Kabar Terbaru »
Bagikan kepada teman!

QuranicQuiz: Wajah Lain Ekspansi RQ STAN

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 03 Desember 2018 | 00.04.00

Senin, 03 Desember 2018


Boomingnya platform quiz online di tahun 2017 tanpa tedeng aling-aling langsung dimanfaatkan oleh Rumah Quran STAN. Dari situlah, lahir tagar, akun, atau jalur lain dakwah Rumah Quran STAN bertajuk QuranicQuiz.


komentar | | Baca...

FHQ MBM Tampil Beda di 2018

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 02 Desember 2018 | 23.50.00

Minggu, 02 Desember 2018

FHQ atau Forum Halaqah Quran merupakan hajatan yang melibatkan LDK Masjid Baitul Maal PKN STAN dengan Rumah Quran STAN. 

FHQ MBM - Angkatan 1 dan 2
FHQ di MBM sejatinya pertama kali hadir pada tahun 2015, namun baru mampu menyelesaikan seluruh kurikulumnya pada angkatan kedua, yakni yang bermula di akhir Januari 2016. Mengadopsi kesuksesan FHQ An Nashr, kegiatan halaqah pekanan bertemakan tahsin ini saat itu, mampu menarik minat ikhwan sebanyak 15 kelompok, sedangkan akhwat 16 kelompok. Bila direratakan 10 per kelompok, maka jumlah santri FHQ saat itu (15+16)x10 = kira-kira 310 santri. Info lengkap disini.

FHQ MBM - Angkatan 3
Maret 2017, FHQ memasuki angkatan ke-3-nya. Saat itu jumlah pendaftar masih di kisaran angka 300-an, yakni 169 ikhwan dan 183 akhwat (jumlah sudah terdokumentasikan nih ye). Saat itu, Rumah Quran STAN mulai keteteran. Pasalnya, jumlah stok pengajar dari kalangan santri RQ sangat terbatas. Namun, begitu mengetahui jumlah peserta membludak, banyak pengajar bersemangat tuk mengajar dua hari, Sabtu dan Ahad sore. Syukur Alhamdulillah. Alhasil jumlah pengajar di hari jelang starting kegiatan mencukupi, baik dari kalangan santri RQ maupun luar RQ. Info lengkap FHQ 2017 ada disini.


FHQ MBM - Angkatan 4 + Tahsin Clinic
Tahun 2017 lalu, FHQ episode 4 berlanjut kembali di semester awal perkuliahan PKN STAN, sekitar September 2017. Terdokumentasi di Instagram Masjid Baitul Maal, saat itu FHQ memang sengaja diakhirkan di UAS semester 1. Adapun pada semester 2-nya, FHQ lebih difokuskan ke bulan Ramadhan 1439H (tahun 2018 M) dalam tajuk milenialis, yakni Tahsin Clinic. Sedikit sumber FHQ September 2017 ada disini.

***





FHQ MBM - Angkatan 5
Sejarah dari FHQ MBM 1, 2, 3, dan 4 tersebut masih terhitung normal, hingga akhirnya hadir FHQ ke-5 pada November 2018 yang sedikit tidak normal. Di mana tidak normalnya? Kami himpun pada 4 poin berikut:
  1. Jumlah peserta jauh membludak, yaitu 140 ikhwan + 357 akhwat, sehingga tertotal = 497, nyaris 500 peserta. Dapat dilihat dari tahun-tahun sebelumnya bahwa trend ternjomplang ternyata lantaran melejitnya jumlah akhwat yang mendaftar. Padahal jumlah ikhwan masih normal saja dari tahun-tahun sebelumnya.
  2. Alhasil, ketidaknormalan yang pertama membuat manajemen RQ dan panitia FHQ melakukan maneuver, terutama mengelola pengajar Quran dari kalangan non-RQ secara lebih intensif. Yang kedua adalah memanggil para senior turun gunung, terutama dari alumni STAN yang sewajarnya sedang menunggu penempatan dan masa-masa OJT/magang.
  3. Lokasi FHQ kali ini lebih variatif, tak lagi hanya di MBM walaupun namanya FHQ MBM. Terjadwal oleh panitia, Sabtu sore di MBM dan di lain tempat: Ahad sore di Masjid An-Nur PJMI. LDK MBM saat ini memang sedang berusaha menjalin jumper dakwah ke lokasi kos mahasiswa PJMI, melalui aksi ekspansi dakwah wilayahnya. Nah, salah satu bentuk ekspansi tersebut adalah melalui FHQ. 
  4. Tak kalah berbedanya dari tempat adalah durasi FHQ. Kali ini, durasi melipir di 2 semester. FHQ hadir di pasca UTS 1 (terlewat 2 bulan dari awal kuliah) sampai dengan UTS 2, artinya FHQ hadir di 2 semester perkuliahan.
Empat hal inilah yang membuat FHQ tampil beda di 2018. Selain itu, konsep FHQ secara umum masih sama dengan statistika yang kurang lebih adalah sebagai berikut:
  • Jumlah pengajar ikhwan   : 14-15 ikhwan (cadangan 1-2)
  • Jumlah pengajar akhwat   : 25 akhwat (cadangan 1-2)
  • Jumlah peserta ikhwan    : 140 peserta
  • Jumlah peserta akhwat    : 357 peserta
  • Leveling tahsin        : Pratahsin, Tahsin 1, dan Tahsin 2
  • Jumlah halaqah Sabtu    : 8 ikhwan, 19 akhwat
  • Jumlah halaqah Ahad    : 7 ikhwan, 14 akhwat
  • Silabus yang dipakai    : 11 pertemuan (termasuk ujian)
  • Buku modul        : Jilid 1, 2, 3 Buku Utsmani, Ustadz Efendi Anwar
Mohon doa pembaca semua, agar FHQ ini lancar. 10 pertemuan dapat dilalui dengan tuntas bersama para perindu Quran dari kalangan mahasiswa STAN

Allahummarhamnaa bil Qur’aan


Plus - Plus Foto2 FHQ di Masjid An-Nur PJMI






komentar | | Baca...

Taujih Berseri untuk Strategi Muwajjih FHQ (6-10)

Penulis : Ruqun Stan on Sabtu, 01 Desember 2018 | 13.57.00

Sabtu, 01 Desember 2018



Dalam rangka memeriahkan masa awal mulainya FHQ MBM di akhir November ini, beberapa taujih ditransmisikan secara tulisan dan dilakukan bertahap (berseri) terkait dengan strategi (bukan materi) dalam mengelola halaqah tahsin. Strategi lebih kepada cara jitu tersampaikannya materi dan terpraktekannya bacaan Quran dengan sempurna. Berikut 5 seri kedua  -taujih strategi mengelola halaqah tahsin:

***


6) Bekal Talaqqi Fardhi


Anak akun cocok menjalankan aksi Talaqqi Fardhi (TF). Mereka sdh diajarkan konservatif sejak awal. Beban langsung diakui begitu muncul, pendapatan ntar2 dlu nunggu kepastian baru diakuin. Ini namanya konservatif, berhati-hati. Belum kalau pelajaran auditing, ada mindset skeptisme profesional. Sebentuk suudzon tapi bukan suudzon. Nah, bingung kan.

Berbekal dari situ, pengajar Quran dr kalangan anak akun atau jurusan lain yang pernah belajar akun, InsyaAllah cocok menerima talaqqi fardhi dari para peserta tahsin. 😄

Biasanya hal ini terbaca dari kebiasaan mengucapkan instruksi, "ulangi!" Kata ini begitu fenomenal. Sebetulnya dr sisi pengajar, makna ulangi adalah: "coba diulangi deh saya tadi kurang mendengar saksama", tapi kadang oleh peserta kata ini dimaknai, "nah kamu salah, salah, pokoknya salah." Sehingga kadang peserta talaqqi mengalami "salah baca tidak material" lantaran mendengar kata ulangi ini alias grogi dan unpede. 

Nah, solusinya yaa tidak ada solusi. Mau bagaimana lagi. Mungkin sekedar diluruskan saja, bahwa ulangi bukan berarti salah. Ulangi hanya sebentuk upaya pengajar ingin mendengar lebih dalam.

Ulangi ini bisa diminimalisir bila pengajar sering latihan utk talaqqi fardhi. Bagaimana caranya? Anak RQ bisa lah di sela-sela santai di rumah, saling mengajak talaqqi. "Bro atau sis, yuk kita latihan talaqqi" Atau utk yang belum punya komunitas, bisa juga membacakan ayat di hadapan video HP, lalu melihatnya kembali guna membetulkan bacaan kita. Latihan2 begini sangat diperlukan untuk mengupgrade kemampuan skeptisme professional di bidang tahsin. Juga dalam rangka meningkatkan sensitivitas membetulkan bacaan quran. Hanya saja, kita harus tahu sikon. Jangan kemudian di dalam menjadi makmum, kita batin juga kesalahan imam yang membacakan Quran di depan. Keep khusyuk dan semoga Allah memudahkan kita utk membiasakan diri mentalaqqi fardhi.

***

7) Jangan Remehkan Doa


Pernah dalam sebuah evaluasi kegiatan mentoring, sang pengisi taujih bertanya, "siapa yang sudah mendoakan mutarabbi nya hari ini?" Ternyata yang acung tangan sedikit sekali.

Ya, memang begitu adab nya. Dai sangat perlu utk berdoa agar kata2nya membekas di hati mad'u. Agar dirinya istiqomah memegang amanah. Agar mad'u terpaut hatinya utk lapang menerima dakwah Islam, agar Allah meridhai aktivitas kita semua, karena kitalah yang butuh dakwah Qur'an ini, bukan dakwah yang butuh kita. 

"Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana (QS Al Anfal 63)"

Kita tadabburi ayat ini bahwa sekeren apapun silat lidah kita mengajak mereka utk baca Quran dengan tajwid yang benar, hal tersebut takkan mampu membuat hati mereka terpaut pada Quran, kecuali atas izin Allah. 

So, bagi qt yang tetiba dipaksa tuk terbebani amanah mengajar Quran, kuy ikhlaskan diri kita tuk berdoa. Selipkan doa-doa untuk santri tahsin kita di waktu2 mustajab. Selipkan di waktu tahajud, waktu dhuha, antara adzan dan iqomat, dll. Semoga doa terbaik kita tatkala santri kita tidak tahu, diamini malaikat, "Semoga kamu juga mendapat apa yang kamu doakan utk kebaikan mereka."

Ada doa yang tak perlu digemborkan (apalagi diselfiekan), ada pula doa yang diaminkan bersama sebagai wujud kasih sayang dan menunjukkan misi kita dalam halaqah tahsin ini. Maka, setiap sebelum mulai atau sebelum halaqah tahsin kita bubaran, mari sama2 berdoa. Semoga Allah istiqomahkan kita, dalam berinteraksi dgn Quran. 


Hm...  Bolehlah kita visioner sedikit dalam doa. Semoga kita jg istiqomah dlm menjadi kader2 dakwah Qur'an dan dakwah Islam scr umum di lokasi penempatan kita kelak, lebih jauh sepanjang usia biologis kita 😁

***

8) Mengelola Diskusi

Dari slide yang tidak tercakup, yang kemudian disusulkan melalui penugasan SAP sebelumnya, salah satunya adalah sesi diskusi atau tanya jawab. Hm... Biasanya sesi ini melekat pada materi manakala pengajar memantik halaqah dengan ungkapan, "sampai disini ada pertanyaan?" 

Ia merupakan sesi yang fleksibel karena kemunculannya tergantung sense of kepo atau seberapa kritisnya peserta halaqah. Beberapa narasumber kadang menghindari sesi ini, terutama yang tidak menguasai sangat tentang materi yang disampaikan. 

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (AnNahl 43)"

Tadabur ayat ini, walau redaksinya utk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, namun bisa kita petik ibrah bahwa kalau di sesi diskusi kita kemudian krik krik krik alias merasa kurang berkapasitas dalam menjawab, maka berikan ia jawaban terbaik dr yang pernah ada: Wallahu A'lam. Tentu sambil kita legakan hati si penanya bahwa kita akan coba carikan jawabannya di lain kesempatan. 

Memberi spare waktu, lalu kita diskusikan pertanyaan peserta tersebut di grup pengajar FHQ MBM atau japri ke musyrif/ah yang sudah kapasitasnya mumpuni, sehingga hadir jawaban yang melegakan, yang kemudian kita share di grup santri kita, maupun di pertemuan tahsin berikutnya, InsyaAllah hal tersebut lebih fair dan beradab daripada kita buru2 menjawab sekenanya yang berimbas pada kekhilafan kita dan ketersesatan peserta. 

Atau dapat juga kita sampaikan, "sependek pengetahuan saya dst...", Lalu diberikan spare waktu untuk kita cari tahu selengkapnya, itu juga tak masalah. Yang penting kita ingat bahwa kita punya PR untuk menjawab pertanyaan super santri kita di lain waktu.

Remember...  Bahwa jawaban "tidak tahu" bukanlah khilaf, hanya saja bedanya satu diamanahi pengajar, satunya lebih fokus untuk menjadi peserta yang belajar. Toh kita sama-sama pembelajar. Adab diskusi begini ini, bukan hanya di halaqah tahsin saja, namun juga di halaqah mentoring, forum seminar, dan forum belajar lainnya. 

Semoga kita bisa mengelola sesi diskusi ini dengan baik sebagaimana Allah ridhai.

***

9) Tilawah Fardhi dan Bukti Cinta Quran

Mirip dengan istilah talaqqi fardhi, namun jauh bedanya. Tilawah fardhi (TiF) inilah yang seharusnya menjadi keseharian kita, juga keseharian santri. 

Tilawah fardhi itu tilawah pribadi, yang dilakukan pengajar dan juga santri di rumah masing2, di waktu masing2, di luar halaqah tahsin. Ideal nya pengajar wajib TiF 1 juz per hari. Karena kita akan mewajibkan santri tahsin 2 juga sama: 1 juz per hari. Tahsin 1 wajib nya 1/2 juz per hari (sumber: FHQ AnNashr). 

Analoginya begini. Kita sedang melatih calon pemain bola professional. Sebagai pelatih, kita tidak hanya memberikan porsi latihan di lapangan saja. Tapi juga di luar lapangan. Kita wajibkan siswa sekolah bola kita untuk mengolah bola satu jam di luar lapangan setiap harinya. Entah mau sambil jalan ke sekolah giring bola, atau main dengan anak2 komplek atau latihan nendang ke tembok, dsb. Pokok nya kalau ditotal harus satu jam. 

Apa maksud hati kita sebagai pelatih bola mewajibkan demikian? Agar timbul rasa cinta terhadap bola. Konon main bola karena cinta, tanpa tekanan, dengan riang gembira, akan menciptakan chemistry dengan bola, dan lebih mampu membawa kebahagiaan selama pertandingan, lebih kuat daripada sekedar menang kalah. Nah... 

Kita juga berharap demikian. Kita ingin diri kita sebagai pengajar: cinta terhadap Quran. Maka, kebiasaan membaca 1 juz per hari bisa kita jadikan sarana mencintai Quran, mencintai Allah RasulNya, dan dakwah Islam. 

Nah, kalau pengajar sudah rutin dan optimal one day one juz, barulah kemudian kita on-the-track untuk mengingatkan santri kita untuk 1/2 juz atau 1 juz per harinya. 

Keep istiqomah duhai pengajar Quran. Keep remembering your santri to talk Allah with Tilawah Fardhi, every week and every day in your WA/line group. 

Out of Topic: Bagi pengajar dari kalangan santri RQ STAN, mohon tidak mengurangi takaran cinta nya terhadap Qur'an karena sdh dikomitmenkan di awal untuk 2-3 juz perhari 😊

***

10) Tilawah Fardhi dan Idealnya Santri FHQ

Practice makes Perfect, saya kutip ungkapan terkenal ini dari status salah satu pengajar di grup ini, hehe. Menjelaskan makna bahwa sering-sering latihan bisa menyempurnakan tiap bacaan Qur'an kita. Bukan hanya pengajar melalui latihan talaqqi bergantian dengan pengajar lain, melainkan juga: tak kalah penting utk santri FHQ yang menjaga tilawah fardhi nya setiap hari. 

Sejatinya gambaran santri ideal FHQ itu seperti ini: Hadir di halaqah tahsin pekanan, menyetorkan bacaan untuk dikoreksi, menerima catatan koreksi di buku mutabaah, lalu hari-harinya diisi tilawah fardhi di waktu yang ia sepakati sendiri. Ada yang memilih sekali duduk, di jeda antara magrib-isya utk tilawah fardhi. Ada yang sekali duduk bakda subuh sampai mandi dan berangkat kuliah. Selain sekali duduk, ada juga strategi membagi waktu. Ada yang dibagi per waktu sholat. Misal habis sholat fardhu 4 halaman, maka sehari selimawaktu akan mentotalkan 20 halaman alias 1 juz Qur'an. Atau ada tipe campuran. Sebakda subuh setengah juz, sehabis sholat fardhu lainnya 2-3 halaman. Ini juga bisa. Tinggal yang nyaman dan cocok waktunya yang mana (permisalan ini utk tahsin 2 dgn wajibat 1 juz perhari, wajibat tahsin 1 dll tinggal disesuaikan saja). 

Kalau sudah begitu, apakah sudah ideal? Eits belum juga. Hadir tiap pekan tahsin + tilawah 1 juz per hari fhq pekanan saja, belum dianggap sbg seideal-idealnya santri,  apalagi ada santri FHQ yang rajin hadir saja tanpa tilawah fardhi. Atau malah tilawah rajin tapi tidak hadir FHQ. Bacaan menjadi abai terkoreksi. 

Lalu bagaimana yang ideal? Nah, seideal-idealnya santri Fhq itu yang mengoneksikan, membentuk node/jembatan/sinaps antara koreksi di buku mutabaah nya dengan tilawah fardhi harian nya. 

Secara teknis begini: setiap ia pulang dari FHQ, ia berkomitmen bahwa koreksi yang muncul di buku mutabaah nya hari ini tak boleh muncul lagi di pertemuan pekan depannya. Maka, saat ia jalani 7 hari tilawah fardhinya, ia lakukan sambil meliput buku mutabaah nya, ia latih-latih hasil koreksi pengajar nya. Sampai apa? Sampai lisan nya terbiasa, hingga pekan depan ketika bertemu kembali dengan pengajar nya, koreksi itu tidak muncul lagi. Namun, jika pekan itu ia terkoreksi dari sisi kesalahan lainnya, maka ia berkomitmen lagi agar di pekan depannya kesalahan itu tak muncul lagi, begitu seterusnya hingga materi tahsin usai, dan ia menjadi seideal-idealnya pembelajar tahsin Quran. MasyaAllah. 

***

Bersambung
komentar | | Baca...

Taujih Berseri untuk Strategi Muwajjih FHQ (1-5)

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 23 November 2018 | 08.34.00

Jumat, 23 November 2018

Talaqqi adalah strategi klasik terpopuler dalam belajar mengajar Quran
Dalam rangka memeriahkan masa awal mulainya FHQ MBM di akhir November ini, beberapa taujih ditransmisikan secara tulisan dan dilakukan bertahap (berseri) terkait dengan strategi (bukan materi) dalam mengelola halaqah tahsin. Strategi lebih kepada cara jitu tersampaikannya materi dan terpraktekannya bacaan Quran dengan sempurna.

Adapun materi sudah dibahas tuntas dari mulai warisannya Syaikh Muhammad al-Jazari sampai dengan buku modul yang dipakai FHQ, yakni Utsmani.

Berikut 5 seri pertama taujih strategi mengelola halaqah tahsin:

***

1) Talaqqi Fardhi Surah dan Mitsali

Beberapa calon pengajar menyampaikan SAP dgn waktu Talaqqi Fardhi (TF) yang berbeda-beda. Namun dr pengalaman, biasanya TF terdurasikan 45 menit. Tentu hal ini bukan patokan standar. Hal ini dikarenakan belum ditentukan jumlah santri per halaqah. Apalagi riil saat pertemuan berbeda-beda berapa yang hadir.

Untuk mensiasati hal ini, sekaligus melihat kenyataan bahwa santri akhwat membludak pake banget. Maka, perlu adanya kesepakatan. Kurikulum materi sudah ditentukan, tinggal kurikulum TF yang perlu disesuaikan.

Bisa jadi TF yang 45 menit itu, diisi dengan TF surat yang hanya comot satu surat juz 30 sekaligus mitsali materi. Contohnya pertemuan pertama: al fatihah (TF surah) + praktek taawudz basmalah (TF mistali). Pertemuan kedua: AnNas + praktek tadribat sebagian hurf (TF mitsali). Dan seterusnya. Sekali lagi strategi ini dibuat bila sehalaqah jumlah santrinya pake banget. Makin dikit peserta halaqah tahsin, makin ditambah kuantitas TF surat dan mitsali nya. Pengajar yang menakar waktu segini cukup nya utk berapa macam bacaan TF hingga akhir jam halaqah.

Hal ini kembali kepada kesepakatan panitia FHQ karena strategi itu manhaj. Manhaj itu kreativitas, bukan persoal bid'ah. Kita niatkan ini ibadah krn Allah. Semoga Allah memudahkan (pake banget). Wallahu a'lam.

Daftar istilah:
1. Talaqqi fardhi: santri membacakan di hadapan pengajar. Pengajar mengoreksi dan menuliskan hasil koreksi di buku mutabaah santri sbg sarana mereka memperbaiki dlm sepekan ke depan. Pekan depannya, pengajar mengecek apakah kesalahan berulang? Atau muncul kesalahan baru? Tulis lagi dst setiap pekan.
2. TF surat: Yang dibacakan santri ke pengajar adalah surat yg disepakati setiap pekannya.
3. TF mistali: Yang dibacakan santri ke pengajar adalah contoh bacaan dr materi tiap pekannya.

***

2) Talaqqi Fardhi dan Kasih Sayang Kita

Bila di halaqah mentoring ada qadhaya wa rawa'i (curhat kabar baik dan buruk) maka di halaqah tahsin ada talaqqi fardhi (TF). Keduanya mirip. Karena sama-sama mempresentasikan masing2 santri. Kalau mentoring yaa curhat nya. Kalau tahsin yaa bacaan Quran dan mitsali nya.

Porsi TF ini bisa mengambil 30-40% dari satuan acara tahsin itu sendiri. Why? Karena ia yang mampu scr optimal membongkar kesalahan2  santri per orang, memberitahu cara membaca yang benar, dan mempraktekkan yang benar tsb agar dicek pengajar. Lalu, bagaimana pas mempraktekkan yang benar itu belum juga bisa benar? Ini kadang yang pengajar bingung kan. Belajar dr asatidz yang membimbing kami, biasanya siasat pamungkasnya bisa dicontohkan seperti ini, "baik akhi/ukhti, karena bacaan Ain nya belum pas juga, silakan latihan di rumah ya. Pekan depan saya tagih lagi ya."

Yaa, begitulah pengajar tahsin. Lagaknya kayak preman gitu. Suka nagih, suka minta setoran, kalau salah dibetulkan, kalau betul minta dijaga, dititeni (diawasi) kalau pekan depan masih aja salah, kalau belum benar juga diminta latihan di rumah. Dan itu semua interaksi khusus dalam satu sesi bernama talaqqi fardhi.

Ikhwah fillah, jadikan talaqqi fardhi ini wujud kasih sayang kita kepada santri. Kita membetulkan mereka karena kita sayang sama mereka. Kita tidak ingin setiap salah mereka mewujud dosa. Maka, kita ajarkan dengan kasih sayang, kita jaga hubungan dan interaksi, kita persalahkan mereka karena tiap huruf yang mereka baca berhak utk mewujud jadi 10 kebaikan yang berlapis-lapis.

Karena wujud kasih sayang, maka sebaiknya lah qt niatkan hal ini sehingga memotivasi kita utk hadir Sebisa mungkin dalam tiap halaqah. Kalau saya bisa kenapa harus digantikan. Kita dai sob, dai yang dijanjikan Allah tuk dapat hadiah yg lebih keren drpd unta merah, sekaliber mercedes di zaman Nabi.

***

3) Injury Time Talaqqi Fardhi

Pernah kah antum denger pembicara nyampe in 50 slide, tapi lima menit sebelum selesai, baru 25 slide yang dibahas? Jeng jeng, pasti antum sebagai panitia keringetan dingin. Ini pembicara hobi banget nerocos tapi merem liat jam bicara nya sendiri 😅

Jangan khawatir. Antum nanti bisa jadi akan begitu ketika bahas tahsin di hadapan santri. 😆 maklum, anak milenial kekinian kadang terlalu bersemangat menambah jam dakwah nya. Belum lagi diskusi tahsin yang merembet kemana mana.

Dan yang sering jadi korban atas keasyikan ngobrol tahsin ini adalah Talaqqi fardhi alias TF. Padahal TF ujung tombaknya tahsin. Gimana tuh.

Alhamdulillah kini sdh ada metode belajar Quran yang mengakomodasi kealpaan tsb. Nama metode nya adalah Tilawati, metode kekinian hasil penelitian sekumpulan asatidz setelah mix metode2 klasik seperti qiroati, iqro, dan baghdadiyah. Kita tdk mengambil full sih tapi ada satu yg bs kita adopsi dr metode ini yaitu talaqqi bergantian (TB).

TB ini muncul bila waktu menunjukkan 15 menit lagi mau habis, padahal kita belum TF sementara santri kita bejibun belasan jumlahnya.

Begini praktek nya, santri bergantian membacakan ayat. Misal ayat 1 santri A, langsung geser: ayat 2 santri B. Dst. Lalu, bila mitsali. Mitsali 1 santri A,  mitsali 2 santri B, Dst. Nah, kelebihan nya praktek bacaan menjadi interaktif, semua santri terlibat. Tdk seperti talaqqi fardhi yang sangat privat. Waktu juga bisa disesuaikan sampai jam berapa, bisa langsung dihentikan. Tidak seperti talaqqi fardhi yang harus adil untuk memberikan porsi santri demi santrinya.

Namun kelemahannya: tentu tidak privat. Kesalahan 1 santri menjadi pelajaran jg buat santri lain. Selain itu, pencatatan buku mutabaah menjadi sangat minimal krn saking dinamisnya pergerakan talaqqi.

Nah begitu lah kalau kelewatan waktu, slalu ada solusi. Tapi Eits, jangan sering-sering begini ya😒

***

4) Grup Khusus Pengajar dan Santri FHQ

Setiap mentor/murobbi biasanya wajib membuat grup dengan masing-masing menti/mutarobbinya. Hal ini utk memudahkan dalam diskusi dan kesepakatan lainnya. Nah, bagi muwajjih/pengajar Qur'an, hal ini tak jauh beda, bahkan bisa jadi lebih intens pembahasan dalam grup, imbas dari wajibat tilawah fardhi santri setengah/satu juz per hari nya. 

Fungsi grup yang dibentuk oleh pengajar ini, yang pertama adalah mengakrabkan. 11-12 dgn grup mentoring lah ya😊 Namun yang lebih akan mendekatkan adalah ketika santri rutin tilawah fardhi nanti, mereka bisa jadi akan bertemu dengan ayat-ayat yang sukar dibaca. Zaman now biasanya, santri akan memfoto mushaf, atau mendengarkan murottal lalu bertanya, "kok baca-nya begini ya?" Disitulah kemudian muwajjih/pengajar perlu bermanuver untuk menjawab dengan sebaik yang ia bisa. 

Dalam skala diskusi di dalam halaqah maupun via grup , pertanyaan bisa ditangguhkan sampai sang muwajjih memperoleh jawaban yang memuaskan. Bila perlu, setiap diskusi santri dengan muwajjih bisa diforward ke grup para muwajjih sebagai pembelajaran bersama. 

Apalagi fungsi grup muwajjih dan santri nya ini? 

Hm... Belum pernah saya coba tapi bisa dijadikan sarana, mengingat teknologi terus berputar memudahkan segala hajat manusia. Bisa jadi talaqqi dilewatkan voice note, atau video call. Tapi jangan sering-sering ya. Karena hal ini bisa diremehkan menjadi anggapan setara antara talaqqi online dengan tatap muka. Tentu yang terakhir disebut lebih berhak untuk diprioritaskan. 

Namun, bila ketidakhadiran terpaksa dilakukan, mungkin kita bisa sepakati prosedur yang lebih cocok dan sesuai tujuan nya. Misalnya yg jadwal halaqah nya sabtu bisa lah sesekali pindah ke ahad bila suatu saat berhalangan (monggo panitia, apakah boleh yang begini?). Ssstt... Tapi jangan disebarkan ya, hanya kesepakatan antar pengajar saja. Agar panitia tdk terbebani dan tidak menjadi kebiasaan santri. 

Barulah bila tdk bisa hadir sabtu dan Ahad sore, bolehlah kirim video call ke muwajjih. Koreksi bisa dicatatkan di whatsapp/line untuk dijadikan bekal pembetulan di tiap tilawah fardhi santri tersebut. Video call diutamakan karena lebih memperhatikan wujud lisan dan syafatain ketimbang via voice note. 

Kira2 ada lagikah fungsi grup online antara muwajjih dengan santrinya ini?

***

5) Sekilas Ta'liful Qulub

Pernahkah antum ngobrol dengan seseorang, padahal baru kenal. Namun, walau bermula dari rasa curiga, eh kok 2-3 menit lamat-lamat kita merasa nyaman dan terbawa perasaan, entah terbawa sedih, senang, atau respek: lantaran pembicaraan dengan orang tersebut. Nah, kita perlu belajar dari situ.

Beberapa praktisi motivasi menyebut bahwa untuk menarik minat hati, kita perlu mencari persamaan. Maka, awal-awal obrolan sembari kenalan sangat berpengaruh (keyword: first impression). Hingga dipertemukanlah persamaan antara antum dengan teman ngobrol itu, misalnya asal daerah sama: "Oh, orang Jawa juga ya?", atau cara belajar Quran yang sama, "Oh dulu belajar Iqro juga ya?", atau apapun lah yang sama, "Oh, makhluk Allah juga ya?" -mekso.

Ungkapan seperti ini bisa juga mengakrabkan, "Saya juga pernah begitu lho". Nanti yang baru kenal itu akan bilang, "Ohyaa... Truz gimana?" Dan seterusnya, hingga pembicaraan makin lancar dan tak terasa terus terbawa perasaan.

Mengikat hati bertajuk ta'liful qulub merupakan ranah pentahapan. Antum yang semula gak mau belajar Quran, kok mau belajar Quran, itu tahapan fantastis di awal-awal. Berlanjut hingga bersedia dibebani amanah sekaliber muwajjih/pengajar Quran, itu tahapan superfantastis. Maka, mari kita flashback bagaimana kok dulu kita bisa tertarik belajar Quran di awal-awal? Dengan itulah kita bisa sentuh hati peserta tahsin kita agar mereka juga mampu untuk slalu dan slalu tertarik untuk belajar Qur'an.

Bicara ta'liful qulub tak bisa lepas dari bahasan ukhuwah Islamiyyah. Maka, pol-polannya adalah bagaimana si peserta tahsin ini kelak akan berjuang mengorbankan jiwa dan harta untuk dakwah Quran karena merasa ikatan hatinya telah paten dan akan terus menggelora. Yup, karena level tertinggi ukhuwah adalah itsar: "berkorban" jauh melebihi kemampuan.

Namun, tolong jangan bervisi setinggi itu, karena toh kita masih meraba-raba di tahap awal. Saat ini, kita lebih fokus ke: bagaimana peserta tahsin bisa rajin hadir setiap pekan plus rajin tilawah. Itu saja sudah sangat josss. Maka, rawatlah baik-baik interaksi dengan peserta. Bingkaikan senyum terbaik setiap di dalam halaqah. Buat hati mereka senyaman mungkin mengikuti halaqah. Buat mereka selalu rindu akan kehadiran di halaqah. Sampaikan motivasi-motivasi duniawi dan ukhrawi betapa kedekatan dengan Quran akan memiliki nilai-nilai positif yang suaaangat banyak sekali.

Semoga Allah selalu me-lurus-istiqomah-kan hati kita, sehingga mampu mengajak hati-hati lain untuk lurus dan mencintai Allah. Karena tak ada kata lelah untuk mencintai-Nya sebagaimana tak pernah berhenti nikmat-nikmat-Nya untuk kita.

***

Bersambung
komentar | | Baca...

Riyadhah dan Rehat Pasca-UTS

Penulis : Ruqun Stan on Kamis, 22 November 2018 | 21.35.00

Kamis, 22 November 2018

Pasca UTS, baik UTS kampus PKN STAN maupun UTS Tahsin, RQ STAN menyelenggarakan riyadhah (olahraga) sebagai sarana rehat santai sejenak dari penatnya aktivitas.

Yang ikhwan futsal dan badminton malam-malam, yang akhwat joging senam dan sarapan pagi-pagi banget .

Semoga bugar ya shalih shalihat ðŸ˜€
Bersiap menapaki kembali program tahsin tahfidz setiap malam sembari menyibukkan diri kuliah dan aktivitas mahasiswa lainnya :)







komentar | | Baca...

RQ STAN di Bulan Oktober 2018

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 31 Oktober 2018 | 23.44.00

Rabu, 31 Oktober 2018

Selain kegiatan rutin, yakni tahsin dan tahfidz sesuai dengan komitmen waktu masing-masing asrama Rumah Quran, ada beberapa agenda insidental yang dilaksanakan selama bulan Oktober 2018. Berikut reportase sekaligus foto-fotonya:

1. Ujian Tengah Semester Tahsin RQ STAN
Sebelum UTS Kampus STAN, RQ lebih dulu menyelenggarakan UTS Tahsin. Bertempat di aula lantai 2 Masjid An-Nur PJMI, agenda ini berlangsung khidmat pada malam hari, Jumat 19 Oktober 2018. Tema UTS kali ini sedikit berbeda karena ada rekues dari Masjid Baitul Maal untuk menyiapkan kader pengajar Quran lebih awal. Maka, UTS kali ini sekaligus menyaring sesiapa yang layak mengajar Qur'an.

InsyaAllah pasca-UTS Forum Halaqah Quran MBM akan segera dilaunching. Bismillaahi tawakkalnaa 'alallah. Manajemen RQ STAN sangat berharap FHQ ini diselenggarakan mengingat masih adanya peminat RQ dari kalangan mahasiswa/i PKN STAN. Namun, dikarenakan kuota yang berlebih, RQ harap FHQ menjadi solusi alternatif sarana belajar Qur'an secara reguler (pekanan).




2. Pembekalan Calon Pengajar Qur'an + Mabit Ahlul Qur'an
Sebulan lebih belum ada mabit lagi. Maka, charge iman di waktu mustajabnya doa ini diinisiasi tepat sepekan sebelum UTS kampus PKN STAN. Mabit menjadi acara inti, sedangkan kajian malamnya dialokasikan khusus sebagai sarana belajar para calon pengajar Qur'an. Terselenggara di ruang utama masjid An-Nur, tepat sehari setelag UTS Tahsin: Sabtu malam, 20 Oktober 2018.

Makharijul huruf menjadi materi utama yang dipilih mengingat tingkat urgensitasnya untuk diresapi. InsyaAllah sharing knowledge semacam ini akan dilakukan bertahap sembari dirilisnya FHQ MBM.

Semoga Allah memudahkan.





3. Tentir PPh dari RQ STAN
Survey dilakukan terkait kebutuhan tentir. Ternyata baru sedikit yang merespon. Para santri ini mungkin lebih nyaman belajar mandiri. Namun, tentir tetap dilangsungkan. Mempertimbangkan apa saja tentir umum di kampus, juga waktu pas untuk belajar, akhirnya Sabtu malam 27 Oktober 2018, agenda ini dilangsungkan juga di ruang utama Masjid Baitul Maal. Tentir kali ini diisi oleh pemateri salah seorang dosen PKN STAN.



Alhamdulillah
Allahummarhamnaa bil Qur’aan

Rumah Quran STAN
================
👥 Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
📷 IG : stanruqun_
komentar | | Baca...

Lika-Liku “Takhasus” di RQ STAN



"Mereka itu Kopasus - Korps Penghafal Khusus. Mahasiswa STAN tidak bisa kalau menjadi kopasus (santri takhasus), karena punya kesibukan kuliah dan aktivitas kampus. Mereka yang kopasus hanyalah yang full-day with Qur’an, 24 jam, bahkan kalau perlu diberi makan dan dicucikan pakaiannya"

Demikianlah pemahaman yang ditangkap manajemen RQ STAN ketika pertama kali dititipi Ustadz Fadlil Usman santri takhasus di tahun 2013-an. Saat itu, kami bahkan tidak terlalu fokus. Tiba-tiba saja, hadir dua ikhwan dan dua akhwat (kalau tidak salah) langsung tinggal di asrama RQ STAN. Yang akhwat seiring berjalannya waktu, salah satunya sukses 30 juz sehingga angkatan berikutnya langsung dinaikjabatankan sebagai musyrifah.

Ikhwan yang satu sukses pula hafal 30 juz, namun karena usia belum cukup, tidak langsung menjadi musyrif, melainkan mencari kuliah dulu dan Alhamdulillah diterima di LIPIA pada periode setelahnya. Ikhwan yang satunya lagi lulusan S2 Mesir, berhasil menyusul 30 juz, namun beliau memilih kembali ke kampung halaman untuk mendedikasikan diri di pesantren. Begitulah sekelumit santri takhasus yang pernah membersamai RQ STAN beberapa tahun berselang.

Konsep Takhasus di Masa Awal RQ STAN (2013) adalah Titipan dan Satu Atap

Santri takhasus RQ STAN pada awalnya bukan lahir dari inisiasi manajemen, melainkan titipan Rumah Quran Daarut Tarbiyyah yang boleh jadi kapasitasnya masih belum memungkinkan. Alhamdulillah dari hasil pembinaan musyrif/ah RQ STAN saat itu, santri takhasus berhasil diampu dengan baik. Namun, jangan dibayangkan mereka mengikuti RQ STAN dengan segala privilege-nya seperti di awal tadi (dimasakin, dicuciin pakaiannya). Mereka berjuang bersama dengan perlakukan hampir mirip dengan santriwan-santriwati mahasiswa STAN, hanya saja dibedakan dengan adanya bekal atau “sangu” dari RQ Depok.

Santri takhasus RQ STAN saat itu harus mewarnai, bukan malah diwarnai lingkungan, mengingat asrama yang jadi satu dengan santri reguler. Sementara santri regular hanya mampu menghafal 3-5 juz setahun. Santri takhasus dengan target 30 juz selama 2 tahun seharusnya menyadari bahwa daya juangnya harus lebih besar. Ia harus memiliki daya izzah yang lebih kuat, tidak mudah ikut-ikutan santri lain. Inilah tantangan bila santri takhasus dan santri regular masih disatuatapkan. 

Takhasus di 2016-2017 Baru Sekedar Harapan

Upaya membuat “RQ Takhasus” yang khusus satu rumah, mengemuka lagi ketika di 2016 RQ STAN membeli rumah atas suntikan dana dari donatur khusus. Manajemen merasa kebermanfaatan RQ ini harus lebih besar mengingat asset asrama yang digunakan adalah wakaf untuk umat. Berbekal semangat ini, kami pun meminta bala bantuan RQ Daarut Tarbiyah untuk membuka open recruitment santri takhasus khusus di RQ STAN. Namun, karena tak kunjung mendapat jawaban positif, maka qadarullah harapan tersebut belum dapat direalisasikan.

Upaya mewujudkan RQ Takhasus muncul kembali ketika ada tawaran dari masjid Al Ihsan Pondok Safari agar kamar-kamar di masjid tersebut ditinggali anak RQ. Tatkala santri calon-alumni RQ hendak dipindahkan ke sana, muncul rona kekurangsetujuan mengingat jarak yang relatif jauh. Tatkala kamar sudah siap dan santri belum ada, maka impian membentuk RQ Takhasus-pun kembali kandas. Bukan karena itu saja, terlebih juga karena musyrif RQ STAN yang terbatas dan penerimaan santri mahasiswa STAN yang di luar prediksi -saking banyaknya- menyita fokus musyrif/ah yang ada.

Takhasus di 2018 Berawal dari Brainstorming Lintas Yayasan

25 Oktober 2018 menjadi saksi upaya sinergi untuk membentuk RQ Takhasus. Yayasan Ta’awun mengajak duduk bersama, mensinergikan upaya, menyamakan sinyal menuju harapan yang sama. Ada dua konsep yang ditawarkan:
  1. RQ Ta’awun - asrama akhwat menggunakan rumah ustadz Sunali, Lc - salah satu dewan pembina yayasan Ta’awun.
  2. RQ Al-Ihsan - asrama ikhwan menggunakan kamar-kamar masjid Al Ihsan, atas inisiasi dan perkenan bendahara yayasan Ta’awun, Bpk Gunadi
Keduanya punya PR yang sama, yakni siapakah musyrif atau musyrifahnya? Maka, pencarian musyrif menjadi upaya kedua, setelah sinergi ini memutuskan siapakah mudhir untuk proyek ini. Mudhir proyek Alhamdulillah masih merupakan keluarga dekat alumni STAN.

Lalu, apa cawe-cawe RQ STAN dalam proyek ini? InsyaAllah kapasitas program akan didukung Rumah Quran STAN, yang saat ini masih menginduk Rumah Quran Daarut Tarbiyah.

Semoga Allah memudahkan dan menolong pengelolaan RQ Takhasus ini, bila memang Allah memberikan amanah berupa musyrif dan santri yang berkomitmen untuk menghafal 30 juz dalam waktu 1 atau 2 tahun.

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan

Rumah Quran STAN================
👥 Fb: Rumah Quran STAN
🌐 Web: rumahquranstan.com
📷 IG : stanruqun_
komentar | | Baca...

100+ Mushaf Qur'an untuk Palu/Donggala

Penulis : Ruqun Stan on Kamis, 11 Oktober 2018 | 00.06.00

Kamis, 11 Oktober 2018


Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun

Penderitaan yang dirasakan Saudara-saudari kita akibat bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Palu, Donggala, Sigi, dan Mamuju sungguh sangat berat. Selain meneruskan informasi penggalangan dana di LDK Masjid Baitul Maal - Kampus PKN STAN (lihat artikel), Rumah Quran STAN tetiba mendapatkan informasi adanya sebuah perusahaan yang sengaja menyewa Hercules untuk menyalurkan bantuan ke Palu pada 6/10/2018. Terlebih lagi, perusahaan tersebut bersedia menyalurkan mushaf Quran untuk disalurkan ke daerah rawan bencana.
komentar | | Baca...
 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |