Kabar Terbaru »
Bagikan kepada teman!

Dauroh Muwajjih Quran - Training of Tahsin Trainer 2018

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 15 Mei 2018 | 13.51.00

Selasa, 15 Mei 2018


Alhamdulillah, setelah akhir Januari 2018 lalu menyelenggarakan tahfidz camp (4 hari 3 malam menghafal 1 juz), Rumah Quran STAN kembali mengagendakan sekaligus memberikan kesempatan tidak hanya santri-santrinya, melainkan juga mahasiswa/i lain yang berpotensi menjadi muwajjih/pengajar Qur'an, melalui sebuah dauroh muwajjih bertajuk ToTT (Training of Tahsin Trainer) 2018.

Penyelenggaraan ToTT ini baru pertama kalinya, mengambil inspirasi dari dauroh serupa yang pernah diselenggarakan Forum Halaqah Quran An-Nashr pada 2012 (waktu itu berlangsung selama 2 hari di masjid yang sama, yakni Baitul Maal), sekaligus yang terbaru 2018 Februari lalu di masjid An-Nashr.

Terhimpun sekitar 23 peserta ikhwan dan 32 peserta akhwat non-Rumah Quran STAN, sedangkan santri RQ sendiri sekitar 60 peserta (25 ikhwan, 35 akhwat), sehingga total peserta mencapai lebih dari 100 orang. Uniknya, dari seratusan peserta ini, ada satu peserta ikhwan berasal dari kampus kedinasan tetangga, STMKG. Masya-Allah.

Kegiatan training/dauroh ini dilaksanakan mulai Sabtu pagi, 14 April 2018 pkl 07.00, dengan skema marathon dimulai dari materi adab mengajar Quran, metodologi pengajaran, isi materi/tajwid dan sebagian gharib (jeda istirahat pkl 17.00-18.00), dilanjutkan evaluasi materi pkl 21.30, kemudian tak lupa mabit dan penguatan ruhani berupa qiyamul lail, bahkan masih ada sesi tambahan: Micro Tahsin yakni simulasi/praktek mengajar pada pkl 05.30 s.d. 07.00 esok harinya.

Walau mungkin melelahkan, panitia berharap dengan wajibat 2 juz selama dauroh ditambah nutrisi qiyamul lail, Allah menurunkan ketenangan, kasih sayang, termasuk kemudahan-kemudahan urusan, apalagi sepekan ke depan mayoritas mahasiswa PKN STAN akan menjalani ujian (UTS).


Berikut adalah TESTIMONI peserta Dauroh Muwajjih:

Dauroh Al - Qur'an ini merupakan kegiatan yang sangat menarik dan bermanfaat, karena kita sebagai umat muslim tidak hanya dianjurkan untuk belajar Al - Qur'an tetapi juga dianjurkan untuk mengajarkannya. Semoga di waktu yang akan datang dapat diadakan program seperti ini lagi.
-Siti Nur Khalimatussa'diyah-

Dauroh yang diadakan rumah quran selalu menyenangkan dan membuat diri termotivasi untuk terus belajar menjadi Ahlul Quran
-Muhammad Arya Erlangga-

Program yang bagus banget. Dengan adanya training of tahsin trainer ini, kita merasa terbimbing untuk jadi the next tahsin trainer. Semoga apa yang diajarkan bisa dapat kami amalkan nantinya. Semangat terus buat guru-guru tahsin, semoga Allah membalas kebaikan kalian
-Raihanah Putri Nasution-

Sangat menyenangkan sekali, bisa berkumpul dengan para pengajar Quran,seketika semangat dan motivasi saya bertambah berkali2 lipat. Selain itu, dengan mengikuti dauroh ini saya mendapat banyak ilmu2 baru
-Supriyanto-

Alhamdulillah dengan mengikuti Acara TOTT saya dapat mengetahui kekurangan saya dalam tahsin serta dapat mengetahui metode mengajar yang baik dan benar, sehingga bisa menjadi bekal untuk kehidupan selanjutnya agar lebih dapat bermanfaat dengan menebarkan ilmu
-Imroatun Lathifah Isnaeni-

Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk bergabung dalam kegiatan Training of Tahsin Trainer ini karena melalui kegiatan ini, saya bisa belajar bagaimana membaca al quran dengan tartil, mulai dari makhrajnya, sifatnya, dan tajwidnya. Saya sebelumnya merasa kesusahan dalam makharijul huruf. Saya termotivasi dengan perkataan Nabi SAW dalam haditsnya, "Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al Quran dak mengajarkannya". Maka dari itu, saya berharap semoga saya bisa mengamalkan ilmu yang telah diberikan ini sehingga semua bisa membaca al quran. Karena banyaknya pahala membaca Al Quran yang satu hurufnya dihitung 10 kebaikan. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Bismillahirrohmanirrohim, SEMANGAT MENEBAR KEBAIKAN..
-Dewi Nur Cahyani-

Saya merasa bersyukur dapat mengikuti acara ini, dapat membekali diri dengan ilmu tentang  tajwid dan Al-Qur'an, berkenalan dengan ukhti-ukhti yang baru, dan juga menjalani rangkain kegiatan yang mendorong untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT, sehingga tumbuh rasa kesadaran yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pembicara nya menyenangkan, kaka panitia juga perhatian dan penuh rasa peduli.
-Anugrah Nurhasanah-

Jazaakumullah khairan katsiran saya ucapkan kepada Rumah Quran STAN. Semoga dauroh seperti ini kedepannya bisa diadakan secara rutin dan berkala serta dengan durasi waktu dauroh yang lebih lama lagi, karena setelah belajar tahsin ini, saya merasa belum cukup dan pengen nambah terus alias bikin nagih.
-Qurrata A'yun-

Mengikuti kegiatan ini membuat saya menjadi lebih sadar bahwa bacaan Alquran yg selama ini saya anggap sudah lumayan bagus, ternyata masih banyak memiliki kekurangan. Di samping itu, saya menjadi lebih tahu mengenai cara2/metode2 dalam mengajarkan Alquran
-Rahma Alfiana-

Training of Tahsin ini sangat bagus, kita diajari cara baca alquran yang benar, diajarkan materi cara menjadi pengajar alquran yang baik, metode dan praktek langsung. kemudian, target bacaan selama kegiatan semakin mmbuat saya deket ke Alquran. tiap waktu kosong saya manfaatkan untuk mmbaca alquran tidak seperti biasanya yang terkadang sibuk dengan urusan duniawi.
-Dita Puji Apsari-

Alhamdulillahi Rabbil 'alamin. Terimakasih kepada RQ STAN yang telah melaksanakan Dauroh Muwajjih Qur'an bertajuk Qur'an Camp 2018 ini. Terimakasih telah memperbolehkan saya bergabung sebagai peserta dari luar STAN. Saya sangat senang, enjoy dengan kegiatan kemarin. Sangat banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya peroleh untuk lebih dekat dan lebih bersemangat membersamai Al Qur'an. Semoga dapat diadakan kembali acara2 semacam ini ya. Semoga terus Allah alirkan kebaikan kepada penyelenggara, panitia, maupun peserta kegiatan. Jazakumullahu khairan katsiraa.
-Indah Fajerianti-

Saya sudah pernah belajar Tahsin 2 Tahun di FHQ MBM dan 3 Bulan di RQ, Namun sering kali materi ilmu tahsin terbang lagi dari kepala. Alhamdulillah dengan dauroh ini, saya bisa merefresh kembali materi-materi tahsin yang sudah beterbangan. Ditambah lagi, materi micro tahsin yang sangat bermanfaat sebagai bekal jikalau suatu saat diminta untuk mulai mengajar tahsin
-Rahmad Gate Tantomi-

Menjadi Peserta Training of Tahsin Trainer merupakan salah satu prestasi di dalam hidup saya. Dapat mempelajari ilmu mengajar Kalam Allah merupakan ilmu yang tidak hanya bermanfaat di dunia namun insyaAllah akhirat kelak akan bermanfaat pula
-Andi Faishal Fadhlullah Faalih Fakhruddin-


Foto-foto Kegiatan:

Kajian adab belajar dan mengajar Quran, diambil dari kitab Imam Nawawi berjudul At Tibyan Adabil fii Hamalatil Qur'an dengan pengisi Ustadz Fatchul Umam yang begitu tegas dan sangat berisi, termasuk saat sesi diskusi. Dalam kajian ini, materi yang cukup menghabiskan waktu adalah subbab IKHLAS. Bagaimana agar pengajar Quran memiliki the POWER of IKHLAS sehingga tidak mengharapkan balasan duniawi ketika menjadi pengajar nantinya.
Sama dengan konsep Tahfidz Camp. Untuk mendukung konstentrasi dauroh, para peserta menitipkan smartphone ke panitia


Sarapan, makan siang, hingga makan malam Alhamdulillah ditanggung Rumah Quran STAN



 Setelah belajar tentang metodologi belajar dalam halaqah Quran (terutama menyusun perencanaan step-by-step urutan mengajar), santri langsung disajikan dengan materi marathon TAJWID dari awal hingga akhir. Siang sampai malam.



Santri diberi wajibat 2 juz tilawah selama dauroh. Alhamdulillah, setiap ada jeda waktu, mereka slalu asyik masyuk bersama Qur'an. Sepertinya system wajibat seperti ini cocok dipraktekkan di dauroh/mabit/kajian apa saja di masjid kampus, agar peserta termotivasi untuk slalu memanfaatkan waktu walau hanya jeda dari selesai sholat ke kajian berikutnya.



Sebelum diakhiri, pkl 21.30 diselenggarakan ujian evaluasi peserta berisi materi TAJWID. Terlihat mereka sedang belajar sebelum ujian dilaksanakan. Pukul 23.00 para santri menyelesaikan ujian dan beristirahat. Tak lupa agenda Qiyamul Lail pada pkl 03.00.


Senangnya bila ada kiriman kopi dan teh dari donatur secara dadakan.


Pagi hari pkl 05.00 s.d. 07.20, dilaksanakan agenda simulasi mengajar bertajuk MICRO TAHSIN. Santri membentuk kelompok maksimal beranggotakan 4 orang agar kebagian untuk praktek mengajar. Praktek meliputi talaqqi jama'i, talaqqi mitsali, talaqqi fardhi, dan penyampaian materi TAJWID.

Setelah diakhiri dengan doa bersama, santri bersalaman satu sama lain. Semoga Allah memudahkan kita untuk mempraktekkan ilmu mengajar, baik dalam waktu dekat (di halaqah dan TPA sekitar kampus), maupun jangka panjang (di keluarga nantinya, atau saat penempatan kerja kelak) 


komentar | | Baca...

Tahfidz Camp dan Ramadhan 2018

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 14 Mei 2018 | 13.44.00

Senin, 14 Mei 2018


Dua hal ini awalnya sulit disatukan.
Yang disebut pertama: TAHFIDZ CAMP merupakan agenda menghafal 1 juz dalam 4 hari 3 malam yang telah diselenggarakan oleh Rumah Quran STAN akhir Januari 2018 silam. Namun, laporan kegiatan tertunda lama hingga tulisan ini dipublikasikan.
Yang disebut kedua: RAMADHAN tak lepas dari serangkaian kencangnya degub jantung menjelang pertama kali hadirnya, menyesapi kontemplasi: "Akankah Allah izinkah diri kita memasuki bulan penuh ampunan kali ini? Akankah kita memperoleh ampunan di bulan Quran kali ini?"

Dua hal tersebut sangat mirip bila dilihat dari sudut pandang OPTIMALISASI IBADAH. Coba kita bandingkan, sembari merangkai memori Januari lalu untuk memotivasi santri RQ dalam rangka memandang prospek indah Ramadhan…

·       Bila Tahfidz Camp berlangsung cuma 4 hari 3 malam, sadarkah kta bahwa Allah pun tetap menganggap Ramadhan itu sedikit sebagaimana firman-Nya di Al-Baqarah 184, “Ayyamaamm ma’duudaat”, bermakna "dalam beberapa hari tertentu". Ya, tidak banyak. Umur kita di dunia saja dibilang sedikit apalagi Ramadhan. Maka, sadarkah kita untuk serius mengoptimalkan Ramadhan tahun ini?

·       Bila Tahfidz Camp dilengkapi target menghafal 1 juz, sudahkah Ramadhan kita tekadi dengan target tilawah sekian juz, memurajaah sekian juz, dan menghafal sekian juz?

·       Bila Tahfidz Camp terlaksana atas dasar kekhawatiran “mission impossible” dan optimisme “impossible is nothing”, sudahkah Ramadhan kita patok target ibadah yang mendekati makna impossible tersebut? Sehingga kita akan selalu dan selalu bermujahadah untuk merealisasikannya, sementara kita gantungkan hasilnya kepada Allah?

·       Bila Tahfidz Camp ingin memastikan pesertanya untuk mementingkan detik-demi-detik waktu yang dimiliki untuk dimanfaatkan secara optimal, sudahkah kita bersiap untuk memanfaatkan detik-demi-detik Ramadhan kita agar tak terbuang sia-sia?

·       Bila Tahfidz Camp, seluruh smartphone dikumpulkan demi menjauhkan dari kesia-siaan, sudahkah kita menjauhkan Ramadhan dari para pencuri waktu sekelas medsos, TV, chating berlebih, game, film korea, berita gosip, channel yutub, dan lain sebagainya.

·       Bila Tahfidz Camp ingin kita jadikan sarana peraup kebaikan dan pemberat amal baik, seberapa kuatkah tekad kita untuk menjadikan Ramadhan sebagai sebaik-baik peraup kebaikan dan seberat-berat pemberat amal baik? Terutama lagi, sudahkah kita menyetel semangat tinggi untuk meraih bonus lailatul qadr yang lebih baik daripada ibadah selama 80-sekian tahun?

·       Bila Tahfidz Camp kita melulu tinggal di masjid, maka seberapa kerasannya kita berlama-lama di masjid bersama Qur’an saat Ramadhan ini?

·       Bila Tahfidz Camp mengubah mind set kita untuk sadar bermesraan dengan Qur’an, seberapa siap mind set kita menyadari agar tak pernah lepas dari Qur’an di bulan Ramadhan?

·       Bila Tahfidz Camp memproduksi sekian liter air mata kita bersama Qur’an-paling tidak saat sesi renungan di akhir program, seberapa literkah air mata taubat kita siapkan untuk Ramadhan ini?

·       Bila Tahfidz Camp kita rajin qiyamul lail, seberapa rajinkah Qiyamul Lail di Ramadhan ini?

·       Bila Tahfidz Camp telah dilalui dengan sukses, seberapa yakinkah bahwa Ramadhan ini akan sukses, jauh lebih baik daripada Ramadhan-Ramadhan yang lalu?

Daftar pertanyaan retoris sebagai pembanding masih banyak. Menjadi kontemplasi bagi santri RQ dan juga kita bersama. Semoga Allah ridhai ikhtiar kita untuk memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Terlampir foto-foto Tahfidz Camp yang telah lalu…
Opening dan tausiyah sebelum dimulainya TAHFIDZ CAMP diselenggarakan di MBM, pada pukul 09.30-11.30, namun kegiatan sudah dimulai pada pagi hari diawali dengan sarapan pagi. Jeda waktu yang panjang diisi dengan bermesraan dengan Al-Quran.

Santri RQ dan segelintir mahasiswa non-RQ antusias mengikuti kajian pembukaan TAHFIDZ CAMP. Sama dengan kegiatan tahun lalu (Januari 2017), tahun 2018 ini Tahfidz Camp diselenggarakan tepat setelah Ujian Akhir Semester 1 dan sebelum libur semester. Masjid Kampus pun sepi dari kegiatan lainnya.

Masjid At-Ridho yang berjarak kurang lebih 2 km ditempuh sejak dhuhur, dengan skema transportasi bolak-balik jemput naik motor. Masya-Allah, perjuangannya. Disinilah mereka kemudian berakktivitas dalam menghafal. Ada yang berkumpul untuk saling menularkan semangat, ada yang mencari ketenangan dengan menyendiri, ada yang minta dites hafalannya. Semuanya larut dalam kesibukan bersama Qur'an.

Oh iya, untuk lokasi TAHFIDZ CAMP akhwat, relative lebih dekat. Yakni lantai 2 Masjid An-Nur PJMI.

Pagi di hari Ahad, antrian panjang mengular menuju setoran hafalan. Maklum, semangat menghafal akan berlipat meningkat dan lebih cepat tatkala pagi hari. Kendala nya pagi itu, musyrif yang bisa stand by baru 1, sehingga macet parah pun terjadi.

Ketika musyrif sudah hadir lebih banyak, maka antrian bisa berkurang drastis. Apalagi kalau sudah malam seperti ini, banyak yang berhutang setoran untuk pagi harinya. Yang penting selalu dan slalu bersama Al-Quran.

Sharing session salah seorang peserta yang MAMPU SETORAN 2 JUZ selama 3 hari. Beliau membagi metode yang digunakan. Luar biasa cepat dan fenomenal pencapaian santri berbaju biru muda ini.
Salah seorang peserta lain mempraktekkan metode sukses menghafal. Yakni dengan cara menengokkan mata ke kiri atas. Dari hasil penelitian, hafalan menjadi lebih cepat terjaga. Sumber: buku Langkah Mudah Menghafal Al-Quran karya Majdi Ubaid Al-Hafizh

Panitia memprovokasi peserta untuk berpuasa di hari Senin. Selain hemat makan siang, panitia ingin memberikan sentuhan ruhani lebih kuat seraya membersamai Al-Quran. Alhamdulillah 90% peserta ikhwan puasa, sisanya ada yang terkendala kurang fit.

Ini adalah bagian dari ikhtiar menghafal Qur'an. Senyaman mungkin walau harus dibalik korden. Alhamdulillah saat itu, di balik korden sedang tidak ada akhwat.

Atau mencari atmosfer yang nyaman, mojok, diselingi sholat, pokoknya berubah-ubah posisi. Masya-Allah semangat yang luar biasa bagi para peserta.

Ini salah satu trik juga dalam menghafal Quran. Mencoret-coret mushaf dengan stabilo, istilah nya metode VISUAL. 
Masih dengan kesibukan beraneka ragam (berkumpul, curhat, minta cek hafalan, menghafal, setoran), lagi-lagi bersama Al-Quran.


Karena terjadi ketidakstabilan proses penghafalan, maka pada malam terakhir digelarlah sharing khusus dari ustadz Abdul Ghoffar yang memiliki pengalaman menangani hafalan santri beliau di wilayah Jawa Barat.



Kegiatan penutupan digelar di Masjid An-Nur. Lokasi TAHFIDZ CAMP akhwat. Saat itu, hari sedikit gerimis, sehingga tidak jadi ke Masjid Baitul Maal. Alhamdulillah, para akhwat sudah siap.


Agenda penutupan di masjid An-Nur, diakhiri dengan kajian bersama ustadz Masturi tentang motivasi bersama Qur'an.
Setelah renungan dan doa bersama, sebelum jarak memisahkan kita semua (karena liburan semesteran), kita bersalam-salaman sebagai wujud penguatan ukhuwah Islamiyyah.

BONUS: Malam harinya (setelah Tahfidz Camp ditutup pada pkl.11.00-nya), terjadi peristiwa fenomenal. Ada salah satu mahasiswi UNDIP yang sedang mampir ke PKN STAN minta dibantu untuk bersyahadat (MASUK ISLAM). Ditemani oleh para santriwati Rumah Quran STAN dan segelintir Takmir Masjid, agenda pun belangsung khidmat. Masjid menghadiahi Berita Acara sekaligus Sertifikat Masuk Islam. RQ STAN menghadiahi hijab dan seperangkat baju muslimah. Alhamdulillah. 
komentar | | Baca...

High Return High Risk (Tiga Amal Menjanjikan yang Ditolak Allah)

Penulis : Ruqun Stan on Selasa, 17 April 2018 | 16.39.00

Selasa, 17 April 2018


Suasana dauroh muwajjih Quran - 14/15 April 2018 di MBM PKN STAN


Kalau ilmu manajemen keuangan punya aksioma high risk high return (makin besar resiko suatu investasi, makin besar pengembalian atas investasi tersebut), maka logika hari kiamat justru punya aksioma sebaliknya: High return high risk. Begini kurang lebih renungannya: semakin besar potensi amal kita menjanjikan pahala besar, maka semakin besar resiko jatuhnya di sidang pengadilan Allah kelak.
Terbukti dalam hadits yang dicantumkan apa adanya di artikel ini. Bahwa ada 3 amal ibadah yang tak diragukan lagi pahala besarnya, yakni:
  1. berjihad,
  2. menuntut ilmu, mengajarkan, dan membaca Qur’an,
  3. bersedekah
Berikut adalah dalil sample dari high return yang dimaksud dari ketiga amalan di atas:
  1. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111).
  2. “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).
  3. “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia (HR Tirmidzi dan Thabrani).
  4. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)
  5. "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
  6. Betapa besar balasan-balasan Allah tersebut. Ada yang dijanjikan surga dan kemenangan yang besar (jihad), ada yang didoakan seluruh makhluk Allah (mengajarkan ilmu), ada yang tiap huruf yang dibaca berbalaskan kebaikan bertumpuk-tumpuk (membaca Quran), bahkan ada yang menjadi amal pendongkrak dimana orang yang menyesal mati pun sangat berharap bisa beramal dengannya (sedekah).
Lalu, apa risk (resiko) yang dapat mengubah nasib orang-orang yang mengamalkannya, yang semula diproyeksikan mendapat balasan-balasan kebaikan tersebut, ternyata justru jatuh terpuruk di kubangan neraka?
Na’udzubullah…
Tsumma na’udzubillah…
Berikut ini hadits lengkap atas resiko tersebut…

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: تَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ: أَيُّهَا الشَّيْخُ، حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: نَعَمْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
 " إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ "

"(Imam Muslim berkata) Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Habib Al-Haritsi, (Dia - Yahya bin Habib Al-Haritsi telah berkata) Telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Al-Haritsi, (Dia - Khalid bin Al-Haritsi berkata) telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, (Ibnu Juraij berkata) telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Yusuf, dari Sulaiman bin Yasaar, Dia (Sulaiman bin Yasaar) berkata, Ketika orang-orang telah meninggalkan Abu Hurairah, maka berkatalah Naatil bin Qais al Hizamy Asy-Syamiy (seorang penduduk palestine beliau adalah seorang tabiin), "Wahai Syaikh, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang Engkau telah dengar dari Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam, Ya (Aku akan ceritakan - Jawab Abu Hurairah), Aku telah mendengar Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam bersabda:
"Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari' (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.
Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.'" "
Hadits ini diriwayatkan oleh : Muslim, Kitabul Imarah bab Man Qaatala lir Riya' was Sum'ah Istahaqqannar VI/47 atau III/1513-1514 no. 1905; An-Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari', Sunan Nasa-i VI/23-24, Ahmad dalam Musnadnya II/322 dan Baihaqy IX/168. Derajat Hadits Shohih

Ternyata, penyebab dari semua itu adalah niat. Betapa buruknya amal yang dibarengi riya’ (ingin dilihat orang lain) dan sum’ah (ingin didengar orang lain), sekecil apapun dalam sanubari kita.
Semoga Allah menolong kita dalam memurnikan niat. Senantiasalah kita berdoa dengan lafazh kemurnian niat sebagaimana berikut:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, agar tidak menyekutukanMu, sedang aku mengetahuinya dan minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.”
(HR. Ahmad, dishahihkan al-Albani)

***

Sumber:
http://www.voa-islam.com/read/jihad/2012/02/03/17605/tidak-ada-amal-yang-bisa-menandingi-jihad/#sthash.mXEg1dRI.dpbs
https://rumaysho.com/12363-menuntut-ilmu-jalan-paling-cepat-menuju-surga.html
https://muslim.or.id/4703-keutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html
https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2015/09/02/38962/bersedekahlah-sebelum-mati-mayit-ingin-bersedekah-jika-bisa-hidup-kembali/#sthash.b6fUlA0M.dpbs
http://belajarhadits.com/index.php?option=com_content&view=article&id=27:hadits-tiga-golongan-yang-diancam-masuk-neraka-karena-riya
http://muqorrob.blogspot.co.id/2010/08/doa-untuk-menjaga-tauhid-dan-keikhlasan.html

Catatan:
Hadits 3 amal yang tidak diterima oleh Allah ini dibacakan sebagai renungan akhir saat Dauroh Muwajjih Quran – yang telah dilangsungkan pada 14-15 April 2018 lalu di Masjid Baitul Maal, Kampus PKN STAN.

komentar | | Baca...

Tilawah itu Tersenyum, Tilawah itu Bahagia

Penulis : Ruqun Stan on Minggu, 11 Maret 2018 | 23.28.00

Minggu, 11 Maret 2018


ditulis oleh: ibnuZ
salah satu manajemen RQ STAN



😊

Judul ini agak menggelitik. Mengapa tilawah Quran dipersepsikan sebagai tersenyum, yang kemudian disimpulkan membahagiakan? Namun, dari dauroh yg terakhir saya ikuti, begitulah sepenangkapan saya. Allahu A'lam. 

Ustadz Abu Ezra Laili al-Fadhli (pemilik sanad beberapa matn tajwid dr beberapa riwayat) mengajar kami di dauroh 3 hari yang diisi hanya makhraj dan shifat huruf. Materi yang secara normal diajarkan selama 5 pertemuan kali 30 menit di halaqah quran, dihabistuntaskan pada Jumat-Ahad, 16-18 Februari 2018 alias selama 3 kali 5 jam. Yang biasanya 150 menit, kali ini dikupas tuntas menjadi kira-kira 15 jam. MasyaAllah. 

Dalam kesempatan tersebut, salah satu materi yang mengena bagi saya adalah harakat. Para guru ngaji biasa mengajar harakat dimulai dari fathah-kasrah-dhummah. Ustadz Laili ternyata membalikkan urutan dan menegaskan bahwa inilah urutan yang benar: dhummah-kasrah-fathah. 

Dhummah paling mudah katanya, tinggal memonyongkan bibir. Secara bahasa artinya mengumpulkan, secara istilah mengumpulkan dua bibir ke depan seperti bunga. Habis Dhummah, kasrah. Kasrah secara bahasa artinya pecah, secara istilah memecah rahang ke bawah. Al ustadz mewanti-wanti bahwa membunyikan kasrah seperti mengawali huruf ya, sambil tersenyum (menarik sudut bibir). Nah, yang menarik adalah ketika diminta mencontohkan bunyi fathah. Mayoritas peserta salah membunyikan. Kata beliau, Fathah bukan sekedar bunyi aaa (membuka rahang lebar-lebar), melainkan dengan cara mengawali senyuman ala kasrah, lantas rahang bawah ditarik ke bawah. Ada aroma tipis yang disebut infitah, ada semacam dialek Arab yang terlontar. Ustadz selama 3 hari dauroh selalu dan selalu mengingatkan kami untuk tidak membaca fathah layaknya aaa orang Indonesia (dibuka lebar-lebar), tetapi agar menyesuaikan dialek Arab. 

Sejak dauroh itulah, saya merasa bahwa kasrah dan fathah ternyata bedanya tipis. Kasrah seperti awal huruf ya, sedangkan fathah posisi ujung kanan dan kiri bibirnya sama dengan kasrah, namun rahang bawah ditarik sedikit ke bawah. Persamaannya satu: tersenyum. 

Dalam kaidah Tajwid secara teknis, ada fathah yang seharusnya tidak tersenyum, yakni huruf-huruf tebal, meliputi: huruf isti'la yang memang bunyi fathah nya mirip ooo (kho, sho, dho, tho, zho, qo, gho), ditambah huruf ro, dan lam khusus di lafazh Allah. Semua huruf tersebut tebal sehingga menyulitkan kita untuk tersenyum ketika fathah. Selain itu hanya ada 4 huruf yang bila kasrah, dia akan sulit tersenyum, yaitu shod, dhod, tho, zho, atau biasa disebut huruf itbaq. 

Dalam dauroh tersebut, ustadz mengingatkan  perbedaan antara huruf itbaq (shod dhod tho zho) dengan huruf yang isti'la namun infitah (qof kho ghoin). Kedua tipe huruf tersebut sama-sama tebal. Namun, kasrahnya itbaq takkan bisa tersenyum (shi, dhi, thi, zhi), sedangkan kasrahnya huruf isti'la yang infitah: tetap bisa tersenyum (khi, qi, ghi). 

Apa hubungan sedikit cuplikan ilmu tajwid ini dengan judul di atas? Artinya, seharusnya dalam tilawah kita mayoritas huruf-huruf nya, kita baca sambil tersenyum. Karena yang tidak boleh tersenyum hanya sedikit saja. Yakni dhumah dan juga fathah+kasrah sebagaimana kondisional di atas. 

Bismillaahirrahmaanirrahiim saja, mayoritas tersenyum. Yang tidak bisa tersenyum hanya dua buah huruf RO saja. Dan masih banyak di mushaf kita, lafazh-lafazh yang justru akan sempurna bila diucapkan sambil tersenyum, baik fathah atau kasrah dengan pengecualian di atas. 

Jadi, sudahkah kita tersenyum hari ini? Bila belum, tilawah saja. 😁
Sudahkah kita bahagia hari ini? Kalau mau bahagia, tilawah saja.

Semoga Allah memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan ilmu tajwid secara sempurna dalam tilawah-tilawah kita. Yang membuahkan bahagia di dunia maupun di akhirat. 

Catatan tambahan: senyuman dalam tilawah boleh jadi perlu dibuat sedih untuk kondisi tertentu, contohnya saat membaca ayat-ayat adzab 😢

Wallahu a'lam bish shawab

***
RQ Granada, 3 Maret 2018 - di bawah rerintikan rahmat dari Allah

Dauroh makhraj dan shifat hurf ini diselenggarakan oleh Forum Halaqah Quran An-Nashr di masjid An-Nashr (depan kampus PKN STAN) pada 16-18 Februari 2018, bertepatan dengan libur mahasiswa/i PKN STAN, sehingga sayang sekali tidak ada perwakilan santri RQ STAN yang dapat mengikuti dauroh tersebut.
komentar | | Baca...

Al-Quran, Pembela atau Penuntut kita?

Penulis : Ruqun Stan on Kamis, 01 Maret 2018 | 09.37.00

Kamis, 01 Maret 2018

Ada satu sesi yang sangat mengena tatkala dauroh muwajjih Quran pada 15-17 Februari 2018 lalu. Satu sesi dimana ia menginternalisasi keseluruhan materi makhraj dan shifat huruf dalam dauroh 3 hari yang diselenggarakan FHQ An-Nashr tersebut. Sesi itu adalah doa penutup. Dalam sesi itu, ustadz Abu Ezra Laili al-Fadhli terdengar sesenggukan pada bagian doa, “waj’alhulanaa hujjatan”, yang diikuti rintihan tangis di bagian para akhwat peserta dauroh. Apakah gerangan makna kalimat tersebut?

Bila kita merenungi makna hujjah pada bagian akhir doa khatmil Qur’an, itu adalah bagian doa yang menjadi keseluruhan harapan kita terkait segala interaksi kita bersama Quran. Harapan akan pertanggungjawaban di akhirat yang mengevaluasi seberapa luruskah niat dan cara kita dalam berinteraksi dengan Al-Quran semasa hidup di dunia, yang mengevaluasi seberapa sesuaikah amalan kita di dunia terhadap pedoman hidup; Al-Quranulkariim?

Karena di yaumul mizan tersebut, kita akan dihadapkan pada situasi yang saaangat berat. Seluruh dosa ditampilkan. Kita ibarat duduk di kursi pesakitan dakwaan akhirat. Ada yang menuntut, ada pula yang membela. Nah, saat itu bagaimana posisi Al-Quran? Menjadi pembela atau penuntut kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no. 223)


Allahummarhamnaa bil Qur'aan
Waj’alhu lanaa hujjatan yaa Rabbil ‘alaamiin,
Waj’alhu lanaa hujjatan yaa Rabbil ‘alaamiin,
Waj’alhu lanaa hujjatan yaa Rabbil ‘alaamiin,


Ya Allah jadikan Quran sebagai pembela kami, bukan penuntut dan musuh bagi kami…

Sumber hadits : https://rumaysho.com/3182-al-quran-menjadi-pembela-ataukah-musuhmu.html
komentar | | Baca...

Tahfidz Camp: Untaian Doa Pamungkas

Penulis : Ruqun Stan on Senin, 12 Februari 2018 | 16.48.00

Senin, 12 Februari 2018



Inilah doa terakhir Tahfidz Camp, 30 Januari 2018; 
yang semoga menyentuh hati:

Atas berbagai nikmat Allah yang jumlahnya melebihi taubat kita atas dosa-dosa kita, mari kita istighfar sebanyak-banyaknya terlebih dahulu.

Nastaghfirullahal ‘adziim, Nastaghfirullahal ‘adziim, Nastaghfirullahal ‘adziim

***

Alhamdulillahirabbil aalamiin. Hamdasysyaakirin hamdannaa’imin hamdan yuwafi ni’amahu wa yukafi’u maziidah ya rabbanaa lakal hamdu kama yambaghili waj hikal kariimi wa adziimi sulthoonik. Allahummaa shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

Ya Allah yang Maha Karim. Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini berkumpul di masjid-Mu dalam rangka ketaatan kepada-Mu. Engkau yang Maha Baik, telah mengizinkan kami mengikuti rangkaian acara ini, maka jadikanlah kami baik, jadikan kami orang-orang sebagaimana Engkau janjikan dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, masukkan kami ke dalam golongan yg kelak akan mendapatkan naungan di hari akhir dimana tidak ada naungan selain naungan-Mu. Golongkanlah kami sebagai orang2 yang hatinya senantiasa terpaut dgn masjid-Mu ya Allah. Sedalam usia kami di dunia ini.

Ya Allah yang Maha Kasih sayang. Engkau pulalah  yang membawa kami, menggerakkan hati ini utk bermesraan dgn Al Quran sepanjang kegiatan ini. Berupa membaca tilawah dan menghafalkannya. Engkau telah izinkan kami terus baca, baca dan berulang-ulang, hingga kadang kami bingung. Kami bingung Ya Allah, kenapa tdk masuk masuk ya Allah? Kenapa? Apakah dikarenakan dosa-dosa kami yang mementahkan hafalan ini ya Allah? Maka dari itu, dari huruf-huruf yang terulang terus menerus di tengah kebingungan kami tdk hafal-hafal, limpahilah kami 10 kali kebaikan tiap huruf nya ya Allah, sebagaimana motivasi kami menghafal. Taburi kami dgn kebaikan-kebaikan tersebut, sehingga kelak kami dpt menghafalnya secara maksimal, pertemukanlah kami dengan metode menghafal yang mampu memutqinkan hafalan kami kelak, Dan kuatkanlah kami agar dpt melanjutkan interaksi kami bersama Quran selanjutnya, yakni: memahaminya, mempraktekannya, hingga mendakwahkannya.

Ya Allah, atas ayat ayat yang terulang-ulang dlm lisan kami, jadikanlah cinta-Mu membersamai kami dalam hari-hari kami selanjutnya. Bantulah kami agar kebiasaan-kebiasaan baik yg terlanjur kami lakukan selama kegiatan di masjid ini, qiyamul lail kami, shalat dhuha kami, bercengkerama kami dalam ukhuwah nan indah, agar Engkau mudahkan utk kami melakukannya pula di masa liburan nanti, di masa PKL, di masa kuliah, di mana pun Engkau akan tempatkan kami, ittaqullaha haitsu maa kunt. Izinkan kami Dimanapun bertakwa kepada-Mu.

Ya Allah yang Maha Bijaksana, sungguh kami telah mengorbankan waktu libur kami utk mengikuti agenda ini. Kami minta izin orangtua utk sejenak jauh dr mereka. Dalam kecintaan kami kpd Engkau, kecintaan kpd Quran. Maka dr itu, kami turut kirimkan doa utk ayah ibu kami ya Allah. Kami turut kirimkan doa terbaik utk mereka ya Allah, kasih sayangi lah mereka ya Allah, sbmna mereka tak henti hentinya mengasihi kami dr kecil hingga sekarang. Izinkan lah kami untuk bisa mempersembahkan mahkota kemuliaan kpd kedua ortu kami ya Allah...  Dengan kasih sayangmu memampukan kami dlm menghafal Quran. Menjadi keluargamu Ahlullah, Ahlul Quran, Ahlul khair... Di dunia dan di akhirat.

Ya Allah bariskanlah kami di barisan umat Islam yang penuh dengan mahkota permata kebermanfaatan dimana pun kami berada. Waktu 2 yg Engkau amanahkan utk kami, bantulah kami dlm memanfaatkan nya. Jadikan pula kami sebagai pembela agama Mu, yg tdk ragu berada di jalan kebenaran.

Allahumma aizzal islaama wal muslimun. Wan shur ikhwanana Fii filistiin, wa fii syam, wa fii suriah, wa fii mishr, wa fii rohingya, wa fii Indonesia, wa fii kulli makaan.

Allahummarhamnaa bil Qur'an, Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an
Allahummarhamnaa bil Qur'an, Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an
Allahummarhamnaa bil Qur'an, Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an

Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa adzaabannaar.
Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'ammaa yasifuun wa salaamun 'ala mursaliin.
Walhamdulillaahirabbil 'aalamiin
komentar | | Baca...

Tahfidz Camp: Shaolin Soccer, Mission Impossible, dan Dzikrul Maut

Alhamdulillah, Tahfidz Camp Rumah Quran STAN telah diadakan pada 27-30 Januari 2018 lalu, dengan skema lokasi dan jumlah santri sebagai berikut:
1. Ikhwan di Masjid Ar-Ridho Komplek Pajak, dengan jumlah peserta = 
2. Akhwat di Masjid An-Nur PJMI, dengan jumlah peserta = 

Tahfidz Camp memang unik. Ia ibarat mabit terprogram.
komentar | | Baca...

Apakah RQ STAN Sebuah Organisasi Bisnis?

Penulis : Ruqun Stan on Rabu, 13 Desember 2017 | 17.00.00

Rabu, 13 Desember 2017


Manajemen RQ STAN perlu mengulas pertanyaan ini walaupun belum ada sekalipun pihak ekternal yang mempertanyakannya. Adapun hati kecil kami, tetap saja ingin berusaha menjelaskan agar informasi ini dapat dipahami, baik oleh santri, donatur, partner kerjasama, bahkan teruntuk calon donatur yang masih menimbang-nimbang sebelum berdonasi di RQ STAN. Kejelasan memunculkan rasa tenang, tentram, dan menunjukkan bagaimana amanah ini harus kami pikul untuk kebaikan bersama.
komentar | | Baca...
 
Tentang Kami | Kontak Kami | Privacy policy | Term of use | Ingin Berdonasi? | Site map
Copyright Ruqun STAN© 2015. Rumah Qur'an STAN . All Rights Reserved.
Design Template by klik di sini |