Kabar Terbaru »
Bagikan kepada teman!

Taujih Berseri untuk Strategi Muwajjih FHQ (11-15)

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 17 Februari 2019 | 02.49.00

Minggu, 17 Februari 2019


Alhamdulillah, 16-17 Februari, FHQ MBM hadir lagi. Kita lanjutkan kembali beberapa taujih bertahap (berseri) terkait dengan strategi (bukan materi) dalam mengelola halaqah tahsin. Strategi lebih kepada cara jitu tersampaikannya materi dan terpraktekannya bacaan Quran dengan sempurna. Berikut 5 seri ketiga taujih strategi mengelola halaqah tahsin:

***


11) Murajaah Materi



Salah satu fungsi penugasan SAP adalah memberanjang inovasi baru dr calon pengajar Quran. Salah satu yang terberanjang adalah muncul nya strategi murajaah materi (MM). Salut buat yang memunculkan ide iniπŸ‘



Murajaah berarti review. Materi sendiri teralokasi maksimal 30 menit tiap kali halaqah. Maka review materi bisa menjadi jembatan memori materi pekan sebelumnya agar terpatri di dalam memori para santri. Nah, yang terpenting dr MM ini adalah review jangan banyak2. Yaa, maksimal 5 menit lah, bisa pake quiz online,  pake mind mapping, pake tebak2an beriqobkan push up (hehe bcanda). Atau talaqqi jamai.

Yup, talaqqi jamai mitsali materi bisa juga lho jadi saran MM. Sekalian menagih pembetulan akan kesalahan2 umum yang muncul pekan sebelumnya (ingat kita ini preman taubat yang suka nagih setoran santri tahsin).

Tapi kalau santri suka nelat di awal halaqah, mending diawali tilawah jamai plus talaqqi jamai dlu baru kemudian MM ini. Menjadi penghubung dengan materi asli pertemuan terkini.
Eit selain santri, pengajar juga kudu rajin2 melakukan MM, terlebih sebelum halaqah tahsin dimulai. Sebelum perhelatan dimulai, amunisi kudu siap dlu.

Barakallahu fiikum jami'an para pecinta Qur'an sekalian


***

12) Mengatasi Menyerah di Talaqqi Fardhi

"Kok susah sih - kok gitu aja dikoreksi sih - kok berat banget ya, dikit-dikit salah?" Mungkin bila kita pengajar yang sensitivitasnya tinggi sehingga banyak salah yang terkoreksi, kita akan mendengar suara-suara hati seperti itu. Suara hati itu bisa jadi muncul dalam gestur seperti: mengernyitkan dahi, menghela nafas, atau menunduk malu: yang dilakukan oleh peserta tahsin. Cobalah lamat-lamat kita amati satu per satu santri kita di sesi talaqqi fardhi.

Nah, kombinasi ta'liful qulub dan sentuhan motivasi bisa membuat mereka kembali nyaman. Karena fokus kita selaku pengajar adalah pada kenyamanan peserta tahsin. 

Begini contohnya: "Gapapa, insyaAllah sambil terus berdoa, pasti bisa - Ah gapapa, sambil dibawa rajin baca Quran tiap hari InsyaAllah lama-lama bisa kok - Kalo kita salah baca, tapi kita masih berproses belajar insyaAllah gak ada dosa - Yang dosa kalau kita berhenti belajar lalu sengaja baca Qurannya disalah-salahin - Ya Allah, terbata-bata itu dua pahala lho, betapa sayangnya Allah sama kita - Gak slalu langsung bisa kok, yang penting banyak baca Quran aja, sebagai latihan pengucapan huruf - dan lain-lain."

Ingat, kita sedang berhadapan dengan peserta awam yang bisa jadi tidak pernah hidup dalam tekanan tinggi pesantren yang level komitmen dan targetnya tinggi. Jadi, bagaimanapun kitalah yang akan menyesuaikan kenyamanan mereka, bukan mereka yang menyesuaikan ketatnya aturan kita. Rule dijalankan sesuai batasan kurikulum dan kehadiran. Sudah... Selebihnya, kita kelola yang kita bisa.

Sapaan-sapaan secara intensif di grup WA/line pengajar dan santri -bisa jadi akan meringankan beban mereka bila harus setiap pekan disalah-salahin di talaqqi fardhi. Mari kita fokus dalam membuat mereka senang hadir di halaqah, membuat mereka cinta kepada pengajar Qurannya. Membuat mereka rindu pertemuan bersama Quran dan belajar tahsin Quran.

Semoga Allah memudahkan kita...

***

13) Menulis Arab

Pernah suatu ketika aktivis dakwah bercerita tentang halaqah mentoring-nya. Tiba-tiba mentornya menugasi menulis alfatihah tanpa nyontek: jeng jeng. Yang bisa cuma si doi. Menti lainnya kebingungan. Eh mereka aktivis dakwah lho. MasyaAllah ini PR Besar, kata beliau.

Kapan terakhir kali antum menulis Arab? Nah... Silakan dijawab sendiri. Ada satu pengajar FHQ yang mengusulkan ada sesi ini di SAP-nya. Akhirnya kami review pada kesempatan kali ini. Eits, bicara tentang menulis Arab. Ternyata trik ini sangat jitu lho, bila halaqahnya adalah halaqah tahsin anak TK. Sambil antri membacakan kitab iqro ke pengajar, santri lain ditugasin menyalin surat al humazah, misalnya. Tujuannya agar anak-anak tenang tak banyak polah. Duh, anak-anak... (haha, pengalaman saya doeloe waktu ngajar tahsin anak)

Merivew usulan ini, tentu yang pertama dan utama kita targetkan adalah kemampuan peserta tahsin dalam membaca Quran. Jadi, mampu menulis Arab hanya target sampingan saja. Bukan bermaksud mengerdilkan target ya, akan tetapi lebih sekedar memfokuskan target. Agar tujuan kita tercapai secara optimal.

Namun, agenda menulis Arab ini bisa loh dilakukan tatkala menunggu santri antri talaqqi. Beberapa agenda pengalih tatkala talaqqi di antaranya: menulis Arab, tilawah fardhi mengejar ketertinggalan target tilawah harian, latihan talaqqi dengan santri lain, mengerjaan quiz online tahsin, atau banyak-banyak berdzikir. Yang penting untuk menulis Arab ini: apa yang mereka tulis kita review dengan saksama, agar mereka memiliki feed back dari kita atas tulisan mereka. Jangan sampai tugas hanya sekedar tugas tanpa implikasi positif :)

Yap, memang membaca itu perlu menulis juga, agar kita terbiasa dengan warisan Islam yang satu ini. Karena pun yang dipilih para khulafaurrasyidin untuk menulis Quran di zamannya adalah orang-orang berpengetahuan luas dan berhafalan maksimal. Dibentuk tim khusus dengan kualifikasi khusus.

Agar jangan sampai juga, kita tidak bisa membaca apa yang kita tulis. Kalau ini kejadian di huruf latin, apalagi huruf Arab. Duh...

***

14) Talaqqi Mitsali dan Sekilas Modul Utsmani

Mungkin dari kemarin kita bertanya-tanya. Apa sih mitsali itu? Diobrolin mulu tapi ga clear penjelasan nya. Nah, coba deh liat slide strategi halaqah tahsin. Mitsali itu melekat ke materi.

Ada materi ttg idgham misalnya. Semua teori telah tersampaikan. Maka, saatnyalah mentalaqqikan mitsal-mitsal (contoh-contoh) bacaannya kepada peserta. Contohnya ada semua di buku 3. Karena di buku 3 utsmani hampir setiap ada materi selalu diikuti mitsal bacaannya. Atau bila kurang greget, pake buku 2 biar peserta ga mubadzir beli buku. Di sana lebih banyak lagi mitsali nya.

Bagaimana teknis talaqqi mitsali? Hampir sama lah ya, dengan talaqqi surah. Satu demi satu, dicontohkan sekali baca dulu oleh pengajar, baru kemudian dibaca bersama-sama oleh peserta tahsin. Utk tiap-tiap contoh bacaan, secara berulang-ulang.

Ohiya btw, kalau yang dipakai cuman buku 3 baik materi maupun mitsali, buat apa donk beli buku 1 dan 2?

Nah sekilas penjelasan. Bahwa buku 1 akan banyak dipake untuk praktek baca huruf pratahsin. Selain itu, sebaiknya pengajar menggunakan nya pula untuk talaqqi surah karena di bagian belakang nya ada 1/4 terakhir konten juz 30 yang dhabt nya (tanda bacanya) sesuai Mushaf Madinah. Kita sedang belajar modul utsmani, sob. Jadi rasm dan dhabt nya sebaiknya dr sumber Ustmani nya dunk, alias dari Madinah.

Lalu bagaimana bila pake Mushaf Indonesia berstempel Kemenag? Boleh2 saja dunk, namun beberapa materi perlu dilakukan penyesuaian. Jadi, sebaiknya kalau baca surat juz 30 pake nya jilid 1 utsmani.

Ohiya, lalu apa pula fungsi buku 2? Eits, banyak latihan2 contoh bacaan terhampar luas sesuai materinya di buku 2 ini. Jadi, kalau antum kecepetan ngajar, kecepetan talaqqi surat, kok masih ada waktu ya? Mending baca mitsali buku 2 sesuai materinya. InsyaAllah ga habis habis. Dan memperbanyak praktek memang seharusnyalah menjadi kebiasaan halaqah tahsin ke depan.

Eits, tak lupa kembali ke 2 pasal teratas. Satu: Tilawah fardhi wajib oleh peserta setiap harinya (1/2 atau 1 juz per hari). Dua: Buku Mutabaah menjadi control perubahan signifikan cara baca santri agar lebih baik.

Dokumentasi kesalahan baca itu perlu agar mendukung penuh ungkapan: Practice makes perfect...  😊

***

15) Mendengar > Menceramahi

Salah seorang tokoh mengatakan Mengapa kok kita diciptakan dengan 2 telinga dan 1 mulut, tidak lain karena kita diharapkan untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara/menceramahi.

Salah satu efek "talaqqi fardhi yang lebih besar porsi waktunya daripada materi" adalah agar kita jadi lebih banyak mendengar daripada menceramahi. Buktinya seluruh talaqqi baik surah, mitsali, fardhi, semuanya butuh aktivasi telinga lebih jitu. Hanya materi saja yang butuh maksimalisasi mulut kita.

Karena butuh telinga lebih aktif, maka semua koreksi kita adalah berdasarkan telinga, bukan keinginan untuk mengutarakan semata. Bahkan bila ada santri yang bercerita di dalam sesi talaqqi fardhi nya, nyamankan ia untuk bercerita. Lalu, berikan feed back yang pas sebagai wujud kepedulian sekaligus respek kita kepadanya. Jangan hanya mendengar lalu, yasudah, lanjut ke santri berikutnya. Terasa menggantung dan akan keluar perasaan dari si santri, "jadi, saya didengerin gak sih?"

Mendengar kadang butuh pembiasaan. Misalnya ngobrol dengan orang asing yang satu kursi dengan kita di perjalanan. Lebih banyak kah kita bercerita atau kita lah yang banyak mendengar? Coba pilih yang kedua, biasanya ia akan merasa nyaman, apalagi ada feed back-feed back instan seperti, "oh begitu", atau "mungkin begini pak", atau "wah keren ya".

Jika antum menjadi si pencerita pasti merasa pengen cerita terus. Nah, sekarang posisinya dibalik. Kitalah yang sedang butuh banyak mendengar. Maka, bukan masalah dominasi obrolan semata, karena sewajarnyalah dominasi instruksi tetap di kita selaku pengajar, hanya saja kita beri kesempatan untuk mereka mengungkapkan, tentunya dengan proporsional.

Ada kalanya peserta halaqah (lagi-lagi pengalaman mentoring) banyak ngobrolnya, bahkan sering menyela penyampaian materi kita. Nah, disinilah kita harus menunjukkan dominasi tanpa merusak hubungan, caranya dengan melakukan cut pembicaraan di waktu yang tepat. Ambil alih, tapi...  Nyantai.

Selain itu, kita juga perlu latihan menyederhanakan pembahasan. Karena 30 menit materi bagi yang terbiasa ngomong di depan umum, akan sulit direm. Materi banyak yang kita sederhanakan sehingga lebih mampu dipahami lebih keren dan lebih dibutuhkan santri daripada materi sedikit yang kita bumbui macam-macam yang justru membingungkan santri atau malah mereka gagal memperoleh intisari atas materi. Hm...

Mari kita latihan banyak mendengar, lalu menyampaikan sedikit tapi menyeluruh, agar banyak solusi dari kita, agar si pencurhat memperoleh kemudahan dari kita, karena kita mencerahkan bukan menyusahkan, karena kita tahu, kemudahan orang lain karena inisiatif kita akan membuahkan kemudahan bagi kita di hari akhir nanti. MasyaAllah

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan


Rumah Quran STAN

================
πŸ‘₯ Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
πŸ“· IG : stanruqun_
πŸ’Œ gg.gg/infoDonasiRQSTAN

komentar | | Baca...

Mereka Semakin Dekat - Kami pun Berusaha Mendekat

Penulis : Ruqun Stan on Kamis, 14 Februari 2019 | 23.07.00

Kamis, 14 Februari 2019


Mereka adalah gempuran pasar dari pemilik modal besar. Mereka sering disebut pasar swalayan, pasar modern, pasar yang mengumpulkan beraneka produk yang menggunakan skema franchise atau sejenisnya, hingga yang palig modern bisa ditransaksikan secara online. 

Kami disini adalah penggiat pesantren tahfidz Quran yang kian hari kian menjamur di tengah-tengah keawaman masyarakat. Kami kian dekat dan tak jarang menggunakan cara-cara yang tak jauh beda dengan mereka itu. Kalau tidak percaya, saksikanlah analogi-analogi ini...

1. Alfa Gudang Rabat vs Pesantren Tradisional
Fenomena Alfa di era 90 hingga 2000-an sempat merajai blantika pasar modern. Dengan gedungnya yang megah, modal yang besar, hingga rak-rak raksasa yang seolah disebar di tanah seluas lapangan sepakbola, mereka hadir di kota-kota besar. Menjajakan beraneka produk rumah tangga sehari-hari. 

Lalu, kami? Kami hadir berupa pesantren yang juga megah. Seluas lapangan bola atau lebih, dengan gedung satu dua atau tiga lantai, menerima registrasi yang cukup rumit, karena calon santrinya banyak. Belajar pun dengan kurikulum yang rigid dan komprehensif , mendidik secara fokus dan mencetak kader-kader Qurani. Barakallahu fiikum.

Kedua analogi ini mirip. Bedanya kami di lokus pesantren tradisional tidak padam, sementara Alfa Gudang Rabat sudah padam tergantikan oleh skema bisnis lain.

2. Pasar Swalayan vs TPA/FHQ di Masjid
Fenomena Alfa berlanjut digantikan oleh pasar modern yang secara kapasitas relatif lebih kecil, contohnya: Ramayana, Matahari, Giant, Carrefour, dan sejenisnya. Mereka lebih dikenal dengan pasar swalayan, tak lagi sebesar si gudang rabat. Walau menghilang, namun produk-produk yang dulu ditransaksikan si Alfa masih terkonsentrasi ke lokus tersebut. Bahkan, produk-produknya belum juga tenggelam. 

Bila pesantren tahfidz yang besar biasanya terhampar di area luas dan jauh dari perkotaan, kali ini dakwah Quran lebih mendekat lagi. Ia hadir di masjid-masjid. Di masjid yang besar hadir TPA yang besar, sedangkan di masjid yang kecil pengajarnya hanya satu dengan peserta TPA yang lebih sedikit, bahkan pengajar tak digaji, hanya merasa perlu mengajar lantaran sendiko dawuh dengan guru yang mengajar sebelumnya. Istilahnya: masa pengabdian yang tidak mengikat.

Di saat pasar swalayan modern mulai ketar-ketir lantaran pangsa pasar sudah mulai diambil oleh skema bisnis lain, model analogi kedua untuk TPA di masjid bahkan kian kreatif. Tak lagi TPA yang lebih familiar dengan sasaran dakwah anak-anak. Kali ini bertajuk FHQ (forum halaqah Quran) dengan sasaran lebih beragam: anak-anak ada, remaja hingga dewasa ada, dengan kurikulum makin fokus kepada area tajwid, tahsin, dan tahfidz. FHQ seolah peremajaan kurikulum dari TPA. Ia merangkul semua kalangan,. Di beberapa area, FHQ bisa jadi tampil dengan nama lain: HCQ/Haciqu (Halaqah Cinta Quran), BTQ (Blended Tahsin Quran), atau nama lainnya.

3. Lapak Jualan Kaki Lima vs Privat Mengaji
Sebetulnya tatkala pasar swalayan yang mulai terpuruk, lapak jualan kaki lima sudah lama beroperasi di area-area yang dekat dengan keramaian. Skema bisnis ini mencoba merapat ke customer. Tak hanya fix di satu area, tapi berpindah-pindah sesuai kesepakatan kelompok tertentu. Orang sering menyebut kelompok ini dengan "komunitas pasar kaget". Senin malam membuka lapak di kelurahan sana, Selasa malem disini, Rabu malam lebih kesana lagi, dan seterusnya. 

Semenjak ada FHQ, belajar Quran menjadi lebih mudah. Namun, ternyata masih ada bapak-bapak/ibu-ibu yang malu-malu untuk hadir ke rumah Allah. Akhirnya, mereka mengkontak salah satu pengajar FHQ, adakah salah satu guru yang bisa mengajar? Setelah diedarkan akhirnya ada yang bersedia. Inilah skema bisnis yang sama: mendatangi customer. Tidak terpaku pada satu area khusus, entah gudang raksasa, entah pasar swalayan, entah pesantren, entah masjid. Tapi ke rumah...

4. Alfa Mart vs Rumah Quran
Skema kali ini sangat masif dilakukan AlfaMart, Indomaret, juga mart-mart lainnya. Kehadirannya seolah hendak menyaingi toko kelontong kecil. Setelah pasar swalayan pun mulai redup, kehadiran mereka ini bak lumut di sekitar area basah. Bahkan tak jarang saling bersebelahan dengan pesaing demi mematikutukan pergerakan bisnis mereka. 

Setelah skema pesantren dievaluasi membutuhkan modal yang cukup besar, rumah tahfidz atau rumah Quran menjadi pilihan bagi komunitas penggiat dakwah Quran dengan sumber dana kecil. Bermodalkan 25 juta, diseleksinya 12 santri, 1 musyrif yang tinggal atau pulang pergi, serta pengadaan perkakas rumah tangga, jadilah sebuah pesantren mini rumah tahfidz. Kehadirannya menjadi oase bagi penggiat dakwah yang tidak punya modal besar, tapi semangat dakwahnya tinggi, hehe.

5. GO-Mart vs Komplek Quran
Yang kelima ini, sangat baru, sangat menjanjikan, sangat memberikan feed-back positif yang besar, akan tetapi sejalan juga dengan risikonya.

Saksikanlah! Mereka kian lebih dekat lagi. Tampil dalam wujud smartphone, dengan sekali dua kali klik di smartphone, tiba-tiba barang-barang sudah datang diantar gojek, grabbike, atau sejenisnya. Persis barang-barang yang dulu kalau kita belanja harus datang ke swalayan yang luasnya seluas lapangan sepakbola itu, kini tinggal klik-klik datang, masyaAllah. Adakah yang sepraktis begini untuk urusan Quran?

Jawabnya ada. Inilah konsep Komplek Quran. 
Rumah Quran STAN sudah memulainya di tahun 2018-2019 ini. Tinggal beranikah kami membuka secara luas konsep ini agar diterima rumah sekomplek. Jeng jeng... Nah.

RQ STAN sudah punya 1 rumah hak milik, 2 rumah pinjam gratis, dan 2 rumah sewa. Tiba-tiba hadir 2 warga komplek menawarkan rumahnya untuk ditinggali santri RQ: gratis katanya. Hm... Kalau kami mau, kami bisa bikin konsep begini agar diperluas lagi. Kami buka dengan tagline: "Agar rumah slalu terdengar bacaan Quran", maka santri diminta tinggal disana, diminta membayar (atau tidak) kepada pemilik, sedangkan pemilik menyetorkan (atau tidak) kepada RQ STAN dengan hitam di atas putih yang jelas (berdasarkan hasil diskusi dan kesepakatan). 

Kelebihannya:
  • Pemilik mendapatkan keuntungan rumahnya tidak seperti rumah hantu.
  • Pemilik mendapatkan keberkahan atas asetnya: menjadi hujjah di akhirat nanti (pahala sedekah dan jariyah).
  • Rumah tahfidz makin membumi, makin dekat (tidak eksklusif), membuka diri ke dunia luar.
  • Rumah tahfidz menjadi dakwah Quran yang fleksibel, menyebarluaskan virus positifnya (tahfidz-holic).
  • Santri termudahkan dari sisi biaya, apalagi kalau gratis dari pemilik. Kalaupun berbayar, akan lebih ringan. daripada santri PP, bayar kos, bayar RQ juga, ini lebih ringan karena hanya sekali bayar saja.
  • Santri dapat menjadi agen dakwah rumah tahfidz kepada keluarga si pemilik rumah (misal: menjadi pengajar Quran untuk keluarga tersebut). 
Kekurangannya:

  • Prosedur seleksi santri harus kuat, jangan sampai santri mudah lepas yang kemudian tidak kerasan. Monitor harus jitu melewati sekat kebiasaan dan karakter mendalam si santri.
  • Sumber daya musyrif juga harus kuat (diperbanyak musyrif) agar banyak rumah yg dapat dijajaki. Jangan sampai sudah mencanangkan 20 rumah, ternyata santrinya 20 tapi musyrif yang disiapkan hanya 1, tentu sangat tidak impactful. 
  • Perlu hitam diatas putih dan mempertimbangkan profiling pemilik rumah, jangan sampai menjadi kendala di tengah program. Paling tidak minimal pemilik rumah adalah jamaah masjid aktif.

***

Hm... Dengan banyaknya skema di atas, ada satu pelajaran penting. Ternyata apapun skema bentuk bisnisnya, dari gudang raksasa, swalayan, hingga GO-MART, mereka saling menggantikan dan bersaing. Si gudang raksasa tumbang, diganti si Mart-mart di pinggir jalan. Swalayan mulai ada tanda-tanda mau tumbang lantaran belanja kebutuhan rumah tangga sudah beraih ke online.

Tapi lihatlah bila yang kami bicarakan adalah dakwah Quran. Tidak ada berita negatif tentang mereka. Tidak ada namanya pesantren besar ditutup karena hadir bertebaran rumah tahfidz. Tidak ada namanya FHQ kukut karena pengajarnya lebih memilih ngajar privat. Ternyata tidak ada.

Itu tandanya dakwah Quran lebih besar pangsa pasarnya daripada bisnis gudang, lapak, pasar swalayan, hingga mart-mart yang beraneka ragam itu. Padahal keduanya sama-sama kebutuhan primer. Satu primer keseharian duniawi, satunya lagi primer kedekatan dengan Quran secara ukhrawi. 

Maa syaa Allah, sulit dilogika. Betapa realitas ini membuat kita tercenung. Lalu, kita mau bergerak ke pangsa bisnis atau pangsa dakwah Quran? Bila di satu sisi ada risiko ruginya, dan disisi satunya selalu untung terus?

Rumah Quran STAN
================
πŸ‘₯ Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
πŸ“· IG : stanruqun_
πŸ’Œ gg.gg/infoDonasiRQSTAN
komentar | | Baca...

Keutamaan Penghafal Quran - Ust Sayid Qutub


Malam mingguan di masjid itu anti-mainstream. So, RQ STAN berupaya menjadikannya mainstream bagi santri RQ STAN, terlebih jamaah Masjid An-Nur pada 9 Februari 2019 lalu. Kajian Ustadz Sayid Qutub tentang keutamaan penghafal Quran ini bahkan dihadiri warga hingga nyaris pukul 22.00 WIB, sebuah kajian yang terlampau larut, walau tidak selarut mereka yang tenggelam dalam game online di malam yang sama. πŸ˜… 

Mari simak rentetan intisari kajian tersebut:
  • Renungan: kita memasuki masa 3 bulan sebelum Ramadhan. Mari tingkatkan amal sholeh dan berdoa semoga amal kita diterima oleh Allah.
  • Tentang keutamaan masjid sebagai tempat beribadah bahkan tempat menemukan jodoh (motivasi bagi yang jomblo), dapat kita tengok ke sahabat Nabi bernama Julaibib. Dia memiliki fisik yang tidak menarik, waktu meminang budak saja ditolak, lalu curcol ke Nabi Saw. "Wahai Nabi di akhirat nanti saya dapat pasangan gak? Budak aja ga mau jadi istri saya." Nabi Saw bersabda, "Tetapi kamu di sisi Allah bukan tidak laku." Cerita lebih lengkap disini. Intinya: Yg jomblo perbanyak ibadah. πŸ€­
  • Rasulullah Saw meninggalkan 2 hal: Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw. Dua hal yang tidak akan membuat umat tersesat. 
  • Turunnya Al-Quran secara sekaligus dari lauhul mahfudz ke Baitul Izzah. Baru setelah itu berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, dibawa malaikat Jibril ke langit dunia. Dari masa itu: 13 tahun di Makkah, 10 tahun di Madinah.
  • Quran adalah kitab yang penuh dengan keberkahan.
    • Jibril menjadi malaikat termulia gara-gara bertugas menurunkan wahyu Al-Quran selama waktu tersebut.
    • Nabi Muhammad Saw menjadi manusia yang paling mulia, sebagaimana ayat: "Muhammad mempunyai Budi pekerti yg agung." Kalau kau ingin mengagumi seseorang, pastikan ia sudah wafat. Pastikan wafat tersebut menutup semua aibnya, karena kalau masih hidup, ia masih berpeluang melakukan dosa. Maka, Nabi Muhammad menjadi teladan terbaik. Akhlak Nabi adalah Al-Quran.
    • Al-Quran turun di sebuah bulan, maka bulan tersebut menjadi mulia, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran.
    • Al-Quran turun di waktu malam, maka malam tersebut menjadi mulia (malam Qadar yang penuh keberkahan).
    • Al Qur'an kalau dikirimkan ke manusia. Dia jadi keluarga Qurani. Ahlullah. Allah punya keluarga di muka bumi. Mereka Ahlul Quran. Membaca, menghafal, mengulang, tadabur, amalkan, dan dakwahkan quran. Mari, kita jadikan diri kita ke dalam golongan Ahlullah ini.
  • Segala sesuatu tergantung pada niatnya. Maka, Niat lebih besar drpd amal.
  • Sebuah hadits yang bercerita tentang 3 orang: 1 dermawan, 1 mujahid, 1 qari, ketiganya dimasukkan ke neraka karena ketika ditanya, Allah berkata, "kadzabta", bohong. Artinya: menjadi qari tidak menjadikan kita masuk surge, kecuali niatnya benar karena Allah. Pembahasan lebih lengkap disini.
  • Manusia diperintahkan halal dan thayib, sedangkan Org beriman diperintahkan yg baik (krn halal sdh jelas).
  • Al-Quran itu mudah bagi orang awam, memuaskan bagi kaum intelektual.
  • Kewajiban yang setara:
    • kewajiban puasa (Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba alaikumush shiyam),
    • kewajiban berperang (Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba alaikumul qitaal) 
    • kewajiban qishash (Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba alaikumul qishashu),
  • Membicarakan orang lain yang benar adanay disebut ghibah, membicarakan orang lain yang tidak benar disebut fitnah.
  • Bagaimana cara menghafal Al-Quran?
    • meninggalkan maksiat
    • berdoa
    • niat
    • bismillah
    • sungguh-sungguh
    • mempunyai metode
    • sabar (orang menghafal Quran lalu sabar mengundang ampunan Allah).
  • Macam-macam penghafal Quran (agar kita mengenal diri, memahami diri, sehingga mampu memperbaiki diri):
    • hafal cepat hilang susah (seperti Imam Syafi'i)
    • hafal cepat hilang cepat
    • hafal lambat hilang lambat
    • hafal lambat hilang cepat (seperti kita bukan?) πŸ€¦‍♂
  • Strategi menghafal Quran:
    • perbanyak interaksi dengan Quran (perbanyak tilawah dan murajaah)
    • Ubah lingkungan diri dengan lingkungan Quran (sangat berpengaruh)
  • Mengapa ya? Kok tidak hafal-hafal?
    • Yang penting sering diulang. Makin diulang, makin berpahala, makin terpatri
    • Mengundang ampunan Allah 
    • Setelah kesulitan pasti dating kemudahan

Masih banyak serakan hikmah dari Ustadz Sayid Qutub, apalagi mengingat beliau memiliki berentangan gelar. Makin berilmu, makin merunduk, makin berat dan berbobot tiap ucapan beliau, namun makin cepat dan sulit terdokumentasi, jadi hanya pokok-pokok sajalah (dan sedikit cabang-cabang) yang berhasil direportasekan. Semoga kita dapat memahami dan terus berusaha mengamalkan. πŸ™‚

Jazakumullah khairan Ustadz Dr. H. Sayid Qutub, S.Kom, S.Th.I, MA, M.Si, M,Pd, Al Hafizh
Rumah Quran STAN
================
πŸ‘₯ Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
πŸ“· IG : stanruqun_
πŸ’Œ gg.gg/infoDonasiRQSTAN
komentar | | Baca...

Recharge Camp - Mabit dengan Projek Hafalan

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 13 Februari 2019 | 00.45.00

Rabu, 13 Februari 2019

Kajian Ustadz Sayid Qutub di Masjid An-Nur sebagai materi utama
Bila sebelum liburan, tahfidz camp digelar sebagai refreshing pasca ujian. Maka, recharge camp digelar sebagai momen kebangkitan pascaliburan. Artinya, tahfidz camp dan recharge camp menjadi pintu masuk dan keluar liburan semester sekaligus penjeda antara semester 1 menuju semester 2 perkuliahan kampus PKN STAN bagi santri-santri Rumah Quran STAN.

Eits... Siapa bilang hanya bagi santri-santri RQ STAN?

Ternyata off-the-track, Tahfidz Camp diikuti oleh 2 peserta dari kalangan non-santri (tentunya ada biaya tambahan program, hehe). Begitu pula Recharge Camp yang sengaja dibuka-luas mengingat peserta dari kalangan santri RQ hanya 39 dari total 80 (50%). Selain PKL (sekitar 8 santri), banyak di antara mereka terlanjur pesan tiket mengingat acara dilaksanakan masih di momen liburan (Sabtu-Ahad), padahal Seninnya sudah masuk kuliah perdana semester baru, hehe.

Nah, back to RECHARGE CAMP...

Postingan registrasi online sebelum kegiatan berlangsung
Bertempat di Masjid An-Nur PJMI, yakni Sabtu-Ahad tanggal 9-10 Februari 2019, terkonseplah sebuah "projected mabit". Yang biasanya mabit asal ikut kajian, lalu tidur, esoknya bangun Qiyamul Lail, diakhiri dengan Shalat Subuh berjamaah. Maka, kali ini mabit disetting dengan target menghafal dan setoran surat Al-Kahfi 1-10 dan/atau 99-110 pada pukul 07.00-09.00 Ahad pagi. Hal ini sekaligus mengamalkan hadits:

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809). Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim no. 809)

Berharap melalui acara ini, para peserta selain kenyang (makan malam dan sarapan gratis), juga kenyang akan hafalan yang semoga terjaga hingga akhir hayat, dengan sebelumnya kenyang akan materi motivasi Qur'an.

Tasmik sebagaian kecil surah "AL-KAHFI"

Materi dari Al-Ustadz Dr. H. Sayid Qutub, S.Kom, S.Th.I, MA, M.Si, M,Pd, Al Hafizh

Suasana masjid kajian pkl 20.30 - 21.30


Kajian dibuka luas, bahkan diumumkan sejak Magrib. Dan jamaah pun antusias hingga nyaris pkl 22.00 "malem mingguan di masjid"


Statistika kegatan:

1. Santri RQ mengisi form: 56 (28 ikhwan + 28 akhwat)
2. non-Santri RQ mengisi form: 18 (11 ikhwan + 7 akhwat)
3. Hadirin ikhwan (santri:non santri = 20+10) = 30
4. Hadirin akhwat (santri:non santri = 19+4) = 23 
5. Hafalan dan Setoran ikhwan (17+9) = 26 (87% ikhwan menghafal dan setoran)
6. Hafalan dan Setoran akhwat (19+4) = 23 (100% akhwat menghafal dan setoran)


Karena santri hadir hanya 50%, maka selebihnya mengumpulkan tugas berupa: menulis surat Al-Kahfi 1-10 dan 99-110 sebanyak 3 kali tulis 


Rumah Quran STAN
================
πŸ‘₯ Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
πŸ“· IG : stanruqun_
πŸ’Œ gg.gg/infoDonasiRQSTAN

komentar | | Baca...

Closing, Result, Testimoni (TC Episode 5-Terakhir)

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 01 Februari 2019 | 00.35.00

Jumat, 01 Februari 2019

Kalau dibandingkan foto bareng tahun 2017 dan 2018, Tahfidz Camp ke-3 ini 20% lebih banyak peserta ikhwannya
(dari 20-an menjadi 30-an)
Belajar dari pelaksanaan tahun 2017 dan 2018, form evaluasi menjadi terobosan terbaru. Walaupun pelaksanaannya belum menyeluruh. Hal ini dikarenakan penutupan ikhwan dan akhwat dilakukan terpisah dan beberapa belum mengisi form evaluasi. Walah...
komentar | | Baca...

Selipan Motivasi (TC Episode 4)

Penulis : Ruqun Stan on Kamis, 31 Januari 2019 | 23.16.00

Kamis, 31 Januari 2019


Terjadi suatu kemacetan ketika melakukan perjalanan terkadang perlu disikapi dengan bijak. Jangan sampai selama kemacetan tersebut, waktu kita terbuang begitu saja. Padahal tatkala macet tersebut, banyak pelajaran bisa diambil. Misalnya: mengontemplasikan betapa banyak nikmat Allah berserak di sekitar area perjalanan kita...

Begitu pula Tahfidz Camp...
Sabtu dimulai, Ahad malam kemacetan sudah marak terjadi...
Hasilnya, musyrif sedikit menerima setoran. Akhirnya...
Digelarlah forum sederhana untuk menyikapi hal ini...

Forum dadakan... Yuk kita mengingat nikmat Allah betapa banyaknya, dosa kita betapa banyaknya pula. Semoga setelah ini Allah menurunkan pertolongannya agar kita mudah menghafal kembali...

Senin pagi sebagaimana rencana B, Ustadz Efendi Anwar hadir di masjid An-Nur untuk memotivasi santri dalam menghafal Quran di waktu sisa (Senin dan Selasa). Yuk simak apa saja pesan-pesan beliau kepada santri yang sedang mengikuti Karantina Quran ala Tahfidz Camp 2019:

Ibu-iu majelis taklim turut hadir dalam kajian motivasi Ustadz Efendi. Hal ini dikarenakan ada kajian ibu-ibu yang selesai pkl 10.00. Pas kajian motivasi Quran hendak dimulai/

  • Selalu ada orang orang yg di satu sisi cepat menghafal, yg lain lambat menghafal. Di situ ada hikmah : yg lebih cepat menghafal bisa membantu yg lambat menghafal, supaya sama sama mendapat pahala banyak.
  • Bisa jadi seorang lambat menghafal karena Allah ingin kebaikan pahala yg besar untuk nya, dalam memperbanyak bacaan, pengulangan, mujahadah, dan waktu yg dipakai untuk quran.
  • Pahala/kebaikan yg Allah janjikan itu bisa jadi diberikan di dunia maupun di akhirat. Misal : jodoh dunia, rejeki, atau kebaikan berupa rasa semangat yg lebih besar untuk menghafal.
  • Manfaatkan kesempatan bersama Qur'an untuk beroleh pahala sebanyak banyaknya.
  • Bukan sekedar jumlah pahala yg kita targetkan lantaran kemudahan menghafal; melainkan keistiqomahan dalam menghafal sepanjang waktu.
  • Segala kejadian (kesulitan, kemudahan) dalam menghafal itu adalah ujian keistiqomahan kita.
  • Keutamaan orang yg Istiqomah: lebih utama daripada pemberian Allah berupa karomah.
  • Bukan jumlah juz yg menjadi patokan seseorang menjadi sahabat Qur'an atau ga, melainkan seberapa sering dia berinteraksi dg Qur'an nya.
  • Surga itu bertingkat tingkat, mintalah surga yg tertinggi.
  • Setiap kalian berhak booking surga, dan yg paling berhak adalah Shohib Qur'an. Dikatakan kepada Shohib Qur'an, "bacalah, dan naiklah, sebagaimana engkau selalu membaca Qur'an. Sesungguhnya level surgamu tergantung akhir ayat yg anda baca". Makin banyak mengulang, murojaah, menghafal baru, makin sulit menghafal, atau makin mudah menghafal namun murojaah kenceng; kesempatan mendapat surga tertinggi lebih besar.
  • Dekat dg Qur'an itu, bagaimana pun akan mendapat hal istimewa, dari masih di dunia, di alam kubur, sampai di akhirat.
  • Dimudahkan maupun diberi kesulitan itu sama levelnya. Yg beda Istiqomah. Supaya Istiqomah, maka tipsnya adalah :
    • Mengikhlaskan niat hanya kepada Allah. Ingin mengabdi pada Allah, ingin nilai terbaik dari Allah. Sulit ga masalah, berarti harus terus berjuang, pahala lebih besar. Mudah? Maka Alhamdulillah bisa bantu orang lain.
    • Mematangkan tajwid kita, supaya mendapat kenikmatan dalam membaca. Dengan demikian, kita bisa lebih betah/Istiqomah dalam membaca. Penguatan tajwid ini tentu bertahap.
    • Bertahap. Dari target sesuai dg kemampuan kita, dari sedikit dulu, nanti meningkat perlahan. Ini akan membuat kita lebih menikmati, dan insyaallah lebih betah.
    • Sambung hafalan sebelumnya, sebelum kita menambah hafalan baru. Jika langsung hanya fokus ke hafalan baru, maka semangat kita bisa hilang.
    • Sempatkan solat dengan hafalan yg baru saja kita hafalkan.
    • Saling menyimak (tasmik wa istimak). Ini akan menggandakan semangat kita. Jangan sendirian, cari teman, karena bisa saling menguatkan.
    • Mematangkan hafalan lama sebelum menambah yg baru. Jangan nambah dulu sebelum yg sebelumnya matang.
  • Ciri hafalan matang : jika disuruh Tasmi', langsung bisa baca. Tanpa murojaah dulu.
  • Jika hafal 10 juz, maka dalam 10 hari harus berani tes 1 juz ---- ini baru hafalan yg bagus.
  • Mematangkan hafalan lama, minimal kebayang, sebelum menambah hafalan baru
  • Hafal 10 juz 1 hari 1 juz. Jadi 10 hari sekali, termurojaah.
  • Jadi, nambahlah hafalan menurut kemampuan.😊

Ustadz Efendi Anwar menyampaikan materi dari pkl 10.00 - 11.30

Karena hujan (baca: rahmat Allah) begitu derasnya dan bertubi-tubi sepanjang Senin itu, maka sampai buka puasa (mayoritas peserta berpuasa Senin) peserta tahfidz camp tetap berada di masjid ANNUR

Allahummarhamnaa bil Qur'aan

Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan



Rumah Quran STAN


================
πŸ‘₯ Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
πŸ“· IG : stanruqun_
πŸ’Œ gg.gg/infoDonasiRQSTAN
komentar | | Baca...

Sepanjang Bersama Quran (TC Episode 3)

Hamparan foto-foto Tahfidz Camp kami gelar pada postingan kali ini.
Ah... Jadi ingat hamparan fefotoan sebelumnya di Tahfidz Camp 2017 dan Tahfidz Camp 2018.

Seluruh foto khusus Tahfidz Camp 2019 ini, dapat diakses pada tautan ini.
Yang tercantum pada postingan kali ini sudah dipilah dan dipilih πŸ˜Š

komentar | | Baca...

Welcoming (TC Episode 2)

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 30 Januari 2019 | 05.58.00

Rabu, 30 Januari 2019


Tiba di suatu kota wisata, seorang traveler pasti disambut dengan sambutan terbaik oleh sang tuan rumah. Begitu pula turis-turis yang akan membahagiakan diri dalam ke-asyik-masyuk-an bersama Quran dalam 4 hari ke depan, pasti ada sambutan-sambutan indah yang terlalu berkesan untuk dirancang.
komentar | | Baca...
 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |