamdulillah :) *ini mah malah jadi curhat, maafkan (: (Anisa Safitri - RQ 'Aisyah - Ustadzah Nisa Huwaina)"
  • Alhamdulillah dapat menikmati hari-hari selama kegiatan vacation dengan suka cita, hidup lebih teratur, dan waktu lebih bermanfaat. Hatur nuhun (Alginna Zyvanka - RQ Asy Syakina - Ustadzah Windy Anita Sari)
  • Salut bgt sama musyrif/musyrifah yang semangat terus meski banyak rintangan karena keadaan pandemi (Widya Pratiwi - RQ Asy Syakina - Ustadzah Windy Anita Sari)
  • Walaupun online, vibes tahfidz campnya masih terasa dan seru karena ditemani anak anak kecil di asrama (Selma Patrisia Nintysa - RQ Asy Syakina - Ustadzah Windy Anita Sari)
  • saya  tidak terlalu fokus :( (Sekarnida Salsabila  - RQ Nusaibah - Ustadzah Siti Umayah)
  • "Tahfidz Camp kali ini terasa berbeda dengan tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu, kita bisa menghafal bareng2 di satu tempat, makan bareng, riyadhoh bareng, saling memotivasi, terasa banget ukhuwahnya, dan tentunya bisa fokus dalam menghafal. Berbeda dengan yg sekarang, masing2 menghafal di kediaman masing2, juga cenderung banyak godaan yg bisa men-distract ketika ngafal, tidak bisa saling memotivasi secara langsung ketika jenuh menghafal, tidak ada yg mengingatkan ketika fokus mulai hilang dan tergoda akan hal lain.  Namun, tentu banyak hikmah yg bisa diambil dari Tahfidz Camp tahun ini. Kita jadi bisa melatih diri untuk tetap fokus menghafal walaupun tidak berada di lingkungan yg ideal. Bisa melatih diri untuk menahan godaan yg ada walau tidak ada yg mengingatkan. Melatih diri ini untuk menghadapi tantangan ketika jenuh menghafal sendirian walau tidak ada teman yang memotivasi. Dan masih banyak lagi hikmah yang tidak bisa saya sebutkan. Untuk itu, Tahfidz Camp tahun ini merupakan sarana yang sangat bagus untuk meng-upgrade diri, terutama dalam menghafal Al-Qur'an. Semoga di kesempatan berikutnya dapat terselenggara kembali dan lebih banyak peserta yang ikut. (Agil Nur Rohman - RQ Fatahillah - Ustadz Sugeng Purwanto)"
  • "Pengalaman pertama mengikuti tahfids camp secara online sebenarnya sangat seru, momen pas setoran itu best, walaupun deg degan setiap kali mau setoran tapi seneng aja ngeliat wajah musyrifah di layar, masyaAllah keramahan beliau kerasa banget. Hampir setiap selesai setoran pasti nangis. Afwan ya mba masih belum maksimal setorannya. Jujur, menghafal di rumah jauh lebih sulit :( (:D - RQ Ghaziyah - Ustadzah Anis Purwanti)"
  • Sebenarnya saya bersyukur tahfidz camp ini diadakan secara online, karena kalau offline saya pasti tidak dapat hadir. Saya sudah sedih karena berfikir tahun lalu adalah tahfidz camp terakhir saya dan pasti saya akan merindukan suasana tahfidz camp. Alhamdulillah Allah masih mengizinkan saya untuk ikut tahfidz camp tahun ini yang sudah sangat mengobati rasa rindu terhadap rumah Quran. Saat tahfidz camp ini juga saya merasakan semangat menghafal seperti dulu yang mungkin sekarang sudah mulai berkurang karena kesibukan kantor. Tahfidz camp ini seakan mengcharge full kembali semangat untuk menyelesaikan 30 juz. Semoga untuk kedepannya walaupun sudah dapat diadakan secara offline, saya berharap juga diadakan (dalam acara yang sama atau terpisah) secara online untuk memfasilitasi para alumni yang sudah berada jauh dan rindu kepada Rumah Quran (Nindya Sylviana W - RQ Nusaibah - Ustadzah Siti Umayah)
  • "Vacation mengingatkan kembali kepada saya, bahwa jangan pernah menyerah dengan keadaan, dan jangan pernah menempatkan diri sebagai korban yang hanya bisa menyalahkan. Saya, dan teman-teman bisa saja menyerah dg kondisi pandemi, yg menghalangi kita mabit di masjid untuk fokus menghafal tanpa distraksi HP, ataupun lingkungan di luar kita sebagaimana Tahfidz Camp yang normal. Lalu menyerah terlebih dahulu di awal, menganggap, ""Ah, mana mungkin nanti sy bisa fokus, pasti banyak ini itu, disuruh ini itu."" Kita pun bisa saja menyalahkan orang-orang di sekitar kita, yang tidak bisa membiarkan kita tenang dan fokus menghafal selama tahfidz camp. Lalu menyerah, dan merasa, ""Ah sudahlah sepertinya saya tidak mungkin bisa menyetorkan hafalan selama 8 sesi"", mundur bahkan sebelum bertanding. Kita pun bisa saja dalam sehari merasa sibuk dengan apapun di sekitar kita, kerjaan kantor, keluarga, tugas kuliah, KTTA, lalu mengucap maaf sebab tidak bisa menyetor, meminta izin untuk keesokan harinya di setor, dan esoknya nihil tidak juga dipenuhi. Namun, teman-teman saya di sini tidak demikian. Minimal, tidak sepenuhnya demikian. Bukankah begitu? Kita bisa dibilang nekat ikut, meski tidak yakin juga apakah bisa sampai target atau tidak. Kita nekat untuk daftar, meski tau kerjaan di hari-hari itu tidak berkurang sebab akhir tahun, atau penuh dengan deadline tugas perkuliahan. Kita tetap daftar meskipun kita tau keluarga, anak, pasangan, ponakan, orang tua, masih sangat butuh kehadiran dan bantuan kita. AH, modal nekat, katanya. Tapi, rasanya, saya bersyukur bisa nekat mendaftar. Meskipun tidak bisa memenuhi target 1 juz, saya bisa menambah 1-2 halaman hafalan baru saya. Meskipun tidak bisa memenuhi target minimal sesi setoran yang diikuti, paling tidak dalam 1-2 kali sehari saya bertemu dengan musyrifah dan menyimak kawan-kawan lain saat antri giliran setoran. Bahkan meskipun saat ini saya pribadi merasa gagal menjalani vacation kali ini, dengan kurangnya sesi setoran, kurangnya target minimal tiap setor, atau kurangnya akumulasi yang tidak sampai angka minimalnya; saya tetap bersyukur, sebab ada 1 kaidah yang saya makin pahami, ""Jika tidak bisa meraih seluruhnya, maka jangan tinggalkan semuanya."" Meskipun tidak bisa berada dalam kondisi ideal dan dengan capaian target semestinya, setidaknya kita tidak menyerah untuk tetap berusaha meraih sebagiannya. Maka, selamat kepada kalian, kepada kita; yang dengan karunia Allah, berhasil menjalani tahfidz camp ini dengan baik. sampai garis finish. kita awali dengan baik, maka kita akhiri juga dengan baik. Selamat, terutama bagi teman-teman, yang berhasil meraih targetnya. Saya yakin itu bukan tanpa pengorbanan. Bahkan, pasti banyak yang harus ditunda, dari tidur, hingga keinginan sekedar scroll laman media sosial. Memilih fokus bersama mushaf, menyambut sesi setor berikutnya, dengan hafalan yang lebih baik kualitasnya. Selamat, bagi kalian yang berhasil dari kata menyerah, hingga garis finish. Saya yakin itu bukan tanpa tangis sebab ada banyak ayat kembali lupa meski sudah dirapal puluhan bahkan ratusan kali. Dirasa siap, eh pas di depan musyrif, hafalan menghilang semuanya bak ditiup angin. Terbata-bata menahan rasa tidak enak, dan malu karena sudah berhadapan dengan musyrif. Namun, kalian, kita, tak mau menyerah kalah. Tetap mencoba lagi, dan diteruskan. Meski pada akhirnya tak banyak ayat terekap, tapi rasa tenang menyelimuti waktu waktu kebersamaan bersama Al Quran dan teman yang sedang bersama menghafal meski secara virtual. Ya, selamat ya. Insyaallah kita, semoga dipertemukan dalam vacation selanjutnya. Salam dari santri alumni akhwat (Santri Alumni Akhwat - Lainnya)"
  • Qadarullah Tahfidz camp kali ini tidak bisa dilaksanakan seperti biasanya, namun MasyaaAllah esensi yang didapatkan masih sama seperti sebelumnya, malah insyaaAllah lebih dari sebelumnya. Karena virtual tahfidz camp ini lebih menguji diri dalam menahan hawa nafsu dan menantang diri sendiri tanpa adanya faktor dorongan dari luar. Jadi kesungguhan tekad kita benar-benar diuji disini. Walaupun jika dilihat tantangannya lebih berat karena tidak berada dalam lingkungan yang mendukung dan tidak ada teman yang membersamai, namun hikmah yang bisa diambil adalah saat kita berkhalwat dengan Al Quran kita bisa merasakan nikmat yang luar biasa. Ayat yang diulang ulang dan tidak hafal hafal seakan Allah ingin kita bersama Al Quran lebih lama dan melupakan semua kesibukan duniawi. Walaupun tidak ada Musyrifah yang mengawasi dan mengingatkan saat kita mulai bersantai santai, namun saat itulah kita sadar bahwa pengawasan Allah selalu memperhatikan kita dan membuat kita untuk lebih disiplin terhadap diri sendiri. Walaupun kita tidak melihat teman teman yang lain setoran namun dengan melihat rekap setoran dan melihat para Musyrifah yang selalu stand by di depan laptop untuk menunggu kita setoran, menambah semangat kita untuk segera menyelesaikan hafalan. Walaupun dengan segala keterbatasan kondisi yang ada tahfidz camp kali ini bisa berjalan dengan lancar berkat manajemen yang telah memfasilitasi dengan sangat maksimal. Sebenarnya saya bersyukur tahfidz camp ini diadakan secara online, karena kalau offline saya pasti tidak dapat hadir. Saya sudah sedih karena berfikir tahun lalu adalah tahfidz camp terakhir saya dan pasti saya akan merindukan suasana tahfidz camp. Alhamdulillah Allah masih mengizinkan saya untuk ikut tahfidz camp tahun ini yang sudah sangat mengobati rasa rindu terhadap rumah Quran. Saat tahfidz camp ini juga saya merasakan semangat menghafal seperti dulu yang mungkin sekarang sudah mulai berkurang karena kesibukan kantor. Tahfidz camp ini seakan mengcharge full kembali semangat untuk menyelesaikan 30 juz. Semoga untuk kedepannya walaupun sudah dapat diadakan secara offline, saya berharap juga diadakan dalam acara yang sama atau terpisah namun secara online untuk memfasilitasi para alumni yang sudah berada jauh dan rindu kepada Rumah Quran (Nindya Sylviana W - RQ Nusaibah - Ustadzah Siti Umayah)
  • "Seru banget sebenernya huhu masyaAllah, walaupun di dua hari pertama itu qadarullah sedang ada acara jadi belum maksimal ngafalnya 😭😥 Tapi alhamdulillah masih bisa ngerasain vibe ngafal bareng temen2, dan ngeliat semangatnya temen2 yang setoran berkali2 huaa keren banget 🤗 Jazakumullahu khayr musyrif, musyrifah, dan manajemen rq stan yang sudah menginisiasi vacation ini dan memfasilitasi kami sampai akhir acara 😊 (Istiana Aini - RQ Asy Syakina - Ustadzah Windy Anita Sari)"
  • Alhamdulillah, acara yang baik insyaAllah.. dgn prinsip "bila tidak bisa melaksanakan seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya" (Naufal Ammar Rasyid - RQ Utsman bin Affan - Ustadz Bayu Alfath)
  • Masya Allah, meski persiapan dikatakan minimal tapi pelaksanaannya menurutku pribadi maksimal sekali. Dari pelaksanan secara keseluruhan luar biasa tertata dan terjadwal dengan rapi, feelnya mendekati banget sama tahfidz camp yang sebelumnya. Diluar ekspektasiku intinya. Sensasinya bukan sekedar setoran virtual seperti biasa, tapi ini bener-bener beda. Terlebih, musyrif/ah nya tulus banget dalam membersamai disela-sela waktunya yang begitu berharga.  (Anita Kemala Firdausyia - RQ Ghaziyah - Ustadzah Anis Purwanti)
  • "Luarbiasa, membuat flashback dengan kenangan indah di arridho lalu. Semoga keadaan segera membaik, kangen dengan suasana RQ dan segala kenangannya (Agung Wiratama  - RQ Fatahillah - Ustadz Sugeng Purwanto)"
  • Semangat membantu dalam merefresh semangat dalam menghafal (M. Taufik Hidayat - RQ Umar bin Khattab - Ustadz Muhammad Hasan)
  • Alhamdulillah bisa mempunyai kesempatan utk menambah hafalan di liburan + waktu & tempatnya fleksibel (Faishal Ibrahim - RQ Fatahillah - Ustadz Sugeng Purwanto)
  • Saya merasa hati saya bahagia karena adanya Vacation ini intwraksi saya dengan al quran lebih sering dibanding hati-hati biasanya, Walaupun saya belum sampai pada target saya untuk menghafal yang ditargetkan Vacation, karena saya mengesamping target saya dan lebih fokus pada hafalan saya supaya tidak sia-sia pada hafalan saya, mungkin saya tidak secepat teman-teman yang lain untuk menghafal, karena itu saya lebih ingin agar hafalan saga tetap saya ingat.  (Baskara Jaya  - RQ Umar bin Khattab - Ustadz Muhammad Hasan)
  • Alhamdulillah. Memperbaiki mood dalam menghafal dan setoran dibanding hari-hari biasa (Aris Fatah Yasin - RQ Umar bin Khattab - Ustadz Muhammad Hasan)
  • Alhamdulillah bisa ngadain tahfidz camp meskipun dalam keadaan jarak jauh seperti ini, tapi banyak kendala2 yang dialami santri seperti misalnya kondisi rumah yang kurang kondusif, sehingga seringkali terganggu dalam menghafal. Dan juga kurangnya semangat&motivasi karena menghafal sendirian, tidak bersama-sama teman seperti biasanya :') (Ismi kurnia - RQ Nusaibah - Ustadzah Siti Umayah)
  • Seneng rasanya saat dapet koreksi dan nasihat dari setiap Musyrif tatkala menyetorkan sedikit hafalan... (Ibnu Khoir Al Itsnan - RQ Utsman bin Affan - Ustadz Bayu Alfath)
  • Liburku jadi benar-benar berfaedah😭😭😭 yang paling suka, pas setoran ketemu ustadzah, hal paling sederhana jadi ada temen buat cerita walau waktunya bentar. Tapi lega bgtt heheheheh. Afwan mba Windi, mba Anis, Mita malah curcol wkwkw (Mita Fitriani - RQ Ghaziyah - Ustadzah Anis Purwanti)
  • Masya Allah sangat membantu banget untuk mendorong hafalan yang macet ditengah pandemi (M. Rizali Hadi - RQ Fatahillah - Ustadz Sugeng Purwanto)
  • Seru sih sistematika Tahfidz camp keren banget. Tapi belum bisa capai target hafalan  (Muhammad Faizal Al Farizi - RQ Umar bin Khattab - Ustadz Muhammad Hasan)
  • Bagus banget buat mentrigger semangat menghafal lagi, dan bisa buat evaluasi diri sendiri bagaimana kedepannya.  (Ilmiyah - RQ Asy Syakina - Ustadzah Windy Anita Sari)
  • Sedikit sih, tapi ternyata "alhamdulillah bisa juga ya". Yap, dapet nasihat sedikit tidak apa, terus saja menghafal dan menyetorkan hafalan. (Ibnu Khoir - RQ Utsman bin Affan - Ustadz Bayu Alfath)
  • "Suka banget sama kegiatan ini. Musyrifahnya ramah banget masyaAllah. Energi positifnya kerasa banget.Tahun depan fix mau ikut lagi. Sedih vacationnya udh mau selesai tapi hafalannya masih sedikit :(  Musyrifah favorit buat setoran mba nisa karena emang jarang dapat musyrifah yang lain hehe. (... - RQ Ghaziyah - Ustadzah Anis Purwanti)"
  • MasyaAllah.. Luar biasa mengingatkan kita dengan kenangan indah di arridho lalu (Agung Wiratama  - RQ Fatahillah - Ustadz Sugeng Purwanto)
  • Dari segi media maupun sistem, manajemen sangat luar biasa dalam menyiapkannya. Barakallah, ini pengalaman pertama dan masyaAllah walau tantangan yang dirasakan lebih besar. (Iqlima Zahra - RQ Ghaziyah - Ustadzah Anis Purwanti)

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Barakallahu fiikum

📖 Rumah Quran STAN 📖
======================

👥 Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
📷 IG : stanruqun_
komentar | | Baca...

History Donasi Juli 2014 s.d. Juni 2020 (6 Tahun)

Artikel ini sekedar untuk mengendapkan isi Kolom LAPORAN DONASI yang terlalu bejubel,  maa syaa Allah tak terasa sudah 6 tahun RQ STAN mengendapkan catatan-catatan donasi. Sejak Juli 2014 s.d. Juni 2020.

Hm... isi catatan donasi hanya semampu tangan mencatat, berdasarkan konfirmasi para donatur. Adapun donatur yang tidak konfirmasi, tidak terlaporkan dalam artikel ini namun dana yang telah ditransferkan in syaa Allah telah sangat bermanfaat untuk dakwah Qur'an.

komentar | | Baca...

VACATION? What's Next? dan Agar Istiqomah Bermurajaah - Vacation's Closing


Menutup momen liburan bukan berarti liburannya selesai. Karena masih ada liburan-liburan yang lain (setiap pekan = lebih sedikit sih, tapi simultan). 

Nah... Menutup Vacation RQ juga bukan berarti menghafalnya selesai. Masih ada hari-hari ke depan yang perlu diagendakan secara pribadi, buat mendukung tanda tanya di kepala kita: 

  • What's Next? 
  • Menghafal Udah? Murajaahnya Piye?
  • Lho habis ngafal dan nyetor, kok kayaknya cantolannya lemah ya?
  • dan pertanyaan lainnya...
So, buat menjawab itu semua, maka diagendakanlah penutupan VACATION dengan narasumber yang dekat dengan santri RQ: Ustadz Muhammad Luthfi Mahrus (dosen PKN STAN sekaligus pembina RQ STAN) dan Ustadz Sunarso, Alhafizh (alumni STAN dan pembina RQ STAN),


Cekidot video kajian ini:

>> KLIK DISINI <<


Hm... VACATION? What's Next?

Ustadz Luthfi membahas hal-hal yang diintisarikan sebagai berikut:
  • Bersyukur bahwa kita bersama Al Quran, ia adalah anugrah terindah.
  • QS Yunus ayat 57 =>  Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.
  • Tidak ada rasa gelisah selagi kita bersama Qur'an dan istiqomah di dalam dinul Islam.
  • Fadhlillah = berkat karunia maksudnya diinul Islam, Wa birahmatii = rahmat Allah =  Al Qur'aan.  
  • Ghibtoh = iri yang diperbolehkan kepada orang yang Al Quran membersamai mereka, baik membaca, menghafal, memahami, mempraktekkan, mengajarkan.
  • Berinteraksi dengan Al Quran = rutinitas/day-to-day, bukan musiman.
  • Kita adalah pecinta Al Qur'an sebelum profesi kita yang lain: sebelum menjadi mahasiswa kita adalah penghafal Qur'an.
  • QS Al Israa' 9 => Sungguh, Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar,
  • Qur'an = kabar gembira, sehingga kita tidak terbebani.
  • Akrab dengan Al Qur'an, langskah-langkahnya:
    • iman kepada Allah
    • mujahadah
    • menambah ilmu dan jauhi maksiat
    • istiqomah
  • Mengapa kita harus akrab/Mencintai Qur'an:
    • agar sadar pentingnya Quran dalam kehidupan,
    • agar siap tegakkan Quran dalam kehidupan
    • agar selamanya hidup kita terisi dengan Qur'an
  • Efek jauh dari Qur'an => QS Tho ha 124 => Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
  • Cara mengakrabkan diri dengan Qur'an => 
    • memperbarui kualitas iman,
    • Wirid Quran => baca, dengar, hafal, tadabbur, dzikir,
  • Menumbuhkan keinginan hidup bersama Qur'an:
    • sibukkan diri dengan Quran
    • ingin tingkatkan amal sholeh
    • ingin memahami seluruh ayat-ayat Quran
    • ingin jadikan Quran dicintai dan diamalkan seluruh manusia,
  • Tingkatan Muslim bersama Qur'an:
    • cuma baca Quran
    • baca dan tadabbur
    • baca, tadabbur, dan menghafal,
    • baca, tadabbur, menghafal, mengamalkan,
    • baca, tadabbur, menghafal, mengamalkan, dan mengajarkan,
  • What next? Mari tingkatkan interaksi kita bersama Qur'an,
  • QS Faathir 32 => 3 jenis manusia berdasarkan Quran:
    • dzalimul linafsihi = zalim terhadap diri sendiri 
    • muqtashid = pertengahan
    • sabiqul bil khairat = berlomba dalam kebaikan
  • 4 Tahap Nikmatnya Tilawah:
    • dipaksa
    • kebiasaan
    • kebutuhan
    • kenikmatan
  • Mensyiarkan Quran => kekinian => apa-apa diposting, Alhamdulillah RQ STAN sudah punya media sosial (youtube, dll.)
  • Personal BRANDING = tantangan menampilkan Quran dalam keseharian, 
  • Ketika sudah punya branding yang kuat, in syaa Allah bisa diterima dalam komunitas masyarakat
  • Personal branding:
    • temukan keunikan diri (prestasi, ahli, dll.)
    • Posisikan branding: sharing, pandangan diri, dll.
    • Koneksi dalam komunitas
    • Tajamkan keunikan tersebut, misalnya kompetensinya diasah.
  • Baca Quran kok disunnahkan ta'awudz = karena syetan tak rela kita bersama Qur'an.
  • Rasa puas, takjub lalu berhenti, juga godaan syetan.


Gimana Agar Istiqomah Murajaah?

Ustadz Sunarso, walaupun tanpa slide, hm... Maa syaa Allah penyampaian beliau daging smua, karena berkenaan dengan referensi murajaah yang beliau miliki sekaligus sudah dipraktekkan dalam keseharian beliau:

  • Indikator keberhasilan: Bukan secepat apa kita menghafal, tapi sedekat apa kita slalu dengan Al Quran,
  • Menghafal itu:
    • 1. bersyukur, karena lidah kita dipilih Allah buat mengulang-ulang kalamullah
    • 2. sadar bhw: suara kita didengar penduduk langit, suara termulia (mereka heboh dan mendoakan pembaca Quran)
    • 3. detoksi kotoran-kotoran jiwa. 
    • 4. berlama dengan Quran: hidup menjadi lebih barokah, ini jarang disadari. krn kadang mikirnya waktu terbuang percuma. padahal sebetulnya secara ghaib jadi lebih produktif,
  • Contoh berkahnya Quran ==> Imam syafii di luar Ramadhan 1 kali khatam sehari, barokahnya bisa mengarang buku yg sangat bermanfaat untuk umat.
  • Penghafal Quran - terjauhkan dari kemaksiatan karena dekat dengan Allah...
  • Birrul walidain yang paling utama adalah => mahkota kemuliaan kepada orangtua dengan kita menghafal Quran.
  • Gimana agar Istiqomah Murajaah? Jawaban utama => MEMBUAT TARGET agar hafalan terjaga,
    • 1. target tilawah: klo ga ada, nanti kesulitan menghafal. 
      • Misal 10 kali khatam =1 bulan, (10 juz setiap hari), akan mudah menghafal. 
      • Konsep murajaah itu: mengalfatihahkan albaqarah, dst... senantiasa mengulang-ulang seperti Al Fatihah (17x sehari yang hampir mustahil lupa).
    • 2. MENGENALI TINGKAT kehafalan masing-masing hafalan kita => karena tiap hafalan punya umur, 
      • kata Ust Deden, ada yang 2 jam, seminggu, sehari, dst. Sehingga konsep murajaah: mengulang sebelum dia lupa.
      • Syaikh Abu Bakar Assatir (riyadh), membagi 3: yang lancar = perlakuannya tanpa melihat mushaf, yang ingat2 lupa = perlakuannya sambil membawa mushaf sampai lancar, yang lupa-lupa = menghafal kembali,
    • 3. Kuantitas murajaah = 10% hafalan qt hari dimurajaah setiap hari, misalnya: hafalan 10 juz, maka 1 juz dlm sehari, sehingga setelah 10 hari, sudah kembali diulang lagi.
      • Waktu harian khusus untuk Al Quran = idealnya 3 jam tiap hari. Minimal 1 jam sebelum subuh,
      • 3 juz setiap hari, standar mengulang hafizh 30 juz = misalnya: 1 juz di Qiyamul Lail, 1 juz lain di aktivitas2 lain,
      • Merupakan aib buat Penghafal Quran ketika malam ga bersama Qur'an, 
      • Tahajud sangat efektif untuk murajaahi hafalan kita.
      • Bila belum lancar untuk tahajud, sambil baca mushaf.
      • Habis subuh sampai syuruq = 1 jam = murajaah 2 juz,
      • Sering murajaah = hafalan jadi mutqin,
  • Berkaca pada sahabat = ada yg khatam 1 hari, 3 hari, 7 hari, 10 hari, semangatnya tinggi.
  • faamii bisyauqin = bibir yg dirindukan, merupakan standar dalam 1 pekan untuk murajaah bagi penghafal 30 juz:
    • 1 = fatihah
    • 2 = maidah
    • 3 = yunus
    • 4 = al isra'
    • 5 = asy syuara
    • 6 = ash shaafaat
    • 7 = qaaf
  • Melalui faami bisyauqin, kita jadi punya standar = kalo al baqarah berarti masih hari Ahad (hari pertama), kalo posisi di An Naas berarti hari ke-7.
  • Semua itu perlu mujahadah...
  • murajaah = fardhu ain >< menghafal = fardhu kifayah
  • Setelah menghafal, qt wajib murajaah 
  • Dengan itu smua, kita akan menikmati keberkahan waktu => tidak ada waktu yg terbuang utk quran,
  • Nikmat = setiap waktu yang ada dipenuhi Al Qur'aan,
  • Waktu murajaah ==> Sambil naik motor, sedang antri, sedang apa pun mengisi waktu-waktu kita yang tidak butuh banyak fokus/konsentrasi.
  • Dengan itu semua, kita mirip kehidupan rasul dan sahabat,
  • Kalo hafalan mutqin = shalat qt makin mirip dengan para sahabat, misal: 1 juz Qiyamul lail, hanya memirip-miripkan (tapi tidak sama),  
sesi doa bersama secara virtual


📖 Rumah Quran STAN 📖
======================

👥 Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
📷 IG : stanruqun_



komentar | | Baca...
 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |