Kabar Terbaru »
Bagikan kepada teman!

High Return High Risk (Tiga Amal Menjanjikan yang Ditolak Allah)

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 17 April 2018 | 16.39.00

Selasa, 17 April 2018


Suasana dauroh muwajjih Quran - 14/15 April 2018 di MBM PKN STAN


Kalau ilmu manajemen keuangan punya aksioma high risk high return (makin besar resiko suatu investasi, makin besar pengembalian atas investasi tersebut), maka logika hari kiamat justru punya aksioma sebaliknya: High return high risk. Begini kurang lebih renungannya: semakin besar potensi amal kita menjanjikan pahala besar, maka semakin besar resiko jatuhnya di sidang pengadilan Allah kelak.
Terbukti dalam hadits yang dicantumkan apa adanya di artikel ini. Bahwa ada 3 amal ibadah yang tak diragukan lagi pahala besarnya, yakni:
  1. berjihad,
  2. menuntut ilmu, mengajarkan, dan membaca Qur’an,
  3. bersedekah
Berikut adalah dalil sample dari high return yang dimaksud dari ketiga amalan di atas:
  1. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111).
  2. “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).
  3. “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia (HR Tirmidzi dan Thabrani).
  4. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)
  5. "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
  6. Betapa besar balasan-balasan Allah tersebut. Ada yang dijanjikan surga dan kemenangan yang besar (jihad), ada yang didoakan seluruh makhluk Allah (mengajarkan ilmu), ada yang tiap huruf yang dibaca berbalaskan kebaikan bertumpuk-tumpuk (membaca Quran), bahkan ada yang menjadi amal pendongkrak dimana orang yang menyesal mati pun sangat berharap bisa beramal dengannya (sedekah).
Lalu, apa risk (resiko) yang dapat mengubah nasib orang-orang yang mengamalkannya, yang semula diproyeksikan mendapat balasan-balasan kebaikan tersebut, ternyata justru jatuh terpuruk di kubangan neraka?
Na’udzubullah…
Tsumma na’udzubillah…
Berikut ini hadits lengkap atas resiko tersebut…

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: تَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ: أَيُّهَا الشَّيْخُ، حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: نَعَمْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
 " إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ "

"(Imam Muslim berkata) Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Habib Al-Haritsi, (Dia - Yahya bin Habib Al-Haritsi telah berkata) Telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Al-Haritsi, (Dia - Khalid bin Al-Haritsi berkata) telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, (Ibnu Juraij berkata) telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Yusuf, dari Sulaiman bin Yasaar, Dia (Sulaiman bin Yasaar) berkata, Ketika orang-orang telah meninggalkan Abu Hurairah, maka berkatalah Naatil bin Qais al Hizamy Asy-Syamiy (seorang penduduk palestine beliau adalah seorang tabiin), "Wahai Syaikh, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang Engkau telah dengar dari Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam, Ya (Aku akan ceritakan - Jawab Abu Hurairah), Aku telah mendengar Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam bersabda:
"Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari' (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.
Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.'" "
Hadits ini diriwayatkan oleh : Muslim, Kitabul Imarah bab Man Qaatala lir Riya' was Sum'ah Istahaqqannar VI/47 atau III/1513-1514 no. 1905; An-Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari', Sunan Nasa-i VI/23-24, Ahmad dalam Musnadnya II/322 dan Baihaqy IX/168. Derajat Hadits Shohih

Ternyata, penyebab dari semua itu adalah niat. Betapa buruknya amal yang dibarengi riya’ (ingin dilihat orang lain) dan sum’ah (ingin didengar orang lain), sekecil apapun dalam sanubari kita.
Semoga Allah menolong kita dalam memurnikan niat. Senantiasalah kita berdoa dengan lafazh kemurnian niat sebagaimana berikut:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, agar tidak menyekutukanMu, sedang aku mengetahuinya dan minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.”
(HR. Ahmad, dishahihkan al-Albani)

***

Sumber:
http://www.voa-islam.com/read/jihad/2012/02/03/17605/tidak-ada-amal-yang-bisa-menandingi-jihad/#sthash.mXEg1dRI.dpbs
https://rumaysho.com/12363-menuntut-ilmu-jalan-paling-cepat-menuju-surga.html
https://muslim.or.id/4703-keutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html
https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2015/09/02/38962/bersedekahlah-sebelum-mati-mayit-ingin-bersedekah-jika-bisa-hidup-kembali/#sthash.b6fUlA0M.dpbs
http://belajarhadits.com/index.php?option=com_content&view=article&id=27:hadits-tiga-golongan-yang-diancam-masuk-neraka-karena-riya
http://muqorrob.blogspot.co.id/2010/08/doa-untuk-menjaga-tauhid-dan-keikhlasan.html

Catatan:
Hadits 3 amal yang tidak diterima oleh Allah ini dibacakan sebagai renungan akhir saat Dauroh Muwajjih Quran – yang telah dilangsungkan pada 14-15 April 2018 lalu di Masjid Baitul Maal, Kampus PKN STAN.

komentar | | Baca...

Tilawah itu Tersenyum, Tilawah itu Bahagia

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 11 Maret 2018 | 23.28.00

Minggu, 11 Maret 2018


ditulis oleh: ibnuZ
salah satu manajemen RQ STAN



😊

Judul ini agak menggelitik. Mengapa tilawah Quran dipersepsikan sebagai tersenyum, yang kemudian disimpulkan membahagiakan? Namun, dari dauroh yg terakhir saya ikuti, begitulah sepenangkapan saya. Allahu A'lam. 

Ustadz Abu Ezra Laili al-Fadhli (pemilik sanad beberapa matn tajwid dr beberapa riwayat) mengajar kami di dauroh 3 hari yang diisi hanya makhraj dan shifat huruf. Materi yang secara normal diajarkan selama 5 pertemuan kali 30 menit di halaqah quran, dihabistuntaskan pada Jumat-Ahad, 16-18 Februari 2018 alias selama 3 kali 5 jam. Yang biasanya 150 menit, kali ini dikupas tuntas menjadi kira-kira 15 jam. MasyaAllah. 

Dalam kesempatan tersebut, salah satu materi yang mengena bagi saya adalah harakat. Para guru ngaji biasa mengajar harakat dimulai dari fathah-kasrah-dhummah. Ustadz Laili ternyata membalikkan urutan dan menegaskan bahwa inilah urutan yang benar: dhummah-kasrah-fathah. 

Dhummah paling mudah katanya, tinggal memonyongkan bibir. Secara bahasa artinya mengumpulkan, secara istilah mengumpulkan dua bibir ke depan seperti bunga. Habis Dhummah, kasrah. Kasrah secara bahasa artinya pecah, secara istilah memecah rahang ke bawah. Al ustadz mewanti-wanti bahwa membunyikan kasrah seperti mengawali huruf ya, sambil tersenyum (menarik sudut bibir). Nah, yang menarik adalah ketika diminta mencontohkan bunyi fathah. Mayoritas peserta salah membunyikan. Kata beliau, Fathah bukan sekedar bunyi aaa (membuka rahang lebar-lebar), melainkan dengan cara mengawali senyuman ala kasrah, lantas rahang bawah ditarik ke bawah. Ada aroma tipis yang disebut infitah, ada semacam dialek Arab yang terlontar. Ustadz selama 3 hari dauroh selalu dan selalu mengingatkan kami untuk tidak membaca fathah layaknya aaa orang Indonesia (dibuka lebar-lebar), tetapi agar menyesuaikan dialek Arab. 

Sejak dauroh itulah, saya merasa bahwa kasrah dan fathah ternyata bedanya tipis. Kasrah seperti awal huruf ya, sedangkan fathah posisi ujung kanan dan kiri bibirnya sama dengan kasrah, namun rahang bawah ditarik sedikit ke bawah. Persamaannya satu: tersenyum. 

Dalam kaidah Tajwid secara teknis, ada fathah yang seharusnya tidak tersenyum, yakni huruf-huruf tebal, meliputi: huruf isti'la yang memang bunyi fathah nya mirip ooo (kho, sho, dho, tho, zho, qo, gho), ditambah huruf ro, dan lam khusus di lafazh Allah. Semua huruf tersebut tebal sehingga menyulitkan kita untuk tersenyum ketika fathah. Selain itu hanya ada 4 huruf yang bila kasrah, dia akan sulit tersenyum, yaitu shod, dhod, tho, zho, atau biasa disebut huruf itbaq. 

Dalam dauroh tersebut, ustadz mengingatkan  perbedaan antara huruf itbaq (shod dhod tho zho) dengan huruf yang isti'la namun infitah (qof kho ghoin). Kedua tipe huruf tersebut sama-sama tebal. Namun, kasrahnya itbaq takkan bisa tersenyum (shi, dhi, thi, zhi), sedangkan kasrahnya huruf isti'la yang infitah: tetap bisa tersenyum (khi, qi, ghi). 

Apa hubungan sedikit cuplikan ilmu tajwid ini dengan judul di atas? Artinya, seharusnya dalam tilawah kita mayoritas huruf-huruf nya, kita baca sambil tersenyum. Karena yang tidak boleh tersenyum hanya sedikit saja. Yakni dhumah dan juga fathah+kasrah sebagaimana kondisional di atas. 

Bismillaahirrahmaanirrahiim saja, mayoritas tersenyum. Yang tidak bisa tersenyum hanya dua buah huruf RO saja. Dan masih banyak di mushaf kita, lafazh-lafazh yang justru akan sempurna bila diucapkan sambil tersenyum, baik fathah atau kasrah dengan pengecualian di atas. 

Jadi, sudahkah kita tersenyum hari ini? Bila belum, tilawah saja. 😁
Sudahkah kita bahagia hari ini? Kalau mau bahagia, tilawah saja.

Semoga Allah memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan ilmu tajwid secara sempurna dalam tilawah-tilawah kita. Yang membuahkan bahagia di dunia maupun di akhirat. 

Catatan tambahan: senyuman dalam tilawah boleh jadi perlu dibuat sedih untuk kondisi tertentu, contohnya saat membaca ayat-ayat adzab 😢

Wallahu a'lam bish shawab

***
RQ Granada, 3 Maret 2018 - di bawah rerintikan rahmat dari Allah

Dauroh makhraj dan shifat hurf ini diselenggarakan oleh Forum Halaqah Quran An-Nashr di masjid An-Nashr (depan kampus PKN STAN) pada 16-18 Februari 2018, bertepatan dengan libur mahasiswa/i PKN STAN, sehingga sayang sekali tidak ada perwakilan santri RQ STAN yang dapat mengikuti dauroh tersebut.
komentar | | Baca...

Al-Quran, Pembela atau Penuntut kita?

Penulis : Ruqun Stan on Kamis, 01 Maret 2018 | 09.37.00

Kamis, 01 Maret 2018

Ada satu sesi yang sangat mengena tatkala dauroh muwajjih Quran pada 15-17 Februari 2018 lalu. Satu sesi dimana ia menginternalisasi keseluruhan materi makhraj dan shifat huruf dalam dauroh 3 hari yang diselenggarakan FHQ An-Nashr tersebut. Sesi itu adalah doa penutup. Dalam sesi itu, ustadz Abu Ezra Laili al-Fadhli terdengar sesenggukan pada bagian doa, “waj’alhulanaa hujjatan”, yang diikuti rintihan tangis di bagian para akhwat peserta dauroh. Apakah gerangan makna kalimat tersebut?

Bila kita merenungi makna hujjah pada bagian akhir doa khatmil Qur’an, itu adalah bagian doa yang menjadi keseluruhan harapan kita terkait segala interaksi kita bersama Quran. Harapan akan pertanggungjawaban di akhirat yang mengevaluasi seberapa luruskah niat dan cara kita dalam berinteraksi dengan Al-Quran semasa hidup di dunia, yang mengevaluasi seberapa sesuaikah amalan kita di dunia terhadap pedoman hidup; Al-Quranulkariim?

Karena di yaumul mizan tersebut, kita akan dihadapkan pada situasi yang saaangat berat. Seluruh dosa ditampilkan. Kita ibarat duduk di kursi pesakitan dakwaan akhirat. Ada yang menuntut, ada pula yang membela. Nah, saat itu bagaimana posisi Al-Quran? Menjadi pembela atau penuntut kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no. 223)


Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Waj’alhu lanaa hujjatan yaa Rabbil ‘alaamiin,
Waj’alhu lanaa hujjatan yaa Rabbil ‘alaamiin,
Waj’alhu lanaa hujjatan yaa Rabbil ‘alaamiin,


Ya Allah jadikan Quran sebagai pembela kami, bukan penuntut dan musuh bagi kami…

Sumber hadits : https://rumaysho.com/3182-al-quran-menjadi-pembela-ataukah-musuhmu.html
komentar | | Baca...

Tahfidz Camp: Untaian Doa Pamungkas

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 12 Februari 2018 | 16.48.00

Senin, 12 Februari 2018



Inilah doa terakhir Tahfidz Camp, 30 Januari 2018; 
yang semoga menyentuh hati:

Atas berbagai nikmat Allah yang jumlahnya melebihi taubat kita atas dosa-dosa kita, mari kita istighfar sebanyak-banyaknya terlebih dahulu.

Nastaghfirullahal ‘adziim, Nastaghfirullahal ‘adziim, Nastaghfirullahal ‘adziim

***

Alhamdulillahirabbil aalamiin. Hamdasysyaakirin hamdannaa’imin hamdan yuwafi ni’amahu wa yukafi’u maziidah ya rabbanaa lakal hamdu kama yambaghili waj hikal kariimi wa adziimi sulthoonik. Allahummaa shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

Ya Allah yang Maha Karim. Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini berkumpul di masjid-Mu dalam rangka ketaatan kepada-Mu. Engkau yang Maha Baik, telah mengizinkan kami mengikuti rangkaian acara ini, maka jadikanlah kami baik, jadikan kami orang-orang sebagaimana Engkau janjikan dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, masukkan kami ke dalam golongan yg kelak akan mendapatkan naungan di hari akhir dimana tidak ada naungan selain naungan-Mu. Golongkanlah kami sebagai orang2 yang hatinya senantiasa terpaut dgn masjid-Mu ya Allah. Sedalam usia kami di dunia ini.

Ya Allah yang Maha Kasih sayang. Engkau pulalah  yang membawa kami, menggerakkan hati ini utk bermesraan dgn Al Quran sepanjang kegiatan ini. Berupa membaca tilawah dan menghafalkannya. Engkau telah izinkan kami terus baca, baca dan berulang-ulang, hingga kadang kami bingung. Kami bingung Ya Allah, kenapa tdk masuk masuk ya Allah? Kenapa? Apakah dikarenakan dosa-dosa kami yang mementahkan hafalan ini ya Allah? Maka dari itu, dari huruf-huruf yang terulang terus menerus di tengah kebingungan kami tdk hafal-hafal, limpahilah kami 10 kali kebaikan tiap huruf nya ya Allah, sebagaimana motivasi kami menghafal. Taburi kami dgn kebaikan-kebaikan tersebut, sehingga kelak kami dpt menghafalnya secara maksimal, pertemukanlah kami dengan metode menghafal yang mampu memutqinkan hafalan kami kelak, Dan kuatkanlah kami agar dpt melanjutkan interaksi kami bersama Quran selanjutnya, yakni: memahaminya, mempraktekannya, hingga mendakwahkannya.

Ya Allah, atas ayat ayat yang terulang-ulang dlm lisan kami, jadikanlah cinta-Mu membersamai kami dalam hari-hari kami selanjutnya. Bantulah kami agar kebiasaan-kebiasaan baik yg terlanjur kami lakukan selama kegiatan di masjid ini, qiyamul lail kami, shalat dhuha kami, bercengkerama kami dalam ukhuwah nan indah, agar Engkau mudahkan utk kami melakukannya pula di masa liburan nanti, di masa PKL, di masa kuliah, di mana pun Engkau akan tempatkan kami, ittaqullaha haitsu maa kunt. Izinkan kami Dimanapun bertakwa kepada-Mu.

Ya Allah yang Maha Bijaksana, sungguh kami telah mengorbankan waktu libur kami utk mengikuti agenda ini. Kami minta izin orangtua utk sejenak jauh dr mereka. Dalam kecintaan kami kpd Engkau, kecintaan kpd Quran. Maka dr itu, kami turut kirimkan doa utk ayah ibu kami ya Allah. Kami turut kirimkan doa terbaik utk mereka ya Allah, kasih sayangi lah mereka ya Allah, sbmna mereka tak henti hentinya mengasihi kami dr kecil hingga sekarang. Izinkan lah kami untuk bisa mempersembahkan mahkota kemuliaan kpd kedua ortu kami ya Allah...  Dengan kasih sayangmu memampukan kami dlm menghafal Quran. Menjadi keluargamu Ahlullah, Ahlul Quran, Ahlul khair... Di dunia dan di akhirat.

Ya Allah bariskanlah kami di barisan umat Islam yang penuh dengan mahkota permata kebermanfaatan dimana pun kami berada. Waktu 2 yg Engkau amanahkan utk kami, bantulah kami dlm memanfaatkan nya. Jadikan pula kami sebagai pembela agama Mu, yg tdk ragu berada di jalan kebenaran.

Allahumma aizzal islaama wal muslimun. Wan shur ikhwanana Fii filistiin, wa fii syam, wa fii suriah, wa fii mishr, wa fii rohingya, wa fii Indonesia, wa fii kulli makaan.

Allahummarhamnaa bil Qur'an, Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an
Allahummarhamnaa bil Qur'an, Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an
Allahummarhamnaa bil Qur'an, Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an

Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa adzaabannaar.
Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'ammaa yasifuun wa salaamun 'ala mursaliin.
Walhamdulillaahirabbil 'aalamiin
komentar | | Baca...

Tahfidz Camp: Shaolin Soccer, Mission Impossible, dan Dzikrul Maut

Alhamdulillah, Tahfidz Camp Rumah Quran STAN telah diadakan pada 27-30 Januari 2018 lalu, dengan skema lokasi dan jumlah santri sebagai berikut:
1. Ikhwan di Masjid Ar-Ridho Komplek Pajak, dengan jumlah peserta = 
2. Akhwat di Masjid An-Nur PJMI, dengan jumlah peserta = 

Tahfidz Camp memang unik. Ia ibarat mabit terprogram.
komentar | | Baca...

Apakah RQ STAN Sebuah Organisasi Bisnis?

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 13 Desember 2017 | 17.00.00

Rabu, 13 Desember 2017


Manajemen RQ STAN perlu mengulas pertanyaan ini walaupun belum ada sekalipun pihak ekternal yang mempertanyakannya. Adapun hati kecil kami, tetap saja ingin berusaha menjelaskan agar informasi ini dapat dipahami, baik oleh santri, donatur, partner kerjasama, bahkan teruntuk calon donatur yang masih menimbang-nimbang sebelum berdonasi di RQ STAN. Kejelasan memunculkan rasa tenang, tentram, dan menunjukkan bagaimana amanah ini harus kami pikul untuk kebaikan bersama.
komentar | | Baca...

Kilauan Manfaat dalam Keluangan Menunggu


Menunggu adalah hal yang acapkali kita temui, setiap hari. Menunggu inspirasi datang tatkala menulis, Menunggu kelas dimulai, menunggu suami menjemput, menunggu KRL datang, menunggu antrian swalayan, menunggu antrian dokter, menunggu janjian kawan, hingga menunggu-menunggu lain yang durasinya belum dapat dipastikan, dan ada keluangan yang dapat dioptimalkan.

Menunggu sejatinya bukan hal yang kita tunggu-tunggu. Bukan hal yang kita harapkan, bahkan seringkali kita bosan, ogah, tidak ridho, kalau ternyata kita harus menunggu. Bila sudah begitu, hati bisa nggrundel, kadang HP dibuka untuk isi waktu: baca-baca chat, browsing macam-macam, hingga main game.

Menunggu dalam sistematika harian ibarat kerikil yang mengisi bejana 24 jam. Bejana itu mulanya kita isi dengan kuliah, cari nafkah, dan tidur malam bervisualisasikan batu-batu besar. Lalu batu yang lebih kecil turut mengisi; meliputi sholat, ibadah, makan-minum, dan buang air. Kemudian kerikil-kerikil yang memenuhi sisa isi bejana yang di antaranya adalah “menunggu”. Sistematika seperti ini membuat kita sadar bahwa menunggu tetaplah mengisi waktu 24 jam kita, yang kelak akan kita pertanggung-jawabkan di hari akhir dengan pertanyaan, “dan waktumu… untuk apa kau habiskan?”

Menunggu adalah takdir –dari sudut pandang Ilahiyah-. Sewajarnya takdir itu pasti datang dari Allah, maka makhluk seharusnya ridho. Kalau tidak ridho, ia galau kepada siapa? Marah kepada siapa? Jengkel kepada siapa? Ujung-ujungnya ke Allah juga bukan? Karena toh, menunggu seringnya lepas dari rencana manusia. Namun, takdir Allah sudah terketik dalam lauhul mahfudz.

Dari beberapa sudut pandang pemikiran di atas, maka menunggu perlu penyikapan yang gentle. Jangan mudah marah, jengkel, yang berujung pada dosa lantaran menafikan takdir-Nya. Minimal hati tenang dan netral, tak terkontaminasi oleh situasi menunggu, baik sebentar ataukah lama. Normalnya hati kita menggelisah. Karena ada saja bisikan syetan yang menelisik pembuluh darah, seperti, “Apaan sih, kok begini saja lama sekali… Ah, ngabisin waktu aja… Ih, payah nih antriannya…”

Serangan syetan pertama wajar bila kita rasakan. Selanjutnya, apa upaya kita memberangus bisikan syetan itu? Yuk, telisik sisi manfaat yang berpotensi memberlimpahkan pahala!

1. Membaca Quran
Prioritas pertama dipilih karena kegiatan ini cukup memberi pengaruh agar hati menenang. Agenda ini tidak terlalu memberatkan fikiran, sehingga hati mudah ternetralisir. Ada dua pertimbangan mengapa kita perlu memprioritaskan “membaca Quran”:

a.    Satu huruf sepuluh kebaikan.
Secara kuantitas, jauh lebih berlimpah daripada kegiatan lain dengan durasi waktu yang setara. Dalilnya: Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

b.    Lebih prioritas daripada dzikir dan doa.
Dalilnya: Dari Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Allah yang maha suci dan maha tinggi berfirman : "Barang siapa yang disibukkan oleh Al Quran dari berdzikir kepada Ku dan meminta kepada Ku, maka aku akan memberikan kepadanya pemberian yang lebih utama yang pernah diberikan kepada orang orang yang meminta sesuatu kepada Allah ta’ala. Allah berfirman, “Dan keutamaan perkataan Allah (Al Quran) terhadap segala perkataan, adalah seperti keutamaan Allah melebihi seluruh makhluknya. (HR Tiirmidzi). Menyambung dari hadits tersebut, Syaikh (Ibn Utsaimin) –rahimahullah- ditanya: Manakah yang lebih utama, dzikir atau membaca al-Qur’an? Beliau menjawab: Perbandingan keutamaan antara dzikir dengan al-Quran: Al-Qur’an secara mutlak (secara umum) lebih utama dari dzikir. Tapi dzikir ketika ada penyebab-penyebabnya lebih utama dibandingkan membaca (al-Quran). Contohnya: dzikir (yang sesuai sunnah) setelah selesai sholat, lebih utama di waktunya dibandingkan membaca al-Quran. Demikian juga menjawab seruan muadzin lebih utama pada waktunya dibandingkan membaca al-Quran. Demikian (seterusnya). Adapun jika pada dzikir itu tidak ada penyebabnya, maka membaca al-Quran adalah lebih utama (Majmu’ Fataawa wa Rosaail Ibn Utsamin (14/242)).

Hal-hal terkait membaca Quran tatkala menunggu:
  • Pakai smartphone lebih mengurangi rasa minder kita. Bila tidak minder, pakai mushaf kertas tidak mengapa.
  • Perhatikan suara agar tidak mengganggu sesama. Suara pelan atau sekadar komat-kamit cukup menenangi jiwa dan sekitar, apalagi di ruang publik.
  • Bila menunggu tiba-tiba selesai, kita perlu memperhatikan waqof agar tidak memotong arti. Lebih nyaman bila kita punya target-target kecil sampai ayat sekian kemudian dicukupkan, lalu dilanjutkan dengan dzikir mutlak.

2.    Memurajaah/Mengulang-ulang Hafalan
Level ke-2 ini butuh ketenangan yang lebih memang, sehingga bisa fokus melafalkan hafalan yang disambi dengan menunggu. Boleh juga sambil intip-intip mushaf berwujud smartphone. Jangan ragu bila hafalan macet sehingga berkali-kali diulangi. Doa kita, semoga Allah menghitung pengulangan huruf kita sebagai 10 kebaikan dikali jumlah huruf yang dilipatgandakan. Stay-murajaah!

3.    Berdzikir Mutlak
Lawan kata muqayyad (tertentu dan terikat) adalah mutlaq (boleh kapan dan dimana saja, kecuali tempat bernajis). Dzikir ini sangat ringan diucapkan, namun sangat berat timbangan kebaikannya dan sesuatu yang amat dicintai oleh Allah. Dzikir ini meliputi bacaan tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan istighfar, dan zikir-zikir lain  yang dianjurkan dilafadzkan dalam setiap waktu dan kesempatan.

4.    Membaca Channel atau Menonton Video Ustadz yang Membawa Manfaat
Nah, bagi yang kuota (internet)-nya berlimpah dan masih belum nyaman dengan 3 pilihan di atas, teknologi telah menyediakan aplikasi yang dilengkapi channel para asatidz tentang kajian Islam. Dengan Telegram misalnya, kita bisa memperoleh kajian tertulis dari ustadz-ustadz yang kita subscribe. Atau banyak sekali website yang berisi tulisan-tulisan mengenai ilmu syariah. Atau bila smartphone kita dilengkapi headset, bisa pula kita menonton channel youtube tentang kajian Islam. Untuk merasakan pentingnya aktivitas ini, mari kita setrum pemahaman kita dengan hadits ini: “Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim). Hm... Banyak sekali jalan kebaikan bukan? Alhamdulillah.

Demikianlah strategi-strategi untuk memanfaatkan aktivitas kerikil bejana 24 jam berupa menunggu. Agar jangan sampai menunggu kita diisi dengan omelan hati, atau aktivitas lain yang nir-manfaat. Alangkah besar keutamaan manusia yang selalu mengejar kebaikan walau dalam tiap detik masa tunggunya.

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)

Sejatinya, menunggu yang diluangkan untuk kebermanfaatan butuh pembiasaan. Sekali-dua kali tak menyadari kesia-siaan waktu tunggu, perlulah kita berdoa agar Allah sensitifkan hati. Agar Allah membukakan hati. Agar kita bisa konsisten memanfaatkan waktu yang sedikit tersebut untuk hal-hal yang kaya bermanfaat. Karena tanya Allah sudah pasti tatkala kiamat kelak, “Dan waktumu... Untuk apa kau habiskan?” (potongan HR Tirmidzi 2340)

Sumber-sumber:
1.    http://ilwansupriyadi.blogspot.co.id/2014/01/zikir-mutlaq.html
2.    https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html
3.    http://salafy.or.id/blog/2015/09/22/dzikir-atau-bacaan-al-quran-yang-lebih-utama/
4.    https://muslimah.or.id/7545-keutamaan-menuntut-ilmu.html
5.    https://rumaysho.com/2322-meninggalkan-hal-yang-tidak-bermanfaat.html
6.    https://blogosd.wordpress.com/2012/02/01/engkau-habiskan-dengan-apa-masa-mudamu/

Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'aan
komentar | | Baca...

RQ HM NAIMIN – Asrama Takhasus Pertama di Kampus STAN

Penulis : Ruqun Stan on Jumat, 08 Desember 2017 | 19.20.00

Jumat, 08 Desember 2017


Walau baru rencana, permintaan RQ STAN dianggap serius oleh RQ Daarut Tarbiyah beberapa pekan yang lalu. Pada 7 Desember 2017, informasi itu datang. “Kami mau mulai perekrutan untuk santri beasiswa STAN”, ujar salah seorang penggerak RQ Pusat. Alhamdulillah. Sebentar lagi, RQ STAN akan memiliki asrama takhasus pertama, yang didiami oleh non-mahasiswa STAN, dengan kurikulum yang sangat berbeda. Insya-Allah.

RQ HM NAIMIN – Sebuah Rumah yang Kelak Dimiliki
Sejarah RQ HM NAIMIN dimulai tahun 2016. Berawal dari sarana belajar Quran yang makin menjamur di Bintaro, Ustadz Hasan selaku musyrif RQ STAN turut mengajar di FHQ An-Nashr –salah satu LTQ di Bintaro yang memfasilitasi warga sekitar untuk belajar Quran di akhir pekan (Sabtu/Ahad). Ustadz Hasan mengajar tahfidz, salah satu santrinya adalah seorang guru Islam di sekolah Al-Azhar. Inilah efek positif bila kita suka bercerita hal yang berpotensi menginspirasi orang lain. Usut-punya-usut, santri ustadz itu sedang mencari rumah yang bisa diwakafkan untuk rumah tahfidz. Bagai gayung bersambut, ustadz Hasan pun tanpa ragu membantu mencarikan rumah, supaya kelak rumah tersebut dapat dimanfaatkan untuk rumah tahfidz-nya RQ STAN.

Bersama manajemen, Bapak yang suka berkelakar itu sempat mensurvey tanah yang potensial untuk RQ. Hingga akhirnya pilihan jatuh ke rumah yang terletak di gang depan Harmoni supermarket, Ceger. Proses pembayaran pun diolah. Sebagaimana kesepakatan awal, rumah nantinya akan dinamai keluarga besar dari ayahanda istrinya si Bapak, yakni H Muhammad Naimin. Maka, dinamakanlah RQ HM NAIMIN. Adapun dari sisi penanaman modal: RQ STAN kebagian menutup kekurangan harga beli rumah, dengan 250 juta dana segar diberikan oleh pewakaf H. Muhammad Naimin.

Alhamdulillah, awal 2017 RQ STAN telah mengedarkan proposal khusus wakaf sehingga total sampai dengan tulisan ini ditulis, status pendanaan wakaf RQ HM NAIMIN menjadi:
  • HM NAIMIN: Rp 250.000.000
  • Operasional RQ STAN: Rp 20.000.000
  • Hasil edaran proposal wakaf: Rp 50.621.093 
  • Masih dicari siapa pewakafnya: Rp 34.378.907

Adapun untuk status kepemilikian, saat ini rumah baru sekedar AJB (akta jual beli) dengan atas nama pewakaf dominan. Ada wacana, RQ STAN bila sudah legal-formal nanti akan membalik-nama AJB sekaligus meng-SHM-kan rumah. Alhamdulillah dukungan pemilik rumah sebelumnya cukup kooperatif.

Mengapa RQ HM NAIMIN yang dipilih?
Membuka kesempatan bagi RQ HM NAIMIN untuk dikelola RQ STAN merupakan sebuah amanah berat sekaligus belum terpikirkan saat dilakukannya transaksi. Waktu peralihan kurikulum PKN STAN dari 2016-2017 menuju 2017-2018, manajemen RQ STAN hanya berpikir bagaimana agar RQ HM NAIMIN bisa bermanfaat, walaupun belum besar kebermanfaatannya. Nyatanya, dari September 2017 hingga kini, ia masih hanya sebagai asrama RQ bayangan. Tugasnya: menampung alumni RQ STAN yang lulus dari PKN STAN sebelum penempatan kerja. Tentu mereka dibebani tugas juga untuk tetap menjaga tilawah dan setoran hafalan Quran.

Dengan status bukan rumah sewa atau bukan rumah titipan (yang masih kepemilikan si empunya), melainkan rumah WAKAF, manajemen RQ STAN memiliki tuntutan moral untuk melejitkan kebermanfaatan RQ HM NAIMIN. Ada puluhan pewakaf yang duduk di belakang manajemen, menunggu hasil pemanfaatan tanah wakaf. Ada hari yang tiada hari selain naungan-Nya, dimana hari itu bisa saja menjadi pertanggungan jawab atas keloyalan atau bahkan ketidakloyalan amanah ini. Ada pahala yang disiapkan Allah, ada juga ancaman bila kita tak mampu mengembannya.

Maka, sudah barang tentu. RQ HM NAIMIN harus menjadi pabriknya penghafal Quran tulen di Bintaro. Bukan sekedar RQ kampus yang kurikulumnya terombang-ambing oleh kurikulum kampus. Yang santrinya dibatasi hanya 1 atau 3 tahun untuk menghafal Quran –sembari nyambi kuliah di kampus. Karena tiap yang dikemas dalam balutan sarana pembelajaran Quran, insyaAllah memiliki potensinya masing-masing.

Untuk itulah kami memilih: RQ HM NAIMIN.

Program RQ Takhasus
Programnya sederhana: satu tahun hafal 30 juz, tidak ada aktivitas lain selain menghafal. Masa pengabdian pasca-hafizh, satu tahun menjadi musyrif/guru Al-Quran.

Sederhana tapi sangat potensial karena pengelolaannya akan dilakukan profesional oleh RQ Daarut Tarbiyah. RQ STAN akan membantu mempromosikan, mengelola rumah, memantau progres, dan ikut menuai hasilnya.

Mohon doa agar RQ STAN dapat mengelola RQ takhasus dengan baik.

... yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
QS. Al-Fath (kemenangan) ayat 29

Allahummarhamnaa bil Qur’aan
Allahummaj’alnaa min ahlul Qur’aan
komentar | | Baca...
 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |