Kabar Terbaru »
Bagikan kepada teman!

Apakah RQ STAN Sebuah Organisasi Bisnis?

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 13 Desember 2017 | 17.00.00

Rabu, 13 Desember 2017


Manajemen RQ STAN perlu mengulas pertanyaan ini walaupun belum ada sekalipun pihak ekternal yang mempertanyakannya. Adapun hati kecil kami, tetap saja ingin berusaha menjelaskan agar informasi ini dapat dipahami, baik oleh santri, donatur, partner kerjasama, bahkan teruntuk calon donatur yang masih menimbang-nimbang sebelum berdonasi di RQ STAN. Kejelasan memunculkan rasa tenang, tentram, dan menunjukkan bagaimana amanah ini harus kami pikul untuk kebaikan bersama.
komentar | | Baca...

Kilauan Manfaat dalam Keluangan Menunggu


Menunggu adalah hal yang acapkali kita temui, setiap hari. Menunggu inspirasi datang tatkala menulis, Menunggu kelas dimulai, menunggu suami menjemput, menunggu KRL datang, menunggu antrian swalayan, menunggu antrian dokter, menunggu janjian kawan, hingga menunggu-menunggu lain yang durasinya belum dapat dipastikan, dan ada keluangan yang dapat dioptimalkan.

Menunggu sejatinya bukan hal yang kita tunggu-tunggu. Bukan hal yang kita harapkan, bahkan seringkali kita bosan, ogah, tidak ridho, kalau ternyata kita harus menunggu. Bila sudah begitu, hati bisa nggrundel, kadang HP dibuka untuk isi waktu: baca-baca chat, browsing macam-macam, hingga main game.

Menunggu dalam sistematika harian ibarat kerikil yang mengisi bejana 24 jam. Bejana itu mulanya kita isi dengan kuliah, cari nafkah, dan tidur malam bervisualisasikan batu-batu besar. Lalu batu yang lebih kecil turut mengisi; meliputi sholat, ibadah, makan-minum, dan buang air. Kemudian kerikil-kerikil yang memenuhi sisa isi bejana yang di antaranya adalah “menunggu”. Sistematika seperti ini membuat kita sadar bahwa menunggu tetaplah mengisi waktu 24 jam kita, yang kelak akan kita pertanggung-jawabkan di hari akhir dengan pertanyaan, “dan waktumu… untuk apa kau habiskan?”

Menunggu adalah takdir –dari sudut pandang Ilahiyah-. Sewajarnya takdir itu pasti datang dari Allah, maka makhluk seharusnya ridho. Kalau tidak ridho, ia galau kepada siapa? Marah kepada siapa? Jengkel kepada siapa? Ujung-ujungnya ke Allah juga bukan? Karena toh, menunggu seringnya lepas dari rencana manusia. Namun, takdir Allah sudah terketik dalam lauhul mahfudz.

Dari beberapa sudut pandang pemikiran di atas, maka menunggu perlu penyikapan yang gentle. Jangan mudah marah, jengkel, yang berujung pada dosa lantaran menafikan takdir-Nya. Minimal hati tenang dan netral, tak terkontaminasi oleh situasi menunggu, baik sebentar ataukah lama. Normalnya hati kita menggelisah. Karena ada saja bisikan syetan yang menelisik pembuluh darah, seperti, “Apaan sih, kok begini saja lama sekali… Ah, ngabisin waktu aja… Ih, payah nih antriannya…”

Serangan syetan pertama wajar bila kita rasakan. Selanjutnya, apa upaya kita memberangus bisikan syetan itu? Yuk, telisik sisi manfaat yang berpotensi memberlimpahkan pahala!

1. Membaca Quran
Prioritas pertama dipilih karena kegiatan ini cukup memberi pengaruh agar hati menenang. Agenda ini tidak terlalu memberatkan fikiran, sehingga hati mudah ternetralisir. Ada dua pertimbangan mengapa kita perlu memprioritaskan “membaca Quran”:

a.    Satu huruf sepuluh kebaikan.
Secara kuantitas, jauh lebih berlimpah daripada kegiatan lain dengan durasi waktu yang setara. Dalilnya: Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

b.    Lebih prioritas daripada dzikir dan doa.
Dalilnya: Dari Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Allah yang maha suci dan maha tinggi berfirman : "Barang siapa yang disibukkan oleh Al Quran dari berdzikir kepada Ku dan meminta kepada Ku, maka aku akan memberikan kepadanya pemberian yang lebih utama yang pernah diberikan kepada orang orang yang meminta sesuatu kepada Allah ta’ala. Allah berfirman, “Dan keutamaan perkataan Allah (Al Quran) terhadap segala perkataan, adalah seperti keutamaan Allah melebihi seluruh makhluknya. (HR Tiirmidzi). Menyambung dari hadits tersebut, Syaikh (Ibn Utsaimin) –rahimahullah- ditanya: Manakah yang lebih utama, dzikir atau membaca al-Qur’an? Beliau menjawab: Perbandingan keutamaan antara dzikir dengan al-Quran: Al-Qur’an secara mutlak (secara umum) lebih utama dari dzikir. Tapi dzikir ketika ada penyebab-penyebabnya lebih utama dibandingkan membaca (al-Quran). Contohnya: dzikir (yang sesuai sunnah) setelah selesai sholat, lebih utama di waktunya dibandingkan membaca al-Quran. Demikian juga menjawab seruan muadzin lebih utama pada waktunya dibandingkan membaca al-Quran. Demikian (seterusnya). Adapun jika pada dzikir itu tidak ada penyebabnya, maka membaca al-Quran adalah lebih utama (Majmu’ Fataawa wa Rosaail Ibn Utsamin (14/242)).

Hal-hal terkait membaca Quran tatkala menunggu:
  • Pakai smartphone lebih mengurangi rasa minder kita. Bila tidak minder, pakai mushaf kertas tidak mengapa.
  • Perhatikan suara agar tidak mengganggu sesama. Suara pelan atau sekadar komat-kamit cukup menenangi jiwa dan sekitar, apalagi di ruang publik.
  • Bila menunggu tiba-tiba selesai, kita perlu memperhatikan waqof agar tidak memotong arti. Lebih nyaman bila kita punya target-target kecil sampai ayat sekian kemudian dicukupkan, lalu dilanjutkan dengan dzikir mutlak.

2.    Memurajaah/Mengulang-ulang Hafalan
Level ke-2 ini butuh ketenangan yang lebih memang, sehingga bisa fokus melafalkan hafalan yang disambi dengan menunggu. Boleh juga sambil intip-intip mushaf berwujud smartphone. Jangan ragu bila hafalan macet sehingga berkali-kali diulangi. Doa kita, semoga Allah menghitung pengulangan huruf kita sebagai 10 kebaikan dikali jumlah huruf yang dilipatgandakan. Stay-murajaah!

3.    Berdzikir Mutlak
Lawan kata muqayyad (tertentu dan terikat) adalah mutlaq (boleh kapan dan dimana saja, kecuali tempat bernajis). Dzikir ini sangat ringan diucapkan, namun sangat berat timbangan kebaikannya dan sesuatu yang amat dicintai oleh Allah. Dzikir ini meliputi bacaan tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan istighfar, dan zikir-zikir lain  yang dianjurkan dilafadzkan dalam setiap waktu dan kesempatan.

4.    Membaca Channel atau Menonton Video Ustadz yang Membawa Manfaat
Nah, bagi yang kuota (internet)-nya berlimpah dan masih belum nyaman dengan 3 pilihan di atas, teknologi telah menyediakan aplikasi yang dilengkapi channel para asatidz tentang kajian Islam. Dengan Telegram misalnya, kita bisa memperoleh kajian tertulis dari ustadz-ustadz yang kita subscribe. Atau banyak sekali website yang berisi tulisan-tulisan mengenai ilmu syariah. Atau bila smartphone kita dilengkapi headset, bisa pula kita menonton channel youtube tentang kajian Islam. Untuk merasakan pentingnya aktivitas ini, mari kita setrum pemahaman kita dengan hadits ini: “Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim). Hm... Banyak sekali jalan kebaikan bukan? Alhamdulillah.

Demikianlah strategi-strategi untuk memanfaatkan aktivitas kerikil bejana 24 jam berupa menunggu. Agar jangan sampai menunggu kita diisi dengan omelan hati, atau aktivitas lain yang nir-manfaat. Alangkah besar keutamaan manusia yang selalu mengejar kebaikan walau dalam tiap detik masa tunggunya.

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)

Sejatinya, menunggu yang diluangkan untuk kebermanfaatan butuh pembiasaan. Sekali-dua kali tak menyadari kesia-siaan waktu tunggu, perlulah kita berdoa agar Allah sensitifkan hati. Agar Allah membukakan hati. Agar kita bisa konsisten memanfaatkan waktu yang sedikit tersebut untuk hal-hal yang kaya bermanfaat. Karena tanya Allah sudah pasti tatkala kiamat kelak, “Dan waktumu... Untuk apa kau habiskan?” (potongan HR Tirmidzi 2340)

Sumber-sumber:
1.    http://ilwansupriyadi.blogspot.co.id/2014/01/zikir-mutlaq.html
2.    https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html
3.    http://salafy.or.id/blog/2015/09/22/dzikir-atau-bacaan-al-quran-yang-lebih-utama/
4.    https://muslimah.or.id/7545-keutamaan-menuntut-ilmu.html
5.    https://rumaysho.com/2322-meninggalkan-hal-yang-tidak-bermanfaat.html
6.    https://blogosd.wordpress.com/2012/02/01/engkau-habiskan-dengan-apa-masa-mudamu/

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan
komentar | | Baca...

RQ HM NAIMIN – Asrama Takhasus Pertama di Kampus STAN

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 08 Desember 2017 | 19.20.00

Jumat, 08 Desember 2017


Walau baru rencana, permintaan RQ STAN dianggap serius oleh RQ Daarut Tarbiyah beberapa pekan yang lalu. Pada 7 Desember 2017, informasi itu datang. “Kami mau mulai perekrutan untuk santri beasiswa STAN”, ujar salah seorang penggerak RQ Pusat. Alhamdulillah. Sebentar lagi, RQ STAN akan memiliki asrama takhasus pertama, yang didiami oleh non-mahasiswa STAN, dengan kurikulum yang sangat berbeda. Insya-Allah.

RQ HM NAIMIN – Sebuah Rumah yang Kelak Dimiliki
Sejarah RQ HM NAIMIN dimulai tahun 2016. Berawal dari sarana belajar Quran yang makin menjamur di Bintaro, Ustadz Hasan selaku musyrif RQ STAN turut mengajar di FHQ An-Nashr –salah satu LTQ di Bintaro yang memfasilitasi warga sekitar untuk belajar Quran di akhir pekan (Sabtu/Ahad). Ustadz Hasan mengajar tahfidz, salah satu santrinya adalah seorang guru Islam di sekolah Al-Azhar. Inilah efek positif bila kita suka bercerita hal yang berpotensi menginspirasi orang lain. Usut-punya-usut, santri ustadz itu sedang mencari rumah yang bisa diwakafkan untuk rumah tahfidz. Bagai gayung bersambut, ustadz Hasan pun tanpa ragu membantu mencarikan rumah, supaya kelak rumah tersebut dapat dimanfaatkan untuk rumah tahfidz-nya RQ STAN.

Bersama manajemen, Bapak yang suka berkelakar itu sempat mensurvey tanah yang potensial untuk RQ. Hingga akhirnya pilihan jatuh ke rumah yang terletak di gang depan Harmoni supermarket, Ceger. Proses pembayaran pun diolah. Sebagaimana kesepakatan awal, rumah nantinya akan dinamai keluarga besar dari ayahanda istrinya si Bapak, yakni H Muhammad Naimin. Maka, dinamakanlah RQ HM NAIMIN. Adapun dari sisi penanaman modal: RQ STAN kebagian menutup kekurangan harga beli rumah, dengan 250 juta dana segar diberikan oleh pewakaf H. Muhammad Naimin.

Alhamdulillah, awal 2017 RQ STAN telah mengedarkan proposal khusus wakaf sehingga total sampai dengan tulisan ini ditulis, status pendanaan wakaf RQ HM NAIMIN menjadi:
  • HM NAIMIN: Rp 250.000.000
  • Operasional RQ STAN: Rp 20.000.000
  • Hasil edaran proposal wakaf: Rp 50.621.093 
  • Masih dicari siapa pewakafnya: Rp 34.378.907

Adapun untuk status kepemilikian, saat ini rumah baru sekedar AJB (akta jual beli) dengan atas nama pewakaf dominan. Ada wacana, RQ STAN bila sudah legal-formal nanti akan membalik-nama AJB sekaligus meng-SHM-kan rumah. Alhamdulillah dukungan pemilik rumah sebelumnya cukup kooperatif.

Mengapa RQ HM NAIMIN yang dipilih?
Membuka kesempatan bagi RQ HM NAIMIN untuk dikelola RQ STAN merupakan sebuah amanah berat sekaligus belum terpikirkan saat dilakukannya transaksi. Waktu peralihan kurikulum PKN STAN dari 2016-2017 menuju 2017-2018, manajemen RQ STAN hanya berpikir bagaimana agar RQ HM NAIMIN bisa bermanfaat, walaupun belum besar kebermanfaatannya. Nyatanya, dari September 2017 hingga kini, ia masih hanya sebagai asrama RQ bayangan. Tugasnya: menampung alumni RQ STAN yang lulus dari PKN STAN sebelum penempatan kerja. Tentu mereka dibebani tugas juga untuk tetap menjaga tilawah dan setoran hafalan Quran.

Dengan status bukan rumah sewa atau bukan rumah titipan (yang masih kepemilikan si empunya), melainkan rumah WAKAF, manajemen RQ STAN memiliki tuntutan moral untuk melejitkan kebermanfaatan RQ HM NAIMIN. Ada puluhan pewakaf yang duduk di belakang manajemen, menunggu hasil pemanfaatan tanah wakaf. Ada hari yang tiada hari selain naungan-Nya, dimana hari itu bisa saja menjadi pertanggungan jawab atas keloyalan atau bahkan ketidakloyalan amanah ini. Ada pahala yang disiapkan Allah, ada juga ancaman bila kita tak mampu mengembannya.

Maka, sudah barang tentu. RQ HM NAIMIN harus menjadi pabriknya penghafal Quran tulen di Bintaro. Bukan sekedar RQ kampus yang kurikulumnya terombang-ambing oleh kurikulum kampus. Yang santrinya dibatasi hanya 1 atau 3 tahun untuk menghafal Quran –sembari nyambi kuliah di kampus. Karena tiap yang dikemas dalam balutan sarana pembelajaran Quran, insyaAllah memiliki potensinya masing-masing.

Untuk itulah kami memilih: RQ HM NAIMIN.

Program RQ Takhasus
Programnya sederhana: satu tahun hafal 30 juz, tidak ada aktivitas lain selain menghafal. Masa pengabdian pasca-hafizh, satu tahun menjadi musyrif/guru Al-Quran.

Sederhana tapi sangat potensial karena pengelolaannya akan dilakukan profesional oleh RQ Daarut Tarbiyah. RQ STAN akan membantu mempromosikan, mengelola rumah, memantau progres, dan ikut menuai hasilnya.

Mohon doa agar RQ STAN dapat mengelola RQ takhasus dengan baik.

... yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
QS. Al-Fath (kemenangan) ayat 29

Allahummarhamnaa bil Qur’aan
Allahummaj’alnaa min ahlul Qur’aan
komentar | | Baca...

With Great Responsibility Comes Great Power (???)

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 31 Oktober 2017 | 17.28.00

Selasa, 31 Oktober 2017

Dalam film Spiderman dimana Tobey Maguire memerankan Peter Parker, ia mendapatkan tausiyah singkat dari pamannya (Uncle Ben), "With Great Power Comes Great Responsibility." 

Ternyata ungkapan tersebut berasal dari tokoh filsuf Prancis bernama Voltaire, dengan teks aslinya: grande responsabilité est la suite inséparable d’un grand pouvoir dan terjemah bebasnya: “besarnya tanggung jawab mengikuti dan tak terpisahkan dari besarnya kekuatan”. Tafsir bebasnya adalah: semakin besar kekuatan yang kita miliki (harta, kekuasaan, kemampuan), maka seharusnyalah kita merasa semakin besar tanggung jawab kita (untuk membantu sesama, untuk bermanfaat bagi yg lain). 

Ujaran ini juga sempat dilayangkan manajemen RQ STAN kepada santri alumni yang notabene sudah lulus dan sukses diwisuda. Bahwa sesungguhnya, makin mereka memiliki title lulusan STAN (great power), makin besar tanggung jawab (Great Responsibility) untuk bermanfaat bagi negara dan juga keluarga.

Akan tetapi...  Bicara tentang Power dan Responsibility,  ada hal unik sekaligus inspiratif bila kita menilik surat Al Muzzammil. Ungkapan tersebut ternyata bernada terbalik, menjadi:

With Great Responsibility Comes Great Power...

Dalam surat Al-Muzzammil, surat yang diturunkan kepada seorang laki-laki bernama Muhammad (Shalallahu a'alaihi wasallam) yang baru saja disematkan title sebagai Nabi dan Rasul (turunnya nubuwah), Allah memberikan bekal agar Sang Nabi kuat menghadapi cobaan. Tatkala tanggung jawab itu datang dari sesosok makhluk bernama Jibril melalui pertanyaan fenomenalnya “Iqro’”, maka setelah itu Nabi Muhammad yang ketakutan dan menyelimuti dirinya, dicolek kembali dengan wahyu berupa surat Al-Muzzammil.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sebahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah a-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (supaya khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. 73: 1-6)

 

Dengan tanggung jawab yang demikian besar (risalah Kenabian), Allah memberikan bekal kepada Nabi Muhammad Saw untuk mendawamkan sholat di malam hari (qiyamul lail) dan membaca Qur’an perlahan-lahan (tartil). Karena Qiyamul Lail dapat menguatkan tekad dan mengkhusyuk-kan fokus. Sementara tartil-Quran membuat hati dapat menghayati Kitabullah lebih jelas, lebih berkesan, dan sarat renungan. Tadaburnya, bahwa dengan tanggung jawab yang Allah berikan, Allah mengajak Nabi Muhammad Saw untuk memiliki great power berupa qiyamul lail dan tartil-Qur’an.



Kenapa harus memiliki great power? Jawabannya ada di ayat selanjutnya:  "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)”. (QS.73: 6-7).
 
Bila sebelum risalah Kenabian turun, Nabi Muhammad Saw hanya bertanggung jawab atas diri dan keluarganya saja, maka setelah risalah itu turun, Nabi Muhammad Saw bakal memiliki urusan yang lebih banyak, yakni bertanggung jawab untuk mengajak masyarakat kepada tauhid.
 
Bayangkan dan renungi seolah ayat-ayat indah ini untuk kita!
Bila amanah datang kepada kita, walau tidak sebesar amanah Nabi Saw dalam mengemban risalah Kenabian. Misal: Kita menjadi lebih populer, menjadi lebih tenar, mengemban jabatan yang lebih tinggi, memiliki kekuasaan baru yang lebih luas, dengan segenap resikonya yang membesar dan lebih berat. Maka pertanyaannya, sudahkah kita mendekat kepada Allah? Sudahkah kita lebih rajin sholat lima waktu, kemudian mengikatnya lebih ketat dengan sholat malam, alunan baca Qur’an yang lebih perlahan?

Karena bila tanggung jawab yang besar itu datang, kita harus mengikatnya dengan kekuatan besar yang kita tujukan hanya kepada Allah. Supaya Allah bantu urusan-urusan kita, supaya Allah ikat agar kita tidak lalai karenanya.

Betapa rugi bila kita sudah diberikan tanggung jawab yang besar, kemudian kita terlena dan terbuai, lantas meninggalkan segala ketaatan kita selama ini kepada Allah azza wa jalla. Na'udzubillahi min dzaalik.

Alhamdulillah, artikel tentang Rumah Quran STAN dimuat di majalah Media Keuangan edisi Nopember 2017

komentar | | Baca...

Dua Mutiara itu Sukses Ziyadah 30 Juz

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 30 Oktober 2017 | 17.22.00

Senin, 30 Oktober 2017


Ini kisah nyata di Rumah Quran STAN

Awalnya: RQ STAN hanyalah wahana yang mendekatkan, bukan pesantren takhasus yang menggembleng pencapaian 30 juz. Ia hanyalah wadah dan komunitas tinggal, bukan gedung megah dengan kurikulum rumitnya yang ketat. Ia hanyalah lembaga non-resmi yang dikelola oleh tangan-tangan para alumni, bukan oleh asatidz dengan serentengan gelar dan kuantitas SDM mumpuni. Akankah ia lebih maju di masa depan? Akankah ia kemudian terekspansi menjadi lebih strategis, integral, dan komprehensif? Bismillaahi tawakkalnaa ‘alallah.

Akan tetapi, di luar itu semua, inputnya sungguh menjanjikan. Santri-santrinya lulus dari SMA-SMA ternama di seluruh Indonesia. Teruji oleh serangkaian seleksi yang ketat dan berat dari segi kecerdasan dan fisik ketika masuk PKN STAN. Teruji lagi, dengan seikat kontrak Rumah Quran yang juga ketat, untuk berinteraksi secara masif dan konsisten bersama Quran. Teruji untuk kesekian kalinya dalam ujian-ujian kampus dengan risiko drop-outnya yang bisa jadi memerindingkan badan. Yang pada akhirnya, outputnya siap lulus ditempatkan ke seluruh Indonesia dengan potensi yang kembali menjanjikan. Bersiap menebarkan ke lintas masyarakat betapa semerbak wanginya dakwah Quran - mengajak umat muslim untuk mendekat kepada kitabnya yang penuh keberkahan.

Baru-baru ini, di luar kesederhanaan pengelolaan dan pengembangannya, Alhamdulillah Rumah Quran STAN berhasil menelurkan dua mutiara alumninya, pasca-tergembleng oleh lingkungan Qurani.

Yang pertama, seorang alumni PKN STAN penempatan Dirjen Perbendaharaan (DJPB), Kementerian Keuangan. Selama kuliah, beliau bergabung selama 2 tahun di Rumah Quran, dari 2014-2016. Tercatat dalam perkembangan santri, hafalan saat masuk masih sedikit. Agustus 2015, ziyadah hafalan 7 juz. Juli 2016, ziyadah melonjak menjadi 15 juz. Setelah lulus, waktu yang cukup banyak menjelang penempatan membuat ia berhasil mencapai 20 juz pada Februari 2017 (termasuk mengikuti kegiatan tahfidz camp di salah satu LTQ di Pondok Aren). Oktober 2017 ini, sukses 30 juz tambahan hafalan ia dapatkan. Total selama 2 tahun kuliah di STAN dan 1 tahun OJT (on the job training) DJPB, mayoritas ziyadah ia dapatkan di Rumah Quran STAN. Masya-Allah wa Barakallahu-fiikum.

Masya-Allah, tidak ada logika dunia untuk menyelesaikan proses menghafal secara cepat, bila tekad sudah sangat kuat dan kenikmatan menghafal sudah terengkuh secara maksimal. Semoga Allah memberikan kepada kita kenikmatan tersebut.

Yang kedua, seorang alumni PKN STAN penempatan Dirjen Pajak (DJP) yang dalam perjalanannya bersama Quran, sedikit berbeda dan tak kalah luar biasa . Masuk bulan Maret 2017 dalam keadaan bacaan Quran belum ditahsin (belum baik), hanya mengikuti crash-program TAHSIN CAMP selama 1-2 bulan di Rumah Quran yang kebetulan baru saja selesai pembangunan salah satu asramanya (pinjaman donatur). Oktober 2017 ini, ia sudah ziyadah 30 juz. Masya-Allah wa Barakallahu-fiikum.

Waktu-waktunya begitu termanfaatkan dengan maksimal setelah ia mengenal komunitas Rumah Quran STAN. Selama hampir 9 bulan itu, ia melalui progres skripsi, PKL, hingga pemberkasan calon pegawai baru. Hanya 1-2 bulan di RQ, kemudian setoran di sebuah pesantren di daerah Serpong. Jeda antara lulus, wisuda, dan penempatan ini, ia manfaatkan betul-betul untuk ziyadah 30 juz. Masya-Allah wa Barakallahu-fiikum.

Dua buah kisah pelajaran yang sangat berharga, bahwa bersama Qur'an dan selalu optimis/husnudzan kepada Allah, akan dapat menjadikan kemudahan dalam menghafalkan Qur'an.

***
 
Ya Allah, berkahilah hidup kami, waktu kami, aktivitas-aktivitas kami di bawah interaksi intens bersama Al-Quran. Bantulah kami dalam menjalankan dakwah Quran dan hadirkanlah bagi kami para penjaga-penjaga Qur'an yang kelak akan meneruskan langkah-langkah kami.
 
Allahummarhamnaa bil Qur’aan
Allahummaj’alnaa min ahlil Qur’aan.

NB: ziyadah adalah penambahan hafalan Qur'an, namun belum termasuk ujian semua hafalan yang dimiliki (untuk disahkan sebagai hafizh/hafizhah).
komentar | | Baca...

Al-Quran Pembuka Ilmu-ilmu Dunia

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 29 Oktober 2017 | 21.02.00

Minggu, 29 Oktober 2017

tasmik pra-kajian mabit
Ketika seorang mahasiswa jatuh hati pada Qur'an: ingin mempelajarinya, ingin bisa lancar membacanya, ingin efektif menghafalnya, maka ia pun mencari komunitas untuk memudahkan ia mencintai Qur'an. Akan tetapi, orangtua melarangnya dengan dalih: "Nanti kamu terlalu sibuk. Nanti kamu tidak fokus belajar di kampus. Nanti, IP-mu turun. Nanti cita-citamu tidak tercapai." Inilah sebuah realitas yang terjadi beberapa kali di RQ STAN. Tatkala orangtua tidak setuju, putranya yang sedang merantau untuk masuk ke Rumah Quran STAN. Lalu apakah benar? Kesibukan untuk mencintai Qur'an mengalihkan kita dari kesibukan mencari ilmu dunia? Ataukah malah justru sebaliknya? Bersama Qur'an, ilmu-ilmu kita justru menjadi kuat?

Sepenggal pengantar itu meluncur dari lisan moderator yang juga pengurus Rumah Quran STAN, pada agenda mabit RQ Sejabodetabek 7-8 Oktober 2017 di Masjid Balaikota Depok. Di luar masjid, hujan menderas, derau rerintikannya renyah, diharapkannya rahmat Allah turun, ketenangan indah menyelimuti, dan malaikat hadir menaungi.

Sang moderator melanjutkan, "Sejatinya kesibukan bersama Qur'an memiliki korelasi dan hubungan yang positif bila dibandingkan dengan kesibukan mencari ilmu dunia. Insya-Allah, kita bahas pada malam hari ini tema yang akan menjelaskan korelasi tersebut: Al-Quran Pembuka Ilmu-ilmu Dunia."

Agenda kajian dimulai sejak bakda Isya' dan berakhir hingga 22.45, saking banyaknya ilmu yang ditorehkan para asatidz - sulit untuk menstopnya. Istirahat malam hingga pukul 03.00, lalu diselenggarakanlah Qiyamul Lail dan berakhir pada waktu Subuh berjamaah. Agenda dihadiri mayoritas akhwat mengingat Rumah Quran Indonesia kebanyakan dari santri akhwat, baik RQ SMP/SMA, RQ UI, RQ IPB, RQ Pasar Minggu, RQ Pekayon, RQ Al-Hikmah, RQ STIS, RQ Bekasi, RQ UIN, RQ Takhasus Depok, hingga RQ STAN. Kalangan ikhwan datang dari RQ SMP/SMA, RQ Takhasus, dan RQ STAN.

peserta dari akhwat di bawah dan di atas masjid

Pentingnya Ilmu Dunia Bersanding dengan Ilmu Akhirat
Ustadz Anwar Nasihin hadir sebagai pembicara pertama. Beliau adalah ustadz ber-background syariah, yang menjadi dosen di STAI dan UNIAT Islam Thahiriyah Jakarta. Motto beliau: Jadikan hidup lebih indah bersama Islam dan Dakwah. Beberapa poin materi yang beliau sampaikan:
  • Cinta terbesar harus ditujukan kepada Allah Swt.
  • Di surat At-Taubah 105, Allah berfirman, "Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
  • Ayat tersebut memberikan pemahaman agar kita beramal, bekerja, berupaya, baik di dunia maupun di akhirat, dimana keduanya sama-sama penting.
  • Di surat Al-Mulk 20, Allah berfirman, "Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya ilmu itu hanya ada pada Allah." Ada yang menafsirkan ilmu tentang hari kiamat dalam ayat ini. Namun, secara umum, ilmu itu datang hanya dari Allah.
  • Jangan membenturkan ilmu dunia dengan ilmu akhirat. Karena akhirat penting, dunia pun juga penting. Kenapa ilmu dunia penting? Karena dunia adalah tempat mencari bekal untuk memperoleh akhirat yang baik.
  • Di surat An-Nur ayat 55, Allah berfirman, "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."
  • Dalam ayat tersebut dijelaskan mengenai janji Allah untuk orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, yaitu: 1) kekuasaan/ilmu; 2) agama menjadi kokoh; 3) mengganti rasa cemas dengan rasa aman/tentram.
  • Mari kita mencari ilmu, baik ilmu akhirat maupun ilmu dunia, dan jangan memisahkannya agar Allah memberikan kita kekokohan dalam kekuasaan, kekokohan dalam agama, dan Allah lesakkan ketentraman dalam diri kita dan kekuasaan kita. 
peserta ikhwan, 2 baris terdepan


Kehadiran Ustadz ini Bukti Benarnya Al-Qur'an Pembuka Ilmu-ilmu Dunia
Bergelar Doktor sekaligus dokter, belum lagi: S. Hi, M.A., M.Pd., MSi., dan tak ketinggalan yang paling penting dari gelar beliau: Al-hafizh. Ustadz ini hobinya sekolah, tutur salah seorang musyrif RQ. Dengan kesibukan menjadi imam besar Mahad Al-Hikmah dan mengurusi rumah tahfidz El-Fawwaz, pendidikan beliau: Fakultas Kedokteran S3 UIN Jakarta dan S3 Univ. Ibnu Khaldun Jakarta, dan saat ini sedang mengambil program spesialis Pulmonologi FKUI. Masya-Allah. 

Motto ustadz bernama lengkap Abul A'la Al-Maududi ini sangat inspiratif: Hidup di bawah naungan Al-Quran sebuah kenikmatan. Beliau inilah role-model utama dari tema mabit: Al-Quran Pembuka Ilmu Dunia, karena pasca meraih Al-Hafizh di usia remaja, sekolah demi sekolah beliau jejali hingga banyak rentetan gelar yang dipunyai. "Saya mendapat IP: 3,88" , tuturnya. Masya-Allah.

Beberapa poin materi yang beliau sampaikan:
  • Syaikh Dr. Ali Basfar, Ketua Bidang Tahfizh Internasional pernah bercerita, "Saat Jepang mau menjadi bangsa maju, mereka memajukan jam masuk kerja dan memundurkan jam pulang kerja." Orang Jepang menjadi role-model pribadi tangguh, malam hari masih saja rapat membahas pekerjaan. 
  • Adapun orang Islam, tertutup dengan orang-orang muslimin itu sendiri. Al-Islam menganjurkan sedikit tidur dalam surat Adz-Dzariyat 17: "Di dunia, mereka sedikit sekali tidur di waktu malam." Namun, orang Islam sendiri: sedikit-sedikit tidur.
  • Dalam agenda ceramah syaikh-syaikh kabir di Arab, seperti syaikh Sudays dan syaikh Ali Basfar, beliau menjadwalkan agenda ceramah pada pukul 02.30 (waktu sepertiga malam terakhir). Masya-Allah.
  • Dalam tiap ceramah, materi yang sampai kepada pendengar sedikit sekali persentasenya. Materi/lecture (kata-kata/tulisan bernilai ilmu) yang sampai: 5% saja. Bila ada tayangan/slide, yang sampai menjadi 10%. Bila ada suara dan gambar (video), yang sampai menjadi 30%. Bila ada diskusi, yang sampai menjadi 50% (bila fokus kepada diskusi/terutama untuk yang ikut berdiskusi tersebut). Bukti bahwa kita adalah sosok pelupa adalah: coba ingat apa materi Jumatan pada hari Jumat terakhir lalu?
  • Jurnal internasional di dunia ini, tiap detik muncul, tiap detik terbit. Renungan bagi kita: "Sudahkah kita menyadari waktu hidup ini untuk belajar? Meneliti? Menelurkan publikasi?
  • Bila orang Islam tertinggal, maka seharusnyalah mereka yang ahlu-Qur'an harus hebat. Harus mampu mengambil ilmu-ilmu dunia dan beramal dengan lebih baik lagi.
  • Role model manajemen waktu dan figur cerdas dunia-akhirat: Imam Syafi'i, hidup dari 150-204 H (usia 54 tahun).
  • Coba hitung bila Imam Syafi'i masuk Ramadhan: khatamin Qur'an 60 x dalam satu bulan. Artinya: 2x khatam sehari. Artinya 2 x 20 menit x 30 juz (asumsi tilawah 1 juz = 20 menit). Artinya 1200 menit atau 20 jam sehari dipakai untuk 2 kali khatam. Artinya: 4 jam hanya untuk sahur, buka, istirahat, dan aktivitas lainnya. Betapa berkahnya waktu 4 jam tersebut.
  • Dari 4 level kecepatan baca Qur'an: At-Tahqiq, At-Tartil, At-Tadwir, dan Al-Hadr, maka tentu saja Imam Syafi'i menggunakan kecepatan Al-Hadr (ekstracepat), namun dengan tetap memenuhi tajwid Qur'an. Karena Imam Al-Jazari berkata bahwa: Tajwid wajib, tanpa tajwid dosa.
  • Zaman now: Murattal 20 qori' internasional bisa dikumpulkan dalam 1 gadget.
  • Bila kita merasa sulit menghafal Qur'an, sejatinya mind-set kita ini bertentangan dengan ayat Qur'an itu sendiri, yakni, "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?", surat Al Qomar 17 (diulang 4 kali).
  • Bila surat dari calon membuat dada kita bergetar hebat, seharusnyalah surat dari Allah melalui Al-Quran ini membuat hati kita bergolak dan menjadi tentram karenanya.
  • Perkembangan teknologi bisa menjadi penyakit bagi ahlul-Qur'an, yakni bila gadget dan segala derivatifnya justru membuat kita lalai dari membersamai Qur'an.
  • Maksiat dapat menghilangkan hafalan (kata Imam Syafi'i), karena Al-Quran menuntut kita untuk menahan syahwat (zuyyina linnas).
  • Senantiasa dekat dengan Al-Quran membuat Allah memudahkan urusan kita.
  • Dari sisi biologi: girus/lekukan otak muncul sebagai tanda kecerdasan. Semakin banyak girus semakin cerdas, dan semakin otak diasah maka ia semakin tajam, karena memori otak unlimited, berbeda dengan flashdisk/harddisk komputer. Dan Al-Quran adalah salah satu pembiasaan berpikir dalam menambah hafalan dan menjaga hafalan Qur'an, agar otak terasah dan terus terasah.
  • Bila masa remaja hingga tua, kita jarang mengasah otak maka kemungkinan besar terjangkit alzeimer/pikun.
  • "Kewajiban lebih banyak daripada waktu yang tersedia", tukas Imam Hasan Al-Banna. Habiburrahman el-Shirazy bertutur, "Seandainya saya bisa membeli waktu orang-orang yang menganggur, saya beli waktu mereka." 
  • Pernah suatu ketika, saya ceramah di hadapan para penghafal Qur'an. Di antara mereka tidak ada yang hafal surat Fathir. Lalu saya tantang untuk menghafal surat Fathir. Prestasi terbaik mereka adalah 17 menit sukses menghafal surat tersebut. Karena Ahlul-Qur'an adalah sosok yang sangat menghargai waktu, sekaligus cerdas dalam menjawab tantangan-tantangan zaman.
  • Betapa benarlah: Al-Quran sebagai pembuka ilmu-ilmu dunia.
Semoga sedikit ilmu ini dapat bermanfaat.
Paling tidak ini semua menunjuki kita betapa singkatnya waktu yang Allah amanahkan dan betapa banyaknya samudera ilmu yang perlu kita jelajahi.
Semoga ilmu ini berkah, yakni yang diresapi kemudian diamalkan.

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan
komentar | | Baca...

Renungan Quran Camp (Program Pra-RQ)

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 11 September 2017 | 17.08.00

Senin, 11 September 2017

Quran Camp dan Olahraga Lari

Saat kita olahraga lari, beberapa menit awal merupakan masa yang berat. Nafas terengah, kaki mungkin agak sakit, jantung berdebar. Namun 15 menit berikutnya (masih keadaan lari), biasanya seluruh tubuh merasa santai, terbiasa. Perlahan nafas teratur, kaki mulai terbiasa nyeri, jantung menemukan pola detaknya. Kita bahkan mulai menikmati pemandangan sekeliling, indah, hijau, lupa akan kondisi tubuh yang sudah beradaptasi dengan kondisi lari.

Saudaraku sekalian, ana juga merasakan demikian dalam hari hari awal Quran Camp. Pertama, kita akan merasakan lelah, ngantuk, godaan berat, tapi jangan coba kita berhenti. Mungkin rehat sejenak tak mengapa, namun tetaplah dalam visi. Berapa menit kita mulai tilawah, rehat, tilawah lagi, rehat lagi, tilawah dan seterusnya. Lakukan dengan konstan.

Bila tubuh sudah mulai beradaptasi, ngantuk tiba tiba hilang, kita bisa mulai menghayati sedikit demi sedikit ayat yang terbaca. Ada kata "adzaabun aliim", kita pun berdoa mohon perlindungan, ada kata "ghafurur rahiim", kita pun berdoa mohon diberikan rahmat.

Lama lama ngantuk hilang, keteraturan yang berapa menit tilawah berapa menit rehat, tiba-tiba mulai tak teratur lagi. Yang ada tinggalah rasa penasaran menapaki ayat demi ayat quran. Terus tilawah, nyamaan tilawah, barangkali mungkin ada yang baper, sambil menitikkan air mata kita tilawah.

Saudaraku, proses dari bosan dan ngantuk tilawah sampai dengan teradaptasi nyaman begitu, masing masing dari kita berbeda beda. Ada yang cepat ada yang lama.

Pada intinya Allah sedang menguji kita. Apakah kita serius membersamai Quran? Atau tidak? Bila tidak serius, kita bisa jadi mengeluh dan berhenti stag. Namun bila kita serius, selama apapun waktu pembiasaan tilawah ini sampai nyaman, InsyaAllah yang kita lihat hanyalah pahala bertaburan, malaikat menaungi kita, ketentraman menyesapi hati kita, seluruhnya adalah janji pahala Allah buat kita. Apalagi di hari hari awal Dzulhijjah yang penuh keberkahan seperti ini.

Mari kita ikuti Quran Camp ini, walau kita dalam rasa lelah, capek, dan penuh ujian keimanan. Mari kita bersama mengikutinya, walau kita saling jauh.


Yang sedang dimabuk Quran,



***


Quran Camp dan Cita-cita Besar

Seorang pelari memiliki cita-cita besar menjadi juara di olimpiade internasional. Untuk meraih cita-cita itu, ia bagi dalam turunan target-target kecil, seperti 100 meter harus dicapai dalam berapa detik, 200 meter harus dicapai dalam sekian detik, begitu seterusnya. Ia kemudian naikkan standar, membiasakan diri lagi, begitu seterusnya. Sampai ia dapatkan cita-cita besar itu.

Saudaraku, hal ini tak berbeda dengan project Quran Camp. Selama 5 hari, kita ditarget bisa khatam Quran. Kita pun turunkan target khatam itu menjadi sehari 6 juz.

Kunci utama berupa optimisme, niat kuat, dan mujahadah karena Allah kudu ditancapkan. Target 6 juz per hari diturunkan lagi lebih detail dalam wujud target-target instan. Misalnya: pagi ini terniatkan bisa 2 juz. Ternyata Allah membuat urusan kita makin mudah, akhirnya kita malah bisa 3 juz. Misalnya lagi, malam ini terniatkan 2 juz. Ternyata lelah, kita pun paksa diri, mujahadah diri. Hingga kadang kita tertidur bersama Quran. MasyaAllah.

Saudaraku, sesungguhnya kita sedang diarahkan untuk mengatur hidup kita lebih detail. Cita-cita khatam 5 hari seolah tampak di depan mata, kapan saja, dimana saja. Mau tidak mau semuanya menjadi teratur. Kita akan merasa betapa berharganya waktu-waktu kita. Di antara kita, boleh jadi terasa dalam relung jiwa, Allah sedang memudahkan urusan-urusan kita yang lain. Itulah iman.

Saudaraku, alangkah hebatnya bila kita slalu bisa melihat cita-cita kita seperti kita bersama Quran selama Quran Camp ini. Begitu pula ketika kita memiliki cita-cita duniawi, akan menjadi kuat diri kita bila kita slalu bisa melihat agungnya cita-cita itu.

Setiap kita memiliki cita-cita besar. Tapi, satu yang perlu kita yakini, bahwa Quran tidak mengganggu kita dalam mengejar cita-cita besar kita. Justru Quran menjadi penguat agar cita-cita kian tercapai. Karena bersama Quran, ada cita-cita yang jauh lebih besar. Yang hanya orang-orang yang beriman saja yang bisa melihatnya. Ridho Ilahi, jannah-Nya, melihat wajah-Nya.

Semoga Allah memudahkan setiap cita-cita kita, dari target-target kecil tiap harinya, cita-cita duniawi kita di masa depan, hingga cita-cita terbesar meraih ridho Nya.

Aamiin

***

Quran Camp dan Manajemen Prasangka

Ketika pertama kali mendapatkan telepon untuk menjalankan misi menyelamatkan dunia, Tom Cruise dalam Mission Impossible tak lantas murung, sedih, atau galau gulana. Tak ada waktu untuk itu. Tokoh protagonis tersebut justru makin semangat menyambut tugas mulianya, mengumpulkan bekal, antusias menjalankan misinya. Sejatinya, begitu pulalah seharusnya santri RQ ketika pertama kali menerima titah komitmen untuk bertilawah 6 juz sehari alias 30 juz 5 hari.

Tom Cruise adalah orang pilihan, satu-satunya agen yang ditugaskan untuk misi mulia tersebut. Santri RQ juga orang-orang pilihan, merekalah segelintir mahasiswa PKN STAN yang ditugaskan untuk menyelesaikan 30 juz 5 hari sebelum perhelatan sebenarnya di Rumah Quran STAN. Karena Quran Camp adalah program pra-Rumah Quran STAN.

Dalam menerima tugas dimana kita sudah berkomitmen akan menjalankan sebaik-baiknya, seharusnya pikiran kita langsung memositif, bukan menegatif. Memositif berarti melihat segala kebaikan yang timbul di dalamnya, seperti: pahala, ketenangan, keberkahan, kebaikan, syafaat yang menjanjikan, popularitas di langit, dan lain sebagainya. Memositif dalam ibadah memang berat, karena hanya orang-orang berpandangan tinggi yang bisa menyaksikan kelezatannya. Ibarat orang sholat di awal waktu, mereka mampu mengindrai pahala besar dibalik kesulitan dan kerepotan ketika menjalankannya. Sedangkan menegatif itu sangat mudah dan banyak yang tertipu dengannya, seperti menonton bola ketika terdengar adzan, begitu mudah diam memandang keasyikan daripada memenuhi repotnya sholat di awal waktu.

Memositif dalam menerima titah tugas menjadi paket pembelajaran permulaan di Rumah Quran STAN. Pikiran kita yang jernih menerima tugas, melihat kebaikan, dan menyaksikan segala efek positif yang akan terjadi insya-Allah akan dibalas Allah dengan keridhaan-Nya. Apa wujud keridhaan-Nya? Tak lain ialah kemudahan dari Allah dalam menjalankan tugas berat bernilai pahala tinggi tersebut.

Prasangka permulaan ini semoga menjadi sarana muayasah/adaptasi untuk tugas-tugas berikutnya di RQ STAN. Diawali dengan memositif, menjauhkan dari dari menegatif, dan optimis dalam proses selama menjalankannya. Bila hati ikhlas, Allah akan ridho dengan menelurkan berbagai macam kemudahan. Radhiyallahu 'anhum waradhuu 'anhu - Allah ridha dan kita ridha...

Bisa jadi seharusnya kita tersibukkan ini itu, karena namun fokus jalankan tugas 6 juz per hari, Allah justru menyibakkan waktu-waktu kita begitu luas. Logika langit lints dimensi waktu semacam inilah yang seharusnya menjadi salah satu kepercayaan kita terhadap Allah sebagai penguasa semesta (bukan kita sebagai penguasa logika duniawi kita masing-masing). 

Ya Allah, bukakanlah keberkahan waktu-waktu kami. Bukakanlah pikiran kami untuk menapaki jalan kebaikan sesulit apapun. Karuniakanlah kepada kami pundak yang kuat, agar kami mampu menopang amanah yang berat. 

Allahummaa laa sahlaa illaa maa ja'altahuu sahlaa, wa anta taj'alul haznaa idzaa syi'ta sahlaa. Ya Allah tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Alhamdulillah
Allahummarhamnaa bil Qur'aan
komentar | | Baca...

Dua Soft-Opening dan Lima Hari Quran Camp

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 05 September 2017 | 19.03.00

Selasa, 05 September 2017

Tasmi' Quran
Rangkaian kegiatan Pra-Rumah Quran STAN meliputi dua agenda pembukaan Rumah Quran, yakni Taujih Qurani pada hari Sabtu, 26 Agustus 2017 (pkl 20.00 - 22.00) di Masjid Baitul Maal dan All About RQ pada hari Ahad, 27 Agustus 2017 (pkl 09.00 - 12.00) di Masjid An Nur PJMI. Dua lokasi dimaksudkan untuk memperkenalkan rumah Allah di sekitar RQ STAN. Satu lagi agenda Pra-RQ adalah upaya maksimal menyemai Quran di hati dalam tajuk Quran Camp dari Ahad - Kamis, 27-31 Agustus 2017 di RQ bahkan kampung halaman masing-masing. 

Soft Opening 1 - Taujih Qurani
Masjid Baitul Maal - Sabtu, 26/08/2017 pukul 20.00-22.00

Agenda diawali dengan pesan Ustadz Sunarso selaku pembina RQ STAN sekaligus alumni STAN yang sukses menghafal 30 juz selama berkuliah di STAN. Beliau banyak bercerita perjuangan dan suka-duka menghafal dan menyetorkan hafalan di tempat yang jauh. Berbeda dengan kemudahan mahasiswa PKN STAN kini, yang setor hafalan tinggal ke ustadz yang dekat di Rumah Quran STAN. Alhamdulillah.

Selanjutnya, pemutaran video in-memorial Ustadz Fadlil Usman Baharun selaku mudhir Rumah Quran Daarut Tarbiyah Depok atau Rumah Quran Indonesia periode 2011-2017. Dalam video pejuang Quran yang wafat pada April 2017 tersebut, ustadz Fadlil Usman Baharun berpesan agar cita-cita menjadi penghafal Quran harus dibetikkan oleh santri-santrinya dalam rangka meraih ridho Allah, bukan niat duniawi atau niat-niat yang lain. InsyaAllah kita akan beroleh kemudahan bila Allah menjadi tujuan niat kita.

Ustadz Masturi menjadi keynote speaker dalam agenda ini. Beliau menceritakan beberapa hal yang dirangkum dalam poin-poin berikut:
  • Betapa besarnya keberuntungan membersamai Quran. Standar pahalanya bukan per juz atau per surah, akan tetapi per huruf. 
  • Bersedekah makanan yang untuk mengupayakannya butuh berjam-jam (dari beli beras sampai dimakan penerima sedekah), dengan Al-Quran satu menit saja bisa jadi sudah ber-ribu-ribu kebaikan (1 huruf =10 kebaikan). 
  • Kapan ibadah kita berkualitas? Yakni ketika kita menikmati ibadah itu, sebagaimana bertilawah Quran kita menikmati tilawah Quran kita.
  • Jadilah optimis. Mengulang ayat 10 kali belum hafal, yang ke-15 pasti hafal. Mengulang ayat 15 kali belum juga hafal, yang ke-20 pasti akan hafal, begitu seterusnya...
  • Bersama Quran, jangan hanya berorientasi hasil (berapa total hafalan sebulan misalnya), tetapi perhatikan proses, karena pahala proses banyak sekali, menikmati proses nikmat sekali.
  • Selamat bergabung dengan hammilul Quran (penjaga Quran), selamat mengisi hari-hari dengan muayasah/adaptasi bersama Quran.
  • Jangan idealita/perfeksionis. Sebersih apapun air, pasti ada kotornya. Yang penting kita tidak haus. Itu dulu. Latar belakang teman-teman santri kita berbeda-beda, jangan bayangkan semuanya baik dan sholeh-sholeh, karena kita memang bersama-sama berproses menuju keshalihan karena Allah.
  • Jadilah rooyatul Quran, bendera-bendera Quran dimanapun tugas kerja kita, tempat tinggal kita kelak. Rumah Quran dibuat ustadz itu biasa. Rumah Quran dibuat oleh alumni sekolah formal seperti STAN itu luar biasa.
Demikianlah setetes ilmu yang berhasil dirangkum, padahal masih banyak debur ilmu yang membelai fikir dan hati kita saat kajian. Akhirnya setelah sesi tanya jawab, kajian diakhiri dengan penjelasan Quran Camp. Apakah itu Quran Camp???

Quran Camp - Dimanapun Kapanpun Bersama Quran, 27/8 - 31/8 

Tahukah bahwa ternyata 27-31 Agustus merupakan hari yang istimewa, hari-hari awal Dzulhijjah yang diperintahkan bagi kita memperbanyak amal ibadah, dzikir, dan amal sholeh lain! Masya-Allah, itulah kenapa ada Quran Camp, ia mendongkrak ruhani kita, seolah menjadi jumper dari momen indah 10 hari terakhir Ramadhan yang telah kita lalui 2 bulan silam.

Quran Camp bertargetkan lima hari khatam Quran, artinya tilawah enam juz harus dicapai dalam sehari. Lho, bagaimana kesibukan lain? Alhamdulillah mahasiswa/i STAN belum ada kesibukan (kecuali barangkali ada capacity building bagi mahasiswa baru tertentu, juga kepanitiaan wisuda). Karena tanpa kesibukan signifikan, santri dimanapun berada wajib membersamai Quran secara masif. Beberapa ketentuan Quran Camp:
  • Bagi santri di area kampus: ada agenda mutabaah dari musyrif/ah dan talaqqi mitsali malam hari (bakda Isya' setoran 1/2 halaman tilawah).
  • Bagi santri di area kampus: ada konsumsi pada momen tertentu (Alhamdulillah disiapkan konsumsi Rabu sore dan buka puasa Arafah).
  • Bagi yang ada kesibukan, ada dispensasi dihabiskan khatam di Idul Adha dan hari tasyrik pertama.
  • Bagi santri di kampung halaman: mutabaah via chat whatsapp dan motivasi dari manajemen secara online.
Alhamdulillah, mayoritas santri berhasil khatam selama 5 hari. Ini akan memudahkan santri dalam mencapai target selanjutnya, yakni untuk santri tahsin 3 juz perhari di 3 bulan pertama (masa tahsin), dan 2 juz perhari di masa tahfidz.

Soft Opening 2 - All About RQ
Masjid An-Nur - Ahad, 27/08/2017 pukul 09.00-12.00

Sebetulnya pukul 09.00 kegiatan sudah siap dilaksanakan, akan tetapi karena gong Quran Camp telah dimulai, banyak sekali santri yang asyik masyuk bertilawah Quran. Akhirnya pkl 10.00 baru dimulai dengan agenda utama:
  1. Perkenalan manajemen RQ STAN, musyrif, dan jajarannya
  2. Pemantapan visi santri di RQ STAN: menjadi pengajar dan penghafal Quran, serta mencetak para bendera Quran.
  3. Pemaparan kurikulum selama setahun (3 bulan tahsin + selebihnya tahfidz)
  4. Penjelasan kontrak RQ STAN demi mendukung kondusivitas kegiatan RQ STAN
Alhamdulillah... 
Selanjutnya kegiatan RQ STAN di 5 rumah tahfidz (plus 3 rumah tahfidz bayangan), akan dilangsungkan mulai 4 September 2017 hingga setahun masa akademik RQ STAN.

Mohon doa pembaca sekalian, agar santri Rumah Quran STAN beroleh kemudahan dan kelancaran selama di Rumah Quran STAN, agar mereka dapat meraih cita-cita hafalan 30 juz, agar mereka dapat amanah menjaga Quran di hati dan amaliah, menjaga akhlak, hingga nantinya mereka berkiprah menjadi pewaris negeri yang kelak tercita-citakan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa. Artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlul Qur'aan
komentar | | Baca...
 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |